Claim Missing Document
Check
Articles

Found 23 Documents
Search

Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian HIV/AIDS Di Puskesmas Penurunan Kota Bengkulu Tahun 2022 Femi Herlinda; Fiya Diniarti; Darmawansyah Darmawansyah
Jurnal Vokasi Kesehatan Vol 2 No 1 (2023)
Publisher : Gayaku Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58222/juvokes.v2i1.139

Abstract

HIV/AIDS di Kota Bengkulu tahun 2020 sebesar 73 kasus, tahun 2021 sebesar 111 kasus. Kasus HIV/AIDS tertinggi tahun 2021 berada di puskesmas Penurunan sebesar 111 kasus. Penelitian ini bertujuan menganalisis Faktor –faktor yang berhubungan dengan Kejadian HIV/AIDS di Wilayah Kerja Puskesmas Penurunan Kota Bengkulu tahun 2022. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan menggunakan rancangan case control study. Jumlah sampel 66 responden yang terdiri dari 33 sampel kasus dan 33 sampel kontrol dengan teknik pengambilan sampel menggunakan teknik total sampling pada sampel kasus dan purposive sampling pada sampel control dengan menggunakan instrumen kuesioner dan pengolahan data menggunakan SPSS 16. Hasil penelitian dari hasil uji statistik Chi-Square (continuity correction) usia yaitu dengan p-value=0,258> a0.05 dan nilai OR didapat sebesar 4,639 (95% CI = 8,987-6,765), jenis kelamin yaitu dengan p-value= 0,010 > a0.05 dan nilai OR didapat sebesar 6,719 (95% CI=8,657-3,765), pengetahuan yaitu dengan p-value= 0,00,012< a0.05 dan nilai OR didapat sebesar 3,517 (95% CI = 0,543-11,765), dan riwayat IMS yaitu dengan p-value= 0,013 > a0.05 dan nilai OR didapat sebesar 2,719 (95% CI = 1,876-13,875), Saran bagi Puskesmas Penurunan Kota Bengkulu Diharapkan puskesmas dapat mengoptimalkan dan meningkatkan pencegahan HIV/AIDS dengan melakukan pelaksanaan program kegiatan, pembinaan, dan konseling dalam upaya meningkatkan pengetahuan pencegahan HIV/AIDS.
Analisis Spasial Faktor Risiko Kejadian Demam Berdarah Dengue Di Kota Bengkulu Agiel Anugrah Sidharta; Fiya Diniarti; Darmawansyah Darmawansyah
Jurnal Vokasi Kesehatan Vol 2 No 2 (2023)
Publisher : Gayaku Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58222/juvokes.v2i2.162

Abstract

Jumlah kasus demam berdarah yang dilaporkan ke WHO meningkat lebih dari 8 kali lipat selama dua dekade terakhir, dari 505.430 kasus pada tahun 2000, menjadi lebih dari 2,4 juta pada tahun 2010, dan 5,2 juta pada tahun 2019 (World Health Organization, 2022). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor risiko Demam Berdarah Denguei dan memetakan sebaran kasus Demam Berdarah Dengue menggunakan analisis spasial diwilayah Kota Bengkulu. Metode yang digunakan adalah desain penelitian observasional analitik dengan pendekatan case control, data dikumpulkan dengan menyebarkan kuesioner pada 44 responden yang DBD dan 44 responden negatif DBD di Wilayah Kerja Puskesmas se-Kota Bengkulu dengan teknik total sampling. Penelitian ini menunjukkan, tidak ada hubungan usia dengan kejadian DBD dimana nilai P (0,82), tidak ada hubungan jenis kelamin dengan kejadian DBD dimana nilai P (0,83), tidak ada hubungan pendidikan dengan kejadian DBD dimana nilai P (1,00), tidak ada hubungan pendapatan dengan kejadian DBD dimana nilai P (1,00), tidak ada hubungan obat anti nyamuk dengan kejadian DBD dimana nilai P (0,19), ada hubungan menguras TPA dengan kejadian DBD dimana nilai P (0,002), tidak ada hubungan kawat kasa dengan kejadian DBD dimana nilai P (1,00), tidak ada hubungan genangan air dengan kejadian DBD dimana nilai P (0,83). Diharapkan kepada petugas DBD Puskesmas di Kota Bengkulu agar dapat memperhatikan pencatatan data alamat penderita DBD secara lengkap dan jelas. Penambahan informasi seperti nomor telepon dapat dimasukkan pada buku register DBD.
Faktor –Faktor Yang Berhubungan Dengan Hipertensi Pada Kehamilan Di Wilayah Kerja Puskesmas Padang Tepong Kecamatan Ulu Musi Kabupaten Empat Lawang Ita Hernida; Hasanudin Nuru; Darmawansyah Darmawansyah
Jurnal Kebidanan Manna Vol. 1 No. 2 (2022)
Publisher : Gayaku Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58222/jkm.v1i2.175

Abstract

Hypertensive disease, or high blood pressure, can lead to various health complications that endanger life while increasing the risk of heart disease, stroke, and even death. The purpose of this study was to determine the factors associated with hypertension in pregnancy in the Padang Tepong Health Centre Working Area, Ulu Musi District, Empat Lawang Regency. The method used is analytical survey research with a cross-sectional research design, with data collected in the form of primary data by distributing questionnaires to pregnant women in the Padang Tepong Health Centre Working Area, Ulu Musi District, and Empat Lawang Regency using a simple random sampling technique, as many as 56 pregnant women. Data analysis was performed using the Chi-Square test. The results of univariate analysis show that more than some mothers have a risky age during pregnancy, more than some mothers have a history of hypertension, almost as much as with less knowledge, and more than some mothers experience hypertension during pregnancy. According to the results of bivariate analysis, there is a relationship between age and hypertension in pregnancy (p = 0.034), there is a family history of hypertension with hypertension in pregnancy (p = 0.017), and there is a relationship between knowledge and hypertension in pregnancy (p = 0.009). Researchers suggest to the health centre that the results of this study can be used as additional data for the Padang Tepong health centre in handling cases of hypertension in pregnancy.
Multifaset Determinan Stunting Pada Balita di Wilayah Kerja Puskesmas Kerkap Kabupaten Bengkulu Utara Wulandari Wulandari; Fitri Rahayu; Darmawansyah Darmawansyah; Hairil Akbar
Afiasi : Jurnal Kesehatan Masyarakat Vol. 8 No. 1 (2023): Afiasi
Publisher : Universitas Wiralodra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31943/afiasi.v8i1.233

Abstract

Stunting  adalah kondisi gagal tumbuh pada anak balita. Dampak stunting  adalah terganggunya  perkembangan  otak,  kecerdasan,  gangguan  pertumbuhan  fisik,  dan  gangguan metabolisme dalam tubuh. WHO memperkirakan terdapat 162 juta balita  pendek, jika tren berlanjut tanpa upaya penurunan, diproyeksikan akan menjadi 127 juta. Kasus Stunting  di  Puskesmas  Kerkap tertinggi  di  Kabupaten  Bengkulu  Utara  sebesar  18,75%. Balita  stunting  pada Maret 2018 sebanyak 68 balita (18,84%) dan pada Juni 2018 sebanyak 45 balita (18,75). Implementasi program 1000 HPK telah dilaksanakan namun kasus stunting masih tinggi  di  Wilayah  Kerja  Puskesmas  Kerkap. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui multifaset determinan kejadian stunting pada  balita di Wilayah Kerja Puskesmas Kerkap Kabupaten Bengkulu Utara. Metode penelitian ini adalah kuantitatif  dengan  desain  cross  sectional.  Veriabel  Penelitian  ini  adalah  variabel  indenpenden (ASI  Ekslusif,  Sanitasi  Lingkungan,  Pemanfaatan  Pelayanan  Kesehatan,  Praktik Kebersihan/Hygiene,  Riwayat  Penyakit  Infeksi,  Budaya  dan  asupan  energi)  dan  Variabel depedenden (Kejadian Stunting). Analisis data dilakukan secara bertahap yaitu analisis univariat, bivariat, dan multivariat. Hasil penelitian menunjukkan ada hubungan yang signifikan antara pemberian ASI Eksklusif  (p=0,002), Sanitasi Lingkungan (p=0,008), Praktik kebersihan hygiene (p=0,000), riwayat penyakit infeksi (p=0,000) dan budaya (p=0,001) dengan stunting pada Balita. Tidak ada hubungan yang signifikan antara pelayanan kesehatan (p=1,000) dengan stunting pada Balita. Penelitian ini menyimpulkan variabel penyakit infeksi merupakan faktor resiko yang paling dominan terhadap kejadian stunting pada balita di Wilayah Kerja Puskesmas Kerkap Kabupaten Bengkulu Utara. Diharapkan ibu-ibu yang memiliki balita. Disarankan untuk ibu balita untuk memberikan ASI secara eksklusif, meningkatkan akses sanitasi lingkungan, PHBS, akses informasi  kesehatan, dan pengobatan segera bagi balita yang mengalami diare dan ISPA.
Pengaruh Kearifan Pangan Lokal Suku Rejang terhadap Penanganan Stunting Baduta di Bengkulu Utara Danur Azissah Roesliana Sofais; Berlian Kando Sianipar; Darmawansyah Darmawansyah
Jurnal Keperawatan Silampari Vol 3 No 1 (2019): Jurnal Keperawatan Silampari
Publisher : Institut Penelitian Matematika, Komputer, Keperawatan, Pendidikan dan Ekonomi (IPM2KPE)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (393.258 KB) | DOI: 10.31539/jks.v3i1.772

Abstract

The purpose of this research is to identify the effect of local food wisdom of Rejang trait to treat stunting infant at North Bengkulu. The design of this research is using queasy-experiments study, one group of stunting babies (height-for-age z-score < -2) consists 36 respondents with 12-24 months old. The result of this research shows that there is a change on stunting infant height after weaning treatment with mean score pre-test: 69.61 and mean for post-test: 77.16. correlation score >0.05 (0.846). It means that giving weaning treatment for stunting infant by using local food wisdom is positive. It can increase height gradually. Keywords: Local Food, Treatment, Stunting
Kultur Bifasik Agar Gold Standard Deteksi Kuman Mycobacterium Tuberculosis pada Pekerja Tambang Emas Tradisional (Studi di Lebong Tambang Bengkulu) darmawansyah darmawansyah; Wulandari Wulandari
Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat Vol 7 No 04 (2018): Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat
Publisher : UIMA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33221/jikm.v7i04.168

Abstract

TB paru merupakan penyakit paru akibat infeksi kuman Mycobacterium tuberculosis, yang menyebabkan kematian hampir disebagian besar negara di seluruh dunia. Case Notification Rate BTA positif baru dan semua kasus dari tahun ke tahun di Indonesia mengalami peningkatan. Angka Kematian TB Paru di Provinsi Bengkulu sebesar 35 kasus selama pengobatan. Di Kabupaten Lebong kasus TB Paru terjadi peningkatan pada pekerja tambang emas tradisional dari 32% kasus meningkat menjadi 37% kasus. Di Kabupaten Lebong belum pernah dilakukan deteksi dini kuman Mycobacterium tuberculosis pada pekerja tambang emas tradisional, dimana kasus TB Paru di Kabupaten Lebong masih tinggi, maka perlu dilakukan deteksi kuman Mycobacterium tuberculosis untuk pemberatasan penyakit TB Paru dengan menggunakan metode kultur bifasik agar. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui adanya kuman Mycobacterium tuberculosis pada media kultur bifasik agar pada sputum pekerja tambang emas tradisional. Penelitian ini mengunakan pre experimental study untuk melakukan identifikasi kuman Mycobacterium tuberculosis dalam sputum dengan metode kultur bifasik agar. Sampel penelitian sebanyak 270 responden dengan kriteria inklusi sebagai penambang emas tradisional di Lebong tambang. Analisis yang digunakan adalah analisis distribusi frekuensi dan persentase variabel penelitian. Hasil penelitian didapatkan 270 sputum yang diperiksa menunjukan 49 (18,1%) responden yang positif teridentifikasi kuman mycobacterium, 99 (36,7%) responden berpendidikan SMP, dan 176 (65,2%) responden memiliki umur produktif. Diharapkan kepada instansi kesehatan melaksanakan deteksi dini TB Paru pada pekerja tambang emas tradisional secara rutin, selain itu melaksanakan upaya preventif, promotif, dan kuratif untuk eliminasi TB Paru.
Determinan Kejadian Malaria darmawansyah darmawansyah; Julius Habibi; Ravika Ramlis; Wulandari Wulandari
Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat Vol 8 No 03 (2019): Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat
Publisher : UIMA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33221/jikm.v8i03.370

Abstract

Malaria merupakan salah satu penyakit menular yang menyebabkan kematian dan menurunkan produktivitas kerja. WHO menyatakan angka kematian akibat malaria diseluruh dunia diperkirakan 1,5–2,7 juta pertahun. Indonesia merupakan salah satu negara berisiko malaria. Puskesmas padang ulak tanding Kabupaten Rejang Lebong pernah mengalami KLB Malaria. Kegiatan yang sudah dilakukan Puskesmas padang ulak tanding terkait KLB malaria hanya sebatas indentifikasi nyamuk, observasi lingkungan tempat tinggal, dan penyuluhan pada masyarakat. Suatu wilayah yang mengalami KLB tidak cukup dengan identifikasi dan observasi saja, melainkan perlu dilakukan penyelidikan epidemiologi secara mendalam dengan pengkajian determinan kejadian malaria. Tujuan penelitian adalah diketahuinya determinan kejadian malaria didaerah wabah pada Puskesmas padang ulak tanding rejang lebong. Metode penelitian menggunakan desain cross sectional study. Tehnik pengambilan sampel yang digunakan adalah total sampling yaitu semua populasi dijadikan sampel berjumlah 175 orang. Veriabel indenpenden (Breeding palce, Reppelant, PH air, kasa ventilasi, keberadaan kandang ternak, penggunaan kelambu) dan variabel depedenden (Kejadian Malaria). Analisis data yang digunakan adalah analisis univariat untuk mendeskripsikan distribusi frekuensi dan analisis bivariat untuk membuktikan bahwa masing-masing variabel berisiko terhadap kejadian malaria, uji yang dilakukan adalah uji Chi Sguare (ᵡ2). Hasil Penelitian didapatkan adalah ada hubungan yang bermakna antara Breeding palce (p=0,001), Reppelant (p=0,001), PH air (p=0,001), kasa ventilasi (p=0,016), keberadaan kandang ternak (p=1,000), penggunaan kelambu (p=0,090) dengan kejadian malaria di daerah wabah. Diharapkan kepada masyarakat untuk selalu membersihkan genangan air disekitar rumah, menggunakan obat anti nyamuk pada saat beraktivitas diluar rumah malam hari dan menggunakan kasa pada pentilasi rumah sehingga dapat menghidari dari gigitan nyamuk anopheles.
Preventif TB Paru Melalui Edukasi Kepada Masyarakat Desa Kampung Delima Elmi Asmawati; Darmawansyah Darmawansyah; Pupu Yuni Rahayu; Erniwati Erniwati; Parida Parida; Herlina Mayasari; Tasimah Tasimah
Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 1 No. 1 (2024): Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : CV. Era Digital Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59066/jpkm.v1i1.853

Abstract

Tuberculosis is an infectious disease caused by the bacteria Mycobacterium Tuberculosis which generally attacks the lungs. This risk of transmission can be caused by several factors, including insufficient knowledge about TB disease, therefore public knowledge plays an important role in preventing the transmission of tuberculosis, both directly and indirectly. The aim of this community service is to increase public knowledge and understanding by informing and educating the public as an effort to prevent pulmonary tuberculosis. The activity carried out by this service is health education about preventing pulmonary tuberculosis. The method used is lectures and discussions which are given pre-test before and post-test after the extension to determine the success of the extension. This activity took place on July 12 2024. From the results of the community activity, 70% of the 20 people who took part in the counseling knew about Pulmonary Tuberculosis, understood how to prevent and treat Pulmonary Tuberculosis obtained from the post test results. The results of service using lecture and discussion methods can increase community knowledge in Desa Kampung Delima, Kecamatan Curup Timur.
Active Case Finding Melalui Skrining TB Paru Di Desa Kampung Delima Ernawati Ernawati; Darmawansyah Darmawansyah; Febrina v Tamba; Nesti Untari Kadie; Wenti Rugayah; Ria Novita Rusadi
Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 1 No. 2 (2025): Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : CV. Era Digital Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59066/jpkm.v1i2.854

Abstract

Screening is not only to diagnose someone infected with a disease, it is necessary to carry out further examination by a doctor to obtain the diagnosis and treatment needed. Having Tuberculosis screening activities to actively find cases in the community will allow for an earlier reduction in Tuberculosis transmission because a person will be diagnosed earlier and has the potential to reduce the length of time a person infects other people. The aim of this community service is to detect early the risk of TB transmission in the community as an effort to prevent pulmonary tuberculosis. Implementation of service activities in the form of TB screening was carried out on July 12 2024, held in Kampung Delima Village. The target of this activity is people who live in Kampung Delima Village who are over 15 years old and are willing to take part in the activity. Service is carried out by carrying out screening activities using interview techniques using questions containing the identity of the community and followed by using a tuberculosis sign and symptoms form. The results obtained were that the majority of people in this sub-district were not at risk of contracting TB. In conclusion, participants who were not at risk of contracting TB were given education and then participants who were at risk of contracting TB were given education and advised to undergo further examination in the form of a laboratory examination at the nearest health service facility.
A Correlation Between Knowledge and The Role of Health Workers with Family Ownership of Health Toilets among The Community in Coastal Area of Sinar Jaya Village, Kaur Tengah Sub-District Emi Kasih Lestari; Darmawansyah Darmawansyah; Wulandari Wulandari
Student Scientific Journal Vol 4 No 2 (2026): April
Publisher : Universitas Dehasen Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37676/ssj.v4i2.10251

Abstract

Background: Sanitation development issues are socio-cultural problems, one of which is the behavior of residents who are accustomed to defecating in public places. According to data from the Indonesian Ministry of Health, 25% of the population uses unsanitary toilets and 17.7% still defecate in public places. Data from the Tanjung Iman Health Center in 2024 shows that only 57.3% of families have toilets, which is far from the government's target of 80%. Data from Sinar Jaya Village shows that 73.33% of respondents living in the watershed area practice open defecation in rivers. In addition, 66.6% of the community did not know the benefits of toilets, the requirements for healthy toilets, or the impact of open defecation in rivers, so the community did not want to have family toilets. Objective: The purpose of this study is to determine a correlation between knowledge and the role of health workers with the family ownership of healthy toilets among the coastal community of Sinar Jaya Village. Method: This study is a quantitative study using a cross-sectional design. The population consisted of 352 respondents. The sampling technique used was simple random sampling. The number of samples found was 80. The analysis used was univariate analysis and bivariate analysis with the Chi-Square test. Research results: Almost all of the respondents did not have a family toilet, a small number of respondents had insufficient knowledge, and a small number of respondents had health workers who did not support them. There was a correlation between knowledge (p=0.000) and the role of health workers (p=0.003) and the ownership of family toilets. Conclusion : The suggestion for future researchers is to investigate the socio-cultural behavioral factors related to family toilet ownership using multivariate analysis and in-depth interviews.