Claim Missing Document
Check
Articles

Found 31 Documents
Search

PENGARUH PENERAPAN PENDEKATAN SAINTIFIK DENGAN MENGGUNAKAN STRATEGI PEMBELAJARAN ACTIVE LEARNING TIPE GUIDED NOTE TAKING TERHADAP HASIL BELAJAR BIOLOGI SISWA DI SMAN 15 PADANG Nursyahra, Nursyahra
Jurnal Bioconcetta Vol 2, No 2 (2016)
Publisher : STKIP PGRI Sumatera Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (103.41 KB) | DOI: 10.22202/bc.2016.v2i2.1536

Abstract

Rendahnya hasil belajar biologi siswa dikarenakan kurangnya motivasi siswa untuk belajar, siswa malas mencatat, kurangnya buku pegangan siswa sebagai sumber belajar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penerapan pendekatan saintifik dengan menggunakan strategi pembelajaran Active Learning tipe Guided Note Taking terhadap hasil belajar biologi siswa kelas X SMA 15 Padang. Jenis penelitian ini adalah penelitian yang digunakan adalah Randomized Control Group Only Design. Teknik pengambilan sampel dalam peneltian ini adalah Purposive Sampling. Sehingga diperoleh dua kelas sampel yaitu X MIA I sebagai kelas eksperimen dan X MIA 3 sebagai kelas kontrol. Instrumen hasil belajar afektif berupa lembaran obeservasi sikap sedangkan instrumen hasil belajar psikomotor siswa  berupa lembaran penilian keterampilan dengan melihat aktifitas siswa pada saat siwa mengerjakan lembaran Guide Note Taking (lembaran catatan terbimbing) secara berkelompok. Teknik analisis data hasil belajar yang digunakan adalah uji t. Berdasarkan hasil uji-t pada taraf nyata 0.05 diperoleh thitung= 2.56 dan ttabel =1.67. Hasil penelaian afektif siswa pada kelas eksperimen yaitu 3.5 dengan predikat B+ dan untuk kelas kontrol diperoleh 2.48 dengan predikat C+. Sedangkan untuk hasil penilaian psikomotor siswa eksperimen yaitu 3.09 dengan predikat B dan untuk kelas kontrol diperoleh nilai yaitu 3.29 dengan predikat B+. Dari hasil penelitian disimpulkan bahwa penerapan pendekatan saintifik dengan menggunakan strategi pembelajaran active learning tipe guided note taking berpengaruh terhadap hasil belajar biologi siswa kelas X SMAN 15 Padang baik pada ranah kognitif, afektif maupun psikomotor. 
KEPADATAN VEGETASI DASAR PADA LOKASI BEKAS PENAMBANGAN EMAS DI NAGARI GUNUNG MEDAN KECAMATAN SITIUNG KABUPATEN DHARMASRAYA Nursyahra, Nursyahra; Meriko, Lince
Jurnal Bioconcetta Vol 2, No 1 (2016)
Publisher : STKIP PGRI Sumatera Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (280.117 KB) | DOI: 10.22202/bc.2016.v2i1.1488

Abstract

Vegetasi adalah suatu kelompok atau kumpulan komunitas tumbuhan yang terdiri dari beberapa jenis yang hidup bersama-sama pada suatu tempat dan saling berinteraksi.  Vegetasi dasar  merupakan lapisan tumbuhan penutup tanah yang terdiri dari herba, semak, liana dan paku-pakuan. Pada habitat yang rusak juga dijumpai vegetasi dasar sebagai tumbuhan pionir. Hal ini juga dapat terjadi pada bekas tambang. Kabupaten Dharmasraya merupakan salah satu kota tambang di Indonesia, salah satunya tambang emas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jumlah   dan   kepadatan   vegetasi   dasar   pada   bekas   tambang.   Kabupaten Dharmasraya. Jenis Penelitian ini merupakan penelitian survey deskriptif dengan metode   petak   ganda.   Pengambilan   sampel   dilakukan   pada   lokasi   bekas penambangan  emas  di  Nagari  Gunung  Medan  Kecamatan  Sitiung  Kabupaten Dharmasraya dengan menggunakan petak-petak contoh yang tersebar secara acak. Struktur vegetasi dasar pada ke empat stasiun. Pada stasiun 1, kerapatan tertinggi adalah Brachiaria eurciform dengan nilai 7,58 individu/m2, pada stasiun 2 adalah Boreria alata 10,58 individu/m2, pada stasiun 3 adalah Sclena sumatrensis 2,5 individu/m2, stasiun 4 adalah Paspalum conjugatum 2,5 individu/m2. 
WILD PTERIDOPHYTA THAT CAN BE USED AS DECORATIVE PLANTS BY THE SOCIALITY Nursyahra, Nursyahra; Putri, Lola Dwi; Zural, Mimin Mardhiah; Meriko, Lince
Jurnal Bioconcetta Vol 7, No 1 (2021): Sinta 4
Publisher : Universitas PGRI Sumatera Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22202/bc.2021.v7i1.4196

Abstract

Abstract. Fern is a plant that is spread so widely that it can be found from the lowlands to the highlands, has a high diversity of Indonesian flora groups and many grow in moist areas such as oil palm plantations, forests, hills and even river flows. In the river there are fern plants that grow attached to the stone. The study was conducted in July-August 2019 and aims to find out the types of fern plants that are used as decorative plants by sociality. The method used in this study is a descriptive survey by field observation and direct collection. Collections obtained were identified using with plant taxonomy books and field guides. Analysis of research data was done descriptively. The results showed that there were 6 types of decorative fern plants consisting of 1 class, 1 nation, 5 tribes, and 6 clans.Keywords: Pteridophyta, The Benefits of Fern
Efektivitas Bokashi Daun Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq) Terhadap Produksi Kacang Kedelai (Glycine max (L.) Merr.) di Pasaman Barat Nursyahra; Muhammad Rizki; Rizki
Biotropic : The Journal of Tropical Biology Vol. 4 No. 1 (2020): Biotropic, Volume 4 Nomor 1, 2020
Publisher : Program Studi Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (706.75 KB) | DOI: 10.29080/biotropic.2020.4.1.8-14

Abstract

The low production of soybeans in the West Pasaman district is due to severeal factors, including the lack of community knowledge in soybean farming which results in less productive yields obtained by farmer and the high use of inorganic fertilizers continuously resulting in less productive soil. This study was experimental research using a completely randomized design (CRD). The treatments given were 6 treatments and 5 replications, the treatments used were 15 gram TSP (A treatment) as control treatments, 300 gram bokashi (B treatment), 400 gram bokashi (C treatment), 500 gram bokashi (D treatment), 600 gram bokashi (E treatment), 700 gram bokashi (F treatment). The data obtained were analyzed by analysis of variance and then continued by LSD test at α level of 5%. Observed parameters were the number of planting seeds and weight of 50 seeds per plant. The results of this study indicated that bokashi fertilizer had no significant effect on the number of seeds but it had significant effect on the weight of 50 seeds and the best result was found in B treatment (300 gram bokashi/polybag). This research had environmental conditions with temperatures of 30 – 340 C, environmental humidity of 63 – 80%, wind speeds of 0,2 to 2,8 m/s, and soil pH of 5,4 to 7,0.
Medicinal Plants Used for Traditional Medicine in Ethnobotanical Studies in Nagari Padang Laweh, Sijunjung Regency Gina Julia; Nursyahra Nursyahra; Zikra Zikra
Bioscience Vol 7, No 1 (2023): Biology
Publisher : UNIVERSITAS NEGERI PADANG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/0202371122501-0-00

Abstract

This studi aims to determine medicinal plants used for tradisional medicine in ethnobotanical studies in Nagari Padang Laweh, Sijunjung Regency. This information can be obtained by the community as a reference for traditional medicine that has been passed down from generation to generation. The method used in this research is descriptive survey method. Medicinal plant species were identified in the field and continued at the Botanical Laboratory of PGRI University, West Sumatra. In this study obtained 81 species of medicinal plants. Not all medicinal plants used in Nagari Padang Laweh are also used as medicine elsewhere, so this knowledge can be used as an asset and needs to be preserved.
Tanaman Obat Keluarga (Toga) Di Nagari Koto Baru Kecamatan Sungai Pagu Kabupaten Solok Selatan Febriani, Revi; Nursyahra, Nursyahra; Maizeli, Annika
Jurnal Pendidikan, Sains Dan Teknologi Vol. 3 No. 2 (2024): April - Juni
Publisher : CV. ITTC INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47233/jpst.v3i2.1643

Abstract

Since ancient times, traditional medicine has been a natural form of treatment and is still evolving now.But few people are aware of how plants are used in traditional medicine.There is still a lack of public awareness regarding the therapeutic qualities of plants in the family.Finding the different plant species and family components that are employed as therapeutic plants in traditional medicine is the goal of the research.This study employs descriptive methodology and is research-based.In addition to conducting interviews and observations using purposive sampling approaches, the research involved direct observation, the gathering of medicinal plants at the location, and observations.Instead of sampling at random, researchers in the field were observed and recorded.The investigation yielded 57 species of medicinal plants that the residents of Nagari Koto Baru Sungai Pagu District, South Solok Regency, including 36 families used as components for traditional medicine.
Study of Weeds as Traditional Medicinal Plants Used by Indigenous People of West Pasaman, Indonesia Rizki, Rizki; Nursyahra, Nursyahra; Fernando, Oki
Journal of Tropical Horticulture Vol 2, No 2 (2019): October 2019
Publisher : Yayasan Pertanian Tropika Indonesia (YPTI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1394.604 KB) | DOI: 10.33089/jthort.v2i2.21

Abstract

Ethnobotanical study of weeds as traditional medicinal plants was conducted in West Pasaman,  Indonesia. Weed is a type of wild plant that grows naturally without deliberately planted by humans. Weeds grow around housing residents or farmlands. Their existence is less desirable, but indigenous people in Luhak Nan Tigo, West Pasaman, utilize some types of weeds as traditional medicinal plants. This study was focused on identifying weeds as medicinal plants, disease treated, part of the weeds used, methods of preparation, and ingredients added. The descriptive survey method with observation and interview techniques was employed in this study. A total of 35 species of weeds belonging to the 23 plants family were identified. Weeds are used as traditional medicines to cure wounds, fever, bone pain, abdominal pain, back pain, itching, heartburn, asthma, and phlegm.
Alga Epilitik Yang Ditemukan Di Aliran Air Terjun Timbulun Bungus Kota Padang Annisa, Aulia Nuzul; Nursyahra, Nursyahra; Safitri, Elza; Abizar, Abizar
BEST Journal (Biology Education, Sains and Technology) Vol 7, No 2 (2024): September 2024
Publisher : Program Studi Pendidikan Biologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30743/best.v7i2.10842

Abstract

Air terjun Timbulun Bungus Kota Padang bahwa kawasan air terjun terletak kurang lebih 20 meter dari pemukiman penduduk. Air Terjun Timbulun menjadi objek wisata di Kota Padang dan memiliki pesona yang indah, kondisi badan perairan disepanjang air terjun yang jernih, belum tercemar dan ekosistem yang baik akan mengandung berbagai keanekaragaman hayati yang ada di lingkungan sekitar air terjun tersebut. Dengan adanya tempat wisata dan pemandian dikhawatirkan air terjun tercemar dan kualitas air menurun. Kualitas air sangat mempengaruhi kehidupan dan perkembangan alga. Mengingat peran penting alga dalam perairan yaitu sebagai produsen, oleh karena itu alga harus dilestarikan. Alga merupakan organisme tingkat rendah yanag bersifat eukariotik dan memiliki klorofil.   Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis-jenis alga epilitik yang ditemukan di aliran air terjun Timbulun Bungus Kota Padang dan untuk menghasilkan media pembelajaran online berbentuk blog pada submateri Protista.Penelitian ini dilakukan pada bulan Juli-Agustus 2024 dengan metode yang digunakan adalah survei deskriptif, menetapkan 3 stasiun pengambilan sampel dengan Teknik Purposive Sampling di aliran air Terjun Timbulun Bungus Kota Padang. Identifikasi alga epilitik dilakukan di Laboratorium Botani Fakultas Sains dan Teknologi Universitas PGRI Sumatera Barat. Hasil penelitian yang telah dilakukan didapatkan sebanyak 20 spesies alga epilitik, yang terdiri dari kelas Bacillariophyceae, kelas Cholorophyceae, dan kelas Cyanophyceae. Kelas Bacillariophyceae ditemukan 5 spesies, kelas Cholorophyceae 12 spesies, dan kelas Cyanophyceae ditemukan 3 spesies
Alga Epilitik Yang Ditemukan Dialiran Air Terjun Lubuk Hitam Kota Padang Hakika, Ikfin Haula; Abizar, Abizar; Nursyahra, Nursyahra; Safitri, Elza
BEST Journal (Biology Education, Sains and Technology) Vol 7, No 2 (2024): September 2024
Publisher : Program Studi Pendidikan Biologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30743/best.v7i2.10847

Abstract

Air terjun Timbulun Bungus Kota Padang bahwa kawasan air terjun terletak kurang lebih 20 meter dari pemukiman penduduk. Air Terjun Timbulun menjadi objek wisata di Kota Padang dan memiliki pesona yang indah, kondisi badan perairan disepanjang air terjun yang jernih, belum tercemar dan ekosistem yang baik akan mengandung berbagai keanekaragaman hayati yang ada di lingkungan sekitar air terjun tersebut. Dengan adanya tempat wisata dan pemandian dikhawatirkan air terjun tercemar dan kualitas air menurun. Kualitas air sangat mempengaruhi kehidupan dan perkembangan alga. Mengingat peran penting alga dalam perairan yaitu sebagai produsen, oleh karena itu alga harus dilestarikan. Alga merupakan organisme tingkat rendah yanag bersifat eukariotik dan memiliki klorofil.   Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis-jenis alga epilitik yang ditemukan di aliran air terjun Timbulun Bungus Kota Padang dan untuk menghasilkan media pembelajaran online berbentuk blog pada submateri Protista.Penelitian ini dilakukan pada bulan Juli-Agustus 2024 dengan metode yang digunakan adalah survei deskriptif, menetapkan 3 stasiun pengambilan sampel dengan Teknik Purposive Sampling di aliran air Terjun Timbulun Bungus Kota Padang. Identifikasi alga epilitik dilakukan di Laboratorium Botani Fakultas Sains dan Teknologi Universitas PGRI Sumatera Barat. Hasil penelitian yang telah dilakukan didapatkan sebanyak 20 spesies alga epilitik, yang terdiri dari kelas Bacillariophyceae, kelas Cholorophyceae, dan kelas Cyanophyceae. Kelas Bacillariophyceae ditemukan 5 spesies, kelas Cholorophyceae 12 spesies, dan kelas Cyanophyceae ditemukan 3 spesies
Alga Epilitik Yang Ditemukan Di Aliran Air Terjun Sarasah Koto Baru Ulu Gadut Kota Padang Ferti, Mila Amelia; Abizar, Abizar; Safitri, Elza; Nursyahra, Nursyahra
BEST Journal (Biology Education, Sains and Technology) Vol 7, No 2 (2024): September 2024
Publisher : Program Studi Pendidikan Biologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30743/best.v7i2.10848

Abstract

Air terjun sarasah Koto Baru Ulu Gadut Kota Padang terletak jauh dari pemukiman penduduk dengan kondisi alam masih alami yang menyimpan berbagai keanekaragaman hayati sebagai sumber ekosistem yang ada dilingkungan tersebut salah satunya alga. Kehadiran alga dinilai sangat penting diperairan air terjun ini karena menjadi sumber makanan bagi organisme lain yang hidup diperairan tersebut dan juga alga dapat mempengaruhi kualitas air untuk menjaga keseimbangan ekosistem diperairan sekitar. Tujuan penelitian ini adalah Untuk mengetahui species alga epilitik di air terjun dan aliran sarasah Koto Baru Ulu Gadut Kota Padang. Hasil penelitian mengenai species alga epilitik ini disumbangsihkan kedalam media pembelajaran online berupa Blog. Penelitian ini telah dilakukan pada bulan Juli-Agustus 2024 dengan Teknik penelitian purposive sampling berdasarkan topografi lokasi dan metode analisis data yaitu survey deskriptif. Pengambilan sampel dilakukan di masing-masing stasiun , yaitu stasiun I berada dibawah air terjun sarasah, stasiun II pada bagian aliran air yang tenang berada ditengah aliran, dan stasiun ke III pada bagian ujung aliran air terjun sarasah mendekati aliran sungainya dengan masing-masing stasiun dilakukan tiga kali pengulangan pengambilan sampel. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan tentang alga epilitik dialiran air terjun sarasah Koto Baru Ulu Gadut Kota Padang ditemukan sebanyak 20 species alga yang termasuk kedalam 3 kelas yaitu Kelas Bacillariophyceae, kelas Chlorophyceae dan kelas Cyanophyceae