Claim Missing Document
Check
Articles

Found 20 Documents
Search

NOSTALGIA DAN IDENTITAS : SEPAK BOLA NASIONAL DALAM FOTO ESAI SEPAK BOLA DI MUSEUM OLAHRAGA NASIONAL Deddy Setiawan; Tisna Prabasmoro; Widyo Nugrahanto
Metahumaniora Vol 13, No 1 (2023): METAHUMANIORA, APRIL 2023
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/metahumaniora.v13i1.39674

Abstract

AbstrakMuseum Olahraga Nasional meluaskan kemungkinan dalam menjangkau target publik yang lebih besar dan menyediakan ruang-ruang yang berhubungan dengan isu perihal sejarah dan nostalgia. Museum juga terkait erat dengan proyeksi identitas pribadi dan kolektif karena pengunjung menyambangi kembali kenangan lama mereka sembari mengonsumsi berbagai produk pendidikan dan budaya seperti esai foto. Penelitian ini menempatkan nostalgia dan kegiatan mengunjungi museum sebagai hal yang berhubungan dengan identitas dan warisan. Terdapat empat karakterisasi olahraga yang telah diidentifikasi secara khusus terkait dengan warisan: warisan olahraga berwujud tak bergerak (stadion, tim nasional, atlet), warisan olahraga berwujud bergerak (acara), warisan olahraga tak berwujud (ritual dan tradisi), serta barang dan jasa yang terkait dengan komponen warisan olahraga. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi hubungan esai foto dengan ingatan pengunjung. Artikel ini mempertimbangkan bagaimana museum memfasilitasi berbagai jenis kenangan dengan menyediakan ruang publik terutama ketika ingatan individu tentang sepak bola berkelindan dengan ingatan kolektif. Penelitian ini beranggapan bahwa esai foto di Museum Olahraga Nasional memiliki kapasitas untuk menghubungkan dirinya dengan identitas dan masa lalu pengunjung yang menstimulasi ingatan yang membangun identitas kolektif.Kata kunci: Nostalgia; Identitas; Foto Esai; Sepak Bola; Museum Olahraga NasionalAbstractThe National Sports Museum enhances the possibilities of reaching a wider public and provides forums for issues of history and nostalgia. It is also closely linked to projections of personal and collective identities because visitors revisit their old memories while consuming a variety of educational and cultural products such as photo essays. This paper situates nostalgia and the activity of visiting a museum are related to identity and inheritance. Four characterizations of sport specifically related to heritage are identified: tangible immovable sports heritage (stadiums, national teams, athletes), tangible movable sports heritage (events), intangible sports heritage (rituals and traditions), and goods and services with a sports heritage component. The article sets out to explore the photo essays’ relationship with the visitors' recollections. It considers how the museum facilitates different types of remembrance by providing a public space in which individual memories of football are intertwined with collective memories. The article argues that the photo essays in The National Sports Museum have the capacity to connect with visitors' identities and pasts, stimulating memories that generate collective identity.Keywords: Nostalgia; Identity; Photo Essay; Football; National Sports Museum
PELATIHAN PENULISAN AUTO/ BIOGRAFI DAN WIKIPEDIA DI KOMUNITAS KELOMPOK SASIKIRANA DANCE CAMP Aquarini Priyatna; Lina Meilinawati; Tisna Prabasmoro; Amaliatun Saleha; Muhamad Adji; Mega Subekti
Midang Vol 1, No 1 (2023): Midang: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, Februari 2023
Publisher : Unpad Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/midang.v1i1.44468

Abstract

Aktivitas menulis dapat dianggap sebagai sebuah proses pendokumentasian sejarah tentang seni tari di Indonesia. Relatif belum banyaknya dokumentasi mengenai sejarah perkembangan seni tari di Indonesia terutama yang terdapat di ruang digital Indonesia menjadi salah satu alasan penting diselenggarakannya kegiatan PPM yang melibatkan mahasiswa KKN dan kelompok penari Sasikirana KoreoLAB & Dance Camp (SKDC) Bandung. Kegiatan yang dilangsungkan sebanyak dua sesi ini memfokuskan pada dua hal. Yang pertama adalah menumbuhkan kesadaran para penari mengenai pentingnya aktivitas menulis itu sendiri. Selanjutnya adalah mengenai pengenalan fitur-fitur wikipedia sebagai ruang digital tempat untuk memublikasikan hasil tulisan dari para peserta yang terlibat dalam kegiatan penulisan tersebut. Tulisan ini ditujukan untuk mengungkapkan dan mendeskripsikan gambaran kegiatan pelatihan penulisan auto/biografis dan pengenalan fitur Wikipedia yang dilangsungkan dan kontribusinya dalam proses pendokumentasian sejarah perkembangan seni tari di Indonesia. Kegiatan ini setidaknya dianggap mampu menggugah kesadaran tentang pentingnya aktivitas menulis sebagai bagian penting dari usaha untuk menunjukkan kepedulian mereka terhadap perkembangan seni tari di Indonesia. Hal itu terlihat dari relatif besarnya minat para penari yang terlibat dalam acara dan juga kuantitas serta kualitas jumlah artikel yang berhasil diunggah pada situs Wikipedia.org di acara penutupan.
RUANG DAN KOMUNITAS: IDENTITAS PENGGIAT PAPAN SELUNCUR KOTA BEKASI (Studi Kasus Komunitas Patriot Skate Club 95 Kota Bekasi) Muhammad Adib Al-Fikri; Dade Mahzuni; Tisna Prabasmoro
Metahumaniora Vol 13, No 2 (2023): METAHUMANIORA, SEPTEMBER 2023
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/metahumaniora.v13i2.47458

Abstract

Bermain papan seluncur di zaman modern saat ini dianggap menjadi aktivitas karena hubungannya terhadap pengelolaan ruang yang dapat dipergunakan secara individu maupun kolektif oleh komunitas tertentu. Dalam proses perkembangan papan seluncur, komunitas spesifik akan memfungsikan ruang sebagai penanda diri yang berhubungan dengan identitas mereka. Artikel ini menjelaskan cara-cara Komunitas Patriot Skate Club 95 Kota Bekasi menghubungkan kelompok mereka dengan ruang di sekitar tempat mereka berada untuk memaknai identitas secara individu ataupun kolektif. Dengan metode kualitatif dan pendekatan etnografi, penelitian ini dilakukan melalui proses wawancara tidak terstruktur dan pendekatan literatur sehingga menghasilkan pemahaman berbeda mengenai ruang, komunitas dan identitas. Hasil temuan kami adalah, bahwa penggiat papan seluncur memahami tersedianya ruang publik sebagai sarana yang dapat dinikmati secara individu atau kolektif. Argumen kami adalah mempertanyakan kembali mengenai konstruksi identitas anak muda akan keberadaan mereka dalam ruang publik di Kota Bekasi. Dengan komunitas Patriot Skate Club 95 sebagai objeknya, mereka terhubung dengan ruang-ruang di sekitarnya, memanfaatkan ruang publik untuk membangun identitas individu maupun kokektif mereka, dan menumbuhkan rasa memiliki dari para anggotanya. 
Interkulturalisme dalam Tari Kontemporer: “Anak Ciganitri” Karya Alfiyanto Wening Sari Anzailla; Tisna Prabasmoro; Teddi Muhtadin
PANGGUNG Vol 34 No 3 (2024): Kreativitas, Seni Kontemporer, dan Pariwisata Berkelanjutan
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v34i3.3559

Abstract

ABSTRAK Meskipun keragaman budaya menjadi sumber inspirasi dalam menciptakan tari kontemporer, masih sedikit koreografer yang menggunakannya sebagai acuan dalam berproses dan berproduksi seni. Salah satu koreografer di Indonesia, Alfiyanto, merepresentasikan keragaman tradisi dari Sunda, Minangkabau, dan Jawa melalui tari kontemporer. “Anak Ciganitri” merupakan karya tari kontemporer yang menampilkan dimensi budaya dialogis dari berbagai etnis yang saling berkelindan. Penelitian ini bertujuan menjelaskan interkulturalisme pada karya “Anak Ciganitri”. Penelitian ini dilakukan dengan cara pengumpulan data melalui studi pustaka, studi lapangan, wawancara, dan observasi. Dialog pertemuan etnis yang saling berkelindan dalam karya “Anak Ciganitri” menjadi realisasi Alfiyanto dalam meningkatkan pengayaan keberagaman berdasarkan hasil dari gabungan beberapa budaya dan membangun toleransi yang bersifat aktif. Penelitian ini berpendapat bahwa interkulturalisme yang dilakukan Alfiyanto dapat memberi stimulus bagi penari dan penonton untuk mengetahui keunikan dan rasa yang dihadirkan dari etnis lain. Gagasan ini memungkinkan Alfiyanto mewujudkan solidaritas budaya dan keterbukaan terkait etnis dari tari di luar Sunda. Kata kunci: Interkulturalisme, Tari kontemporer, Alfiyanto, Anak Ciganitri
RACISM DISCOURSE: MUSLIM STEREOTYPE AND DISCRIMINATION IN THE NOVEL OF SAFFRON DREAMS Nursyakillah Musakar; Tisna Prabasmoro; Amaliatun Salehah
ETNOREFLIKA: Jurnal Sosial dan Budaya Vol 12 No 1 (2023): Volume 12, Issue 1, February 2023
Publisher : Laboratory of Anthropology Department of Cultural Science Faculty of Halu Oleo University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/etnoreflika.v12i1.1758

Abstract

Muslims in America again became a concern when the events of 9/11 occurred in 2001. Muslims who already have a negative image in the eyes of the West have strengthened again, especially when it is associated with the issue of terrorism. The stereotype of Muslims as a religious and cultural identity is echoing again. The aims of this research is to explain Muslim stereotypes in the novel Saffron Dream by Abdullah (2009). This researchy uses a qualitative descriptive method with sociology of literature approach. The result of this research is that in the novel Saffron Dreams, there are two forms of racism experienced by the main character: the stereotype that they (Muslims) are terrorists. The second is that the stereotype leads Arrisa into discrimination, leading to physical and verbal violence. Based on all the explanations in the previous discussion, one of the main conclusions drawn by the author is that the cause of the racist behavior accepted by Arrisa stems from bad prejudice against Muslims because of their religious and racial similarities with the terrorists in the 9/11 tragedy in America which claimed thousands of lives. Because these prejudices make Americans think that Islam is a religion that teaches the science of terror and that all Muslims are terrorists.
Fenomena Tubuh Perempuan dalam Anime Kimi no Na Wa Nu'man Zamaludin; Tisna Prabasmoro; Ari Jogaiswara Adipurwawidjana
ETNOREFLIKA: Jurnal Sosial dan Budaya Vol 13 No 1 (2024): Volume 13 Issue 1, February 2024
Publisher : Laboratory of Anthropology Department of Cultural Science Faculty of Halu Oleo University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/etnoreflika.v13i1.2465

Abstract

Indonesia, with its multicultural society, has many traditions/ Kimi no Na Wa (Your Name) is an anime displaying the reality of gender and women in a complex way. This complexity can be seen in the narrative displayed, namely the exchange of bodies between female and male characters. This article questions the phenomenon of women and their bodies in this anime. The analysis used phenomenological theory of perception with a descriptive analysis method. The result shows that the phenomenon of body exchange between men and women confirms gender issues that are not tied to sex. The exchange of bodies also indicates women's endeavor to change them from what were previously associated with rural and traditional into modern ones. In addition, the phenomenon of body exchange also emphasizes that the body is an essential element of human existence.
Maskulinitas dan Relasi yang Termediasi dalam Perfect Strangers Iqbal Abdul Rizal; Tisna Prabasmoro; Ari J. Adipurwawidjana
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 8 No. 1 (2024): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v8i1.32603

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji performativitas maskulinitas dalam relasi langsung dan termediasi oleh telepon seluler yang disajikan Perfect Stranges (2022). Perfect Strangers (2022) yang bergenre drama komedi, menyajikan hubungan yang termediasi menimbulkan kekaburan dalam identitas gender yang memengaruhi performativitas maskulinitas tokoh laki-laki karena adanya mediasi telepon seluler. Fase gerhana bulan dalam Perfect Strangers (2022) menjadi media film untuk menyampaikan komedi yang memuat permasalahan terkait performativitas maskulinitas. Penelitian ini dianalisis dengan menggunakan naratologi film dengan mengelaborasi gagasan maskulinitas Connell, gagasan performativitas gender Judith Butler, dan gagasan Cerulo & Ruanie terkait relasi yang termediasi.  Penelitian akan mengkaji penyajian sinematik hubungan antara performativitas maskulinitas dalam relasi yang termediasi oleh telepon seluler dalam Perfect Strangers (2022) versi Indonesia. Penelitian ini menunjukkan bahwa dalam Perfect Strangers performativitas gender melalui telepon seluler digambarkan menimbulkan kekaburan dalam hubungan fisik atau relasi tatap muka. Performativitas gender yang mengacu pada penampilan dan tindakan berulang dalam hubungan tatap muka berbeda dengan relasi yang termediasi dapat digunakan untuk menutupi jati diri yang sebenarnya termasuk identitas seksual. Individu nonheteronormatif dapat menyembunyikan identitas seksualnya dalam hubungan relasi yang termediasi.   This study aims to examine the performativity of masculinity in direct and mediated relationships by cell phones presented in Perfect Strangers (2022). Perfect Strangers (2022), a comedy-drama genre, presents a mediated relationship that causes blurring in gender identity that affects the masculinity performativity of male characters due to the mediation of cell phones. The lunar eclipse phase in Perfect Strangers (2022) becomes a film medium to convey comedy that contains problems related to masculinity performativity. This research is analyzed using film narratology by elaborating on Connell's idea of masculinity, Judith Butler's idea of gender performativity, and Cerulo & Ruanie's idea of mediated relationships.  The research will examine the cinematic presentation of the relationship between masculinity performativity in cell phone-mediated relationships in the Indonesian version of Perfect Strangers (2022). This research shows that in Perfect Strangers, gender performativity through cellular phones is depicted as causing blurring in physical or face-to-face relationships. Gender performativity which refers to the appearance and repetitive actions in face-to-face relationships in contrast to mediated relationships can be used to mask true identities including sexual identity. Non-heteronormative individuals can hide their sexual identity in mediated relationships
Konstruksi Identitas Naratif Konsumen Hijau dalam Gaya Hidup Nol Sampah Egi Budiana; Tisna Prabasmoro; Muhamad Adji
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 8 No. 2 (2024): Oktober
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v8i2.33163

Abstract

Di tatanan masyarakat kontemporer, aktivitas konsumsi hijau dalam gaya hidup nol sampah berimplikasi pada pembentukan identitas konsumen. Menurut teori budaya konsumen, hal ini disebabkan nilai simbolis dan nilai kultural dari aktivitas konsumsi. Artikel ini bertujuan menjelaskan konstruksi identitas konsumen hijau di Kota Bandung dalam penerapan gaya hidup nol sampah di kehidupan sehari-hari. Untuk memahami konstruksi tersebut, artikel ini menggunakan metode wawancara life story yang akan dianalisis berlandaskan konsep identitas naratif dan teori processual identity. Informan terdiri dari lima pelanggan Toko Organis YPBB—suatu toko curah yang berfokus pada edukasi prinsip nol sampah. Penelitian ini menemukan dua dimensi dalam proses konstruksi identitas konsumen hijau. Pertama adalah dimensi refleksi yang menjelaskan afirmasi diri sebagai bentuk peneguhan identitas yang ditempuh lewat aktivitas konsumsi hijau. Kedua adalah dimensi interaksi sosial yang menampilkan negosiasi identitas di arena sosial informan.  Artikel ini berargumen bahwa pola konsumsi dalam gaya hidup dapat menegaskan identitas seseorang melalui apa yang orang lain persepsikan dan yang orang itu refleksikan tentang dirinya sendiri.   In contemporary society, green consumption activities on zero waste lifestyle imply consumer identity construction. Based on consumer culture theory, it happens due to the symbolic and cultural values from the consumption act. This article aims to explain the construction of a green consumer identity in Bandung on zero waste lifestyle implemented in everyday life. This article uses life story interview method and then will be analyzed by narrative identity concept and processual identity theory. The informants consist of five YPBB Toko Organis customers—it is a bulk store where people can learn about the zero waste principle. This research finds two dimensions of the green consumer identity construction process. First, the reflection dimension explains self-affirmation as a form of identity assertion through green consumption activities. Second, the social interaction aspect which displays identity negotiation processes in one social arena. This article argues that consumption schemes in a lifestyle affirms one’s identity through what others perceive and what one reflects about oneself.
Community identity construction: A case study of digital literacy activists in Next Generation Indonesia Community Jibril Bela Abdillah; Tisna Prabasmoro; Dade Mahzuni
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 9 No. 1 (2025): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v9i1.39470

Abstract

Next Generation Indonesia (NXG Indonesia), a community dedicated to enhancing digital literacy, underscores its role as a social actor within the digital literacy discourse. The status of NXG Indonesia as a social actor in this discourse renders discussions about it inherently linked to issues of identity. Consequently, this study aims to elucidate the construction of the identity of the NXG Indonesia community and examine how this identity construction influences the habitus of NXG Indonesia. To achieve these research objectives, a qualitative methodology employing a case study approach was utilized, with data collected through in-depth interviews with five informants who were members of the NXG Indonesia community. The findings indicate that the identity of the NXG Indonesia community is constructed through elements such as locus, distinctiveness, identification, orientation, evaluation of community life, and evaluation of community functioning, all of which have implications for the NXG Indonesia habitus, particularly its commitment to digital literacy. Therefore, this study concludes that social interactions among individuals within NXG Indonesia significantly impact the construction of the community's identity and habitus.   Next Generation Indonesia (NXG Indonesia), sebuah komunitas yang berdedikasi dalam mengupayakan peningkatan literasi digital, menegaskan perannya sebagai aktor sosial dalam wacana literasi digital. Status NXG Indonesia sebagai aktor sosial dalam wacana ini mengakibatkan diskusi mengenai NXG Indonesia tidak dapat dipisahkan terkait dengan masalah identitas. Dengan demikian, penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan konstruksi identitas komunitas NXG Indonesia dan melihat bagaimana konstruksi identitas tersebut mempengaruhi habitus dari NXG Indonesia. Untuk mencapai tujuan penelitian tersebut, penelitian ini mengunakan metodologi kualitatif dengan pendekatan studi kasus serta metode pengumpulan data melalui wawancara mendalam bersama dengan lima informan yang tergabung dalam komunitas NXG Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa identitas komunitas NXG Indonesia dikonstruksi melalui elemen-elemen seperti locus, distinctiveness, identification, orientation, evaluation of community of life, dan evaluation of community functioning yang berimplikasi pada habitus NXG Indonesia, khususnya komitmennya terhadap literasi digital. Oleh karena itu, penelitian ini menyimpulkan bahwa interaksi sosial di antara individu-individu di dalam NXG Indonesia secara signifikan memengaruhi konstruksi identitas dan habitus komunitas.
Atelir Ceremai: Identity negotiation and artists’ resistance in urban collective space Fajar Hanif Mubarok; Tisna Prabasmoro; Lina Meilinawati Rahayu
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 9 No. 2 (2025): October
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v9i2.41735

Abstract

This study explores the strategies of urban art collectives in shaping collective identity through collaborative practices within social spaces. Focusing on Atelir Ceremai, an art collective located on the cultural periphery of Jakarta (East Jakarta), the research examines how contemporary artists respond to marginal urban contexts through community-based artistic production. Drawing on social constructionism, collective identity theory, and theories of spatial practice, the study examines how space, language, and group dynamics shape the formation of collective consciousness among artists. This process reflects a shift from individual creativity to a communal artistic ecosystem, from market norms to symbolic autonomy, and from personal identity to a more adaptive collective identity. Based on in-depth interviews, document analysis, and participatory observation, the study finds that this transformation is made possible through various activities, including knowledge-sharing, collective use of space and tools, and the activation of joint projects. The study concludes that art collectives such as Atelir Ceremai play a crucial role in creating spaces for artistic production while simultaneously articulating adaptive forms of identity through dialectical processes. This adaptive identity is expressed through performative language, collective decision-making, and shared labor, symbolically distancing itself from the norms and logic of the art market.   Penelitian ini mengeksplorasi strategi kolektif seni urban membentuk identitas kolektif melalui praktik kolaboratif dalam ruang sosial. Dengan menyoroti Atelir Ceremai, sebuah kolektif seni yang berlokasi di pinggiran lanskap budaya Jakarta (Jakarta Timur), riset ini mengkaji bagaimana seniman kontemporer merespons konteks urban-pinggiran melalui produksi artistik berbasis komunitas. Bertolak dari kerangka konstruksionisme sosial dan teori identitas kolektif, serta teori mengenai praktik ruang, studi ini menelusuri bagaimana ruang, bahasa, dan dinamika kelompok membentuk kesadaran kolektif di antara seniman. Hal ini berkontribusi pada pergeseran dari kreativitas individual ke ekosistem artistik komunal, dari norma pasar ke otonomi simbolik, dari identitas individual ke identitas kolektif yang adaptif. Melalui wawancara mendalam, analisis dokumen, dan observasi partisipatif, ditemukan bahwa proses pergeseran tersebut dimungkinkan melalui sejumlah aktivitas yang merentang dari saling berbagi pengetahuan, ruang dan alat, serta serangkaian aktivasi proyek bersama. Penelitian ini menyimpulkan bahwa kolektif seni seperti Atelir Ceremai memainkan peran penting dalam menciptakan ruang produksi artistik sekaligus bentuk-bentuk adaptasi identitas yang terjadi secara dialektis. Identitas adaptif ini terartikulasi melalui bahasa performatif, keputusan bersama, serta kerja kolektif yang secara simbolik mengambil jarak dari norma dan logika pasar seni.