Claim Missing Document
Check
Articles

Found 28 Documents
Search

Pertumbuhan dan Produksi Tanaman Kale (Brassica oleracea L. var. acephala) Pada Sistem Hidroponik Deep Flow Technique dengan Penambahan Pupuk Organik Cair Dasumiati Dasumiati; Mutiara Marhaban Siregar; Ardian Khairiah; Junaidi Junaidi
Al-Kauniyah: Jurnal Biologi Vol 17, No 1 (2024): AL-KAUNIYAH JURNAL BIOLOGI
Publisher : Department of Biology, Faculty of Science and Technology, Syarif Hidayatullah State Islami

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/kauniyah.v17i1.35563

Abstract

 AbstrakKale merupakan tanaman hortikultura yang kaya antioksidan, karotenoid, dan antosianin. Kale dapat dibudidayakan secara hidroponik dengan menggunakan AB mix sebagai pupuk, namun nutrisinya sering mengendap di dasar bak sulit terserap oleh akar. Penambahan Pupuk Organik Cair (POC) yang disemprotkan ke daun diharapkan dapat menjadi nutrisi tambahan bagi tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis respon pertumbuhan dan produksi tanaman kale terhadap penambahan POC pada sistem hidroponik Deep Flow Technique (DFT). Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan 5 perlakuan, yaitu dosis POC (0; 10; 20; 30; dan 40 mL/L). POC disemprotkan ke daun setiap minggu sejak hari ke-0 sampai 35 hari setelah tanaman. Analisis data menggunakan sidik ragam (ANOVA) dan uji lanjut DMRT pada taraf 5%. Penambahan POC berpengaruh nyata pada pertumbuhan tanaman kale (P <0,05), yaitu POC konsentrasi 10 mL/L dapat meningkatkan panjang akar tanaman (41,25 cm) dan berpengaruh tidak nyata terhadap parameter lainnya seperti tinggi tanaman, jumlah daun, diameter batang, berat basah, dan kering tanaman serta berat layak konsumsi. Namun, tanaman kale yang disemprot POC memiliki nilai rata-rata semua parameter lebih tinggi dari kontrol (0 mL/L). Perlakuan POC 10 mL/L memiliki rata-rata parameter pertumbuhan dan produksi lebih tinggi dari yang lainnya, sehingga berpotensi meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman kale pada sistem hidroponik DFT.AbstractKale is a horticultural plant that is rich in antioxidants, carotenoids and anthocyanins. Kale can be cultivated hydroponically using AB mix as fertilizer, but the nutrients often settle at the bottom of the tub and are difficult for the roots to absorb. The addition of Liquid Organic Fertilizer (POC) which is sprayed through the leaves is expected to provide additional nutrition for plants. This research aims to analyze the growth and production response of kale plants to the addition of POC in the Deep Flow Technique (DFT) hydroponic system. The study used a randomized block design with 5 treatments, namely POC doses (0; 10; 20; 30; and 40 mL/L). POC is sprayed on the leaves every week from day 0 to 35 days after planting. Data analysis used analysis of variance (ANOVA) and further DMRT test at the 5% level. The addition of POC has a significant effect on the growth of kale plants (P <0.05), namely POC concentration of 10 mL/L can increase plant root length (41.25 cm) and has no significant effect on other parameters such as plant height, number of leaves, stem diameter. , wet and dry weight of the plant and weight suitable for consumption. However, kale plants sprayed with POC had an average value of all parameters higher than the control (0 mL/L). The 10 mL/L POC treatment has higher average growth and production parameters than the others, so it has the potential to increase the growth and production of kale plants in the DFT hydroponic system.
Pemantauan Konsentrasi Radionuklida Cs-137, Co-60, I-131 Serta Kualitas Air Daerah Aliran Sungai Bekasi Sukandar, Dede; Amri, Ghulam Fathul; Dasumiati, Dasumiati; Fauzih, Dewi
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 23, No 1 (2025): January 2025
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.23.1.23-34

Abstract

Radionuklida menjadi sesuatu yang krusial untuk diketahui penyebaran, intensitas radiasi, sumber dan proses yang mempengaruhinya di dalam air. Diantara radionuklida yang menarik perhatian adalah Cs-137, Co-60, I-131. Radionuklida Cs-137 adalah unsur radioaktif yang memiliki sifat mudah terdispersi dalam badan air, sedangkan Co-60 dan I-131 banyak digunakan untuk keperluan rumah sakit khususnya radioterapi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsentrasi radionuklida Cs-137, Co-60, I-131 serta kualitas air di Sungai Bekasi. Analisis karakteristik sifat air dari Sungai Bekasi adalah suhu, pH, dan Total Dissolved Solids (TDS), dan pemekatan. Pengukuran konsentrasi radionuklida Cs-137, Co-60, dan I-131 menggunakan instrumen spektrometer gamma. Hasil penelitian diperoleh konsentrasi radionuklida Cs-137, Co-60, dan I-131 adalah masing-masing berturut-turut: 0,00642 - 0,00428 Bq/L, 0,00713 - 0,01272 Bq/L dan 0,00077 - 0,00584 Bq/L.  Konsentrasi radionuklida Cs-137, Co-60, I-131 masih berada di bawah batas aman (Cs-137 1,2 x 102 Bq/L ,  Co-60 1,4 x 103 Bq/L, I-131 3,0 x 105 Bq/L) yang ditetapkan oleh Peraturan Kepala BAPETEN Nomor 7 Tahun 2013. Pada penentuan kualitas air berdasarkan parameter suhu, TDS, dan pH hasil yang didapatkan masih dibawah batas aman (suhu 25-310C, TDS 1000 mg/L , pH 6-9) dalam kategori kelas II yang ditetapkan oleh Peraturan Pemerintah No 22 Tahun 2021.
Inorganic Fertilizer Efficiency Using Liquid Organic Fertilizer on Peanut Growth and Production (Arachis hypogaea L.) Dasumiati, Dasumiati; Nurrahmah, Annisa; Khairiah, Ardian; Junaidi, Junaidi; Altuhaish, Adeel Abdulkarim Fadhl
El-Hayah:Jurnal Biologi Vol 10, No 1 (2024): EL-HAYAH (VOL 10, NO 1 September 2024)
Publisher : Program Study of Biology, Science and Technology Faculty, UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/elha.v10i1.28962

Abstract

Fertilization is important in increasing crop production. The use of liquid organic fertilizer (LOF) in addition to inorganic fertilizer in crop cultivation is expected to reduce the use of inorganic fertilizer and increase growth and production. The research aimed to determine the effect of LOF on peanut growth and production and to obtain the right dose to reduce the use of inorganic fertilizer doses. The research used a factorial Randomized Group Design (RGD) with two factors. The first factor was LOF dose (0, 3, 5, and 7 ml/L/Plot) and the second factor was inorganic fertilizer dose (0, 25, 50, and 100% of the recommended dose). Data analysis using ANOVA and DMRT. The results showed that the dose of LOF had a very significant effect (P0.01) on plant height, number of leaves, leaf area, number of filled pods, and total number of pods. The best dose in improving all these parameters was LOF 3 ml/L/Plot. The combination treatment of LOF and inorganic fertilizer had a very significant effect (P0.01) on the number of filled pods, but not significant effect (P0.05) on other parameters. The best combination of LOF dose and inorganic fertilizer was C1A1 (3 ml/L/Plot LOF + 25% Inorganic) which produced almost the same number of filled pods as C0A2 (0 ml/L/Plot LOF + 50% Inorganic), and higher than other treatments. The C1A3 treatment also produced higher fresh pod weight and dry pod weight than the other treatments. The application of LOF 3 ml/L/Plot + 25% inorganic fertilizer from the recommended dose can increase peanut production, and can reduce the use of inorganic fertilizer by 75%.
Potensi Kulit Buah Jengkol Sebagai Bioinsektisida Terhadap Rayap (Isoptera: Rhinotermitidae) Menggunakan Metode Baiting Fahrudin, Fahri; Dasumiati, Dasumiati; Angraini, Isty; Hamida, Fathin
Al-Kauniyah: Jurnal Biologi Vol 18, No 2 (2025): AL-KAUNIYAH JURNAL BIOLOGI
Publisher : Department of Biology, Faculty of Science and Technology, Syarif Hidayatullah State Islami

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/kauniyah.v18i2.44952

Abstract

Bioinsektisida merupakan bahan hayati pengendali organisme pengganggu yang berpotensi menjadi hama, di antaranya rayap. Bahan hayati yang berpotensi sebagai bioinsektisida adalah kulit buah jengkol. Tujuan penelitian ini untuk mendapatkan konsentrasi optimal dari ekstrak kulit buah jengkol sebagai bioinsektisida rayap. Skrining fitokimia ekstrak kulit buah jengkol dilakukan secara kualitatif. Mahoni dan jati belanda dijadikan sebagai kayu uji yang direndam ekstrak kulit buah jengkol (konsentrasi 0; 2; 4; dan 6%) selama 24 jam. Kedua jenis kayu diuji pada rayap menggunakan metode pengumpanan (Baiting) dengan tiga kali ulangan. Parameter yang diamati adalah mortalitas rayap, penurunan berat kayu uji, dan nilai retensi ekstrak. Data dianalisis Anova (95%) dengan uji lanjut DMRT menggunakan SPSS 25. Ekstrak terbukti mengandung alkaloid, fenol, flavonoid, saponin, tanin, dan terpenoid yang berpotensi sebagai racun pencernaan pada rayap. Mortalitas rayap di setiap perlakuan (2; 4; dan 6%) berbeda nyata (P <0,05) dengan perlakuan 0% pada semua kayu uji serta dapat meningkatkan keawetan kayu. Penurunan berat kayu terendah pada perlakuan 6% dan tergolong pada kelas awet I. Ekstrak kulit buah jengkol (6%) mampu meningkatkan kelas awet kayu mahoni dan jati belanda terhadap serangan rayap.
Pengembangan Bioplastik Berbahan Dasar Pati Kulit Pisang Kepok Menggunakan Nanofiber Selulosa Kulit Daun Lidah Buaya sebagai Filler Dasumiati, Dasumiati; Sari, Nur Nilam; Saridewi, Nanda
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 23, No 4 (2025): July 2025
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.23.4.1066-1074

Abstract

Pati sebagai bahan dasar bioplastik membutuhkan bahan penguat atau filler. Selulosa adalah bahan alami untuk filler, semakin kuat bila ditambahkan dalam bentuk nano. Kulit pisang kepok dan kulit daun lidah buaya merupakan limbah organik yang dapat digunakan sebagai bahan bioplastik, yaitu sebagai sumber pati dan selulosa.Tujuan penelitian ini untuk memperoleh konsentrasi nanofiber selulosa dari kulit daun lidah buaya dalam pengembangan bioplastik berbahan dasar pati dari kulit pisang kepok. Bioplastik yang berbahan dasar pati kulit pisang kepok diperkuat dengan perlakuan penambahan nanofiber selulosa dari kulit daun lidah buaya (0%, 2%, 4% dan 6% dari 5 g berat pati) dengan 5 kali pengulangan, dan ditambahkan plastisizer berupa gliserol (40%). Defibrilasi selulosa menggunakan ultrafine grinder Supermasscoloider. Bioplastik dicetak menggunakan metode casting molding. Parameter yang diamati adalah kuat Tarik, ketahanan air, dan waktu biodehradasi. Penambahan nanofiber selulosa dari kulit daun lidah buaya meningkatkan kualitas bioplastik. Hasil terbaik diperoleh pada penambahan nanofiber selulosa 6% yang memiliki nilai kuat tarik 38,89±6,11 kgf/cm2, ketahanan air 75,30±3,61%, dan waktu biodegradasi 47,93 hari. Penambahan 6% nanofiber selulosa dari kulit daun lidah buaya bisa digunakan pada pengembangan bioplastik berbahan dasar pati dari kulit pisang kepok.
Potensi Kulit Buah Jengkol Sebagai Bioinsektisida Terhadap Rayap (Isoptera: Rhinotermitidae) Menggunakan Metode Baiting Fahrudin, Fahri; Dasumiati, Dasumiati; Angraini, Isty; Hamida, Fathin
Al-Kauniyah: Jurnal Biologi Vol. 18 No. 2 (2025): AL-KAUNIYAH JURNAL BIOLOGI
Publisher : Department of Biology, Faculty of Science and Technology, Syarif Hidayatullah State Islami

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/kauniyah.v18i2.44952

Abstract

Bioinsektisida merupakan bahan hayati pengendali organisme pengganggu yang berpotensi menjadi hama, di antaranya rayap. Bahan hayati yang berpotensi sebagai bioinsektisida adalah kulit buah jengkol. Tujuan penelitian ini untuk mendapatkan konsentrasi optimal dari ekstrak kulit buah jengkol sebagai bioinsektisida rayap. Skrining fitokimia ekstrak kulit buah jengkol dilakukan secara kualitatif. Mahoni dan jati belanda dijadikan sebagai kayu uji yang direndam ekstrak kulit buah jengkol (konsentrasi 0; 2; 4; dan 6%) selama 24 jam. Kedua jenis kayu diuji pada rayap menggunakan metode pengumpanan (Baiting) dengan tiga kali ulangan. Parameter yang diamati adalah mortalitas rayap, penurunan berat kayu uji, dan nilai retensi ekstrak. Data dianalisis Anova (95%) dengan uji lanjut DMRT menggunakan SPSS 25. Ekstrak terbukti mengandung alkaloid, fenol, flavonoid, saponin, tanin, dan terpenoid yang berpotensi sebagai racun pencernaan pada rayap. Mortalitas rayap di setiap perlakuan (2; 4; dan 6%) berbeda nyata (P <0,05) dengan perlakuan 0% pada semua kayu uji serta dapat meningkatkan keawetan kayu. Penurunan berat kayu terendah pada perlakuan 6% dan tergolong pada kelas awet I. Ekstrak kulit buah jengkol (6%) mampu meningkatkan kelas awet kayu mahoni dan jati belanda terhadap serangan rayap.
Propagation of Cardamom (Amomum compactum) Using Vitamin B1, Indole Butyric Acid and Their Combinations Ex Vitro Salsabila, Azka Mutiara; Devy, Lukita; Dasumiati, Dasumiati
Jurnal Biodjati Vol 9 No 1 (2024): May
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/biodjati.v9i1.33327

Abstract

Cardamom (Amomum compactum) is an aromatic spice plant with numerous benefits, widely used in cooking, medicine, and beverages. The high demand for cardamom remains unmet due to the lengthy germination period required for cardamom seeds and the inability of cardamom shoots to thrive when planted independently from the mother plant. The presence of the mother plant significantly impacts cardamom nurseries utilizing shoots, making it challenging to obtain large quantities of nursery transplants. Growth stimulants, such as vitamin B1 and Indole Butyric Acid (IBA), are required to en­hance vegetative growth in plants. Vitamin B1 (IPI brand) is applied due to its ease of accessibility and cost-effectiveness. Meanwhile, IBA is utilized for its accessibility, stable chemical content, and prolonged efficacy. This research aims to determine the optimal concentration of vitamin B1, IBA, and their combination to enhance the growth of mother and tiller shoots of cardamom ex vitro. The research employed a two-factorial Randomized Complete Block Design, with vitamin B1 concentrations of 21.5% and 43% and IBA concentrations of 0.75 ppm and 150 ppm. The treatment V1I1 (vitamin B1 21.5% and IBA 75 ppm) on mother plant shoots maintained a survival rate of 67% up to 12 Weeks After Planting (WAP). The interaction between vitamins B1 and IBA exhibited no significant effect on all parameters of mother shoots and tillers; however, vitamin B1 significantly influenced the vegetative growth of cardamom mother shoots. Vitamin B1 at 43% produced a significantly higher number of leaves compared to 21.5%. Thus, vitamin B1 at 43% is recommended for cardamom propagation, while vitamin B1 at 21.5% has the potential to enhance the average growth of tiller shoots across all parameters.
Efficiency of AB Mix with Liquid Organic Fertilizer on Hydroponic Lettuce (Lactuca sativa L.) Growth Dasumiati, Dasumiati; Fitri Mutiara Dewi; Ardian Khairiah; Junaidi; Adeel Abdulkarim Fadhl Altuhaish
Jurnal Biodjati Vol 10 No 2 (2025): November
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/biodjati.v10i2.45429

Abstract

The overuse of synthetic AB mix fertilizers in hydroponic systems raises concerns over chemical residues and long-term health risks. Incorporating liquid organic fertilizer (LOF) is a potential strategy to improve nutrient efficiency and enhance crop productivity. This study aimed to evaluate the application of liquid organic fertilizer (LOF) as a sustainable strategy to reduce AB mix dependency while maintaining crop growth and productivity. The experiment was arranged in a Completely Randomized Design (CRD) with five treatments: P1 (100% AB mix/control), P2 (25% LOF + 75% AB mix), P3 (50% LOF + 50% AB mix), P4 (75% LOF + 25% AB mix), and P5 (100% LOF). Plant growth and yield parameters were analyzed using Analysis of Variance (ANOVA) followed by Duncan’s Multiple Range Test (DMRT). The combination of LOF and AB mix significantly affected (P<0.05) plant height, root fresh weight, leaf number, and shoot fresh weight, but had no significant effect (P>0.05) on root length. All combinations of LOF and AB mix, including the 100% AB mix treatment, yielded statistically similar results across all measured parameters. However, the treatment with 75% LOF + 25% AB mix tended to produce the highest values, enhanced flavor, and did not reduce shelf life, whereas the 100% LOF treatment resulted in the lowest performance. These findings highlight the potential of LOF to substantially reduce synthetic input in hydroponic lettuce production, supporting more sustainable and health-conscious cultivation practices.