Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search
Journal : JURNAL ENGGANO

ANALISIS KESESUAIAN EKOSISTEM MANGROVE SEBAGAI KAWASAN EKOWISATA DI PULAU KELAPAN KABUPATEN BANGKA SELATAN Arthur Muhammad Farhaby; Andi Abdullah; Carmila Carmila; Edward Arnanda; Emi Atika Nasution; Feriyanto Feriyanto; Khudory Mustofa; Lestari Lyadi Putri; Muhammad Mahatir; Novi Santia; Susi Susanti; Sumarli Simamora; Yanti Lestari
JURNAL ENGGANO Vol 5, No 2
Publisher : Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31186/jenggano.5.2.132-142

Abstract

Pulau Kelapan secara geografis terletak pada 2?50’59.000’’ LS dan 106?50’31.000’’ BT.Pulau Kelapan terletak di desa Kumbung, Kecamatan Lepar Pongok, Kabupaten Bangka Selatan. Pulau ini dikelilingi oleh hutan mangrove yang masih alami dan keberadaannya memang dijaga oleh masyarakat Pulau Kelapan.Kawasan hutan mangrove Pulau Kelapan memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi destinasi ekowisata mangrove. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kesesuaian lahan mangrove di Pulau Kelapan untuk dikembangkan sebagai lokasi wisata. Data yang diambil meliputi data kesesuaian wisata mangrove seperti parameter vegetasi dan lingkungan. Penelitian ini dilakukan pada bulan November 2019 di Pulau Kelapan, Kabupaten Lepar Pongok, Kabupaten Bangka Selatan. Stasiun pengamatan dalam penelitian ditentukan dengan metode purposive sampling, dimana membagi pulau kelapan ke dalam 4 stasiun pengamatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Indeks Kesesuaian Wisata (IKW) untuk ekowisata mangrove di Pulau Kelapan pada stasiun 1 termasuk dalam kategori sangat cocok (S1) dengan nilai IKW 79% dan yang termasuk kategori sesuai (S2) ditemukan di stasiun 2.3 dan 4 dengan nilai IKW masing-masing adalah 51%, 66 % dan 74%. Jenis mangrove yang ditemukan di Pulau Kelapan adalah Rhizophora apiculata, Rhizophora mucronata, Xylocarpus granatum yang tersebar di setiap stasiun pengamatan.SUITABILITY ANALYSIS OF MANGROVE ECOSYSTEM AS ECOTOURISM AREAS IN KELAPAN ISLAND, SOUTH BANGKA DISTRICT. The Kelapan Island is geographically located at 2?50’59,000 ’’ LS and 106?50’31,000 ’’ BT. Kelapan Island located in the village Kumbung, District Lepar Pongok, South Bangka Regency. The island is surrounded by a natural mangrove forests and its existence is maintained and managed by local communities Kelapan island mangrove forest area has the potential to be developed into a mangrove eco-tourism destination. This study aims to determine the suitability of mangrove area in Kelapan Island to be developed as an ecotourism location. The research data includes the suitability index of mangrove tourism such as vegetation and environmental parameters. This research was conducted on November 2019 on Kelapan Island, Lepar Pongok, South Bangka Regency. The observation stations in the study were determined by the purposive sampling method, which divides the Kelapan islands into 4 observation stations. The results showed that the index of Conformity Tourism (IKW) for ecotourism mangroves on the Kelapan Island at station 1 were included in the category of very suitable (S1) with IKW 79% and are categorized accordingly (S2) were found in the station 2.3 and 4 with the value of IKW of 51%, 66% and 74%. Mangrove species found on the Kelapan Island was Rhizophora apiculata, Rhizophora mucronata, Xylocarpus granatum found in each observation station.
KELIMPAHAN DAN KEANEKARAGAMAN GASTROPODA PADA ZONA INTERTIDAL DI PULAU BANGKA BAGIAN TIMUR Okto Supratman; Okto Supratman; Arthur Muhammad Farhaby; Jemi Ferizal
JURNAL ENGGANO Vol 3, No 1
Publisher : Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (417.927 KB) | DOI: 10.31186/jenggano.3.1.10-21

Abstract

 AbstractEnvironmental damage from anthropogenic activity will lead to a decrease in water quality, which then affects aquatic organisms including Gastropoda. So it is necessary to do a study of diversity and abundance of gastropods in East Bangka Island.The study was conducted from June to December 2017. The research locations were divided into 6 stations. Data collection of gastropods using squares of size 50 cm x 50 cm, performed by direct gastropod removal by hand, then identified in Water Resource Management Laboratory. The results of this study found 12 species of gastropods from 8 families. The families found are Cerithideidae (2 species), Cerithiidae (1 species), Cirridae (1 species), Nassariidae (2 species), Neritidae (2 species), Planaxidae (1 species), Muricidae (1 Species) and Costellariidae (2 Species ). The highest abundance of gastropods is Certhidea cingulata species with an average abundance of 124.54 ind / m2. The value of diversity index of gastropod in the eastern part of the island of Bangka categorized small, it is thought to be caused by loss of habitat as a result of mining activities at sea. Keywords: Gastropods, Diversity, Abundance, Intertidal Zone
ANALISIS PRODUKSI SERASAH MANGROVE DI PANTAI MANG KALOK KABUPATEN BANGKA Arthur Muhammad Farhaby; Arinda Unigraha Utama
JURNAL ENGGANO Vol 4, No 1
Publisher : Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (300.851 KB) | DOI: 10.31186/jenggano.4.1.1-11

Abstract

Ekositem mangrove merupakan ekosistem pesisir yang memiliki peran dan fungsi ekologis penting dalam menunjang sumber daya perairan dan perikanan. Keberadaan ekosistem mangrove yang lestari dan sehat tidak dapat dipisahkan oleh suplai kandungan bahan organik yang berasal dari serasah mangrove. Serasah merupakan guguran struktur vegetatif dan reproduktif yang disebabkan oleh faktor ketuaan, stress oleh faktor mekanik, ataupun kombinasi dari keduanya dan kematian serta kerusakan dari keseluruhan tumbuhan oleh iklim (hujan dan angin). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui produksi serasah daun mangrove, membandingkan produksi serasah beberap jenis mangrove yang dominan terdapat di Pantai Mang Kalok, serta mengetahui nilai parameter lingkungan yang berkaitan dengan serasah. Penelitan ini dilaksanakan pada bulan Januari-Maret 2018 bertempat di Pantai Mang Kalok, Kecamatan Sungailiat, Kabupaten Bangka. Metode yang umum digunakan untuk pengambilan produksi serasah adalah metode litter-trap (Jaring penampung serasah). Produksi serasah daun mangrove di Pantai Mang Kalok lebih banyak dihasilkan dari jenis Ceriops decandra dengan massa 185,7gr/m2/30hari dibandingkan dengan jenis Rhizophora mucronata yang hanya memproduksi 119,6gr/m2/30hari. Adapun untuk total produksi serasah daun mangrove di Pantai Mang Kalok adalah 305,3 gr/m2/30hari atau 10,17 gr/m2/hari. Sedangkan parameter lingkungan menujukan kondisi perairan Pantai Mang Kalok masih baik dan dapat mendukung proses penyerapan bahan organik dari serasah daun mangrove.ANALYSYS OF MANGROVE LITTER PRODUCTION ON MANG KALOK BEACH, BANGKA REGENCY. The mangrove ecosystem is a coastal ecosystem that has important ecological roles and functions in supporting marine resources and fisheries. The existence of a sustainable and healthy mangrove ecosystem cannot be separated by the supply of organic matter from mangrove litter. Litter is vegetative and reproductive structures avalanches caused by the factor of aging, stress by mechanical factors, or a combination of both and the death and destruction of the whole plant by the climate (rain and wind). The purpose of this study was to determine the production of mangrove leaf litter, compare the production of litter of several dominant types of mangrove found in Mang Kalok Beach, and to determine the value of environmental parameters related to litter. Research was conducted in January until March 2018 in Mang Kalok Beach, District Sungailiat, Bangka. A common method used for making the production of litter is litter-trap method (Net container litter). The production of mangrove leaf litter in Mang Kalok Beach is more produced from the type Ceriops decandra with a mass of 185.7gr / m2 / 30 days compared to the type of Rhizophora mucronata which only produces 119.6gr / m2 / 30 days. The total production of mangrove leaf litter at Mang Kalok Beach is 305.3 gr / m2 / 30 days or 10.17 gr / m2 / day. While the environmental parameters show that the condition of Mang Kalok Beach is still good and can support the process of absorption of organic matter from mangrove leaf litter.
SEBARAN SPASIAL KEMUNCULAN DUGONG (DUGONG DUGON) DI PULAU BANGKA Okto Supratman; Okto Supratman; Arthur Muhammad Farhaby; Okto Supratman
JURNAL ENGGANO Vol. 6 No. 2 (2021)
Publisher : Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31186/jenggano.6.2.309-322

Abstract

Dugong merupakan satu dari 35 jenis mamalia laut yang dijumpai tersebar di perairan Indonesia khususnya di habitat padang lamun. Dugong merupakan biota yang dilindungi secara nasional berdasarkan Peraturan Pemerintah No.7 tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Hewan yang telah diperbaharui oleh Permen LHK No.P 20 Tahun 2018 tentang Tumbuhan dan Satwa Liar. Dugong di Pulau Bangka sangat erat kaitannya dengan keberadaan nelayan yang juga memanfaatkan laut untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Penelitian Distribusi dugong dengan pendekatan survei untuk mengidentifikasi sebaran dan lokasi kemunculan Dugong sebagai dasar untuk penyusunan rencana konservasi belum pernah dilakukan. Sebaran kemunculan dugong di Pulau Bangka secara spasial yang terekam adalah di sekitar pulau pulau kecil di Selatan Bangka Hingga ke Pulau Maspari yang terletak berbatasan dengan Provinsi Sumsel, dan bagian tengah bangka terdapat di sekitar Pulau Panjang dan Pulau Ketawai, dengan ciri khas biasanya terdapat padang lamun sebagai ciri lokasi kemunculan dugong. Mayoritas lokasi kemunculan dugong bersinggungan dengan lokasi penangkapan ikan yang dilakukan oleh nelayan di Pulau bangka, sehingga diperlukan pengaturan lebh lanjut mengenai wilayah pengelolaan dan wilayah penangkapan ikan. Rendahnya persepsi kesadaran masyarakat terhadap keberadaan dugong dan termasuk untuk menjual serta mengkonsumsi dugong masih menjadi kendala atau halangan secara social di masyarakat maka perlu ada edukasi lebih lanjut dari segenap pemangku kepentingan untuk membangkitkan kesadaran masyarakat untuk menjaga keberadaan dugong.
Co-Authors . Apriansyah Achmad Romadhon Adha, Muhammad Thoriq Adibrata, Sudirman Aditia, Tias Alamshah, Wahyu Alfredo, Dwi Alissyah, Radiva Putri Andi Abdullah Andi Gustomi Anggraini, Nadilla Anggreiny, Rastiana Anwar, Muhammad Syaiful Aprilita, Desi Ardiyansah, Feri Arianto, Firdaus Dwi Arinda Unigraha Utama Baifa, Baifa Bernia, Rika Kristi Carmila Carmila Dewi Puspita Sari Dewi, Diah Puspita Edward Arnanda Emi Atika Nasution Esi Esi Eva Prasetiyono Fahri Setiawan Febrizhad, Iqbal Feriyanto Feriyanto Ferizal, Jemi Fernanda, Andri Fika Dewi Pratiwi Fitra, Ghina Nabilla Guskarnali, Guskarnali Heni Pujiastuti Henri Henri Henri Henri, Henri Henrie, Timotius Dwi Ikha Safitri Irma Akhrianti Irvan Ansyari jebri jebri Jemi Ferizal Juniagis, Berlianda Khaeruddin Khaeruddin khudori mustofa Khudory Mustofa Kurniawan Kurniawan Kurniawan Salim Kusnadi, Shania Amelia Lestari Lyadi Putri M. Rizza Muftiadi M.Rizza Muftiadi Mardianto, Tomi Mega Sari Juane Sofiana Meri Wilanda Mito, Mito Muftiadi, Muhammad Rizza Muhammad Mahatir Muhammad Rizza Muftiadi Muhammad Syaiful Anwar Muhammad Syaiful Anwar Novi Santia Novyandra Ilham Bahtera Okto Supratman Pasaribu, Pilip Noel Parnangkok Prameswari, Thesa Putri, Dita Salsabila Putri, Lizha Dwi Mulya Putri, Nabila Rahmawati Randiansyah, Randiansyah Setiadi, Geri Sheva, Sheva Simatupang, Mikha Josevan Siti Aisyah Siti Aisyah Sudiyar Sudiyar Sugandi, Sugandi Sumarli Simamora Susi Susanti Syafa'ati, Rizqy Tarihoran, Rafael Immanuel Tiara, Tiara Wahyu Adi Wahyu Adi Warsidah, Warsidah Winarto, Mito Yanti Lestari Yuniar Safitri