Claim Missing Document
Check
Articles

Found 24 Documents
Search

Identifikasi Pola Laminasi Tempurung Kelapa Eskak, Edi
Dinamika Kerajinan dan Batik: Majalah Ilmiah Vol. 32 No. 2 (2015): Dinamika Kerajinan dan Batik
Publisher : Balai Besar Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri Kerajinan dan Batik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22322/dkb.v32i2.1366

Abstract

ABSTRAK Pengembangan pola laminasi tempurung kelapa telah banyak dilakukan oleh seniman, desainer, maupun pengrajin. Namun hasil kreasi tersebut tidak terdokumentasi dengan baik sehingga banyak  yang hilang. Pemberian nama pada motif-motif yang dihasilkan pun belum dilakukan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengumpulkan berbagai hasil kreasi pola laminasi tempurung kelapa di Yogyakarta, serta melakukan identifikasi terhadap pola-pola tersebut. Metode yang digunakan yaitu pengumpulan data, observasi mendalam, dan identifikasi terhadap pola-pola yang ada. Hasil dari identifikasi tersebut mendapatkan 17 jenis pola laminasi tempurung kelapa yaitu:  (1) Pecahan, (2) Pecahan Belang, (3) Kotak-Kotak, (4) Kotak Poleng, (5) Nata Bata,  (6) Segitiga, (7) Anyaman, (8) Rajang Anyam, (9) Rajang  Poleng, (10) Rajang Acak, (11) Rajang Pusaran, (12) Rajang Kawung, (13) Rajang Kipas, (14) Rajang Galaran Vertikal, (15) Rajang Galaran Horisontal, (16) Rajang Blarak, dan (17) Kancing. Kata kunci: identifikasi, motif, laminasi, tempurung kelapa ABSTRACTDevelopment of lamination motif on coconut shell has been done by artists, designers, and craftsmen. However, the creation is not well documented so many motifs missing. Giving the name of the resulting motifs had not been done. The purpose of this study was to collect various creation of lamination motif on coconut shell in Yogyakarta, as well as the identification of those motifs. The method used is the collection of data, in-depth observation and identification of existing motifs. The results of this identification are: (1) Pecahan, (2) Pecahan Belang, (3) Kotak-Kotak, (4) Kotak Poleng, (5) Nata Bata,  (6) Segitiga, (7) Anyaman, (8) Rajang Anyam, (9) Rajang  Poleng, (10) Rajang Acak, (11) Rajang Pusaran, (12) Rajang Kawung, (13) Rajang Kipas, (14) Rajang Galaran Vertikal, (15) Rajang Galaran Horisontal, (16) Rajang Blarak, and (17) Kancing.  Keywords: identification, motif, lamination, coconut shell
Ukiran Bali dalam Kreasi Gitar Elektrik Yoga, Wayan Balik Sedana; Eskak, Edi
Dinamika Kerajinan dan Batik: Majalah Ilmiah Vol. 32 No. 2 (2015): Dinamika Kerajinan dan Batik
Publisher : Balai Besar Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri Kerajinan dan Batik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22322/dkb.v32i2.1367

Abstract

AbstrakBali kaya akan ragam hias seni ukir, sehingga menginspirasi untuk diterapkan pada pembuatan produk gitar elektrik. Gitar elektrik dipilih karena badan gitar terbuat dari kayu solid, sehingga ornamen lebih mudah diterapkan serta tidak berpengaruh terhadap resonansi nada. Tujuan penciptaan seni ini adalah untuk menerapkan seni ukir Bali pada produk gitar elektrik. Metode yang digunakan yaitu pengumpulan data, pengembangan ide, perancangan ukiran dan perwujudan produk jadi. Tema penciptaan yang diwujudkan menjadi produk yaitu: (1) legenda klasik Bali, (2) keindahan alam Bali, (3) keagamaan di Bali dan (4) serba-serbi Bali. Hasil survei terhadap 100 orang konsumen selama 6 bulan menunjukkan hasil bahwa tema yang disukai: legenda klasik Bali 45%, keindahan alam Bali 25%, serba-serbi Bali 19% dan keagamaan di Bali 11%. Kata kunci: ukiran Bali, gitar elektrik ukirAbstractBali has rich decorative carvings which inspire people to apply them on the manufacture of electric guitars. Electric guitar has been chosen as the research object because of its solid wood body, so that the ornaments are easier to apply and do not affect the resonant tones. The purpose of the creation of this art is to apply the Bali product carving on electric guitar. The method used is data collection, development of ideas, carving design, and the realization of finished products. The creation theme realize into products, namely: (1) Bali classical legend, (2) Bali natural beauty, (3) Religious sites in Bali, and (4) Sundries of Bali. Surveys results of 100 consumers during in 6 months, shows that the preferred themes are: 45% of Bali classical legend, 25% of Bali natural beauty, 19% of Sundries of Bali, and 11% of Bali spiritualism.Keywords:  Balinese carving, electric guitar carving
UKIRAN KERAWANG ACEH GAYO SEBAGAI INSPIRASI PENCIPTAAN MOTIF BATIK KHAS GAYO Salma, Irfa ina Rohana; Eskak, Edi
Dinamika Kerajinan dan Batik: Majalah Ilmiah Vol. 33 No. 2 (2016): Dinamika Kerajinan dan Batik: Majalah Ilmiah
Publisher : Balai Besar Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri Kerajinan dan Batik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22322/dkb.v33i2.1636

Abstract

ABSTRAK Industri batik mulai berkembang di Gayo, tetapi belum memiliki motif batik khas daerah. Oleh karena itu perlu diciptakan motif batik khas Gayo, dengan mengambil inspirasi dari ukiran yang terdapat pada rumah tradisional yang biasa disebut ukiran kerawang Gayo. Tujuan penciptaan seni ini adalah untuk menciptakan motif batik yang memiliki ciri khas Gayo. Metode yang digunakan yaitu eksplorasi ide, perancangan, dan perwujudan menjadi motif batik. Dalam kegiatan ini telah diciptakan enam motif batik khas Gayo yaitu: (1) Motif Ceplok Gayo; (2) Motif Gayo Tegak; (3) Motif Gayo Lurus; (4) Motif Parang Gayo; (5) Motif Gayo Lembut; dan (6) Motif Geometris Gayo. Hasil uji kesukaan terhadap motif kepada lima puluh responden menunjukkan bahwa Motif Ceplok Gayo paling banyak dipilih oleh responden yaitu sebesar 19%, sedangkan Motif Parang Gayo 18%, Motif Gayo Lembut 17%, Motif Geometris Gayo 17%, Motif Gayo Lurus 15% dan Motif Gayo Tegak 14%. Rata-rata motif yang dihasilkan mendapatkan apresiasi yang baik dari responden, sehingga semua motif layak diproduksi sebagai batik khas Gayo.Kata kunci: batik Gayo, Motif Ceplok Gayo, Motif Parang Gayo.ABSTRACTBatik industry began to develop in Gayo, but have not had a typical batik motif itself. Therefore, it is necessary to create batik motifs of Gayo, by taking inspiration from the carvings found in traditional houses commonly called kerawang Gayo. The purpose of this art is to create motifs those have a Gayo characteristic. The method used are the idea exploration, design, and motifs embodiment. In this activity has created six Gayo batik motifs, namely: (1) Motif Ceplok Gayo; (2) Motif Gayo Tegak; (3) Motif GayoLurus; (4) Motif Parang Gayo; (5) Motif Gayo Lembut; dan (6) Motif Geometris Gayo. The test results fondness of the motives to fifty respondents indicated that the Motif Ceplok Gayo most preferred by respondents ie 19%, while Motif Parang Gayo 18%, Motif Gayo Lembut 17%, Motif Geometris Gayo 17%, Motif Gayo Lurus 15% and Motif Gayo Tegak 14%. Average motifs generated to get a good appreciation of the respondents, so they all can be produced as batik Gayo.Keywords: batik Gayo, Motif Ceplok Gayo, Motif Parang Gayo.
PENINGKATAN NILAI TAMBAH PADA CACAT BATANG KAYU DENGAN KREASI SENI Eskak, Edi; Sumarno, Sumarno
Dinamika Kerajinan dan Batik: Majalah Ilmiah Vol. 33 No. 2 (2016): Dinamika Kerajinan dan Batik: Majalah Ilmiah
Publisher : Balai Besar Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri Kerajinan dan Batik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22322/dkb.v33i2.1649

Abstract

ABSTRAK Cacat batang kayu menurunkan nilai penggunaan kayu sekaligus menjatuhkan nilai harga kayu. Oleh karena itu perlu dieksplorasi secara kreatif dalam penciptaan seni, sehingga dapat meningkatkan nilai jual produk kayu. Tujuan penciptaan seni ini adalah untuk menghasilkan produk seni dari bahan batang kayu yang cacat untuk meningkatkan nilai jual produk kayu. Metode yang digunakan yaitu pengumpulan data, eksplorasi ide, perancangan bentuk, dan perwujudan menjadi produk seni. Respon konsumen telah diuji lewat pemasaran dengan hasil produk yang disukai adalah tema legenda/mitologi Tiongkok 45%, Nusantara 25%, India 19%, dan lain-lain 11%. Hasil uji pasar ini dipakai untuk acuan dalam pembuatan produk selanjutnya, berdasarkan kecenderungan produk yang lebih laku di pasaran.Kata kunci: cacat batang kayu, nilai tambah, kreasi seni. ABSTRACTDefective woods down the value of its use as well as drop the price value of the timber. Therefore, it needs to be explored creatively in art, to increase the sale value of the wood work. The creation purpose of this art is to produce the defective woods artworks to increase the sale value of the wood work. The method used are the data collection, ideas exploration, designing forms and manifestation into an art production. Consumer response has been tested through media marketing with the the preferred product results are 45% themes of Chinese legends/myths, the Nusantara legends/myths  25%, the India legends/myths  19%, and other themes legends/myths   11%. The results of this market test is used for reference in the manufacture of the next production, based on the more marketable product tendency.Keywords: defect logs, value added, the creation of art.
GETAH POHON KUDO (Lannea coromandelica) SEBAGAI ALTERNATIF PEREKAT UNTUK PRODUK KERAJINAN Eskani, Istihanah Nurul; Perdana, Arif; Eskak, Edi; Sumarto, Hadi
Dinamika Kerajinan dan Batik: Majalah Ilmiah Vol. 34 No. 1 (2017): DINAMIKA KERAJINAN DAN BATIK : MAJALAH ILMIAH
Publisher : Balai Besar Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri Kerajinan dan Batik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22322/dkb.v34i1.2265

Abstract

Perekat yang biasa digunakan di industri kerajinan adalah perekat sintetis yang tidak aman bagi kesehatan maupun lingkungan. Pemanfaatan bahan baku dari alam sebagai substitusi bahan baku sintetis telah banyak dilakukan, termasuk bahan baku perekat. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan perekat yang aman digunakan untuk pembuatan barang kerajinan dengan menggunakan bahan baku dari getah pohon Kudo (Lannea coromandelica) yang biasa disebut dengan getah blendok. Getah blendok dilarutkan dalam air dengan rasio getah blendok : air = 1:3 kemudian dipanaskan dalam waterbath pada suhu 700C-800C selama 1 jam. Zat aditif Maleat Anhidrida (MAH) ditambahkan dengan kadar 2,5%, 5%, 7,5% dan 10% dari berat getah blendok, dengan masing-masing ditambahkan kadar Benzoil Peroksida (BPO) 0,75%. Perekat yang diperoleh diaplikasikan pada bahan kulit kayu Jomok (Arthocarpus elastica) dan selanjutnya dilakukan uji sifat-sifat fisis dan mekanisnya. Sifat fisis perekat dibandingkan dengan SNI 06-6049-1999 Perekat PVAc sedangkan sifat mekanisnya dibandingkan dengan performa perekat sintetis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sifat-sifat fisis perekat dari getah blendok telah sesuai dengan SNI dan sifat-sifat mekanisnya sebanding dengan performa perekat sintetis yang biasa digunakan di industri kerajinan.  Kata Kunci: Perekat alami, getah, pohon Kudo, maleat anhidrida
UMA LENGGE DALAM KREASI BATIK BIMA Sartika, Dewi; Eskak, Edi; Sunarya, I Ketut
Dinamika Kerajinan dan Batik: Majalah Ilmiah Vol. 34 No. 2 (2017): DINAMIKA KERAJINAN DAN BATIK : MAJALAH ILMIAH
Publisher : Balai Besar Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri Kerajinan dan Batik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22322/dkb.v34i2.3365

Abstract

IKM Batik di Bima, Nusa Tenggara Barat mulai berkembang, tetapi belum memiliki motif khas daerah. Oleh karena itu perlu diciptakan motif batik yang memiliki ciri khas daerah Bima. Tujuan penelitian penciptaan seni ini adalah untuk menghasilkan kreasi baru motif batik yang sumber inspirasinya diambil dari seni budaya daerah setempat, sehingga dapat menghasilkan motif batik berciri khas daerah Bima. Metode yang digunakan yaitu pengamatan mendalam, pengumpulan data, pengkajian sumber inspirasi, pembuatan desain motif, dan perwujudan menjadi kain batik. Hasilnya berupa satu desain motif yaitu Batik Uma Lengge (BUL), namun dibuat menjadi tujuh kain batik dengan warna dasar yang berbeda-beda. Adapun tujuh kain batik tersebut adalah: (1) BUL Me’e/hitam (2) BUL Bura/putih, (3) BUL Jao/hijau, (4) BUL Kala/merah, (5) BUL Monca/kuning, (6) BUL Owa/ungu, dan (7) BUL Biru/biru. Uji peminatan konsumen dilakukan terhadap jenis warna yang disukai. Adapun warna yang paling banyak dipilih adalah hitam 27%, merah 19%, ungu 15%, biru 12%, hijau 11%, kuning 9%, dan putih 7%. Hasil uji ini dapat dijadikan acuan dalam memberi warna pada batik, berdasarkan kecenderungan selera konsumen.     
PENINGKATAN KECERAHAN DAN DAYA REKAT WARNA PADA PRODUK GERABAH BATIK Eskak, Edi; Salma, Irfa'ina Rohana; Sumarto, Hadi
Dinamika Kerajinan dan Batik: Majalah Ilmiah Vol. 34 No. 2 (2017): DINAMIKA KERAJINAN DAN BATIK : MAJALAH ILMIAH
Publisher : Balai Besar Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri Kerajinan dan Batik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22322/dkb.v34i2.3389

Abstract

Penerapan  teknik batik untuk dekorasi pada gerabah, mempunyai kendala yaitu hasil pewarnaan kurang cerah dan daya rekat warna pada permukaan gerabah kurang kuat. Tujuan penelitian ini adalah melakukan optimasi bahan dan proses pembuatan gerabah batik untuk meningkatkan kecerahan dan daya rekat warnanya.  Metode yang digunakan yaitu: (1) Pemilihan gerabah, (2) Pembuatan desain motif, (3) Penyantingan/pembatikan, (4) Pewarnaan (5) Pelorodan/pembersihan lilin, (6) Finishing, dan (7) Pengujian ketahanan luntur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan pewarna rapid dan naphthol menghasilkan warna yang lebih cerah. Peningkatan kecerahan warna ini dilakukan dengan langkah awal berupa pemilihan gerabah yang berwarna terang serta dilakukan pelapisan cat transparan. Pengujian dilakukan terhadap ketahanan luntur warna terhadap gosok dan cahaya tengah hari, dengan skor penilaian angka 1 – 5.  Hasil pengujian ketahanan luntur warna terhadap gosokan kering dan basah memperoleh nilai 3-4 (cukup baik). Ketahanan luntur warna terhadap cahaya terang hari memperoleh angka 4-5 (baik). Kecerahan dan ketahanan luntur (daya rekat kuat) terhadap warna yang dilapisi cat transparan memperoleh nilai 5 (sangat baik). 
PENAMBAHAN NILAI GUNA PADA KREASI BARU PRODUK BONEKA BATIK KAYU KREBET BANTUL Sukaya, Yaya; Eskak, Edi; Salma, Irfa ina Rohana
Dinamika Kerajinan dan Batik: Majalah Ilmiah Vol. 35 No. 1 (2018): Dinamika Kerajinan dan Batik : Majalah Ilmiah
Publisher : Balai Besar Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri Kerajinan dan Batik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22322/dkb.v35i1.3826

Abstract

Penciptaan produk baru merupakan aspek penting bagi IKM industri kreatif dalam menjalankan usahanya. Kebaruan desain menjadi salah satu daya tarik konsumen dalam membeli suatu produk. Salah satu cara memberi nilai kebaruan adalah dengan menambahkan nilai guna pada produk. Penambahan nilai guna pada produk batik kayu Krebet Bantul dapat menambah keunggulan produk yaitu selain indah juga mempunyai kegunaan tertentu secara fisik. Tujuan penelitian penciptaan seni ini adalah untuk menghasilkan produk baru dengan ide menambahkan nilai guna pada produk boneka batik kayu. Metode yang digunakan yaitu pengumpulan data, pengkajian sumber inspirasi, pembuatan desain, pembuatan kerajinan kayu, pembatikan pada bahan kayu, dan uji tahan luntur warnanya. Hasil penelitian ini berupa kreasi produk baru yang dikembangkan dari inspirasi boneka multifungsi. Uji tahan luntur penting dilakukan untuk memastikan warna pembentuk motif batik pada permukaan kayu tidak mudah luntur. Hal ini untuk menjamin kualitas produk dalam perdagangan. Skor nilai uji dengan penilaian angka 1 - 5. Nilai uji ketahanan luntur warna terhadap gosok kering dan basah 4- 5 (baik), uji ketahanan luntur warna terhadap cahaya terang hari 3- 4 (cukup baik), dan uji ketahanan luntur warna yang dilapisi cat bening 5 (sangat baik).
SENI RIAS SUKU DANI SEBAGAI INSPIRASI PENCIPTAAN CENDERAMATA KHAS PAPUA DARI BAHAN BAMBU Eskak, Edi; Widiastuti, Retno
Dinamika Kerajinan dan Batik: Majalah Ilmiah Vol. 36 No. 1 (2019): Dinamika Kerajinan dan Batik : Majalah Ilmiah
Publisher : Balai Besar Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri Kerajinan dan Batik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22322/dkb.v36i1.4184

Abstract

Keunikan budaya dan keindahan alam Papua telah menarik banyak wisatawan untuk berkunjung ke daerah tersebut.  Kegiatan pariwisata yang semakin berkembang memerlukan dukungan berbagai sektor antara lain penyediaan cenderamata. Oleh karena itu perlu dikembangkan industri yang menyediakan produk cenderamata yang inspirasi penciptaannya diangkat dari budaya khas daerah. Tujuan penelitian penciptaan seni ini adalah menciptakan cenderamata yang inspirasinya digali dari khasanah budaya setempat yaitu seni rias suku Dani.  Seni rias suku Dani memiliki keunikan untuk diangkat sebagai tema, sedangkan bahan bambu dipilih karena harganya murah, mudah didapatkan, mudah ditanam dan cepat panen, mudah dikerjakan, kuat, dan relatif ringan saat dibawa sebagai oleh-oleh wisata. Metode yang digunakan mengumpulkan data, menentukan tema penciptaan, merancang desain produk, mengolah bahan bambu, membuat prototip, serta melakukan tinjauan produk dan keekonomiannya. Hasilnya berupa  konsep penciptaan, metode proses pembuatan serta purwarupa. Purwarupa yang dihasilkan antara lain topeng, baki, tatakan saji, tatakan gelas, dan vas bunga. Tinjauan produk dan keekonomian menunjukkan bahwa produk yang dihasilkan mempunyai keunikan yang menarik wisatawan untuk membelinya.    
LIMBAH KERTAS DUPLEX UNTUK BAHAN CANTING CAP BATIK Nurohmad, Nurohmad; Eskak, Edi
Dinamika Kerajinan dan Batik: Majalah Ilmiah Vol. 36 No. 2 (2019): Dinamika Kerajinan dan Batik : Majalah Ilmiah
Publisher : Balai Besar Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri Kerajinan dan Batik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22322/dkb.v36i2.4968

Abstract

Limbah kertas kemasan yang paling banyak ditemui adalah jenis duplex. Bentuk lembaran dan ketebalan kertas duplex mempunyai kesamaan dengan plat tembaga sebagai bahan utama canting cap batik. Tujuan kegiatan ini adalah memanfaatkan limbah kertas duplex untuk pembuatan canting cap batik. Metode yang digunakan adalah pengumpulan dan analisis data, perancangan, pembuatan canting cap, uji pencapan, dan uji pewarnanaan batik. Hasilnya limbah kertas duplex dapat dimanfaatkan untuk membuat canting cap batik dan digunakan untuk proses batik cap.