Claim Missing Document
Check
Articles

Found 36 Documents
Search

Uji Hedonik Kerupuk yang Disubtitusi dengan Tepung Tulang dari Jenis Ikan Berbeda Marzatul Kiflah; Lia Handayani; Rulita Maulidya
Jurnal TILAPIA Vol 5, No 2 (2024): Juli 2024
Publisher : Center for Research and Community Service (LPPM) University of Abulyatama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30601/tilapia.v5i2.5172

Abstract

This study was conducted to find out how the effect of different fish bone meal substitution ingredients on the hedonic test properties of crackers. This study uses an experiment method  with 2 factors, namely fish bone type factors (tuna fish bones and starry triggerfish bones), fish bone meal comparison factors (10%, 15% and 20%). The hedonic test (preference test) is used to measure organoleptic properties (taste, aroma, color, and texture). Nonparametric data were analyzed using the Kruskall-Wallis method  and continued  with the Mann-Whitney test  if there were significant differences and the Bayes test was carried out  to determine the best treatment. Based on the results of the study, it can be concluded that panelists still like crackers added with tuna and starry triggerfish bone meal in all treatments. However, treatment B which added  starry triggerfish bone meal by 10% resulted in crackers that were preferred over other treatments. The taste preference values for taste, aroma, color, and texture were 8.36±0.15, 8.23±0.10, 8.18±0.05, and 8.19±0.05 respectively.
Pembuatan Pupuk Organik Dari Limbah Ikan Dengan Penambahan Sumber Mineral Yang Berbeda Rulita Maulidya; Lia Handayani; Nurhayati Nurhayati; Siti Arifa
Jurnal TILAPIA Vol 5, No 1 (2024): Januari 2024
Publisher : Center for Research and Community Service (LPPM) University of Abulyatama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30601/tilapia.v5i1.4428

Abstract

Limbah secara luas diklasifikasikan menjadi dua kategori sebagai biodegradable dan non biodegradable. Salah satu limbah yang saat ini menjadi masalah lingkungan adalah limbah yang berasal dari ikan. Limbah jika tidak dimanfaatkan pada akhirnya akan mencemari lingkungan. Proses pengomposan merupakan salah satu kegiatan untuk mengubah limbah menjadi produk yang bermanfaat. Penelitian ini bertujuan mengetahui apakah limbah ikan dapat dijadikan pupuk organik dengan penambahan sumber mineral yang berbeda dan untuk mengetahui sumber mineral manakah yang terbaik dalam pembuatan pupuk organik kompos. Penelitian ini dilakukan di Lampoh Keude, Aceh Besar, serta pengujian pH, N,P,K dan C-Organik yang  dilakukan di Laboratorium Ilmu Tanah dan Tanaman Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala. Parameter pengujian pada penelitian ini adalah pH, N,P,K dan C-Organik dan uji organoleptik spesifikasi aroma. Hasil penelitian menunjukkan bahwa limbah ikan dapat dijadikan pupuk organik dengan penambahan sumber mineral yang berbeda karena mengandung Unsur N, P, K C-organik dan pH yang sesuai standar kualitas pupuk organik (SNI 19-7030-2004). Sumber mineral yang terbaik dalam pembuatan pupuk organik kompos dalam penelitian ini berdasarkan uji organoleptik adalah limbah sayuran karena memiliki tingkat kematangan dengan rasio C/N paling rendah yaitu 12 %, dan berdasarkan uji laboratorium adalah limbah buah karena mengandung kandungan unsur C- organik (18,68%) dan unsur N (1,55%) yang lebih tinggi dari yang lain, selain itu juga mengandung unsur P dan K yang masih tergolong tinggi serta nilai pH yang normal juga mengandung rasio C/N kedua lebih rendah daripada lainnya.
Pengaruh variasi penambahan jumlah tepung cangkang tiram (Crassostrea gigas) terhadap evaluasi sensori kerupuk Nurnidar Nurnidar; Lia Handayani; Rulita Maulidya
Jurnal TILAPIA Vol 5, No 2 (2024): Juli 2024
Publisher : Center for Research and Community Service (LPPM) University of Abulyatama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30601/tilapia.v5i2.5171

Abstract

This study was conducted to determine the effect of oyster shell flour additives on the properties of the cracker organoleptic test. The research method used is the Laboratory experimental method through two stages of making oyster shell flour with NaOH 0.1 N and husk ash, and making crackers with the addition of oyster shell flour is selected as the best of the two flours as ingredients in making crackers. Nonparametric data were analyzed using the Kruskall-Wallis method, the Mann-Whitney test if there was a significant difference, followed by the Bayes test to determine the best treatment. Oyster shell crackers were selected by 30 semi-trained panelists, and the results showed that treatment D (addition of 15% oyster shell flour) resulted in more preferred crackers than other samples, with a taste value of 7.86±0.02, aroma value of 7.71±0.07, texture 7.75±0.07 (crispy), and color 7.79±0.02 (faded yellow, similar to the color of crackers in general).
Evaluasi sensori natural flavor ”pengganti MSG” dari limbah kulit dan tulang ikan tuna (Thunnus sp.) Febi Mulfiza; Lia Handayani; Rulita Maulidya
Jurnal TILAPIA Vol 5, No 2 (2024): Juli 2024
Publisher : Center for Research and Community Service (LPPM) University of Abulyatama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30601/tilapia.v5i2.5169

Abstract

There are several compounds in flavoring that give food's special aroma, taste or characteristics, such as Monosodium Glutamate (MSG). MSG is a synthetic chemical that if consumed in excess can have a bad impact on health. MSG can be replaced with natural flavors that have a similar taste. Fish skin and bones have a high content of calcium and phosphorus, in addition to minerals, proteins and volatile compounds, so they can be used as natural spices as consumer awareness of natural flavors increases. This study aims to determine the effect of the comparison of tuna fish bone and skin (Thunnus sp.) as a natural flavor on organoleptics. The research method used is an experimental laboratory method, this study used two different types of waste and each treatment was carried out 3 times, The type of waste used was tuna bones and skin. With a ratio of water and tuna bone and skin waste, namely: 1:2 (b/v), 1:3 (b/v), 1:4 (w/v). Nonparametric data were analyzed using the Kruskall-Wallis method, the Mann-Whitney test if there was a significant difference, followed by the Bayes test to determine the best treatment. Flavoring was analyzed by 30 trained and semi-trained panelists. Based on the results of the organoleptic test, the best flavor was found in sample E with a taste preference value of 6.82±0.068, aroma 6.89±0.11, color 7.19±0.02, and texture 7.14±0.08.
MENUMBUHKAN JIWA ENTREPRENEUR SEJAK DINI DI SDN LAMKRAK ACEH BESAR MELALUI PENYULUHAN BUDIDAYA IKAN HIAS Azwar Thaib; Nurhayati Nurhayati; Faisal Syahputra; Ainal Mardhiah; Isfanda Isfanda; Vina Marisa; Ade Maya; Febi Mulfiza; Lia Handayani
JABI: Jurnal Abdimas Bhakti Indonesia Vol 4 No 1 (2023): Juni
Publisher : UNIVERSITAS BHAMADA SLAWI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36308/jabi.v4i1.488

Abstract

Jiwa entrepreneur tidak dibawa sejak lahir, namun harus diciptakan dan dipupuk sejak dini. Seseorang yang terbiasa melatih kewirausahaan sejak dini memiliki keuntungan dan perspektif yang berbeda dalam berwirausaha, dan menjadi modal penting bagi anak untuk mengembangkan produktivitas dan kemandirian ketika dewasa nanti. Anak yang di didik untuk memiliki jiwa entrepreneur memiliki kreatifitas, inisiatif dan kepercayaan diri yang tinggi untuk menjadi professional seperti yang di cita-citakan. Selama ini usia sekolah terutama anak yang masih dududk di bangku Sekolah dasar minim akan pembelajaran terkait wirausaha, sehingga anak-anak tumbuh dengan maindset kelak dewasa harus menjadi pegawai negeri untuk bekerja, sedikit sekali generasi milenial yang tumbuh dengan jiwa entrepreneur tinggi. berdasarkan permasalahan tersebut pengabdian ini bertujuan untuk menumbuhkan semangat wirausaha sejak dini kepada anak-anak di Sekolah Dasar Negeri Lamkrak, Aceh Besar. Sehingga kelak generasi milenial Indonesia mampu menghadapi ketatnya persaingan dan tantangan di era globalisasi MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN) dan merubah pola pikir anak bahwa sukses itu bukan harus menjadi seorang pegawai pemerintahan, namun bagaimana bisa membuka lapangan kerja bagi orang lain, sejak dini sudah ditanamkan mindset sukses adalah menciptakan lapangan pekerjaan bukan mencari lapangan pekerjaan.
Sintesis Silika Dari Abu Sekam Padi Dan Pengaruhnya Terhadap Karakteristik Bata Ringan Meliyana Meliyana; Cut Rahmawati; Lia Handayani
Elkawnie Vol. 5 No. 2 (2019)
Publisher : Faculty of Science and Technology Universitas Islam Negeri Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/ekw.v5i2.5533

Abstract

Pemanfaatan limbah pertanian yaitu abu sekam padi menjadi silika merupakan upaya untuk mengurangi dampak lingkungan. Abu sekam padi mengandung banyak silika sehingga sangat layak untuk dimanfaatkan. Bata ringan sebagai material dinding memiliki kekurangan terutama pada kuat tekan dan daya serap air, hal ini disebabkan karena penggunaan foaming agent menyebabkan pori-pori membesar dan kuat tekan menurun. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh silika yang disintesis dari abu sekam padi terhadap karakteristik bata ringan. Kinerja bata ringan ditinjau terhadap kuat tekan, daya serap air, dan kuat tekan setelah terjadi peningkatan suhu. Sintesis silika dengan metode sol-gel menggunakan NaOH 2,5 N dan HCl 1 N. Dari pengamatan XRF dan FTIR menunjukkan silika yang dihasilkan dari abu sekam padi cukup baik dengan kandungan silika 89,17%.  Silika yang dihasilkan dicampurkan ke dalam campuran bata ringan berdasarkan berat semen sebesar 0,5, 10 dan 15%. Massa jenis bata ringan dikontrol pada 800 kg/cm2. Hasil penelitian menunjukkan bata ringan mengalami peningkatan kuat tekan hingga 3,11 MPa, namun pengaruh silika terhadap daya serap air tidak menunjukkan ada pengaruh yang signifikan. Pada pengujian terhadap pembakaran pada suhu 200 – 400°C selama 25 menit menunjukkan ada penurunan kuat tekan, namun bata ringan pada penambahan silika 5% sudah terlihat rapuh. Penambahan silika pada bata ringan dapat diaplikasikan.