Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

Pelatihan Bebat Bidai untuk Kader Kesehatan Pengungsi di IOM Reza Hery Mahendra Putra; Ainul Rofik; Muhammad Devabrata Setiawan; Mohammad Daffa Okta Baihaqi; Nur Sophia Matin
Journal of Community Development Diversity Vol. 1 No. 1 (2025): Maret
Publisher : Pro Panoramic Solution

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64595/jcdd.151

Abstract

Kecelakaan merupakan kejadian yang tiba-tiba dan dan tidak bisa diprediksikan sebelumnya. Selain itu, kecelakaan juga bisa terjadi dimana saja dan kapan saja. Salah satu insiden kecelakaan yang memiliki angka kejadian cukup tinggi yakni insiden fraktur ekstremitas bawah, jumlahnya sekitar 46,2% dari insiden kecelakaan yang terjadi. Fraktur merupakan salah satu kondisi darurat yang membutuhkan pertolongan dengan segera guna menghilangkan ancaman nyawa korban. Fraktur termasuk dalam cedera muskuloskeletal. Penyebab fraktur dapat dibagi menjadi tiga, yaitu cedera traumatik, fraktur patologik, dan secara spontan. Kecelakaan pada sistem muskuloskeletal harus ditangani dengan cepat dan tepat. Jika tidak ditangani dengan cepat akan menimbulkan cedera yang semakin parah dan dapat memicu terjadinya pendarahan. Dampak lain yang terjadi dapat mengakibatkan kelainan bentuk tulang atau kecacatan bahkan kematian. Untuk mencegah terjadinya cedera pada sistem muskuloskeletal dibutuhkan pertolongan balut bidai. Sayangnya, pertolongan balut bidai belum familiar di tengah masyarakat. IOM adalah organisasi antar pemerintah yang terdepan dan berdedikasi untuk mempromosikan migrasi yang berperikemanusiaan dan teratur yang bermanfaat bagi semua. Secara umum, pelatihan yang diberikan untuk kader kesehatan pengungsi di IOM kali ini dapat meningkatkan pemahaman dan skill para kader untuk memberikan bebat bidai. Dalam pelaksanaan kegiatan ini dilakukan pretest sebelum materi dan posttest setelah materi menggunakan Google form.  Dari hasil yang didapat, dilakukan uji paired sample T test, secara statistik diperoleh hasil terdapat perbedaan yang signifikan. Dapat diambil kesimpulan bahwa kegiatan pelatihan yang diberikan memberi pengaruh yang bermakna. Kegiatan pelatihan ini telah sejalan dengan konsep Health Belief Model, dimana ditujukan khusus untuk para kader kesehatan pengungsi di IOM.  Merupakan hal yang sangat penting untuk memastikan bahwa para kader mendapat pelatihan dan pemahaman tentang pertolongan pertama pada insiden fraktur ekstremitas bawah. Diperlukan pengabdian dan pendampingan lebih lanjut agar skill yang telah didapatkan bisa terus terasah, bahkan bisa ditingkatkan oleh para kader kesehatan pengungsi di IOM.
PELATIHAN TRANSPORTASI PASIEN KEPADA IMIGRAN INTERNATIONAL ORGANIZATION OF IMMIGRATION SIDOARJO Ainul Rofik; Reza Hery Mahendra Putra; Ghalief Fernanda Putra Fardian; Mutiara Kusumaningsih
Community Development Journal : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 5 No. 6 (2024): Vol. 5 No. 6 Tahun 2024
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/cdj.v5i6.37606

Abstract

Gawat darurat dapat terjadi secara tiba-tiba dan harus segera dilakukan pertolongan pertama secara cepat dan tepat. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini ditujukan kepada imigran IOM Sidoarjo. Acara dilaksanakan pada hari Kamis, 29 Agustus 2024. Kegiatan ini dilaksanakan dengan metode pelatihan mengenai transportasi pasien. Tujuan dari kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini adalah untuk memberikan pelatihan mengenai transportasi pasien kepada imigran di International Organization of Immigration (IOM) Sidoarjo. Para peserta sangat antusias dalam mengikuti acara dari awal hingga akhir. Pelatihan yang diberikan adalah apa itu transportasi pasien, kapan transportasi pasien dapat dilakukan, apa yang perlu diperhatikan, dan bagaimana cara melakukan transportasi pasien. Penulis mengevaluasi kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini berdasarkan penilaian subjektif, yaitu secara acak meminta salah satu peserta untuk mempraktekkan cara transportasi pasien yang benar. Pelatihan mengenai transportasi pasien telah tersampaikan dengan baik kepada peserta. Harapan penulis agar peserta mengetahui cara transportasi pasien yang benar. Sehingga peserta dapat membantu melakukan transportasi pasien yang benar saat terjadi kondisi gawat darurat.
The Relationship Between Leukocytes Numbers and Consciousness Level of Craniotomy Patients at The Jemursari Islamic Hospital Surabaya in 2018-2019 Ainul Rofik; Utami Ambarsari; Hafizh Auliyan Sodali; Misbakhul Munir
JURNAL INDONESIA DARI ILMU LABORATORIUM MEDIS DAN TEKNOLOGI Vol 3 No 2 (2021): Molecule analysis to advance laboratory diagnosis
Publisher : Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33086/ijmlst.v3i2.1889

Abstract

This study investigates the correlation between leukocyte number and the patient's awareness level after craniotomy surgery, both high (leukocytosis) and low (leukopenia). Several studies reveal that an increase in leukocytes affects mortality rates due to the high level of leukocytes affecting our body's functionalities, including awareness. Previous studies revealed that a leukocyte count exceeding 17.5x106/L was associated with a lower GCS score, a longer hospital stay, and worsening CT scan results, regardless of the type of focal lesion that occurred. This study uses observational methods in the form of retrospective case studies. The data was collected from the medical records of the Operation room at Jemursari Islamic Hospital in 2018-2019 with a sample size of 89. The research was conducted at Jemursari Islamic Hospital Surabaya from May 2018 to August 2019. Data were analyzed using the Spearman correlation test with p <0.05. Results showed no significant relationship between the leukocyte count and the consciousness level of post-craniotomy patients. Future research could estimate the specific effects on the morphology of specific leukocyte cells that are elevated in post-craniotomy patients. This research is expected to provide insight into the effect of leukocytes on consciousness to reduce patient mortality after craniotomy.