Claim Missing Document
Check
Articles

Found 26 Documents
Search

Analisis Angkutan Sedimen Bed Load dan Sedimen Suspended Load pada Sungai Ngolang dan Sungai Tebelo di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika Giri Putra IB; Wirahman W; Yusril Y; Yasa IW; Saadi Y
Jurnal Ilmiah Rekayasa Sipil Vol 19 No 2 (2022): Oktober 2022
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Masyarakat (P3M), Politeknik Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30630/jirs.v19i2.887

Abstract

Permasalahan sedimentasi yang terjadi pada Sungai Ngolang dan Sungai Tebelo perlu mendapatkan perhatian, karena sedimen yang terus-menerus menumpuk di dasar sungai dapat menyebabkan pendangkalan, sehingga saat hujan dengan intensitas tinggi turun, aliran air sungai dapat meluap dan menyebabkan banjir yang membawa material sedimen. Seperti banjir yang melanda beberapa desa di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika pada Januari 2021 silam. Desa Kuta menjadi wilayah terdampak banjir terparah dengan setidaknya 12 dusun tergenang air banjir yang bercampur lumpur. Berdasarkan peristiwa tersebut, maka dilakukan penelitian terkait angkutan sedimen pada Sungai Ngolang dan Sungai Tebelo. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jumlah angkutan sedimen yang terjadi pada Sungai Ngolang dan Sungai Tebelo. Pengukuran dilakukan pada dua lokasi di masing- masing sungai dan dilanjutkan dengan pengujian laboraturium. Pengujian di laboraturium terdiri dari uji gradasi butiran, uji berat jenis dan uji konsentrasi sedimen. Untuk analisis sedimen dasar (bed load) digunakan Metode M.P.M dan Einstein. Berdasarkan hasil analisis menggunakan metode M.P.M, jumlah angkutan sedimen dasar yang terjadi pada Sungai Ngolang sebesar 9,613 m3/hari dan pada Sungai Tebelo terjadi sebesar 5,119 m3/hari. Sedangkan hasil analisis menggunakan metode Einstein, jumlah angkutan sedimen dasar yang terjadi pada Sungai Ngolang sebesar 1,076 m3/hari dan pada Sungai Tebelo terjadi sebesar 0,721 m3/hari.
OPTIMALISASI PELAKSANAAN PEKERJAAN TEROWONGAN PENGELAK DAN PELIMPAH PADA BENDUNGAN MENINTING Rudy Putera Kurniawan; I Wayan Yasa; Yusron Saadi
Media Bina Ilmiah Vol. 17 No. 6: Januari 2023
Publisher : LPSDI Bina Patria

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33578/mbi.v17i6.252

Abstract

Pada pekerjaan Bendungan Meninting ini terdapat pertemuan antara bangunan pengelak dan bangunan pelimpah, dimana pekerjaan penggaliannya dilakukan dengan cara peledakan (blasting). Pertemuan bangunan ini membutuhkan perhatian khusus mengingat tingkat kesulitannya cukup tinggi, yaitu pada pekerjaan hauling (pengangkutan) material blasting, dimana pada pelaksanaannya kendaraan angkut dan excavator memiliki ruang gerak yang sempit di dalam terowongan. Alternatif untuk percepatan pekerjaan dilakukan dengan menentukan arah mulainya pekerjaan, yaitu dari arah atas (pelimpah), arah hulu (pengelak), atau dari arah hilir.Penentuan arah ini dilakukan menggunakan metode AHP (Analytical Hierarchy Process), dimana AHP adalah sistem atau model yang dapat membantu seseorang dalam mengambil keputusan yang akurat dan tepat sasaran.Dari hasil Analisa menggunakan metode AHP didapat skala prioritas dalam pelaksanaan pekerjaan bangunan pelimpah dan pengelak ini yaitu, dari arah hilir, kemudian dari atas (pelimpah), dan terakhir dari arah hulu (pengelak). Dengan demikian hasil Analisa ini diharapkan dapat membantu dalam penentuan skala prioritas dalam pelaksanaan pekerjaan terowongan pelimpah dan pengelak yang ada pada proyek Bendungan Meninting
Simulasi Jalur Evakuasi dan Pelatihan Identifikasi Kerusakan Bangunan Akibat Gempa dan Kebakaran di SMAK Cakranegara Mataram Jurnal Pepadu; Suryawan Murtiadi; Mudji Wahyud; Didi S. Agustawijaya; I Wayan Yasa; Akmaluddin Akmaluddin
Jurnal Pepadu Vol 2 No 1 (2021): Jurnal PEPADU
Publisher : Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/pepadu.v2i1.2155

Abstract

ABSTRAKLombok merupakan salah satu pulau yang memiliki tingkat kegempaan relatif tinggi. Gempa sering terjadiberupa gempa besar maupun gempa kecil yang tidak terekam. Permasalahan muncul akibat keterbatasanpengetahuan terhadap mitigasi bencana, khususnya para guru, siswa dan staf pada sekolahan. Infrastrukturterdampak gempa perlu segera dievaluasi untuk mengetahui tingkat kerusakannya agar dapat segeradiperbaiki. Selain gempa, bahaya kebakaran merupakan ancaman yang berakibat fatal. Kebakarandidefinisikan sebagai berkobarnya api yang tidak terkendali. Program ini bertujuan untuk meningkatkanpengetahuan dan keterampilan masyarakat menghadapi bencana gempa dan risiko bahaya kebakaran.Metode pelatihan dilaksanakan dengan teknik presentasi disertai praktek identifikasi tingkat kerusakan danmetode perbaikan infrastruktur khususnya bangunan gedung dan rumah tinggal. Cara-cara perbaikankerusakan dengan kriteria ringan sampai sedang diberikan dalam pelatihan ini. Pengetahuan tentangteknologi rumah tahan gempa juga diperkenalkan dalam forum penyuluhan. Pelatihan dan pembuatan ramburambu jalur evakuasi dipraktekkan dengan simulasi untuk keselamatan seluruh penghuni saat terjadi bencanagempa dan kebakaran. Simulasi dan evaluasi jalur evakuasi dimulai dari dalam bangunan gedung menujutempat aman berupa titik kumpul (assembly point). Hasil yang diperoleh adalah peningkatan pengetahuanterhadap mitigasi bencana termasuk karakteristik gempa, kerusakan bangunan yang ditimbulkan, dan tatacarapenyelamatan diri. Pemahaman pengetahuan tentang perbaikan kerusakan infrastruktur akibat gempa jugameningkat, terutama pada bangunan rumah tinggal sederhana. Pemahaman ini berfokus pada pentingnyaikatan antar komponen struktur bangunan mulai dari fondasi, sloof, kolom, dinding sampai pada konstruksiatap bangunan. Dari program Pengabdian Kepada Masyarakat ini diharapkan ke depan masyarakat akanlebih siap beradaptasi dan lebih tangguh menghadapi bencana, khususnya bencana gempa dan bahayakebakaran.
POLA DISTRIBUSI HUJAN DAN PENGARUHNYA TERHADAP PENYIMPANGAN HIDROGRAF BANJIR DAS JANGKOK HUMAIRO SAIDAH; M. BAGUS BUDIANTO; I WAYAN YASA; ERY SETIAWAN
GANEC SWARA Vol 17, No 1 (2023): Maret 2023
Publisher : Universitas Mahasaraswati K. Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35327/gara.v17i1.397

Abstract

Determining the rain pattern distribution is believed to affect the design flood. Providing hourly rainfall observations can be obtained, and the distribution patterns can be determined. However, in areas that do not have one, flood discharge calculations are carried out by distributing daily rainfall using empirical methods. This study distributes daily rainfall into hourly rainfall in the Jangkok watershed using ABM and Mononobe methods and calculates the flood hydrograph using the Nakayasu model. The synthetic unit hydrograph obtained from the actual rain distribution is then compared with the unit hydrograph generated from the empirical distribution, then the deviation is measured. The results showed that the Mononobe and ABM rain distribution gave the same hydrograph shape as the observation one, only for 2 hours of rain duration. As long as the rain lasts 3-6 hours, the peak flood discharge (Qp) tends to be lower, 7-20% for Mononobe and  2-7% for ABM. Then the Qp becomes overestimated (5-12%) for a rain duration of >6 hours. Mononobe gives the same flood peak time (Tp) as observation rain for 1-5 hours rain duration and becomes 1 hour earlier for >6 hours. In contrast, ABM produces peak times 1 hour longer than hydrographs with observation rain. Generally, the two methods provide a more significant hydrograph deviation for a longer duration of rain.
SEBARAN KEKERINGAN HIDROLOGI BERDASARKAN DEBIT ALIRAN DI KABUPATEN BIMA I WAYAN YASA; AGUSTONO SETIAWAN; I DEWA GEDE JAYA NEGARA; HUMAIRO SAIDAH; ANNISA HUMAYRA DIRGANTARA
GANEC SWARA Vol 17, No 1 (2023): Maret 2023
Publisher : Universitas Mahasaraswati K. Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35327/gara.v17i1.371

Abstract

A phenomenon that often occurs in Indonesia which is also an annual disaster that hit several areas is drought. Drought is a condition in which an area, land, or community experiences a shortage of water so that it cannot meet their needs. Drought can be caused because an area does not experience rain or is dry for a long period of time or the rainfall is below normal, so that the water content in the soil is reduced or even non-existent. The areas to be analyzed are the Hidirasa watershed, the Rontu watershed, and the Jangka watershed in Bima Regency, West Nusa Tenggara. The analysis drought  aims to determine the deficit, drought duration, drought criteria based on deficits and surpluses that occur by analogy to Oldeman's criteria, hydrological drought index analysis, and hydrological drought distribution maps. In this study, data were used for the Tawali watershed in the Hidirasa watershed, the Sari watershed for the Jangka and the Kumbe water for the Rontu watershed to determine the Q50 and Q80 thresholds using the method Flow Duration Curve (FDC) to obtain hydrological drought characteristics. In the analysis of hydrological drought in several watersheds in Bima Regency, the results show that the maximum deficit in the Hidirasa, Term and Rontu watersheds was 1.09 m³/s, 0.14 m³/s, 0.49 m³/s which occurred in 2001, 1995, and 2001. From the deficit, it was found that the average drought period occurred 8-9 months from May to December and even some until January which indicated that the drought criteria were in zone 2 according to Oldeman. The largest hydrological drought index is the Hidirasa watershed, the Jangka Watershed and the Rontu watershed, respectively, -0.45, -1.00, -1.00, with a very strong drought category.
PENYULUHAN TENTANG IRIGASI TETES I Dewa Gede Jaya Negara; Kadek Wiratama; I Nyoman Merdana; Anid Supriyadi; I Wayan Yasa
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 7, No 2 (2023): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v7i2.13906

Abstract

Abstrak: Desa Selengan merupakan salah satu lokasi lahan kering yang ada di Lombok Utara, yang mana mata pencaharian masyarakatnya sebagai petani, buruh dan pelaut. Lokasi ini memiliki potensi pertanian lahan kering yang produktif, akan tetapi masyarakat belum dapat dimanfaatkan lahan dan air yang ada secara optimal untuk pertanian. Cara irigasi tanaman masyarakat yang masih boros serta tidak banyak lahan yang dapat digunakan untuk usahatani, sehingga perlu diberikan penyuluhan agar air yang sedikit dan lahan yang ada dapat dimanfaatkan dengan efisien sehingga dapat memberikan hasil sampai panen. Oleh karena itu untuk meningkatkan pemanfaatan lahan kering dan efisien air irigasi, maka masyarakat perlu diberi pengetahuan irigasi tetes yang efisien. Pengabdian ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang irigasi tetes dengan penyuluhan, untuk membantu kegiatan pertanian di lahan kering. Penyuluhan ini dilakukan dengan tahapan survey lapangan, pelaksanaan penyuluhan, diskusi dan tanya jawab serta evaluasi kegiatan. Kegiatan ini telah berhasil memberikan pengetahuan sebesar 60% dari peserta yang hadir 19 orang peserta dan sudah memahami manfaat irigasi pada tanaman dan penggunaan irigasi tetes. Peserta pengabdian masih memerlukan keterampilan dalam menggunakan irigasi tetes melalui uji langsung di lapangan.Abstract: Selengan Village is one of the dry land locations in North Lombok, where the people's livelihoods are farmers, laborers and sailors. This location have potential for productive dry land agriculture, but the community has not been able to optimally utilize the existing land and water for agriculture. This method of irrigating community crops is still wasteful and there is not much land that can be used for farming, so counseling needs to be given so that little water and available land can be used efficiently so that it can produce up to harvest. Therefore, to increase the utilization of dry land and irrigation water efficiency, the community needs to be given knowledge of efficient drip irrigation. This service aims to increase public knowledge about drip irrigation with counseling, to help agricultural activities on dry land. This counseling is carried out with the stages of field surveys, implementation of counseling, discussions and questions and answers as well as evaluation of activities. This activity has succeeded in providing knowledge of 60% of the participants who attended 19 participants and already understood the benefits of irrigation on plants and the use of drip irrigation. Service participants still need skills in using drip irrigation through direct tests in the field.  
PEMBUATAN JARINGAN PIPA IRIGASI TETES DI DESA MERTAK TOMBOK KECAMATAN PRAYA KABUPATEN LOMBOK TENGAH Jurnal Pepadu; I Wayan Yasa; Yusron Saadi; Salehudin Salehudin; Hartana Hartana; Ery Setiawan
Jurnal Pepadu Vol 3 No 2 (2022): Jurnal PEPADU
Publisher : Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/pepadu.v3i2.2482

Abstract

Desa Mertak Tombok merupakan salah satu desa di Kecamatan Praya KabupatenLombok Tengah. Letak Desa Mertak cukup strategis dekat dengan pusa-pusat perdagangan (pasar Renteng), terletak di tepi jalan raya Praya-Mantang yang menghubungkan pusat-pusat kegiatan eknomi di luar kota Praya. Wilayah Desa Mertak Tombok sebagian besar merupakan area persawahan (256 Ha) dan lahan kering (66 Ha). Penduduk Desa Mertak sebagian besar adalah petani, pedagang, karyawan dan buruh. Secara geografis dan ekonomis desa ini berpotensi menjadi lebih maju. Usaha memajukan desa ini dapat dilakukan antara lain dengan mengubah lahan kering menjadi lahan pertanian yang produktif dengan cara menerapkan sistem irigasi tetes. Sistem irigasi tetes sangat cocok dikembangkan di daerah lahan kering karena sistem irigasi ini memiliki efisiensi yang sangat tinggi sehingga debit air yang diperlukan kecil sesuai dengan kebutuhan air tanaman. Metode pemberian air hemat air ini sesuai dengan karakteristik lahan kering yang jumlah ketersediaan airnya terbatas. Sistem irigasi tetes mengalirkan air dari sumber air langsung ke zona perakaran tanaman melalui jaringan pipa berporasi. Kelebihan jaringan irigasi tetes agar kehilangan air selama pengaliran seperti evaporasi dan infiltrasi dapat diminimalkan. Sistem irigasi tetes sangat mudah dibuat tidak membutuhkan tenaga dengan keahlian khusus. Hasil yang diperoleh dari kegiatan pengabdian masyarakat ini yaitu 35 orang petani lahan kering di Desa Mertak Tombok memperoleh pengetahuan baru irigasi hemat air dan mampu membuat sistem jaringan irigasi secara mandiri. Masyarakat Desa Tombok Mertak saat ini juga dapat secara langsung melihat model jaringan irigasi tetes di Kantor Desa Mertak Tombok dan dapat mengaplikasikannya pada lahan masingmasing sesuai dengan luas lahan yang dimiliki.
PELATIHAN PEMBUATAN LAHAN PERTANIAN PEPAYA CALIFORNIA DENGAN IRIGASI TETES DI DESA SELENGEN KABUPATEN LOMBOK UTARA I Dewa Gede Jaya Negara; Kadek Wiratama; I Wayan Yasa; Humairo Saidah; Anid Supriyadi; Suparjo Suparjo
Jurnal Pepadu Vol 4 No 2 (2023): Jurnal Pepadu
Publisher : Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/pepadu.v4i2.2645

Abstract

Pengembangan pertanian di lahan kering,sangat menjanjikan jika masyarakat mau tekun melakukan pertanian dengan lebih intensif, dan untuk mendorong kepekaan masyarakat tentang potensi lahannya perlu diberikan pelatihan-pelatihan terkait dengan pemanfaatan lahannya. Dusun Tampes merupakan wilayah desa Selengan yang memiliki potensi lahan kering yang perlu dikembangkan, dengan adanya lahan yang banyak tidak tergarap perlu dimotivasi untuk mau melakukan usahatani pada lahan tersebut. Pengabdian ini bertujuan untuk memberikan pelatihan pembuatan lahan untuk penanaman papaya California pada masyarakat dusun Tampes yang berdomisili di sekitar sungai. Dengan harapan lahan tanam yang dibuat nantinya dapat dilanjutkan dengan penanaman bibit papaya, untuk membantu ekonomi masyarakat setempat, karena tanaman ini mempunyai masa panen cukup panjang dan harga jual buanya cukup bangus. Untuk itu karena lahan ini berpasiran sehingga sangat boros air maka perlu diinisiasi penggunaan air irigasi yang efisien seperti sistem tetes. Untuk hal tersebut maka pelatihan oleh tim Unram dilakukan dalam jangka waktu 2 minggu yang mencakup survey lapangan, persiapan pelatihan, pelaksanaan pelatihan dan evaluasi. Pelatihan terdiri dari pembersihan lahan, pembuatan petak lahan dan bedengan, dan pembuatan lubang tanam. Berdasarkan hasil pelatihan diketahui bahwa warga telah mampu membuat lahan tanam papaya. Sedangkan evaluasinya adalah keberhasilan dari masing-masing peserta alam membuat lahan tanam. Berdasarkan hasil pelatihan bahwa peserta telah berhasil melakukan pembuatan lahan papaya dengan luasan seluas sekitar 2 ha dengan jumlah warga berpartisipasi sebanyak 26 orang. Dengan fakta ini peserta telah berhasil dilatih untuk membuat lahan awal untuk penanaman papaya California, yang akan dilakukan lebih lanjut. Dengan berhasilnya kegiatan ini, maka tim memberi arahan agar nantinya dapat dilanjutkan dengan pengisian pupuk kompos masing-masing sehingga bisa dilakukan penanamn bibit papaya di lahan masing-masing
KARAKTERITIK DISTRIBUSI VOLUME DAN DEBIT ALIRAN IRIGASI AKTUAL SETIAP SISTEM JARINGAN IRIGASI TETES PADA LAHAN LAYANAN BERTINGKAT I D G JAYA NEGARA; HERI SULISTIYONO; ANID SUPRIYADI; I B GIRI PUTRA; I W YASA
GANEC SWARA Vol 16, No 1 (2022): Maret 2022
Publisher : Universitas Mahasaraswati K. Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35327/gara.v16i1.275

Abstract

In the conditions of the Covid-19 pandemic, farming on a large area of land requires a lot of human interaction so it is not safe for all the people involved, as is the case with the residents of BTN Pengsong Indah. Farming with polybag land media with a drip irrigation system is expected to help the community in the environment, so that people can still do farming at home to help food security during pandemic times. This study aims to determine the distribution of drip irrigation, discharge, uniformity and distribution patterns at each land level. The research area is 1.5 m x 3 m x 2 m and the distance between the levels is 1 m, the water source has a capacity of 150 liters, the height is 3.3 m and the drip pipe is 12mm NTF pipe. The data analyzed were irrigation volume, uniformity and discharge associated with irrigation patterns.The results showed that the drip irrigation system was able to provide discharge on the 1st floor (Q1) = 304.4 ml/min, 2nd floor (Q2) = 230.8 ml/min and 3rd floor (Q3) = 147.2 ml/min. The planting point discharge on the 1st floor (q1) ranges from 12.47ml/min -12.89 ml/min, on the q2 floor it is around 9.5 ml/min-9.73 ml/min and the q3 floor is 6.13 ml/min . The uniformity of drip irrigation for each level above 95% is very high. The irrigation distribution is where the higher the level of the irrigation system, the lower the irrigation capacity of the system with a deviation of about 2.5 ml/min -3.5 ml/min
PENGARUH DURASI IRIGASI TETES TERHADAP REDUKSI LENGAS TANAH PADA LAHAN POLYBAG I DEWA GEDE JAYA NEGARA; SALEHUDIN SALEHUDIN; I WAYAN YASA; HERI SULISTIYONO; ANID SUPRIYADI; LALU DWIKI AXELA ANDRIAWAN
GANEC SWARA Vol 17, No 3 (2023): September 2023
Publisher : Universitas Mahasaraswati K. Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35327/gara.v17i3.538

Abstract

Soil moisture is an important factor needed by plants for growth, and therefore the amount of soil moisture that can be stored depends on the type of soil or the composition of the soil-forming materials. Compost is one of the nutrients that is often used in the manufacture of planting media on land in the form of polybags, and the amount of compost composition on the soil is thought to greatly affect the ability to store water in the media, both the size and duration of storage. This study aims to examine the effect of using compost on storage of irrigation water in the form of soil moisture and how long it can be stored. in three-storey drip irrigation. The main data analyzed is soil moisture data (w) and the results of the analysis and discussion and conclusions are drawn descriptively. The results of the analysis show that the initial soil moisture content in the range of 19% -25%, can be given additional soil moisture by irrigation of about 12%. The average daily decrease in soil moisture that occurs in soil variation 1 (70%: 30% ) is 3% -4.4% and in soil variation 2 (50%: 50%), the average moisture reduction is around 3% -6%, soil moisture reduction in variation 2 is greater than soil variation 1 for all floors.
Co-Authors Abdul Muaz Ghazali Adhitya Halim .P Agus Suroso Agus Suroso AGUSTONO SETIAWAN Agustono Setiawan Akmaluddin Akmaluddin Anid Supriyadi Anid Supriyadi Anid Supriyadi Anid Supriyadi ANID SUPRIYADI ANNISA HUMAYRA DIRGANTARA Apollonius Monsart Aryani Rofaida ATAS PRACOYO Atas Pracoyo Devi Suryani Putri DEWANDHA MAS AGASTYA DEWANDHA MAS AGASTYA DIANA PUSPITA DEWI Didi S. Agustawijaya EKO PRADJOKO Ery Setiawan ERY SETIAWAN ERY SETIAWAN Fika Septina Pangaribuan Giri Putra IB Hartana Hartana Hartana Hartana Hartana Hartana Hartana HARTANA HARTANA Hasyim, Hasyim Heri Sulistiyono Heri Sulistiyono Heri Sulistiyono Heri Sulistiyono HERI SULISTYONO Hidayat, Syamsul Humairoh Saidah I B Giri Putra I B GIRI PUTRA I D G JAYA NEGARA I Dewa Gede Jaya Negara I DEWA GEDE JAYA NEGARA I Dewa Gede Jaya Negara I DEWA GEDE JAYA NEGARA I DEWA GEDE JAYA NEGERA I DEWA GEDE JAYANEGARA I Kade Wiratama I Nyoman Merdana I Nyoman Merdana I Wayan Joniarta I Wayan Sugiartha I.D.G Jayanegara Ike Puspasari Ismayanti Ismayanti Jauhar Fajrin Jurnal Pepadu Karyawan, I Dewa Made Alit Lalu Dwiki Axela Andriawan LILIK HANIFAH Lilik Hanifah Lilik Hanifah Linda Asnawati Lulu Lutfiati M R. Sepriadi M. Abbil Pratama M. BAGUS BUDIANTO Made Mahendra Mudji Wahyud MUH BAGUS BUDIANTO Muh Bagus Budianto Muh. Bagus Budianto Ni Luh Ayu Aprilianti Ni Putu Ira Sintia Kurnianti Rudy Putera Kurniawan Saadi Y Salehudin Salehudin Salehudin Salehudin SASMITO SOEKARNO Suparjo Suparjo Suryawan Murtiadi Tia Ardiani Wirahman W Yusril Y Yusron Saadi