Claim Missing Document
Check
Articles

Found 36 Documents
Search

Penambahan mineral kalsium dari cangkang kepiting bakau (Scylla serrata) pada pakan terhadap pertumbuhan dan kelangsungan hidup udang galah (Macrobrachium rosenbergii) Fajar Fajri; Azwar Thaib; Lia Handayani
Depik Vol 8, No 3 (2019): December 2019
Publisher : Faculty of Marine and Fisheries, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (333.617 KB) | DOI: 10.13170/depik.8.3.12090

Abstract

Abstract. Mud crab shell is one of the most fisheries waste can be utilized as calcium source because it contains lots of calcium carbonat. Utilizing of crab shells flour in fed is important applied as calcium supplements to freshwater prawn. The purpose of this research is to knows the effects of calcium addition from mud crab shells on fed to increase the growth rate, survival rate and moulting frequency freshwater prawn. The research has been done during 70 days in fisheris Laboratory, Abulyatama University. Result of the research shows that two percents calcium addition on fed give higher growth rate value, survival rate value and moulting frequency value than other treatments and were not added calcium on fed. The average of freshwater prawn growth rate are treatment A (0% CaO)= 1.20 g, B (1% CaO) = 1.41 g, C (2% CaO) = 1.92 g, D (3% CaO) = 1.77 g. The average of freshwater prawn survival rate result shown by treatment A = 75 %, B = 91,1 %, C = 91,1 %, and D = 89 %. The moulting frequency value results shown by treatment A = 1,06 ; B = 1,22; C = 1,57 and D = 1,34. Keywords : Calcium, Freshwater Prawn, Macrobranchium rosenbergii, Moulting Abstrak. Cangkang kepiting bakau merupakan salah satu limbah perikanan yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber kalsium karena cangkang kepiting mengandung kalsium karbonat tinggi. Pemanfaatan tepung cangkang kepiting pada pakan adalah sebagai suplemen. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui pengaruh penambahan mineral kalsium dari cangkang kepiting bakau pada pakan untuk meningkatkan laju pertumbuhan, kelangsungan hidup dan frekuensi molting udang galah. Penelitian ini dilakukan selama 70 hari di laboratorium perikanan, Universitas Abulyatama. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa penambahan 2 % kalsium pada pakan memberikan hasil tertinggi untuk laju pertumbuhan, kelangsungan hiidup dan frekuensi molting udang galah dibanding perlakuan lain. Nilai rata-rata pertumbuhan udang galah tiap perlakuan adalah sebagai A (0% CaO) = 1,20 gr, B (1% CaO) = 1.41 gr, C (2% CaO) = 1.92 gr dan D (3% CaO) = 1,77 gr. Sedangkang nilai rata-rata kelangsungan hidup udang galah adalah A = 75 %, B = 91,1 %, C =91,1 % dan D = 89 %. Nilai ata-rata frekuensi molting udang galah selama pemeliharaan pada tiap perlakuan adalah A = 1,06 kali/ekor, B = 1,22 kali/ekor, C = 1,57 kali/ekor dan D = 1,34 kali/ekor. Kata kunci: Kalsium, Macrobranchium rosenbergii, Moulting, Udang Galah
Perbandingan frekuensi molting Lobster air tawar (Cherax quadricarinatus) yang diberi pakan komersil dan nanokalsium yang berasal dari cangkang tiram (Crassostrea gigas) Lia Handayani; Faisal Syahputra
Depik Vol 7, No 1 (2018): April 2018
Publisher : Faculty of Marine and Fisheries, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (203.233 KB) | DOI: 10.13170/depik.7.1.8629

Abstract

Oyster shell can be used as alternative calcium source. Utilizing of oyster shell into nano calcium flour can be used to decrease solid waste. The usage of nano calcium flour in feed is important applied as calcium supplements with cherax quadricarinatus. The purpose of this research is to study the effect of nano calcium addition on feeds to increase moulting frequency, survival and growth rate of freshwater lobster. This research has been done during 60 days in fisheries Laboratory, Abulyatama University. Two percents nano calcium addition on feeds gives significant effect on growth rate and very significant effect to moulting frequency of freshwater lobster. Which has moulting frequency 2.71. Where the treatment was not added nano calcium has moulted frequency 1.29. But, nano calcium addition on foods did not affect survival rate.Cangkang tiram dapat digunakan sebagai alternatif sumber kalsium. Pemanfaatan cangkang tiram menjadi serbuk nanokalsium dapat mengurangi limbah padat. Penggunaan serbuk nanokalsium pada pakan penting dilakukan sebagai suplemen kalsium untuk lobster air tawar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan nanokalsium pada pakan terhadap pertumbuhan, frekuensi molting dan kelangsungan hidup Lobster Air Tawar (LAT). Penelitian ini dilakukan selama 60 hari di laboratorium perikanan, Universitas Abulyatama. Data dianalisa menggunakan uji T (perbandingan) antara lobster yang diberi pakan nanokalsium dan tanpa penambahan nanokalsium. Nanokalsium yang ditambahkan ke dalam pakan sebanyak 2% berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan lobster air tawar (thitung ttabel), dan berpengaruh sangat nyata terhadap jumlah molting dengan frekuensi molting 2,71 kali/ekor terhadap lobster yang diberi pakan nano CaO, sedangkan yang diberi pakan komersil hanya 1,29 kali/ekor. Namun, tidak berpengaruh terhadap tingkat kelangsungan hidup (thitung ttabel).
Evaluating the addition of starry triggerfish (Abalistes stellaris) bone charcoal as a feed supplement to the growth performance and intestinal villi length of nile tilapia (Oreochromis niloticus) Azwar Thaib; Lia Handayani; Ardila Hanum; Nurhayati Nurhayati; Faisal Syahputra
Depik Vol 10, No 2 (2021): August 2021
Publisher : Faculty of Marine and Fisheries, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (578.136 KB) | DOI: 10.13170/depik.10.2.20367

Abstract

Nile tilapia is a freshwater fish that is widely cultivated in Indonesia. During its development, tilapia aquaculture has constraints such as low growth rates. Therefore, it is necessary to add a feed additive to the feed in the form of charcoal. Charcoal is an adsorbent that has high absorption so that the addition of charcoal in the feed can increase the absorption of nutrients of tilapia. A 45-days trial was conducted to determine the percentage of addition of triggerfish bone charcoal (Abalistes stellaris) as a feed supplement that affect the growth performance and intestines of tilapia. The research design was a non-factorial Completely Randomized Design (CRD) with 4 treatments and 2 replications as treatments including: treatment A (control), B (addition of 1%charcoal), C (addition of 2% charcoal) and D (addition of 3% charcoal). A total of 240 tilapia fingerlings (5-7 cm) were used and placed in 8 aquariums then filled with 72 liters of water. Providing adlibitum (unlimited) feed with a frequency of 2 times a day. The ANOVA test showed that the addition of triggerfish bone charcoal (A. stellaris) in the feed was not significantly different (P 0.05) in weight growth, absolute length and daily length growth but it was significantly different (P 0.05) in feed conversion ratio and the efficiency of feed utilization. Based on result, it was concluded that the addition of 3% charcoal was the best treatment which gave the lengthiest of villi which was increasing the length of the intestinal villi to 71.11 µm from the initial length of 162.22 µm. easel at 233.33 μm, showed the highest feed conversion ratio value and feed efficiency (1.12 %, 89.6%).Keywords:CharcoalFish boneIntestinal histologyStarry triggerfish
Perbandingan frekuensi molting Lobster air tawar (Cherax quadricarinatus) yang diberi pakan komersil dan nanokalsium yang berasal dari cangkang tiram (Crassostrea gigas) Lia Handayani; Faisal Syahputra
Depik Vol 7, No 1 (2018): April 2018
Publisher : Faculty of Marine and Fisheries, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.13170/depik.7.1.8629

Abstract

Oyster shell can be used as alternative calcium source. Utilizing of oyster shell into nano calcium flour can be used to decrease solid waste. The usage of nano calcium flour in feed is important applied as calcium supplements with cherax quadricarinatus. The purpose of this research is to study the effect of nano calcium addition on feeds to increase moulting frequency, survival and growth rate of freshwater lobster. This research has been done during 60 days in fisheries Laboratory, Abulyatama University. Two percents nano calcium addition on feeds gives significant effect on growth rate and very significant effect to moulting frequency of freshwater lobster. Which has moulting frequency 2.71. Where the treatment was not added nano calcium has moulted frequency 1.29. But, nano calcium addition on foods did not affect survival rate.Cangkang tiram dapat digunakan sebagai alternatif sumber kalsium. Pemanfaatan cangkang tiram menjadi serbuk nanokalsium dapat mengurangi limbah padat. Penggunaan serbuk nanokalsium pada pakan penting dilakukan sebagai suplemen kalsium untuk lobster air tawar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan nanokalsium pada pakan terhadap pertumbuhan, frekuensi molting dan kelangsungan hidup Lobster Air Tawar (LAT). Penelitian ini dilakukan selama 60 hari di laboratorium perikanan, Universitas Abulyatama. Data dianalisa menggunakan uji T (perbandingan) antara lobster yang diberi pakan nanokalsium dan tanpa penambahan nanokalsium. Nanokalsium yang ditambahkan ke dalam pakan sebanyak 2% berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan lobster air tawar (thitung ttabel), dan berpengaruh sangat nyata terhadap jumlah molting dengan frekuensi molting 2,71 kali/ekor terhadap lobster yang diberi pakan nano CaO, sedangkan yang diberi pakan komersil hanya 1,29 kali/ekor. Namun, tidak berpengaruh terhadap tingkat kelangsungan hidup (thitung ttabel).
Evaluating the addition of starry triggerfish (Abalistes stellaris) bone charcoal as a feed supplement to the growth performance and intestinal villi length of nile tilapia (Oreochromis niloticus) Azwar Thaib; Lia Handayani; Ardila Hanum; Nurhayati Nurhayati; Faisal Syahputra
Depik Vol 10, No 2 (2021): August 2021
Publisher : Faculty of Marine and Fisheries, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.13170/depik.10.2.20367

Abstract

Nile tilapia is a freshwater fish that is widely cultivated in Indonesia. During its development, tilapia aquaculture has constraints such as low growth rates. Therefore, it is necessary to add a feed additive to the feed in the form of charcoal. Charcoal is an adsorbent that has high absorption so that the addition of charcoal in the feed can increase the absorption of nutrients of tilapia. A 45-days trial was conducted to determine the percentage of addition of triggerfish bone charcoal (Abalistes stellaris) as a feed supplement that affect the growth performance and intestines of tilapia. The research design was a non-factorial Completely Randomized Design (CRD) with 4 treatments and 2 replications as treatments including: treatment A (control), B (addition of 1%charcoal), C (addition of 2% charcoal) and D (addition of 3% charcoal). A total of 240 tilapia fingerlings (5-7 cm) were used and placed in 8 aquariums then filled with 72 liters of water. Providing adlibitum (unlimited) feed with a frequency of 2 times a day. The ANOVA test showed that the addition of triggerfish bone charcoal (A. stellaris) in the feed was not significantly different (P 0.05) in weight growth, absolute length and daily length growth but it was significantly different (P 0.05) in feed conversion ratio and the efficiency of feed utilization. Based on result, it was concluded that the addition of 3% charcoal was the best treatment which gave the lengthiest of villi which was increasing the length of the intestinal villi to 71.11 µm from the initial length of 162.22 µm. easel at 233.33 μm, showed the highest feed conversion ratio value and feed efficiency (1.12 %, 89.6%).Keywords:CharcoalFish boneIntestinal histologyStarry triggerfish
Penambahan mineral kalsium dari cangkang kepiting bakau (Scylla serrata) pada pakan terhadap pertumbuhan dan kelangsungan hidup udang galah (Macrobrachium rosenbergii) Fajar Fajri; Azwar Thaib; Lia Handayani
Depik Vol 8, No 3 (2019): December 2019
Publisher : Faculty of Marine and Fisheries, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.13170/depik.8.3.12090

Abstract

Abstract. Mud crab shell is one of the most fisheries waste can be utilized as calcium source because it contains lots of calcium carbonat. Utilizing of crab shells flour in fed is important applied as calcium supplements to freshwater prawn. The purpose of this research is to knows the effects of calcium addition from mud crab shells on fed to increase the growth rate, survival rate and moulting frequency freshwater prawn. The research has been done during 70 days in fisheris Laboratory, Abulyatama University. Result of the research shows that two percents calcium addition on fed give higher growth rate value, survival rate value and moulting frequency value than other treatments and were not added calcium on fed. The average of freshwater prawn growth rate are treatment A (0% CaO)= 1.20 g, B (1% CaO) = 1.41 g, C (2% CaO) = 1.92 g, D (3% CaO) = 1.77 g. The average of freshwater prawn survival rate result shown by treatment A = 75 %, B = 91,1 %, C = 91,1 %, and D = 89 %. The moulting frequency value results shown by treatment A = 1,06 ; B = 1,22; C = 1,57 and D = 1,34. Keywords : Calcium, Freshwater Prawn, Macrobranchium rosenbergii, Moulting Abstrak. Cangkang kepiting bakau merupakan salah satu limbah perikanan yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber kalsium karena cangkang kepiting mengandung kalsium karbonat tinggi. Pemanfaatan tepung cangkang kepiting pada pakan adalah sebagai suplemen. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui pengaruh penambahan mineral kalsium dari cangkang kepiting bakau pada pakan untuk meningkatkan laju pertumbuhan, kelangsungan hidup dan frekuensi molting udang galah. Penelitian ini dilakukan selama 70 hari di laboratorium perikanan, Universitas Abulyatama. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa penambahan 2 % kalsium pada pakan memberikan hasil tertinggi untuk laju pertumbuhan, kelangsungan hiidup dan frekuensi molting udang galah dibanding perlakuan lain. Nilai rata-rata pertumbuhan udang galah tiap perlakuan adalah sebagai A (0% CaO) = 1,20 gr, B (1% CaO) = 1.41 gr, C (2% CaO) = 1.92 gr dan D (3% CaO) = 1,77 gr. Sedangkang nilai rata-rata kelangsungan hidup udang galah adalah A = 75 %, B = 91,1 %, C =91,1 % dan D = 89 %. Nilai ata-rata frekuensi molting udang galah selama pemeliharaan pada tiap perlakuan adalah A = 1,06 kali/ekor, B = 1,22 kali/ekor, C = 1,57 kali/ekor dan D = 1,34 kali/ekor. Kata kunci: Kalsium, Macrobranchium rosenbergii, Moulting, Udang Galah
Uji Hedonik dalam Formulai Hard Candy dengan Penambahan Ekstrak Buah Pandan Laut (Pandanus Tectorius) Sebagai Flavor Yuliza Maulidar; Lia Handayani; Dwi Apriliani
Jurnal TILAPIA Vol 4, No 2 (2023): Juli 2023
Publisher : Center for Research and Community Service (LPPM) University of Abulyatama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30601/tilapia.v4i2.4216

Abstract

Potensi Indonesia terkait tanaman liar pesisir sangat besar karena banyak tanaman pesisir yang tidak bernilai ekonomis dapat dimanfaatkan baik sebagai material maupun produk pangan. Salah satu tanaman pesisir yang memiliki potensi besar adalah buah pandan laut, buah pandan laut memiliki nutrisi yang tinggi dan dapat dimanfaatkan sebagai bahan pangan olahan. Mengetahui pengaruh tingkat kematangan dan akan melibatkan evaluasi sensori oleh panelis ahli atau konsumen untuk mengukur respon mereka terhadap atribut organoleptik hard candy yang dihasilkan. Nilai gizi dari produk hard candy penting gunanya mempromosikan produk hard candy buah pandan laut sebagai pilihan makanan yang sehat dan bergizi. Proses pembuatan hard candy dengan pemanasan sukrosa (50%) glukosa (30%) dan ditambahkan ekstrak pandan laut (16%) dilanjutkan dengan air dan jeruk nipis (4%) sambil diaduk hingga homogen, setelah itu apabila sudah berbentuk kental maka diamkan sekitar 10 menit. Selanjutnya dilakukan pencetakan menggunakan silikon permen hingga mengeras lalu dilakukan pengemasan. Hasil uji nilai gizi kadar air yang terbaik senilai (0,93) pada buah pandan laut matang dan terendah (0,77) pada buah pandan laut lewat matang, kadar abu yang tertinggi (0,26) pada buah lewat matang dan yang terendah (0,17) pada buah matang, kadar lemak yang tertinggi (1,44) pada buah lewat matang dan terendah (1,02) belum matang, kadar protein yang tertinggi (4,34) pada buah yang matang dan yang terendah (2,99) pada buah yang belum matang, kadar karbohidrat (94,89) pada buah belum matang dan yang terendah (93,44) pada buah yang matang, kadar kalsium diuji dengan hasil yang terbaik saja yaitu buah matang senilai (0,00481). Kata kunci : Ekstrak Buah Pandan Laut, Nilai Gizi, Permen Keras.
Pembuatan Selai dari Buah Pandan Laut (Pandanus tectorius Park.) Berdasarkan Tingkat kematangan Berbeda Riska Nanda; Lia Handayani; Yuliza Maulidar
Jurnal TILAPIA Vol 4, No 2 (2023): Juli 2023
Publisher : Center for Research and Community Service (LPPM) University of Abulyatama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30601/tilapia.v4i2.3313

Abstract

Buah pandan laut (Pandanus Tectorius) memiliki kandungan nilai gizi yang cukup tinggi, sehingga dapat dimanfaatkan sebagai pangan olahan. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui daya terima selai yang diproduksi dari buah pandan laut dengan tingkat kematangan yang berbeda yaitu (A) matang, (B) agak matang, (C) belum matang. Penilaian uji kesukaan ini berdasarkan pada proses penginderaan meliputi: kenampakan, aroma, rasa dan tekstur, dilakukan oleh 30 panelis biasa yang mempunyai kepekaan cukup baik. selai yang dibuat dari buah yang agak matang memiliki daya terima paling baik yaitu 100% berdasarkan parameter rasa. Untuk parameter tekstur dan aroma, selai dari buah yang telah matang adalah yang paling disukai oleh panelis masing-masing sebesar 83,3% dan 73,3%. Sebanyak 73% panelis tidak menyukai selai A, B dan C berdasarkan parameter aroma.  
Penambahan mineral kalsium dari cangkang kepiting bakau (Scylla serrata) pada pakan terhadap pertumbuhan dan kelangsungan hidup udang galah (Macrobrachium rosenbergii) Fajar Fajri; Azwar Thaib; Lia Handayani
Depik Vol 8, No 3 (2019): December 2019
Publisher : Faculty of Marine and Fisheries, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.13170/depik.8.3.12090

Abstract

Abstract. Mud crab shell is one of the most fisheries waste can be utilized as calcium source because it contains lots of calcium carbonat. Utilizing of crab shells flour in fed is important applied as calcium supplements to freshwater prawn. The purpose of this research is to knows the effects of calcium addition from mud crab shells on fed to increase the growth rate, survival rate and moulting frequency freshwater prawn. The research has been done during 70 days in fisheris Laboratory, Abulyatama University. Result of the research shows that two percents calcium addition on fed give higher growth rate value, survival rate value and moulting frequency value than other treatments and were not added calcium on fed. The average of freshwater prawn growth rate are treatment A (0% CaO)= 1.20 g, B (1% CaO) = 1.41 g, C (2% CaO) = 1.92 g, D (3% CaO) = 1.77 g. The average of freshwater prawn survival rate result shown by treatment A = 75 %, B = 91,1 %, C = 91,1 %, and D = 89 %. The moulting frequency value results shown by treatment A = 1,06 ; B = 1,22; C = 1,57 and D = 1,34. Keywords : Calcium, Freshwater Prawn, Macrobranchium rosenbergii, Moulting Abstrak. Cangkang kepiting bakau merupakan salah satu limbah perikanan yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber kalsium karena cangkang kepiting mengandung kalsium karbonat tinggi. Pemanfaatan tepung cangkang kepiting pada pakan adalah sebagai suplemen. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui pengaruh penambahan mineral kalsium dari cangkang kepiting bakau pada pakan untuk meningkatkan laju pertumbuhan, kelangsungan hidup dan frekuensi molting udang galah. Penelitian ini dilakukan selama 70 hari di laboratorium perikanan, Universitas Abulyatama. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa penambahan 2 % kalsium pada pakan memberikan hasil tertinggi untuk laju pertumbuhan, kelangsungan hiidup dan frekuensi molting udang galah dibanding perlakuan lain. Nilai rata-rata pertumbuhan udang galah tiap perlakuan adalah sebagai A (0% CaO) = 1,20 gr, B (1% CaO) = 1.41 gr, C (2% CaO) = 1.92 gr dan D (3% CaO) = 1,77 gr. Sedangkang nilai rata-rata kelangsungan hidup udang galah adalah A = 75 %, B = 91,1 %, C =91,1 % dan D = 89 %. Nilai ata-rata frekuensi molting udang galah selama pemeliharaan pada tiap perlakuan adalah A = 1,06 kali/ekor, B = 1,22 kali/ekor, C = 1,57 kali/ekor dan D = 1,34 kali/ekor. Kata kunci: Kalsium, Macrobranchium rosenbergii, Moulting, Udang Galah
Perbandingan frekuensi molting Lobster air tawar (Cherax quadricarinatus) yang diberi pakan komersil dan nanokalsium yang berasal dari cangkang tiram (Crassostrea gigas) Lia Handayani; Faisal Syahputra
Depik Vol 7, No 1 (2018): April 2018
Publisher : Faculty of Marine and Fisheries, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.13170/depik.7.1.8629

Abstract

Oyster shell can be used as alternative calcium source. Utilizing of oyster shell into nano calcium flour can be used to decrease solid waste. The usage of nano calcium flour in feed is important applied as calcium supplements with cherax quadricarinatus. The purpose of this research is to study the effect of nano calcium addition on feeds to increase moulting frequency, survival and growth rate of freshwater lobster. This research has been done during 60 days in fisheries Laboratory, Abulyatama University. Two percents nano calcium addition on feeds gives significant effect on growth rate and very significant effect to moulting frequency of freshwater lobster. Which has moulting frequency 2.71. Where the treatment was not added nano calcium has moulted frequency 1.29. But, nano calcium addition on foods did not affect survival rate.Cangkang tiram dapat digunakan sebagai alternatif sumber kalsium. Pemanfaatan cangkang tiram menjadi serbuk nanokalsium dapat mengurangi limbah padat. Penggunaan serbuk nanokalsium pada pakan penting dilakukan sebagai suplemen kalsium untuk lobster air tawar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan nanokalsium pada pakan terhadap pertumbuhan, frekuensi molting dan kelangsungan hidup Lobster Air Tawar (LAT). Penelitian ini dilakukan selama 60 hari di laboratorium perikanan, Universitas Abulyatama. Data dianalisa menggunakan uji T (perbandingan) antara lobster yang diberi pakan nanokalsium dan tanpa penambahan nanokalsium. Nanokalsium yang ditambahkan ke dalam pakan sebanyak 2% berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan lobster air tawar (thitung ttabel), dan berpengaruh sangat nyata terhadap jumlah molting dengan frekuensi molting 2,71 kali/ekor terhadap lobster yang diberi pakan nano CaO, sedangkan yang diberi pakan komersil hanya 1,29 kali/ekor. Namun, tidak berpengaruh terhadap tingkat kelangsungan hidup (thitung ttabel).