Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

Behavior Analysis Of COVID-19 Prevention In The Elderly In Jakarta, Tasikmalaya ,and Yogyakarta Hariyani Sulistyoningsih; Santi Susanti; Tri Budi W Rahardjo; Yeny Sulistyowati; Tri Suratmi; Dini Agustin; Lili Indrawati; Yenni Ariestanti; Nur Apriyan; Rodiyah Rodiyah; Ashish Goel; Ashish Jindal; Alpana Raizada; Maw Pin Tan; George Rebok
Journal of Ageing And Family Vol 2, No 1 (2022): Journal Of Ageing And Family
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM Universitas Respati Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52643/joaf.v2i1.2299

Abstract

Background. Covid-19 is a virus that can affect all age groups, including the elderly. The World Health Organization or WHO concluded that this virus is very risky in those aged over 65 years due to a weakened immune system. In addition, the elderly have a higher risk of experiencing a more severe impact than other groups due to degenerative diseases commonly experienced by the elderly. Implementing clean and healthy living behavior as a prevention effort is the main thing to break the chain of transmission of Covid-19. This study aims to determine the prevention behavior of Covid-19 in the elderly and the factors associated with it. Methods. The research design was cross sectional. The sample consisted of men and women aged 60 years or more as many as 135 people. The instrument used is a questionnaire distributed through social media. The data obtained were analyzed by univariate and bivariate using chi square test. results.There is a relationship between age and education with Covid-19 prevention behavior in the elderly with p values of 0.038 and 0.001 respectively. Conclusion. Age and education are related to Covid-19 prevention behavior in the elderly.  Keyword : COVID-19, Behavior, Degenerative Disease
ANALISIS BEBAN KERJA PERAWAT PELAKSANA DI UNIT RAWAT INAP RUMAH SAKIT IBU DAN ANAK RESTU BUNDA BANDAR LAMPUNG TAHUN 2024 Regina Effenmeita; Lili Indrawati; Tri Suratmi
Jurnal Manajemen dan Administrasi Rumah Sakit Indonesia (MARSI) Vol 10, No 2 (2026): Jurnal Manajemen dan Administrasi Rumah Sakit Indonesia (MARSI)
Publisher : LPPM Universitas Respati Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52643/marsi.v10i2.8467

Abstract

Perawat merupakan salah satu elemen penting SDM Kesehatan dengan populasi terbanyak di setiap Rumah Sakit. Diperlukan perhitungan beban kerja objektif berbasis data untuk menentukan jumlah SDM perawat yang dibutuhkan dalam pelaksanaan kegiatan untuk mencapai pengelolaan SDM yang efektif dan efisien. Beban kerja merupakan suatu kegiatan pekerjaan yang harus diselesaikan oleh pemegang tanggung jawab yaitu pekerja dalam jangka waktu tertentu WHO mengembangkan pendekatan untuk memperkirakan kebutuhan tenaga perawat yang dikenal sebagai Workload Indicator of Staffing Need (WISN).Tujuan penelitian ini adalah menganalisis beban kerja perawat di unit rawat inap RSIA Restu Bunda Bandar Lampung tahun 2024 dan membuat proyeksi kebutuhan tenaga perawat di tahun 2025 dalam rangka meningkatkan kualitas pelayanan. Penelitian ini merupakan jenis operational research yang dilakukan pada bulan December 2024 – Januari 2025 dengan pendekatan mixed method. Metode kualitatif digunakan untuk mendapatkan komponen beban kerja melalui wawancara terstruktur dan mendalam pada informan kunci, dilanjutkan dengan metode kuantitatif (Time- Study) untuk menghitung waktu tiap kegiatan yang dilakukan oleh perawat di unit rawat inap RSIA Restu Bunda Bandar Lampung. Data kualitatif dianalisis dengan menggunakan software NVIVO 12 dan data kuantitatif digunakan dalam perhitungan analisis beban kerja WISN. Hasil penelitian didapatkan beban kerja pada ruang rawat inap ibu dalam kondisi Fit (Rasio WISN = 1) dan Underload pada ruang rawat inap anak (Rasio WISN = 1,125). Kebutuhan perawat di tahun 2025 dihitung dengan menggunakan ekstrapolasi data tahun sebelumnya dan didapatkan kebutuhan perawat pelaksana sebanyak 25 orang.
Pengaruh Bauran Pemasaran 10p (Mega Marketing Mix) Terhadap Loyalitas Pasien Rawat Jalan Di Rsia Ananda Lubuklinggau M. Taufan Lutfi A; Lili Indrawati; Susiana Nugraha
Jurnal Manajemen dan Administrasi Rumah Sakit Indonesia (MARSI) Vol 9, No 4 (2025): Jurnal Manajemen dan Administrasi Rumah Sakit Indonesia (MARSI)
Publisher : LPPM Universitas Respati Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52643/marsi.v9i4.7185

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh bauran pemasaran 10P (mega marketing mix) terhadap loyalitas pasien rawat jalan di RSIA Ananda Lubuklinggau. Penelitian ini melibatkan 403 responden dengan 99,75% di antaranya adalah perempuan, dan usia mayoritas responden berada pada rentang 21-30 tahun (57,82%). Bauran pemasaran 10P yang diteliti meliputi: Product, People, Place, Promotion, Price, Process, Physical Evidence, Performance, Power, dan Public Relation. Metode yang digunakan adalah pendekatan cross-sectional dengan data yang diperoleh melalui kuesioner yang disebarkan kepada pasien rawat jalan. Data yang dikumpulkan dianalisis menggunakan regresi linier berganda untuk mengidentifikasi pengaruh 10 komponen bauran pemasaran terhadap loyalitas pasien. Berdasarkan hasil uji regresi linier berganda, variabel yang paling dominan memengaruhi loyalitas pasien adalah Public Relation, dengan nilai koefisien regresi terbesar (β sama dengan 0.561) dan nilai p sama dengan 0.001, yang menunjukkan pengaruh yang sangat signifikan. Variabel-variabel lain, yaitu Performance (β sama dengan 0.261, p sama dengan 0.001) dan Power (β sama dengan 0.184, p sama denga 0.001) juga berpengaruh meskipun dengan nilai pengaruh yang lebih kecil. Nilai Adjusted R Square sebesar 0.952 menunjukkan bahwa model regresi dapat menjelaskan 95,2% varian dalam loyalitas pasien. Implikasi dari penelitian ini adalah bahwa Public Relation merupakan variabel paling dominan yang mempengaruhi loyalitas pasien, sehingga RSIA Ananda Lubuklinggau perlu lebih memperhatikan strategi komunikasi publik dalam meningkatkan loyalitas pasien. Kata Kunci: Loyalitas Pasien, Bauran Pemasaran 10P, Mega Marketing Mix.
Faktor-Faktor yang Memengaruhi Waktu Tunggu Pelayanan Resep Pasien JKN di Instalasi Farmasi Rawat Jalan RSI Sultan Agung Banjarbaru Sophia Yustina; Ekowati Rahajeng; Lili Indrawati
Jurnal Manajemen dan Administrasi Rumah Sakit Indonesia (MARSI) Vol 9, No 4 (2025): Jurnal Manajemen dan Administrasi Rumah Sakit Indonesia (MARSI)
Publisher : LPPM Universitas Respati Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52643/marsi.v9i4.7201

Abstract

Abstrak Latar Belakang: Waktu tunggu pelayanan resep merupakan salah satu indikator mutu pelayanan farmasi di rumah sakit dan berpengaruh terhadap kepuasan pasien. Standar Pelayanan Minimal (SPM) Rumah Sakit menetapkan batas waktu tunggu maksimal 30 menit untuk obat jadi dan 60 menit untuk obat racikan. Instalasi farmasi rawat jalan RSI Sultan Agung Banjarbaru menghadapi kendala dalam memenuhi standar tersebut, namun belum ada penelitian yang menganalisis faktor yang memengaruhi waktu tunggu pelayanan resep di fasilitas ini. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis rata-rata waktu tunggu pelayanan resep pasien Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) serta faktor-faktor yang memengaruhi ketidaksesuaian dengan SPM. Metode: Penelitian ini menggunakan metode observasional dengan pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Data kuantitatif diperoleh melalui pengamatan langsung dengan stopwatch dan formulir pencatatan, sementara data kualitatif dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan petugas farmasi dan manajemen. Analisis data dilakukan dengan uji Chi-Square dan regresi logistik. Hasil: Rata-rata waktu tunggu pelayanan resep adalah 49,4 menit (SD ±45,2). Untuk obat jadi 60 menit 45 detik dan untuk resep obat racikan 297 menit 87 detik. Sebanyak 46,6% resep tidak sesuai dengan SPM. Faktor yang berhubungan signifikan dengan ketidaksesuaian waktu tunggu adalah jenis resep (p sama dengan 0,011), jenis obat (p sama dengan 0,017), jumlah SDM (p sama dengan 0,006), dan waktu kedatangan resep (p lebih kecil dari 0,001). Kesimpulan: Waktu tunggu pelayanan resep di Instalasi Farmasi RSI Sultan Agung Banjarbaru masih belum sesuai Standar Pelayanan Minimal. Diperlukan strategi peningkatan efisiensi pelayanan, optimalisasi SDM, serta perbaikan sistem manajemen farmasi, dan dukungan sarana prasarana untuk mengurangi keterlambatan. Kata Kunci: Waktu tunggu resep, pelayanan farmasi, JKN, rumah sakit, Standar Pelayanan Minimal
Analisis Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kepatuhan Dokter Terhadap Formularium Rumah Sakit Di RSPPN Soedirman Diah Riva Astuty; Lili Indrawati; Supardjo Supardjo
Jurnal Manajemen dan Administrasi Rumah Sakit Indonesia (MARSI) Vol 10, No 3 (2026): Jurnal Manajemen dan Administrasi Rumah Sakit Indonesia (MARSI)
Publisher : LPPM Universitas Respati Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52643/marsi.v10i3.8672

Abstract

Kepatuhan dokter terhadap formularium rumah sakit merupakan indikator penting dalam menjamin penggunaan obat rasional, meningkatkan keselamatan pasien, dan mengendalikan biaya pelayanan kesehatan. Namun dalam praktiknya masih ditemukan penggunaan obat di luar formularium. Penelitian ini bertujuan menganalisis kepatuhan dokter terhadap formularium serta mengidentifikasi faktor-faktor yang berhubungan dengan kepatuhan dokter di RSPPN Soedirman. Metode penelitian adalah pendekatan kuantitatif dan kualitatif dimana pendekatan kuantitatif menggunakan desain cross sectional melalui kuesioner kepada 92 dokter yang dipilih secara purposive sampling. Analisis data dilakukan secara univariat, bivariat, dan multivariat. Pendekatan kualitatif dilakukan melalui wawancara mendalam kepada Wakil Kepala Pelayanan Medik, Ketua Komite Mutu, Kepala Instalasi Farmasi, dan Kepala Urusan Keuangan. Hasil penelitian: menunjukkan tingkat kepatuhan dokter berada pada kategori baik dengan nilai rata-rata Skor Variabel 3,18 (Skala Likert 1-4). Faktor kelengkapan dan ketersediaan obat (sig. 0,000), kesesuaian dengan standar nasional (sig. 0,029), dan pemutakhiran revisi formularium (sig. 0,004) masing-masing berhubungan secara parsial dengan kepatuhan dokter. Faktor sosialisasi dan implementasi (sig. 0,083) secara parsial tidak berhubungan signifikan, tetapi secara simultan keempat faktor tersebut bersama-sama berhubungan dengan kepatuhan dokter. Hasil wawancara mendalam mengungkapkan bahwa ketidakpatuhan terhadap formularium dapat berdampak negatif pada penurunan efektivitas terapi pasien, peningkatan risiko keselamatan pasien, serta peningkatan biaya pelayanan kesehatan rumah sakit. Kesimpulan penelitian: kepatuhan dokter terhadap formularium rumah sakit sudah optimal, yang dipengaruhi oleh faktor kelengkapan dan ketersediaan obat, kesesuaian dengan standar nasional, serta pemutakhiran formularium. Namun demikian, masih diperlukan penguatan sistem pengadaan dan pengendalian persediaan obat, proses pemutakhiran formularium secara berkala, serta peningkatan sosialisasi, penguatan kebijakan, dan pengawasan penggunaan obat untuk lebih meningkatkan kepatuhan dokter dan mutu pelayanan kesehatan. Kata Kunci: Kepatuhan dokter, formularium, ketersediaan obat, kesesuaian standar, pemutakhiran, sosialisasi.
Sustainable Pharmacy Practices (Keberlanjutan and Green Pharmacy) Kartini Anisa Lafonda; Rudhita Desy Jannah; Ririn Puji Setiawati; Rizna Rizna; Lili Indrawati
Jurnal Ners Vol. 10 No. 4 (2026)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i4.61718

Abstract

Latar Belakang: Industri farmasi menjadi salah satu sektor yang berkontribusi terhadap permasalahan lingkungan melalui emisi karbon, produksi limbah kimia, serta pencemaran residu obat pada ekosistem perairan. Konsep green pharmacy atau praktik farmasi berkelanjutan hadir sebagai pendekatan inovatif untuk mengintegrasikan prinsip keberlanjutan dalam seluruh rantai nilai kefarmasian, mulai dari produksi hingga pengelolaan limbah. Metode: Penelitian ini menggunakan metode Systematic Literature Review (SLR) dengan mengikuti pedoman PRISMA 2020. Penelusuran literatur dilakukan melalui database SINTA, Scopus, dan Google Scholar terhadap publikasi periode 2021–2025. Dari 309 artikel yang ditemukan, sebanyak 15 artikel memenuhi kriteria inklusi dan dianalisis secara tematik. Hasil: Hasil kajian mengidentifikasi tiga tema utama, yaitu: (1) adanya kesenjangan antara tingkat kesadaran dan pengetahuan tenaga kefarmasian terhadap praktik farmasi berkelanjutan; (2) regulasi, kesiapan teknologi, dan kompetensi sumber daya manusia sebagai faktor utama dalam implementasi; serta (3) kebutuhan model integratif yang mencakup manufaktur hijau, optimalisasi pelayanan klinis, pengelolaan limbah farmasi, dan penguatan pendidikan berkelanjutan. Kesimpulan: Implementasi sustainable pharmacy practices memerlukan kolaborasi sistemik antara pemerintah, institusi pendidikan, industri farmasi, dan tenaga kefarmasian untuk mewujudkan layanan kesehatan yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.