Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

KEPEMIMPINAN MULTIKULTURAL KEPALA SEKOLAH DALAM MENUMBUHKAN KARAKTER TOLERANSI SISWA Puji Rinawati; Yulius Mataputun; Diki Kurniawan; Kusdianto Kusdianto; Ida M. Hutabarat; Urip Wahyudin
SOCIAL : Jurnal Inovasi Pendidikan IPS Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/social.v6i2.11746

Abstract

This study aims to analyze the principal's multicultural leadership in fostering student tolerance character through eight strategic dimensions: developing democratic attitudes, diversity paradigms, ethnic anti-discrimination, gender sensitivity, social concern, intracurricular integration, supporting/inhibiting factors, and the impacts of such leadership. This research employed a qualitative approach with a case study design at SMPIT Qurrota A’yun Abepura, Jayapura City, Papua Province. Data were collected through in-depth interviews, participatory observation, and documentation from 15 key informants, including school leaders, teachers, students, parents, and community figures. Data validity was ensured through source, technique, and time triangulation. Data analysis followed the interactive model of Miles, Huberman, and Saldaña, consisting of data condensation, data display, and conclusion drawing. The results indicate that the principal successfully built a democratic climate through staff involvement in policy-making and synchronizing Islam Wasathiyah values with Papuan local wisdom. Anti-discrimination strategies and gender sensitivity were realized through fair policies regardless of ethnicity or gender. Social concern was internalized through real experiences such as the "Jumat Berbagi" program and humanitarian actions (ta’awun). The main supporting factors include inspiring leadership and parental synergy, while obstacles stem from social media influence and limited insights of some educators. The research impact is evident in the creation of a harmonious school climate and the permanent internalization of tolerance character in students. ABSTRAK Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis kepemimpinan multikultural kepala sekolah dalam menumbuhkan karakter toleransi siswa melalui delapan dimensi strategis: pembangunan sikap demokratis, paradigma keberagaman, sikap anti-diskriminasi etnis, sensitivitas gender, kepedulian sosial, pengintegrasian dalam intrakurikuler, faktor pendukung/penghambat, serta dampak kepemimpinan tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan rancangan studi kasus di SMPIT Qurrota A’yun Abepura, Kota Jayapura, Provinsi Papua. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan dokumentasi terhadap 15 informan kunci yang meliputi unsur pimpinan sekolah, guru, siswa, orang tua, dan tokoh masyarakat. Validitas data dijamin melalui teknik triangulasi sumber, teknik, dan waktu. Analisis data mengikuti model interaktif Miles, Huberman, dan Saldaña yang terdiri dari kondensasi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepala sekolah berhasil membangun iklim demokratis melalui pelibatan staf dalam pengambilan kebijakan dan sinkronisasi nilai Islam Wasathiyah dengan kearifan lokal Papua. Strategi anti-diskriminasi dan sensitivitas gender diwujudkan melalui kebijakan yang adil tanpa memandang suku atau jenis kelamin. Kepedulian sosial diinternalisasi melalui pengalaman nyata seperti program "Jumat Berbagi" dan aksi kemanusiaan (ta’awun). Faktor pendukung utama meliputi kepemimpinan yang inspiratif dan sinergi orang tua, sementara hambatan bersumber dari pengaruh media sosial dan keterbatasan wawasan sebagian pendidik. Dampak penelitian terlihat pada terciptanya iklim sekolah yang harmonis dan internalisasi karakter toleransi yang permanen pada diri siswa.  
STRATEGI KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH DALAM PENGUATAN KEMITRAAN DUNIA USAHA DAN DUNIA INDUSTRI (DU/DI) UNTUK PENINGKATAN MUTU PRAKERIN BERBASIS PEMBELAJARAN BERMAKNA Monika Simon Kendek; Yulius Mataputun; Albaiti Albaiti; Diki Kurniawan; Monika Gultom; Kusdianto Kusdianto
SOCIAL : Jurnal Inovasi Pendidikan IPS Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/social.v6i2.11747

Abstract

The phenomenon of skills mismatch that triggers high rates of educational decline and sociocultural challenges in the Central Papua region is the background of this research. This problem requires innovative managerial intervention from school leaders to optimize the implementation of work practices. The focus of this research is to analyze the leadership strategy of the principal in the partnership between the Business World and the World of Industry (DU/DI) to improve the quality of Industrial Work Practice (Prakerin) based on Meaningful Learning at SMKS Tunas Bangsa Pariwisata Mimika. The steps of this qualitative descriptive research with a case study design were designed through the stages of field exploration, original data collection, and analysis of the interactive model of Miles, Huberman, and Saldana which includes data reduction, data presentation, and drawing conclusions. Primary data sources include in-depth interviews with 12 key informants as well as participatory observation and formal documentation studies. The findings indicate that the principal integrates the Adaptive Contextual Leadership model with the Link and Match policy through the alignment of the tourism curriculum, the use of a physical objective assessment format by industry mentors, and the consistent implementation of organizer advancement. The main conclusion emphasizes that this adaptive-contextual leadership strategy that focuses on strengthening intellectual, emotional, and spiritual character has proven to be very effective in transforming the quality of Prakerin, boosting knowledge retention, and building a sustainable reputation and trust in the industry. ABSTRAK Fenomena skills mismatch yang memicu tingginya angka pengangguran lulusan vokasi serta tantangan sosiokultural di wilayah Papua Tengah melatarbelakangi penelitian ini. Masalah tersebut menuntut adanya intervensi manajerial yang inovatif dari figur pimpinan sekolah guna mengoptimalkan pelaksanaan praktik kerja. Fokus penelitian ini adalah menganalisis strategi kepemimpinan kepala sekolah dalam penguatan kemitraan Dunia Usaha dan Dunia Industri (DU/DI) untuk meningkatkan mutu Praktik Kerja Industri (Prakerin) berbasis Pembelajaran Bermakna di SMKS Tunas Bangsa Pariwisata Mimika. Langkah-langkah penelitian deskriptif kualitatif dengan desain studi kasus ini dirancang melalui tahapan eksplorasi lapangan, pengumpulan data orisinal, serta analisis interaktif model Miles, Huberman, dan Saldana yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Sumber data primer melibatkan wawancara mendalam terhadap 12 informan kunci beserta observasi partisipatif dan studi dokumentasi formal. Hasil temuan menunjukkan bahwa kepala sekolah mengintegrasikan model Adaptive Contextual Leadership dengan kebijakan Link and Match melalui penyelarasan kurikulum pariwisata, pemanfaatan format penilaian fisik objektif oleh mentor industri, serta penerapan advance organizer secara konsisten. Simpulan utama menegaskan bahwa strategi kepemimpinan adaptif-kontekstual yang berfokus pada penguatan karakter intelektual, emosional, dan spiritual ini terbukti sangat efektif mentransformasi mutu Prakerin, mendongkrak retensi pengetahuan, serta membangun reputasi dan kepercayaan industri berkelanjutan.    
Peran Kepala Sekolah Sebagai Motivator Di SMP YPPGI Wiringgambut Kabupaten Lanny Jaya Provinsi Papua Pegunungan Denius Kogoya; Ewendi W. Mangolo; Juliana Waromi; C. Tanta; Monika Gultom; Diki Kurniawan
Jurnal Kajian Ilmu Pendidikan (JKIP) Vol. 7 No. 3 (2026): Jurnal Kajian Ilmu Pendidikan (JKIP)
Publisher : Lembaga Riset dan Inovasi Almatani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55583/jkip.v7i3.2277

Abstract

Telah dilakukan penelitian tentang kepala sekolah sebagai motivator di SMP YPPGI Wiringgambut Kabupaten Lanny Jaya Provinsi Papua Pegunungan. Tujuan penelitian adalah menganalisis peran kepala sekolah sebagai motivator dalam mengatur lingkungan fisik sekolah, suasana iklim kerja yang kondusif, menegakkan disiplin guru dan tenaga kependidikan, memberi motivasi kepada guru dan tenaga kependidikan, memberikan penghargaan kepada guru yang berprestasi dan menyediakan sumber belajar untuk pengembangan profesional guru serta faktor pendukung dan penghambat kepala sekolah sebagai motivator dalam meningkatkan kinerja guru. Jenis penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Populasi adalah seluruh warga sekolah dan informan adalah kepala sekolah dan guru sebanyak 6 orang. Data diperoleh menggunakan pedoman wawancara, observasi dan dokumentasi dan dilakukan keabsahan data berdasarkan kecermatan dalam penelitian dan triangulasi selanjutnya data dianalisis melalui reduksi data, penyajian data serta penarikan kesimpulan dan verifikasi. Hasil penelitian diperoleh peran kepala sekolah sebagai motivator yaitu 1) mengatur lingkungan fisik secara aktif menata ruang kelas, ruang guru, dan sarana-prasarana sekolah, melibatkan guru dan siswa dalam perawatan lingkungan, serta memberikan motivasi dan teladan dalam menjaga kebersihan dan kenyamanan, 2) menciptakan suasana iklim kerja yang kondusif mampu meningkatkan motivasi, rasa aman, dan tanggung jawab guru melalui sikap terbuka, adil, komunikasi dua arah, dan pendekatan kekeluargaan, 3) Menegakkan disiplin guru dan tenaga kependidikan dilakukan secara jelas, adil, dan konsisten, dengan pendekatan persuasif dan pembinaan personal sebelum pemberian sanksi, 4) memberikan motivasi secara konsisten mempengaruhi semangat kerja, rasa percaya diri, loyalitas, dan kualitas kinerja guru, 5) Peran kepala sekolah sebagai motivator dalam memberi penghargaan secara terbuka, adil, dan objektif sehingga menumbuhkan kompetisi sehat dan motivasi untuk berprestasi di antara guru, 6) menyediakan sumber belajar mendukung pengembangan profesional guru dengan ketersediaan buku, modul, akses internet, komputer, dan kesempatan mengikuti pelatihan, 7) Faktor pendukung keberhasilan kepala sekolah sebagai motivator meliputi: komunikasi terbuka, keteladanan, kesempatan pengembangan profesional, suasana kerja harmonis, dan iklim kerja kondusif. Faktor penghambat mencakup keterbatasan sarana dan prasarana, minimnya anggaran sekolah, kondisi geografis yang jauh, beban kerja administrasi yang tinggi, disiplin guru yang bervariasi, dan kondisi sosial-ekonomi guru.
Implementasi Kepemimpinan Visioner Kepala Sekolah Dalam Meningkatkan Kinerja Guru Di SD Inpres Tiom Kabupaten Lanny Jaya Provinsi Papua Pegunungan Ludia Yaung; Diki Kurniawan; Monika Gultom; C. Tanta; Juliana Waromi; Robert Masreng
Jurnal Kajian Ilmu Pendidikan (JKIP) Vol. 7 No. 4 (2026): Jurnal Kajian Ilmu Pendidikan (JKIP)
Publisher : Lembaga Riset dan Inovasi Almatani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55583/jkip.v7i4.2359

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi kepemimpinan visioner kepala sekolah dalam meningkatkan kinerja guru di SD INPRES Tiom, Kabupaten Lanny Jaya, Provinsi Papua Pegunungan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus deskriptif. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi proses pembelajaran, dan studi dokumentasi. Keabsahan data diuji melalui triangulasi sumber dan Teknik, sedangkan Analisis data dilakukan dengan model interaktif yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepemimpinan visioner telah diimplementasikan dengan cukup baik. Dalam kepemimpinan visioner akan meningkatkan kinerja jika (1) proses penyusunan visi yang melibatkan guru, visi yang ditentukan sesuai dengan kondisi sekolah dan tingkat kepercayaan warga sekolah yang tinggi dalam mewujudkan visi, sehingga meningkatkan kinerja guru, (2) penyampaian visi dilakukan di rapat rutin dan melalui pengumuman tertulis, ada kesesuian antara visi dan kebijakan, dan warga sekolah memiliki pemahaman terhadap visi, sehingga dapat meningkatkan kinerja guru, (3) kemampuan memotivasi guru, mendorong kerja sama guru, dan pembagian tugas dan tanggung jawab guru secara efektif, sehinngga dapat meningkatkan kinerja guru, (4) kemampuan mendorong kesadaran kolektif, memberikan arahan strategis dan memfasilitasi koordinasi dan kolaborasi antar guru, sehingga meningkatkan kinerja guru, (5) Faktor pendukung implementasi kepemimpinan visioner meliputi kemampuan mengarahkan, memberikan motivasi, dan memfasilitasi kerja sama guru, kerja sama atau kolaborasi antar guru, dan memiliki komitmen pada visi. Sedangkan faktor penghambat meliputi usaha dalam mengimplementasikan visi secara efektif, fasilitas yang belum memadai, menjaga konsistensi pelaksanaan, kurangnya pelatihan, dan perbedaan kesiapan dalam menerima perubahan pada guru, serta (6) Implementasi kepemimpinan visioner berdampak pada peningkatan pembuatan RPP atau modul ajar, peningkatan kedisiplinan dan tanggung jawab guru, adanya keterlibatan guru dalam program sekolah, serta terjadi peningkatan hasil belajar siswa. Penelitian ini berkontribusi pada pengembangan kajian manajemen pendidikan dengan menegaskan bahwa kepemimpinan visioner kepala sekolah yang diimplementasikan secara kontekstual dan adaptif mampu menjadi strategi terwujudnya peningkatan kinerja guru, terutama pada satuan pendidikan dasar di wilayah 3T seperti Papua Pegunungan.
Penerapan Kepemimpinan Kepala Sekolah Berbasis Kecerdasan Intelektual Di SMA Negeri 1 Tiom Kabupaten Lanny Jaya Provinsi Papua Pegunungan Toni Pagawak; Diki Kurniawan; Indah S. Budiarti; Urip Wahyudin; Robert Masreng
Jurnal Kajian Ilmu Pendidikan (JKIP) Vol. 7 No. 5 (2026): Jurnal Kajian Ilmu Pendidikan (JKIP)
Publisher : Lembaga Riset dan Inovasi Almatani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55583/jkip.v7i5.2479

Abstract

Penerapan Kepemimpinan Kepala Sekolah Berbasis Kecerdasan Intelektual di SMA Negeri 1 Tiom Kabupaten Lanny Jaya Provinsi Papua Pegunungan. Tesis. Program Pascasarjana Magister Manajemen Pendidikan Universitas Cenderawasih. Tujuan penelitian untuk menganalisis penerapan kepemimpinan berbasis kecerdasan intelektual yaitu sebagai pemilih, penghubung, pemecah masalah, evaluator, negosiator, penyembuh, pelindung dan sinergi serta faktor pendukung dan penghambat kepemimpinan berbasis kecerdasan intelektual di SMA Negeri 1 Tiom Kabupaten Lanny Jaya Provinsi Papua Pegunungan. Jenis penelitian ini adalah desriptif kualitatif. Informan yaitu kepala sekolah, guru, operator/tata usaha dan komite sekolah sebanyak 8 orang. Data diperoleh menggunakan pedoman wawancara, observasi dan dokumentasi. Keabsahan data melalui kecermatan dan triangulasi. Data dianalisis melalui reduksi data, penyajian data serta penarikan kesimpulan dan verifikasi. Hasil penelitian diperoleh bahwa kepemimpinan kepala sekolah berbasis kecerdasan intelektual yaitu 1) memilih mengambil keputusan secara musyawarah dengan guru, staf, dan komite sekolah, sehingga kebijakan yang dihasilkan relevan, realistis, dan adaptif terhadap konteks lokal, 2) penghubung utama antara guru, staf, siswa, orang tua, dan masyarakat dengan komunikasi yang berjenjang, terbuka, dan terstruktur memungkinkan seluruh warga sekolah memahami program yang dijalankan, sehingga koordinasi dan kolaborasi berjalan efektif. 3) Pemecah masalah secara rasional dan sistematis, dengan mengutamakan pengumpulan data, analisis, dan musyawarah. 4) Evaluator kinerja guru dan program sekolah secara rutin, sistematis, dan partisipatif. 5) Negosiator menyampaikan argumentasi logis, menyediakan alternatif solusi, dan memfasilitasi dialog antar pihak agar tercapai kesepakatan yang adil dan kondusif. 6) Penyembuh dengan pendekatan empatik, mendengarkan permasalahan guru, staf, dan siswa, serta memberi pendampingan dan dukungan moral. 7) Pelindung melindungi guru, staf, dan siswa dari tekanan. 8) Sinergi: Kepala sekolah mendorong partisipasi aktif orang tua dan masyarakat dalam kegiatan sekolah. 9) Faktor pendukung meliputi kerja sama guru dan staf, komunikasi terbuka, partisipasi guru dalam pengambilan keputusan, dan penggunaan data berbasis bukti. Faktor penghambat meliputi jumlah guru terbatas, kondisi siswa yang beragam, keterbatasan akses pelatihan, sarana TIK dan administrasi yang terbatas, serta kondisi ekonomi orang tua yang beragam.
PENERAPAN KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH BERWAWASAN MULTIKULTURAL DALAM PENCEGAHAN KEKERASAN SISWA Syahril Rizal S; Petrus Irianto; Diki Kurniawan; Kusdianto Kusdianto; Tanta Tanta; Robert Masreng; Yulius Mataputun
SECONDARY: Jurnal Inovasi Pendidikan Menengah Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/secondary.v6i3.10797

Abstract

Complex sociocultural challenges and ethnic heterogeneity in the vocational high school environment in Papua often trigger the emergence of violence between students. This study aims to analyze in depth the implementation of multicultural leadership of the principal to prevent violence at SMKS YPK TIK Serui, Yapen Islands Regency. The focus of the study includes the development of democratic attitudes, internalization of the diversity paradigm, enforcement of anti-discrimination principles, and development of gender sensitivity. The research method used is a mixed method explanatory sequential design through the distribution of questionnaires to fifty student respondents and interviews with nine key informants. Quantitative findings show that multicultural leadership indicators are in the moderate category, with an anti-discrimination score of 66.91%, diversity paradigm 63.20%, gender sensitivity 62.80%, and democratic attitudes 58.60%. The novelty of this study lies in the integration of Papuan local wisdom, namely Three Stones One Furnace, into the school managerial system. Supporting factors include foundation support, while obstacles include the influence of alcohol. As a result, physical violence was successfully reduced by 62.7%, but a new challenge emerged in the form of digital violence, which increased by 67%. The study's conclusions confirm that multicultural leadership based on restorative justice is highly effective in significantly reducing physical aggression. However, educational institutions need to strengthen systemic multicultural digital literacy strategies to address the increasingly complex dynamics of violence in the digital era and to create sustainable school harmony. ABSTRAK Tantangan sosiokultural dan heterogenitas etnis yang kompleks di lingkungan Sekolah Menengah Kejuruan wilayah Papua sering kali memicu munculnya fenomena kekerasan antarsiswa. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara mendalam penerapan kepemimpinan kepala sekolah berwawasan multikultural guna mencegah kekerasan di SMKS YPK TIK Serui, Kabupaten Kepulauan Yapen. Fokus kajian meliputi pembangunan sikap demokratis, internalisasi paradigma keragaman, penegakan prinsip anti-diskriminasi, serta pengembangan sensitivitas gender. Metode penelitian yang digunakan adalah metode campuran desain sekuensial eksplanatori melalui penyebaran angket kepada lima puluh responden siswa dan wawancara sembilan informan kunci. Temuan kuantitatif menunjukkan indikator kepemimpinan multikultural berada pada kategori sedang, dengan skor anti-diskriminasi 66,91%, paradigma keragaman 63,20%, sensitivitas gender 62,80%, serta sikap demokratis 58,60%. Kebaruan penelitian ini terletak pada integrasi kearifan lokal Papua yakni Tiga Batu Satu Tungku ke dalam sistem manajerial sekolah. Faktor pendukung melibatkan dukungan yayasan, sementara hambatan mencakup pengaruh minuman keras. Dampaknya, kekerasan fisik berhasil ditekan hingga tingkat 62,7%, namun muncul tantangan baru berupa kekerasan digital sebesar 67%. Simpulan penelitian menegaskan bahwa kepemimpinan multikultural berbasis keadilan restoratif sangat efektif dalam mereduksi agresi fisik secara signifikan, akan tetapi institusi pendidikan memerlukan penguatan strategi literasi digital multikultural yang sistemik untuk menghadapi dinamika kekerasan di era digital yang semakin kompleks demi terciptanya harmonisasi sekolah secara berkesinambungan.