Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

INISIASI POSYANDU REMAJA MELALUI SCREENING KESEHATAN ANAK DAN REMAJA DI DESA LOA ULUNG, TENGGARONG SEBERANG, KUTAI KARTANEGARA Fitria Anggraini; Mona Zubaidah; Vera Madonna Lumban Toruan; Nurkhoma Fatmawati; sholichin
Jurnal Pengabdian Kolaborasi dan Inovasi IPTEKS Vol. 4 No. 3 (2026): Juni
Publisher : CV. Alina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59407/jpki2.v4i3.4055

Abstract

 Kesehatan remaja merupakan aspek penting dalam pembangunan kesehatan masyarakat. Desa Loa Ulung, Tenggarong Seberang, Kutai Kartanegara belum memiliki program khusus untuk pemantauan kesehatan remaja secara terstruktur. Kegiatan pengabdian masyarakat berupa community-based health screening dalam rangka inisiasi Posyandu Remaja di wilayah pedesaan yang belum memiliki layanan kesehatan remaja terstruktur. Menginisiasi pembentukan Posyandu Remaja di Desa Loa Ulung dengan melakukan screening awal kesehatan anak dan remaja.  Kegiatan dilaksanakan pada tanggal 20 Juli 2025 di Aula Serbaguna Posyandu Desa Loa Ulung. Populasi sasaran adalah remaja usia 10–19 tahun, yang dilakukan secara sukarela melalui koordinasi dengan kader Posyandu dan orang tua. Pemeriksaan meliputi pengukuran antropometri (status gizi berdasarkan IMT/U menggunakan standar WHO 2007 untuk usia 5–19 tahun), tekanan darah (diklasifikasikan berdasarkan panduan AAP 2017 untuk anak dan remaja), dan glukosa darah sewaktu (diklasifikasikan berdasarkan kriteria ADA 2021) terhadap 44 peserta usia 7–19 tahun. Ditemukan 52,3% kasus underweight dan 4,5% gemuk; 25% tekanan darah meningkat dan 4,5% hipertensi Tahap 1; serta 2,3% pradiabetes. Pemeriksaan glukosa darah dilakukan menggunakan metode kapiler sesuai standar prosedur operasional.  Inisiasi Posyandu Remaja berhasil dilaksanakan dengan capaian 44 peserta terlayani, serta data baseline status kesehatan terdokumentasi. Kegiatan ini memberikan gambaran awal status kesehatan anak dan remaja yang hadir di Desa Loa Ulung. Diperlukan program lanjutan untuk pemantauan kesehatan dan edukasi berkelanjutan. Pengintegrasian Posyandu Remaja ke dalam sistem kesehatan desa dan dukungan kebijakan pemerintah lokal diperlukan untuk menjamin keberlanjutan program.
Comparison of Melanin Index Before and After Using Facial Serum Based on Propolis and Stingless Bee Honey from East Kalimantan: Perbandingan Indeks Melanin Sebelum Dan Sesudah Penggunaan Serum Wajah Berbasis Propolis Dan Madu Kelulut Lebah Tanpa Sengat Asal Kalimantan Timur Alnavi Arif Setiawan; Swandari Paramita; Vera Madonna Lumban Toruan
Jurnal Riseta Naturafarm Vol. 3 No. 1 (2026): J Riseta Naturafarm
Publisher : B-Creta Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70392/jrn.v3i1.3035

Abstract

Hiperpigmentasi kulit,yang dipicu oleh peningkatan produksi melanin akibat paparan faktor risiko seperti radikal bebas, menjadi isu dermatologis yang dapat berdampak negatif pada kepercayaan diri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perubahan indeks melanin dalam penggunaan serum wajah yang diformulasikan dari propolis dan madu kelulut lebah tanpa sengat asal Kalimantan Timur, yang diyakini memiliki potensi anti-hiperpigmentasi berkat kandungan tinggi senyawa fenolik, flavonoid, dan antioksidan alaminya. Metode penelitian yang digunakan adalah pra-eksperimental dengan desain one-group pre test-post test, melibatkan 20 orang relawan mahasiswa laki-laki Universitas Mulawarman dengan masa intervensi dan observasi selama empat belas hari. Pengukuran indeks melanin dilakukan sebelum dan sesudah perlakuan mexameter® MX-18. Hasil analisis statistik menunjukkan rata-rata kadar melanin subjek meningkat dari 307,07 sebelum pemakaian menjadi 312,34 sesudah pemakaian serum. Meskipun terjadi peningkatan secara deskriptif, uji Paired Sample t-Test  menyimpulkan bahwa perbedaan tersebut tidak signifikan secara statistik (p = 0,273). Dengan demikian, penelitian ini menyimpulkan bahwa penggunaan serum wajah berbasis propolis dan madu kelulut lebah tanpa sengat selama empat belas hari tidak menghasilkan perbedaan indeks  melanin yang bermakna secara statistik.
Effectiveness Evaluation of Single-Session Socialization on HIV/AIDS Knowledge among Rural Adolescents in East Kalimantan Fitria Dewi Puspita Anggraini; Mona Zubaidah; Vera Madonna Lumban Toruan; Nur Khoma Fatmawati; Sholichin Sholichin
Sehat Rakyat: Jurnal Kesehatan Masyarakat Vol. 4 No. 4 (2025): November 2025
Publisher : Yayasan Pendidikan Penelitian Pengabdian Algero

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54259/sehatrakyat.v4i4.5992

Abstract

Indonesia reports approximately 540,000 HIV cases according to UNAIDS data, with rural adolescents experiencing significant knowledge gaps regarding HIV/AIDS transmission and prevention. Educational interventions are crucial for addressing these deficits, particularly in remote areas with limited healthcare information access. This research to evaluate the effectiveness of socialization interventions on HIV/AIDS knowledge among rural adolescents in East Kalimantan, Indonesia. A quasi-experimental pre-post study design was conducted among 47 adolescents aged 10-17 years in Loa Ulung Village, East Kalimantan. The intervention utilized leaflets and interactive two-way discussions covering HIV/AIDS transmission modes and prevention strategies. Data collection employed a validated 10-item questionnaire administered pre- and post-intervention. Statistical analysis included Shapiro-Wilk normality testing and Wilcoxon signed-rank test for non-parametric comparisons. Pre-intervention knowledge scores averaged 7.43 (SD=1.500), increasing to 7.81 (SD=1.715) post-intervention. The Wilcoxon signed-rank test showed no statistically significant difference (p=0.128), with a normalized gain score of 0.14 indicating low effectiveness. Persistent misconceptions included: 63.8% incorrectly believing all HIV-infected individuals develop AIDS, 23.4% thinking HIV transmits through sharing utensils, and 17.0% believing shared toilets cause transmission. Single-session educational interventions demonstrated limited effectiveness in improving HIV/AIDS knowledge among rural adolescents. Future programs should incorporate age-appropriate, interactive methodologies with extended duration and follow-up sessions for optimal outcomes in rural Indonesian settings.