Claim Missing Document
Check
Articles

Found 26 Documents
Search

Implementing Problem-Based Learning to Improve Social Skills and Social Studies Learning Outcomes among Seventh-Grade Students at SMPN 14 Madiun Irvan Bintar Kalahari; Sudarmiani Sudarmiani; Nurhadji Nugraha
Journal of General Education and Humanities Vol. 5 No. 4 (2026): August
Publisher : MASI Mandiri Edukasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58421/gehu.v5i4.1809

Abstract

An innovative instructional model is needed that can simultaneously integrate the development of social skills and improvements in learning outcomes. This study aims to analyze the implementation of Problem-Based Learning (PBL) in Social Studies instruction to develop social skills and improve the learning outcomes of seventh-grade students at SMPN 14 Madiun. This study adopts a classroom action research (CAR) design conducted in two cycles. Data were collected through observation, testing, and documentation, then analyzed using both quantitative and qualitative approaches. The findings indicate that implementing the PBL model improved students' social skills and learning outcomes. The class average score increased from 65.3 in the pre-cycle to 72.2 in Cycle I and 79.5 in Cycle II, with the learning mastery rate rising from 43.3% to 86.7%. Students' social skills also improved, with the proportion of students achieving good or very good social skills increasing from 26.7% in Cycle I to 93.3% in Cycle II, while the proportion of students in the sufficient category decreased from 73.3% to 6.7%. This study concludes that the PBL model is an effective instructional approach in Social Studies for enhancing students' learning outcomes and social skills.
Penerapan model pembelajaran two stay two stray berbantuancanva untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar ekonomi Sri Harijasih; Nurhadji Nugraha; Ibadullah Malawi
EQUILIBRIUM : Jurnal Ilmiah Ekonomi dan Pembelajarannya Vol. 14 No. 1 (2026): Equilibrium : Jurnal Ilmiah Ekonomi dan Pembelajarannya
Publisher : Universitas PGRI Madiun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25273/equilibrium.v14i1.23777

Abstract

Kesenjangan antara kondisi motivasi belajar siswa dan target ketuntasan yang ditetapkan sekolah menunjukkan perlunya pembaruan dalam proses pembelajaran. Hanya 47% siswa yang terlibat aktif dan 53% yang mencapai ketuntasan, jauh di bawah standar 85%. Penggunaan metode ceramah dengan dukungan PPT belum mampu meningkatkan kualitas pembelajaran secara optimal, sehingga diperlukan pendekatan yang lebih interaktif. Penelitian tindakan kelas ini mengeksplorasi penerapan model Two Stay Two Stray(TSTS) yang dipadukan dengan Canva serta dampaknya terhadap motivasi dan hasil belajar siswa kelas XII‑8 pada mata pelajaran Ekonomi. Penelitian dilaksanakan dalam dua siklus di SMA Negeri 4 Madiun. Motivasi belajar dianalisis melalui observasi perilaku siswa, sedangkan hasil belajar diperoleh dari penilaian kognitif dan kinerja. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan yang jelas: motivasi belajar mencapai 86,11%, sementara ketuntasan klasikal meningkat dari 53% pada pra‑siklus menjadi 75% pada Siklus I dan 86% pada Siklus II, melampaui batas ketuntasan minimal 85%.
Problem-Based Learning Model in Elementary School Students: Learning Activity and Learning Outcomes Indun Krisdianto; Sudarmiani Sudarmiani; Nurhadji Nugraha
Journal Evaluation in Education (JEE) Vol 7 No 2 (2026): April
Publisher : Cahaya Ilmu Cendekia Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37251/jee.v7i2.2655

Abstract

Purpose of the study: This study investigates the effectiveness of the Problem-Based Learning (PBL) model in improving learning activity and learning outcomes of elementary school students in IPAS (Science and Social Studies) learning within the context of the Merdeka Curriculum implementation. Methodology: A quantitative approach was employed using a quasi-experimental posttest non-equivalent control group design. The participants consisted of 22 third-grade students at SDN 02 Nambangan Lor, Madiun City, divided into an experimental class (n = 11) taught using the PBL model and a control class (n = 11) taught using a traditional learning model. Data were collected through learning activity observation sheets and learning outcome tests, then analyzed using descriptive statistics and independent sample t-tests with a significance level of 0.05. Main Findings: The results show that students in the experimental class demonstrated significantly higher learning activity and learning outcomes compared to those in the control class. The independent sample t-test revealed a significant difference in learning activity (t = 4.129, p < 0.05) and learning outcomes (t = 5.744, p < 0.05) between the two groups. These findings indicate that the PBL model is more effective than traditional learning in fostering active student participation and improving academic achievement. Novelty/Originality of this study: This study provides empirical evidence supporting the integration of Problem-Based Learning as an instructional strategy to enhance the quality of IPAS learning in elementary schools, particularly in alignment with the student-centered principles of the Merdeka Curriculum.
A Study on EduTainment: Enhancing Learning Activity in Science Learning Andrie Kriesna Susilowaty; Nurhadji Nugraha; Yudi Hartono
Journal Evaluation in Education (JEE) Vol 7 No 2 (2026): April
Publisher : Cahaya Ilmu Cendekia Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37251/jee.v7i2.2656

Abstract

Purpose of the study: This study investigates the effectiveness of Edutainment-based learning devices in enhancing learning activity in elementary school science learning. Methodology: A quantitative approach with a quasi-experimental posttest non-equivalent control group design was employed. The participants consisted of 14 fifth-grade students from an elementary school in Madiun City, Indonesia, divided into an experimental group (n = 7) and a control group (n = 7). The experimental group was taught using Edutainment-based learning devices, while the control group received conventional instructional tools. Data on students’ learning activity were collected using observation sheets based on a four-point Likert scale and analyzed using descriptive statistics, independent sample t-tests, and N-gain analysis at a significance level of 0.05. Main Findings: The findings reveal that students in the experimental group predominantly reached good (71.4%) and very good (28.6%) categories of learning activity, whereas the control group was dominated by not good (71.4%) and not very good (14.3%) categories. Inferential analysis confirmed a significant difference between the two groups (t = 4.167 > t_table = 2.145), indicating that Edutainment-based learning devices significantly outperform traditional approaches in promoting active learning. Moreover, an N-gain score of 0.6 suggests a moderate but meaningful improvement in students’ learning activity. Novelty/Originality of this study: The novelty of this study lies in its empirical validation of Edutainment-based learning devices specifically for IPAS at the elementary level, using learning activity as a core outcome rather than solely cognitive achievement.
Peningkatan Kemampuan Bekerja Sama Dan Hasil Belajar Sosiologi Melalui Model Pembelajaran Team Assisted Individualization (Tai) Pada Siswa Kelas XI 5 Di SMA Negeri 4 Madiun Tahun 2025 Erna Purwandari; Ibadullah Malawi; Nurhadji Nugraha
Jurnal Pendidikan, Sains, Geologi, dan Geofisika (GeoScienceEd Journal) Vol. 6 No. 4 (2025): November
Publisher : Mataram University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/goescienceed.v6i4.1633

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui peningkatan kemampuan bekerja sama dan hasil belajar siswa dengan menggunakan model pembelajaran Team Asisted Individualization pada mata Pelajaran sosiologi. Subyek dari penelitian ini adalah siswa Ke;as XI5 dengan jumlah 33 siswa. Penelitian ini menggunakan pendekatan tindakan kelas dengan dua siklus. Masing-masing siklus mempunyai tahapan antara lain perencanaan, tindakan , refleksi. Dalam pengambilan data , untuk mengetahui kemampuan bekerja sama menggunakan observasi , sedangkan untuk mengetahui hasil belajar menggunakan tes. Setelah data yang diharapkan terkumpul semua selanjutnya dilakukan analisis data dengan menggunakan analisis deskriptif kualitatif dan kuantitatif. Dari hasil analisis data menunjukkan dengan menggukan model pembelajaran Team Assisted Individualization pada siklus I untuk kemampuan bekerja sama mendapat hasil 76,67%. Hal tersebut belum memenuhi kriteria yang diharapkan yaitu baik atau minimal 80. Sedangkan untuk hasil belajar pada siklus I memperoleh rata-rata 74,39 atau 72,73% dari total nilai 2455. Hal tersebut juga belum memenuhi harapan yaitu sesuai dengan KKM 75. Oleh karena itu dilakukan tindakan selanjunya yaitu siklus ke II dan ternyata hasilnya meningkat. Untuk kemampuan bekerja sama meningkat menjadi 85,76% dan hasil belajar mencapai 93,94% atau rata-rata 80,61
PENERAPAN DIFFERENTIAL MORNING PROGRAM (DMP) TERHADAP KEAKTIFAN ANAK USIA DINI Ema Rochmawati; Sudarmiani Sudarmiani; Nurhadji Nugraha
Journal of Social and Economics Research Vol 8 No 1 (2026): JSER, June 2026
Publisher : Ikatan Dosen Menulis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54783/jser.v8i1.1229

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji sejauh mana penerapan Differential Morning Program (DMP) dapat meningkatkan kekatifan murid. Keaktifan murid pada kelompok B kelas Diponegoro meningkat setelah dilaksanakan kegiatan pagi yang berderensiasi selama 2 siklus dengan hasil sebagai berikut: (1) Keaktifan pada pra siklus, ada pada katagori kurang dengan nilai rata-rata 6,7. Sedangkan murid yang berhasil mencapai KKTP sebanyak 2 murid (13%). Secara keseluruhan murid belum mencapai KKTP pada kegiatan pagi. (2) Keaktifan dalam tahapan siklus ke-I, ada pada katagori cukup dengan memperoleh skor rerata sebesar 9. Sedangkan murid yang berhasil mencapai KKTP sebanyak 7 murid (44%). Secara keseluruhan murid belum mencapai KKTP di DMP. (3) Keaktifan dalam tahapan siklus ke-II, ada pada termasuk dalam kriteria sangat baik dengan skor rerata 13,1. Sedangkan murid yang berhasil mencapai KKTP sebanyak murid 15 murid (44%). Secara keseluruhan murid sudah