Claim Missing Document
Check
Articles

Found 18 Documents
Search

PENINGKATAN KEBERHASILAN IMPLANTASI TIKUS Rattus norvegicus TERPAPAR ASAP ROKOK PASCA DITERAPI EKSTRAK ETANOL RUMPUT KEBAR (Byophytum petersianum Klotzsch) Rahandity, Jeanny Stevani; Unitly, Adrien Jems Akiles; Eddy, La; Huwae, Laury Marcia Chara
Biofaal Journal Vol 2 No 1 (2021): Biofaal Journal
Publisher : Pattimura University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (264.913 KB) | DOI: 10.30598/biofaal.v2i1pp19-27

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan keberhasilan implantasi tikus Rattus norvegicus terpapar asap rokok pasca diterapi ektrak etanol rumput kebar (Biophytum petersianum Klotzsch). Penelitian mengggunakan metode eksperimental laboratorik dengan rancangan acak lengkap (RAL) yang terdiri dari empat perlakuan yang masing-masing diulang tiga kali, yaitu (-): Kelompok kontrol negatif yaitu tikus yang tidak diberi perlakuan, (+): Kelompok kontrol positif yaitu tikus dipaparkan asap rokok selama 28 hari, (0.067): Kelompok tikus yang dipapar asap rokok selama 28 hari kemudian diberi ekstrak etanol rumput kebar dengan dosis 0.067mg/ekor/hari selama 28 hari, dan (0.135): Kelompok tikus yang dipapar asap rokok selama 28 hari kemudian diberi ekstrak etanol rumput kebar dengan dosis 0.135mg/ekor/hari selama 28 hari. Setelah itu, semua tikus dikawinkan. Pengamatan jumah korpus luteum pada organ ovarium dan titik implantasi pada organ uterus tikus dilakukan pada usia kebuntingan 12 hari. Data yang dianalisis dengan analysis of variance (ANOVA)-SPSS versi 16.0 dilanjutkan dengan uji Duncan dengan selang kepercayaan 95% (α = 0.05) dan metode nonparametric. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian ekstrak etanol rumput kebar (Byophytum petersianum Klotzsch) dengan dosis 0.135 mg/ekor/hari mampu meningkatkan keberhasilan implantasi tikus Rattus norvegicus.
JUMLAH SEL LEYDIG DAN SEL SERTOLI TIKUS GALUR SPARAGUE-DAWLEY TERPAPAR SOPI PASCA DITERAPI EKSTRAK ETANOL SIRIH CINA (Peperomia pellucida L.) Unitly, Adrien Jems Akiles; Killay, Amos; Moniharapon, Mechiavel; Eddy, La; Silahooy, Veince B; Huwae, Laury Marcia Ch; Moniharapon, Debby Dijola; Lakesubun, Bella Frida
Biofaal Journal Vol 5 No 1 (2024): Biofaal Journal
Publisher : Pattimura University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/biofaal.v5i1pp010-018

Abstract

Tujuan penelitian ini untuk mengetahui jumlah sel Leydig dan sel Sertoli tikus terpapar sopi pasca diterapi ekstrak etanol sirih cina (Peperomia pellucida. L). Rancangan acak lengkap (RAL) digunakan dalam penelitian ini, dengan membagi 15 ekor tikus ke dalam 5 kelompok perlakuan yang diulang sebanyak 3 kali, yaitu kelompok 5.4 adalah 3 ekor tikus yang diberi sopi 5.4 ml/ekor/hari selama 14 hari (kontrol negatif), kelompok Vit. C 6.3 adalah 3 ekor tikus yang diberi sopi 5.4 ml/ekor/hari kemudian diberi Vitamin C 6.3 mg/ekor/hari selama 14 hari (kontrol positif), kelompok 0.71, 1.43 dan 2.86 adalah 3 ekor tikus yang diberi sopi 5.4ml/ekor/hari selama 14 hari kemudian kemudian masing-masing kelompok diberi ekstrak etanol sirih cina 0.71g/ekor/hari selama 14 hari, 1.43g/ekor/hari selama 14 hari dan 2.86g/ekor/hari selama 14 hari. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Zoologi dan Mikroteknik Jurusan Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Pattimura Ambon mencakup persiapan hewan model, pemberian minuman sopi, ekstraksi sirih cina, pembuatan preparat histologis dan pengamatan. Hasil yang diperoleh dianalisis dengan Analysis of Variance (ANOVA) dan dilanjutkan dengan uji duncan pada taraf nyata a = 0.05 menggunakan perangkat lunak SAS dan dilanjutkan dengan uji beda nyata terkecil untuk mengetahui perbedaan perlakuan yang diberikan. Hasil penelitian menunjukan bahwa pemberian sopi 5.4 ml dapat menyebabkan penurunan jumlah sel Leydig dan sel Sertoli dan setelah diberi ekstrak etanol sirih cina, jumlah sel Leydig dan sel Sertoli mengalami peningkatan, dimana dosis ekstrak etanol sirih cina yang baik untuk sel Leydig adalah 2.86g dan untuk sel Sertoli adalah dosis 1.43g.
Efek Terapi Sirup Cengkeh Terhadap Kadar Glukosa Darah Tikus Rattus norvegicus Diabetes Melitus Nindatu, Maria; Unitly, Adrien Jems Akiles; Silahooy, Veince B.; Eddy, La; Huwae, Laury Marcia Chara; Sembiring, Firly H. R.; Reasoa, Jesmendy; Matakupan, Maya M.; Lesirolo, Medlin; Laratmase, Nia D.; Pattinama, Etty; Far Far, Thessa N.
Kalwedo Sains (KASA) Vol 2 No 1 (2021): Kalwedo Sains (KASA), Maret 2021
Publisher : Program Studi Di Luar Kampus Utama Universitas Pattimura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/kasav2i1p41-47

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek terapi sirup cengkeh terhadap kadar glukosa darah tikus Rattus norvegicus diabetes melitus. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL). Hasil yang diperoleh dianalisis dengan Analysis of Variance (ANOVA) kemudian dilanjutkan Uji Duncan pada taraf nyata α = 0,05 menggunakan perangkat lunak SAS. Sampel berjumlah 12 ekor tikus, yang dibagi menjadi 4 kelompok. Kelompok tikus K (+), P1, P2 dibuat diabetes dengan injeksi streptozotocin 45 mg/kg BB. Kelompok P1 dan P2 diberikan sirup cengkeh dengan dosis berturut- turut 1,8 dan 3,6 ml/ekor/ hari. Tikus diaklimatisasikan selama 21 hari kemudian diberi perlakuan selama 14 hari, dan kadar glukosa darahnya diukur pada hari ke 7 dan hari ke 14. Hasil penelitian menunjukkan adanya efek penurunan kadar glukosa darah, yang mana dosis efektif yaitu 1,8 ml/ekor/hari. Dapat disimpulkan bahwa sirup cengkeh memiliki potensi dalam menurunkan kadar glukosa darah pada tikusRattus norvegicus diabetes melitus.
Study of the egret community of the Ardeidae family on Osi Island, West Seram Regency: Ecotourism Area Development Efforts Pattirousamal, Stella Regina; Eddy, La; Silahooy, Veince Benjamin
Kalwedo Sains (KASA) Vol 2 No 2 (2021): Kalwedo Sains (KASA), September 2021
Publisher : Program Studi Di Luar Kampus Utama Universitas Pattimura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/kasav2i2p78-82

Abstract

Osi Island is one of the islands in the West Seram Regency, Maluku Province. The existence of egret species on Osi Island can be pursued as a birdwatching ecotourism object. The data is still scanty, it is necessary to do research in an effort to develop ecotourism in the area. This research was conducted on Osi Island, West Seram Regency, from June to July 2021. The method used was point count, a preliminary study was carried out for 3 days to determine observation points. There are 2 species of egrets in the Ardeidae family on Osi Island, West Seram Regency, Maluku Province, namely Egreta alba with 28 individuals and Egreta garzetta with 47 individuals. The results of the analysis showed different individual densities where E. garzetta was superior because of the greater number of individuals than E. alba. Species diversity is in the low category (0.66). Despite the low number of species and individuals, Osi Island still has the potential to become a birdwatching ecotourism destination.
Peningkatan Jumlah Anak Tikus Dari Induk Yang Terpapar Asap Rokok Pasca Diterapi Ekstrak Etanol Sirih Cina (Peperomia pellucida L.) Tetelepta, Nelma; Unitly, Adrien Jems Akiles; Eddy, La; Killay, Amos; Silahooy, Veince B.
Kalwedo Sains (KASA) Vol 4 No 1 (2023): Kalwedo Sains (KASA), Maret 2023
Publisher : Program Studi Di Luar Kampus Utama Universitas Pattimura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/kasav4i1p36-42

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk melihat peran ekstrak etanol sirih cina (Peperomia pellucida L.) terhadap peningkatan jumlah anak dari induk tikus yang terpapar asap rokok. 15 ekor tikus yang digunakan dalam penelitian ini dengan 5 (lima) kelompok perlakuan dan 3 (tiga) kali ulangan. Tikus kelompok kontrol negatif dikawinkan pada awal penelitian dan dipaparkan asap rokok selama 14 hari, tikus kelompok kontrol positif dikawinkan kemudian diberi paparan asap rokok selama 14 hari dan dilanjutkan dengan pemberian vitamin C dengan dosis 3.2 gram selama 14 hari, sedangkan tikus kelompok dosis ekstrak etanol sirih cina dikawinkan, kemudian setelah bunting diberi paparan asap rokok selama 14 hari. Pengamatan embrio dilakukan pada saat masa kebuntingan ke 15 hari kemudian dibedah. Sedangkan pengamatan jumlah anak dilakukan pada saat anak tikus dilahirkan. Data yang diperoleh dianalisis dengan analisis sidik ragam Analysis Of Variance (ANOVA), selanjutnya dilakukan uji duncan dengan selang kepercayaan 95 % (α = 0,05) dengan menggunakan perangkat lunak SAS. Hasil penelitian menunjukan bahwa pemberian ekstrak etanol Sirih cina (Peperomia pellucida L.) dengan dosis 0.72 gram/ekor/hari mampu menjaga keberhasilan implantasi embrio kedinding uterus sehingga rata-rata jumlah anak tikus meningkat. Disimpulkan bahwa Pemberian ekstrak etanol sirih cina (Peperomia pellucida L.) dapat meningkatkan jumlah anak dari induk tikus yang terpapar asap rokok, dimana dosis yang baik yaitu 0.72g/ekor/hari.
Aktivitas Harian Kuskus Genus Phalanger Di Hutan Negeri Saparua, Kecamatan Saparua, Kabupaten Maluku Tengah Muskita, Edwin; Moniharapon, Mechiavel; Unitly, Adrien Jems Akiles; Silahooy, Veince Benjamin; Eddy, La
Kalwedo Sains (KASA) Vol 4 No 2 (2023): Kalwedo Sains (KASA), September 2023
Publisher : Program Studi Di Luar Kampus Utama Universitas Pattimura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/kasav4i2p70-77

Abstract

Kuskus merupakan salah satu dari jenis mamalia berkantung yang persebarannya sampai di Maluku. Penelitian ini bertujuan untuk melihat aktivitas harian pada kuskus genus phalanger di hutan negeri saparua, kecamatan saparua, kabupaten maluku tengah. Penelitian ini di lakukan di Negeri Saparua, Kecamatan Saparua, Kabupaten Maluku Tengah menggunakan teknik focal animal sampling digunakan sebagai prosedur pengamatan perilaku harian kuskus. Focal animal sampling adalah pengamatan yang difokuskan pada satu individu dalam satu waktu tertentu. Pengamatan di lakukan sebanyak 3 kali pengulangan yang di lakukan sebanyak 2 kali per hari yaitu pada pagi dan malam hari, dengan lama waktu pengambilan data 60 menit (1 jam) dengan interval 1 menit setiap pengambilan data sheet. Variabel yang di amati adalah perilaku makan (feeding), istirahat (resting), berpindah tempat (moving), dan membersihkan diri (grooming). Data yang di peroleh pada hasil pengamatan ditabulasi selanjutnya disajikan secara deskriptif dan etogram. Hasil penelitian menunjukan bahwa rataan presentasi perilaku makan kuskus phalanger pada pagi hari yaitu sebesar 16,3 menit (25,05%), dan pada malam hari sebesar 30 menit (49,96%), waktu istirahat kuskus phalanger pada pagi hari sebesar 30,37 menit (26,05%), dan pada malam hari sebesar 6 menit (8,22%), waktu berjalan (moving) kuskus phalanger pada pagi hari 8,43 menit (14,05%), dan malam hari yaitu 10,33 menit (17,18%), dan untuk presentasi waktu membersihkan diri (Grooming) terjadi pada pagi dan malam hari dengan presentasi yang sama yaitu 3,33 menit (5,33%). Didapati bahwa perilaku harian kuskus phalanger dominan terjadi pada malam hari.
Potensi Ekstrak Etanol Daun Kecipir (Psophocarpus tetragonolobus) Dalam Meningkatkan Bobot Testis, Konsentrasi dan Viabilitas Spermatozoa Tikus Rattus norvegicus Ratulewen, Desi Ellida; Pagaya, Joseph; Kaihena, Martha; Unitly, Adrien Jems Akiles; Eddy, La
Kalwedo Sains (KASA) Vol 4 No 2 (2023): Kalwedo Sains (KASA), September 2023
Publisher : Program Studi Di Luar Kampus Utama Universitas Pattimura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/kasav4i2p78-87

Abstract

Kecipir merupakan salah satu tumbuhan yang mengandung beberapa senyawa kimia seperti flavonoid, saponin dan tannin dan kandungan mineral seperti fosfor, dan kalsium dimana golongan senyawa-senyawa kimia tersebut berpotensi sebagai agen fertilitas jantan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi ekstrak etanol daun kecipir dalam menningkatkan bobot testis, konsentrasi dan viabilitas spermatozoa tikus Rattus norvegicus. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL), dengan menggunakan 1 ekor tikus yang dibagi ke dalam 4 kelompok dan masing-masing kelompok terdiri dari 3 ekor tikus. Kelompok pertama adalah kontrol, kelompok kedua adalah pemberian ekstrak etanol daun kecipir dengan dosis 2,52 mg/ekor/hari selama 32 hari, kelompok ketiga adalah pemberian ekstrak etanol daun kecipir dengan dosis 5,04 mg/ekor/hari selama 32 hari dan kelompok keempat adalah pemberian ekstrak etanol daun kecipir dengan dosis 7,56 mg/ekor/hari selama 32 hari. Pengambilan data dilakukan setelah tikus diberi ekstrak etanol daun kecipir. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian ekstrak etanol daun kecipir dapat meningkatkan bobot testis, konsentrasi dan viabilitas spermatozoa tikus dimana dosis efektif yang dapat digunakan adalah dosis 7,56 mg/ekor/hari.
Phytotherapy for Diabetes: A Preclinical Study of Ethanol Extract of Winged Bean (Psophocarpus tetragonolobus L.) Leaves in Diabetic Rat (Rattus norvegicus) Models Moniharapon, Mechiavel; Tahapary, Patrcik Indurian; Kaihena, Martha; Eddy, La
Biofaal Journal Vol 6 No 2 (2025): Biofaal Journal
Publisher : Pattimura University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/biofaal.v6i2pp125-140

Abstract

The long-term use of synthetic hypoglycemic agents is known to cause adverse side effects and induce drug resistance. Winged bean (Psophocarpus tetragonolobus L.), a traditional medicinal plant from Maluku, contains secondary metabolites such as flavonoids, saponins, and tannins, which are believed to have potential in lowering blood glucose levels. This study aimed to investigate the effect of ethanolic extract of winged bean leaves on blood glucose reduction and β-cell regeneration in the pancreas of white rats (Rattus norvegicus) as a diabetic model. Thirty rats weighing between 150–200 g were divided into five groups: Group I (negative control), Group II (positive control), and Groups III, IV, and V (diabetic rats treated with ethanolic extract of winged bean leaves at doses of 2.52 mg/g BW, 5.04 mg/g BW, and 7.56 mg/g BW, respectively). Streptozotocin (STZ) was administered to Groups II–V to induce diabetes. Rats with blood glucose levels exceeding 200 mg/dL were subsequently treated with the designated doses of the extract in Groups III–V. On the final day, blood glucose levels were measured, and pancreatic organs were harvested for histological analysis. The results demonstrated that the ethanolic extract of winged bean leaves at a dose of 7.56 mg/g BW effectively reduced blood glucose levels in diabetic rats.