Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

Representasi Kesehatan Mental Dalam Film “Kukira Kau Rumah” Sebagai Media Komunikasi Visual (Analisis Semiotika Charles Sanders Peirce) Kusuma, Luken; Utomo, Ichsan Widi; Irhamdhika, Gema
Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-Ilmu Sosial Vol 3, No 2 (2025): September
Publisher : Penerbit Yayasan Daarul Huda Kruengmane

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5281/zenodo.17150326

Abstract

The film "Kukira Kau Rumah" is the directorial debut of Umay Shahab that was first screened in Jogja-NETPAC Asian Film Festival in 2021, before finally officially released in Indonesian theaters on February 3, 2022. This film has a duration of 30 minutes. specifically bipolar disorder, through a main character named Niskala who struggles dealing with social stigma and limited support from the surrounding environment. To analyze this film, this study used a descriptive design with a qualitative approach as the primary method chosen by the researcher. The results of the study show that In the movie Kukira Kau Rumah, there are representations of two mental disorders namely bipolar disorder and depressive symptoms. Bipolar disorder is shown through Niskala’s extreme and unstable behavior such as when she appears very energetic, speaks fast and acts impulsively without considering the consequences. Meanwhile, symptoms of depression are shown through scenes when Niskala is alone, crying, losing interest in the surroundings, as well as showing a blank expression and emotional exhaustion. Both conditions are contrastively described to show the unbalanced mood dynamics, which are characteristic of bipolar disorder sufferers, while showing a profound emotional impact on their daily lives.
Krisis Kepercayaan Publik: Fenomena #Kaburajadulu Dan Peran Humas Pemerintah Dalam Merespons Cancel Culture Irhamdhika, Gema; El Hidayah, Nur Iman; Yogi Ariska; Dito Anjasmoro Ningtyas; Sari, Acih
Jurnal Public Relations (J-PR) Vol. 6 No. 1 (2025): April 2025
Publisher : LPPM Universitas Bina Sarana Informatika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31294/jpr.v6i1.8663

Abstract

Kepercayaan publik terhadap pemerintah mengalami tantangan serius di era digital, terutama dengan munculnya fenomena seperti #KaburAjaDulu yang mencerminkan eskapisme sekaligus kritik terhadap kebijakan yang dianggap tidak berpihak pada masyarakat. Fenomena ini diperburuk oleh budaya cancel culture, di mana pejabat atau institusi pemerintah mendapat tekanan publik akibat tindakan atau pernyataan yang kontroversial. Studi ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus untuk menganalisis pola komunikasi pemerintah dalam merespons dinamika opini publik. Data dikumpulkan melalui wawancara dengan pakar komunikasi dan analisis media sosial guna memahami keterkaitan antara krisis kepercayaan dan efektivitas strategi komunikasi pemerintah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kurangnya transparansi, respons lambat, dan kegagalan dalam membangun narasi yang kredibel memperparah krisis kepercayaan publik. Peran humas pemerintah menjadi semakin krusial dalam mengelola krisis komunikasi, memastikan keterbukaan informasi, serta membangun dialog yang lebih efektif dengan masyarakat. Strategi komunikasi yang adaptif, responsif, dan berbasis data diperlukan untuk meredam dampak negatif cancel culture dan membangun kembali kredibilitas pemerintah. Oleh karena itu, penelitian ini merekomendasikan peningkatan kapasitas humas pemerintah dalam mengelola komunikasi krisis, pemanfaatan teknologi analisis media sosial untuk memahami sentimen publik, serta penguatan regulasi terkait keterbukaan informasi. Dengan pendekatan komunikasi yang lebih proaktif dan berbasis transparansi, pemerintah dapat lebih efektif dalam menangani krisis kepercayaan hubungan masyarakat.
Representasi Kecurangan Pemilu 2024 Dalam Film Dokumenter “Dirty Vote” : (Studi Semiotika Charles Sanders Pierce) Ariska, Yogi; Irhamdhika, Gema
Jurnal Media Penyiaran Vol. 4 No. 1 (2024): Juni (2024)
Publisher : LPPM UBSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31294/jmp.v4i1.3391

Abstract

Penelitian ini menggunakan studi deskriptif dengan pendekatan kualitatif, yaitu analis semiotik Charles Sanders Pierce. Metode semiotik, yaitu metode analitis untuk menilai signifikasi. Peneliti menggunakan paradigma konstruktivisme. Data diperoleh melalui pemilihan adegan di film "Dirty Vote" dimana ada unsur-unsur yang berkaitan dengan kecurangan pra pemilu dan bukti intervensi kekuasaan terhadap pemilu 2024 terkhusus pemilu presiden. Peneliti menyimpulkan bahwa film ini secara gamblang menekankan bahwa intervensi pemerintah pada pemilu kali ini sangat diperlihatkan secara vulgar ke masyarakat, dimulai dari kejanggalan putusan mahkamah konstitusi, pejabat daerah yang tidak netral, aparatur negara yang ikut-ikutan bersikap tidak netral, serta pada level menteri sekalipun diduga menggunakan fasilitas negara untuk ikut kampanye mendukung salah satu pasangan calon, dan pada level badan penyelenggaraan pemilu pun juga tidak luput dari berbagai pelanggaran yang terjadi pada proses pra pemilu.
Karakteristik Komunikasi Media Massa Pada Era Reformasi Rety Palupi; Gema Irhamdhika; Uji Sukma Medianti
J-IKA : Jurnal Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas BSI Bandung Vol. 10 No. 1 (2023): April 2023
Publisher : LPPM Universitas Bina Sarana Informatika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31294/jika.v10i1.11628

Abstract

Penelitian ini membahas komunikasi yang dimiliki media pers pada masa reformasi, tahun 1998 hingga kini. Keberadaan media pers dalam demokrasi adalah hal penting karena menjadi corong kebebasan berpendapat untuk kepentingan publik. Dalam tulisan ini, penulis ingin membedah karakteristik media pers era reformasi dari segi komunikasi, beserta faktor-faktor yang mempengaruhinya. Penulis menggunakan metode kualitatif yang mengacu pada studi literatur. Kesimpulannya, komunikasi media pers era reformasi bercirikan pers yang bebas, tetapi tidak bisa dikatakan bebas secara utuh. Sebab, pers era reformasi, mau tidak mau, banyak terpengaruh oleh konglomerasi media dan sudah masuk dalam kapitalisasi pers. Kehadiran konglomerasi media ini memberikan suatu pengaruh terhadap media pers saat ini. Sebab, mereka menjadi bagian dari konglomerasi media. Hal ini berdampak kepada media pers secara tidak langsung. Di sisi lain, komunikasi media pers pada era reformasi juga lebih menekankan pada kuantitas dibanding kualitas. Hal yang paling mudah adalah para jurnalis bisa diarahkan untuk mewartakan kepentingan politik para konglomerat sehingga menjadikan pers tidak berimbang
Makna Modernisasi Perempuan Jawa Dalam Film Pendek “Wedok” Nur Iman El Hidayah; Yogi Ariska; Dito Anjasmoro Ningtyas; Gema Irhamdhika
Jurnal Komunikasi Vol. 15 No. 2 (2024): September 2024
Publisher : LPPM Universitas Bina Sarana Informatika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31294/jkom.v15i2.12056

Abstract

Tujuan penelitian ini untuk menganalisis makna modernisasi perempuan Jawa yang terkandung dalam film tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode semiotika dari Roland Barthes yang mengkaji mengenai makna denotasi, makna konotasi dan mitos. Makna denotasi yang ditemukan dalam film pendek Wedok yaitu mengenai potret perubahan perempuan jawa dari masa ke masa, yaitu dari zaman tradisional hingga zaman modern. Perubahan tersebut merupakan perubahan ke arah yang lebih maju. Sedangkan makna konotasi nya yaitu Adanya modernisasi membawa perubahan yang lebih baik bagi perempuan jawa. Mitos yang peneliti temukan pada film pendek Wedok yaitu Modernisasi bagi perempuan jawa membawa perempuan jawa terlepas dari belenggu kungkungan dan tuntutan budaya jawa yang mengharuskan perempuan jawa terus termarginalkan. Modernisasi dalam film Wedok terlihat bagaimana perubahan perempuan dalam hal mendapatkan pendidikan dan perubahan pola pikir orang tua dalam mendidik dan memperlakukan anak perempuannya. Anak laki-laki dan anak perempuan di dalam keluarga tidak lagi di beda-bedakan, artinya mereka sudah memiliki kedudukan yang sama
Analisis Wacana Pemanfaatan Artificial Intelligence Dalam Postingan Video Instagram pada Akun @gibran_rakabuming Ghifary Muhammad Arasta; Gema Irhamdhika; Rety Palupi
Jurnal Komunikasi Vol. 16 No. 1 (2025): Maret 2025
Publisher : LPPM Universitas Bina Sarana Informatika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31294/jkom.v16i1.12093

Abstract

Perhatian terhadap perkembangan Artificial Intelligence (AI) meningkat pada awal pemerintahan Prabowo-Gibran, yang ditandai dengan pernyataan Presiden Prabowo mengenai pentingnya penguasaan AI oleh generasi muda Indonesia. Sejalan dengan itu, Wakil Presiden Gibran turut mempopulerkan wacana pemanfaatan AI melalui media sosial pribadinya. Penelitian ini menganalisis wacana pemanfaatan AI pada unggahan video akun @gibran_rakabuming tanggal 12 Maret 2025, terkait kunjungan ke SMAN 66 Jakarta dalam Program Nasional Digital AI (Pandai), dengan pendekatan analisis wacana kritis Sara Mills. Menggunakan paradigma kritis dan metode kualitatif deskriptif, studi ini menemukan bahwa pemerintah tampil sebagai subjek dominan yang membentuk arah kebijakan pendidikan, sementara guru, siswa, dan sekolah diposisikan sebagai objek pasif. Wacana AI dalam unggahan tersebut menunjukkan adanya kecenderungan pelanggengan ideologi kekuasaan yang kurang mempertimbangkan realitas sosial dan budaya lokal.
Digital Resistance to Social Media Taxation: A Semiotic Analysis of Protest Discourse on Platform X Irwanto, Irwanto; Hariatiningsih, Laurensia Retno; Yunita, Ria; Irhamdhika, Gema; Bender, George Wilhelm
Communication Vol 17, No 1 (2026): Communication
Publisher : Fakultas Komunikasi & Desain Kreatif - Universitas Budi Luhur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36080/Comm

Abstract

This study examines netizen resistance to Indonesia's proposed 2026 social media tax policy. It employs a qualitative analysis of interactions on Platform X. This research employs van Leeuwen's (2015) social semiotics and W. Lance Bennett and Alexandra Segerberg's (2015) connective action theory, in analyzing how users construct collective resistance narratives. These narratives emerge through multimodal signs and personalized participation. Data from influential accounts, including @kompascom, @detikcom, and individual netizens, reveal three key resistance patterns. First, users construct injustice narratives using words like "targeting" and surveillance icons. Second, digital interactions connect personal frames to collective action through sarcasm and metaphors. Third, multimodal compositions such as infographics, binary signs, and temporal strategies enhance narrative coherence. The findings indicate that netizens frame the tax policy as both an economic burden and a mechanism of social control, articulating fear of privacy violations and systemic injustice. The integration of semiotic analysis with connective action theory reveals how platform affordances facilitate resistance without a hierarchical organization. This transformation positions X as a digital public sphere for political contestation. This research contributes to the understanding of contemporary digital resistance in Global South contexts. It highlights how algorithmic amplification and multimodal communication shape the perceptions of policy legitimacy in Indonesia's evolving digital democracy. The study also underscores the need for more transparent policy communication. Finally, it provides a theoretical framework for analyzing digital protest in post-authoritarian societies. Keywords: Digital Resistance, Social Media Tax Policy, Connective Action, Social Semiotics, Platform