Claim Missing Document
Check
Articles

HUBUNGAN ANTARA KONFORMITAS DENGAN MOTIVASI BERPRESTASI PADA MAHASISWA SUKU BATAK DI UNIVERSITAS UDAYANA Alfiani, Christina; Tobing, David Hizkia
Jurnal Psikologi Udayana Vol 5 No 01 (2018)
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (365.08 KB) | DOI: 10.24843/JPU.2018.v05.i01.p11

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk melihat ada atau tidaknya hubungan antara konformitas dengan motivasi berprestasi pada mahasiswa Suku Batak di Universitas Udayana.Penelitian menggunakan metode kuantitatif.Teknik sampling yang digunakan adalah simple random sampling.Responden dalam penelitian ini adalah mahasiswa Suku Batak yang terdaftar dalam paguyuban Ikatan Mahasiswa Sumatera Utara (IMSU) Bali.Alat ukur dalam penelitian ini adalah skala konformitas dan motivasi berprestasi.Koefisien reliabilitas skala konformitas adalah 0,909 dan skala motivasi berprestasi adalah 0,918. Penelitian ini menggunakan analisis data korelasi pearson product moment. Hasil dari penelitian diperoleh koefisien korelasi sebesar 0,459 dengan nilai probabilitas sebesar 0,000 (0,000<0,05), sehingga dapat dinyatakan terdapat hubungan yang positif antara konformitas dengan motivasi berprestasi. Kata kunci:mahasiswa Suku Batak, Universitas Udayana, konformitas, motivasi berprestasi
Kebermaknaan Hidup pada Anak Pidana di Bali Dewi, A.A. Sagung Suari; Tobing, David Hizkia
Jurnal Psikologi Udayana Vol 1 No 2 (2014)
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (438.188 KB) | DOI: 10.24843/JPU.2014.v01.i02.p11

Abstract

In recent years, cases about juvenile deliquency in Indonesia has increased with the most cases are sexual harassment, drugs, murdering, and stealing (Hasinta, 2010). According to Indonesian regulation nomor 12 tahun 1995, if a juvenile deliquency case has been done by an 18 year old adolescent or less and it has been proved by the court, the adolescent will be called anak pidana and they will be educated in a prison for adolescent but more like education centre, such as in Lembaga Pemasyarakatan Anak Kelas II B Karangasem, Bali. Living in a lembaga pemasyarakatan will be much different from common life outside, such as experiencing the loss of freedom (Dewi, 2012). In surviving to this situation, adolescent needs to know the meaning of their life and this issue attracts the researcher to find out what is the meaning of life of anak pidana who lives in Lembaga Pemasyarakatan Anak Kelas II B Karangasem.   This study use qualitative method with phenomenological approach, with 6 anak pidana as the subject. The result shows that there are 6 aspect of the meaning of life of anak pidana who lives in Lembaga Pemasyarakatan Anak Kelas II B Karangasem, which are the most valuable thing in life, satisfaction in life, freedom, right to live, personal change, and life-acceptance in Lembaga Pemasyarakatan Anak Kelas II B Karangasem. Detailed result will be discussed in the context of intergroup process.   Keywords: meaning of life, adolescent, prison, Bali
Preferensi ideologi dan perilaku politik pemilih pada Pilpres 2019: Asosiasi antara openness to experience, conscientiousness, agreeableness, dan otoritarianisme sayap kanan Nugroho, Agrhashakara Tegarpandhiga; Tobing, David Hizkia; Supriyadi, Supriyadi
Jurnal Psikologi Udayana Vol 9 No 1 (2022)
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JPU.2022.v09.i01.p08

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan antara faktor kepribadian openness to experience, conscientiousness, dan agreeableness dengan otoritarianisme sayap kanan menggunakan Skala Big Five Inventory (BFI) dan Skala Very Short Authoritarianism (VSA). Penelitian ini juga berupaya mengetahui perbedaan kedua kelompok pemilih Pilpres 2019 ditinjau dari empat variabel tersebut. Partisipan penelitian adalah pemilih berusia 18 – 55 tahun dari 23 provinsi di Indonesia (N = 418). Peneliti melakukan analisis korelasi Spearman untuk menguji hubungan tiga faktor kepribadian dengan otoritarianisme sayap kanan. Hasil penelitian menunjukkan faktor kepribadian yang paling berkorelasi dengan OSK adalah openness (r = -.166, p < .001), diikuti oleh agreeableness (r = .141, p = .004), dan conscientiousness (r = .136, p = .005). Selain itu, uji beda Mann-Whitney menunjukkan perbedaan yang signifikan antara kelompok pemilih Jokowi – Amin dan Prabowo – Sandi ditinjau dari faktor OSK (u = 13604, p = .030, Cohen’s d = -.227), tetapi tidak ada perbedaan jika ditinjau dari faktor kepribadian (u = 15546, p = .983, Cohen’s d = .012; u = 15436, p = .899, Cohen’s d = -.026; u = 15522, p = .965, Cohen’s d = -.044). Hasil penelitian ini secara umum mengonfirmasi temuan-temuan sebelumnya sekaligus berkontribusi pada pemahaman tentang hubungan kepribadian dengan ideologi dan perilaku politik. Pembahasan menunjukkan beberapa faktor yang menjelaskan temuan penelitian, keterbatasan penelitian, serta implikasi praktis untuk penelitian selanjutnya. This study aims to see the relationship between openness to experience, conscientiousness, and agreeableness with right-wing authoritarianism using the Big Five Inventory (BFI) and Very Short Authoritarianism scale (VSA). This study also seeks to know the differences between two groups of voters for the 2019 presidential election in terms of those four variables. The study participants were voters aged 18 - 55 years from 23 provinces in Indonesia (N = 418). Author used Spearman's correlation analysis to examine the relationship between three personality factors and right-wing authoritarianism. The results showed the personality factors most correlated with RWA were openness (r = -.166, p < .001), followed by agreeableness (r = .141, p = .004), and conscientiousness conscientiousness (r = .136, p = .005). In addition, the Mann-Whitney test shows a significant difference between the Jokowi - Amin and Prabowo - Sandi voter groups in terms of RWA (u = 13604, p = .030, Cohen’s d = -.227), but no difference was found based on personality factors (uOp = 15546, p = .983, Cohen’s d = .012; uCo = 15436, p = .899, Cohen’s d = -.026; uAg = 15522, p = .965, Cohen’s d = -.044). These results generally confirm previous findings and at the same time contribute to a better understanding of personality’s relation to political ideology and behavior. Discussion showed several factors to explain the research findings, limitations of the current study, and practical implications for future studies.
HUBUNGAN KONFORMITAS DAN KECERDASAN EMOSIONAL TERHADAP AGRESIVITAS PADA REMAJA MADYA DI SMAN 7 DENPASAR Amanda, Anak Agung Ayu Nisha; Tobing, David Hizkia
Jurnal Psikologi Udayana Vol 4 No 1 (2017)
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (333.882 KB) | DOI: 10.24843/JPU.2017.v04.i01.p10

Abstract

Pengaruh normatif dan pengaruh informasi berdampak pada tingkah laku seseorang yang disebut dengan konformitas. Konformitas bisa berdampak negatif dan positif, konformitas negatif contohnya adalah tawuran yang dapat merujuk ke tindak agresivitas. Remaja yang memiliki rentang usia 13-18 rentan terhadap tindak agresivitas terkait dengan emosi remaja yang fluktuatif (Rice, 2001). Agresivitas yang tinggi dapat diturunkan dengan kecerdasan emosional yang tinggi, karena dengan memiliki kecerdasan emosional yang tinggi seseorang mampu mengenali emosi diri dan orang lain dan mampu mengelola emosi diri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya hubungan konformitas dan kecerdasan emosional terhadap agresivitas pada remaja madya di SMAN 7 Denpasar. Subjek dalam penelitian ini adalah 226 orang siswa kelas I dan II SMAN 7 Denpasar berusia antara 15-18. Instrumen penelitian ini adalah skala agresivitas (? = 0.882) Buss dan Perry (dalam Bryant & Smith, 2001), skala konformitas (? = 0.902) , dan skala kecerdasan emosional (? = 0,872) (Simarmata, 2005). Hasil analisis regresi berganda menghasilkan R= 0,452 (F= 28,667; p< 0,05) dapat dikatakan bahwa konformitas dan kecerdasan emosional memiliki hubungan terhadap agresivitas. Hasil korelasi parsial antara konformitas dengan agresivitas dengan mengontrol variabel kecerdasan emosional adalah 0,300 (p<0,05) yang berarti konformitas dengan agresivitas memiliki hubungan yang positif yang artinya adalah semakin tinggi konformitas, semakin tinggi pula tingkat agresivitas. Hasil korelasi parsial antara kecerdasan emosional dengan agresivitas dengan mengontrol variabel konformitas adalah -0,256 (p<0,05) yang berarti kecerdasan emosional dengan agresivitas memiliki hubungan yang negatif yang artinya semakin tinggi kecerdasan emosional seseorang, maka tingkat agresivitasnya semakin rendah.   Kata Kunci : Agresivitas, Konformitas, Kecerdasan Emosional, Remaja Madya
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMENGARUHI MOTIVASI PARTISIPASI REMAJA PUTRI PADA TRADISI OMED-OMEDAN DI BANJAR KAJA, KELURAHAN SESETAN, DENPASAR Dwijayanthi, Ida Ayu Mas Ganggadewi; Tobing, David Hizkia
Jurnal Psikologi Udayana Vol 5 No 01 (2018)
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (628.326 KB) | DOI: 10.24843/JPU.2018.v05.i01.p16

Abstract

Kecenderungan yang ditemui akhir-akhir ini adalah remaja kurang berpartisipasi dalam kegiatan pelestarian budaya dan tradisi. Padahal, peran remaja dalam melestarikan budaya dan tradisi sangat penting, khususnya pada tradisi Omed-omedan yang hanya diikuti oleh remaja di Banjar Kaja, Kelurahan Sesetan, Denpasar. Di sisi lain, masyarakat umum memiliki persepsi keliru terhadap tradisi Omed-omedan. Perilaku berciuman yang beberapa kali terjadi pada tradisi Omed-omedan menimbulkan stereotipe yang lebih merugikan pihak perempuan yang pada umumnya menjadi objek dari aktivitas seksual, seperti aktivitas berciuman. Perubahan jaman juga mengakibatkan tidak ada sanksi sosial yang mengikat remaja di Banjar Kaja, Kelurahan Sesetan, Denpasar untuk berpartisipasi dalam tradisi Omed-omedan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang memengaruhi motivasi partisipasi remaja putri pada tradisi Omed-omedan di Banjar Kaja, Kelurahan Sesetan, Denpasar. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi dan teknik pengumpulan data melalui wawancara mendalam dan observasi pada 6 orang remaja putri di Banjar Kaja, Kelurahan Sesetan, Denpasar. Data dianalisis dengan theoretical coding yang terdiri dari open, axial, dan selective coding. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa motivasi partisipasi remaja putri di Banjar Kaja, Kelurahan Sesetan dibagi menjadi dua, yaitu (1) motivasi intrinsik yang terdiri dari rasa ingin tahu, kesenangan, belief, prinsip, rasa bangga, dan informasi baru; dan (2) motivasi ekstrinsik yang terdiri dari fasilitias, kewajiban, ajakan, peran pasangan, keuntungan, mengisi waktu luang, dan tekanan sosial. Selain itu, diperoleh faktor-faktor yang menghambat partisipasi, baik yang bersifat (1) internal seperti keinginan, persepsi, rasa lelah dan (2) eksternal seperti sikap pasangan, ketersediaan waktu, ketersediaan fasilitas, tidak ada yang mengajak, tidak mengenal anggota STT lain, dan cuntaka. Kata kunci: Motivasi, Partisipasi, Remaja putri, Omed-omedan
Hubungan antara kecerdasan emosional dan agresivitas pada remaja madya di SMA Dwijendra Denpasar Swadnyana, I Putu Bagus; Tobing, David Hizkia
Jurnal Psikologi Udayana Vol 6 No 01 (2019)
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1465.825 KB) | DOI: 10.24843/JPU.2019.v06.i01.p12

Abstract

Masa remaja merupakan masa transisi dari masa kanak-kanak menuju masa dewasa. Perubahan-perubahan yang terjadi pada remaja dapat menyebabkan munculnya agresivitas akibat ketidakmampuan individu bertahan terhadap pengaruh negatif dari lingkungan. Mengenali emosi diri, kemampuan mengelola emosi, memahami orang lain serta membina hubungan dengan baik terhadapat lingkungan atau yang disebut dengan kecerdasan emosional erat kaitannya dengan agresivitas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kecerdasan emosional dan agresivitas pada remaja madya di SMA Dwijendra Denpasar. Subjek dalam penelitian ini adalah 292 siswa-siswi SMA Dwijendra Denpasar yang berusia 15-18. Subjek terdiri dari 144 pria dan 148 perempuan dengan rata-rata usia 16 tahun sebanyak 158 siswa. Metode pengambilan data menggunakan skala kecerdasan emosional (17 aitem ; ?= 0.746) dan skala agresivitas (16 aitem ; ?= 0.863) yang direplikasi dari penelitian Amanda. Data diolah dengan analisis regresi linier sederhana. Hasil analisis statistik menunjukkan hubungan yang signifikan antara kecerdasan emosional dengan agresivitas, dengan arah negatif (r = -0.227 ; p = 0.000), sehingga, dapat dikatakan bahwa semakin tinggi kecerdasan emosional maka tingkat agresivitas semakin rendah. Koefisien determinasi diperoleh sebesar 0.051 yang berarti bahwa variabel kecerdasan emosional dapat menjelaskan 5,1% varians yang terjadi pada variabel agresivitas. Meskipun varians yang dapat dijelaskan nilainya kecil namun hubungan antara agresivitas dan kecerdasan emosional dapat diyakini sebagai hubungan yang fungsional. Kata kunci: Agresivitas, kecerdasan emosional, remaja madya.
DINAMIKA MEMAAFKAN PADA KORBAN PELECEHAN SEKSUAL Yudha, I Nyoman Bagus Darma; Tobing, David Hizkia
Jurnal Psikologi Udayana Vol 4 No 02 (2017)
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (508.933 KB) | DOI: 10.24843/JPU.2017.v04.i02.p18

Abstract

Dewasa ini semakin banyak kasus pelecehan seksual terjadi, korban pelecehan seksual tidak memandang usia dan jenis kelamin baik laki-laki maupun perempuan. Berdasarkan data yang dimiliki Direktorat Reaserse Kriminal Umum Polda Bali, pada tahun 2014 tercatat 87 kasus pelecehan seksual, sedangkan di tahun 2015, hingga Maret 2015 baru tercatat 18 kasus pelecehan seksual. Pelecehan seksual dapat menimbulkan berbagai dampak, baik secara psikologis, fisik, maupun dalam bidang pekerjaan. Dalam mengatasi dendam kepada pelaku pelecehan seksual, memaafkan menjadi satu cara yang dapat dilakukan oleh para korban untuk menghapus trauma yang dirasakan. Memaafkan merupakan sesuatu yang penting tapi juga sulit untuk dilakukan. Memaafkan tidak bisa dilakukan dalam waktu singkat dan setiap individu akan mengalami proses yang berbeda-beda satu dengan yang lainnya. Berdasarkan hal tersebut, peneliti ingin mengetahui bagaimana dinamika memaafkan pada korban pelecehan seksual dengan pelaku (teman baik, ayah, paman, tetangga) dan jenis kelamin korban pelecehan seksual (laki-laki dan perempuan). Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Jumlah responden terdiri dari dua orang perempuan dan dua orang laki-laki sebagai korban pelecehan seksual, beserta satu significant others dari satu responden. Hasil penemuan dalam penelitian ini dibagi dalam tiga fase, yaitu Fase I: Pengalaman, bentuk dan dampak pelecehan seksual, Fase II: Proses, tujuan dan motivasi perilaku memaafkan dan Fase III: Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku memaafkan. Dalam penelitian ini, satu responden perempuan dan satu responden pria dapat memaafkan pelaku, sedangkan responden penelitian lainnya tidak dapat memaafkan pelaku, sehingga penelitian ini menemukan bahwa perilaku memaafkan tidak dipengaruhi oleh jenis kelamin korban. Kata Kunci: Dinamika memaafkan, pelecehan seksual, korban pelecehan seksual
MOTIVASI PADA PEREMPUAN BALI YANG MEMILIH HAMIL SEBELUM MENIKAH Saraswaty, Ratih; Tobing, David Hizkia
Jurnal Psikologi Udayana Edisi Khusus
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (406.297 KB)

Abstract

As a social human being, a human cannot live by him/her self; he/she needs somebody else to interact, socialize, and have a relationship, which eventually create new generations through sexual intercourse (Sumpami, 2008). Marriage is a physical and mental bonding between a man and a woman as a wife and a husband to build a happy and eternal family based on one almighty God. Bali is one of Indonesian provinces that still strongly hold its tradition. To have a child is a kind of requisite in Balinese marriage. A preliminary study conducted by a researcher on 2013 shows that 8 out of 20 Balinese women chose to get pregnant before marriage because of the requisition from their partner and partner’s parent (Saraswaty, 2013). Based on this fact, many study are having interest to find out Balinese women’s motivation to get pregnant before marriage. This research used qualitative method with phenomenology design. Respondents are four Balinese women, which were chosen through purposive sampling method. The research results show that the interviewees have intrinsic and extrinsic motivation on deciding to get premarital pregnancy. The intrinsic motivation, consist of a feeling of have found perfect match, being accepted by partner’s parents, a desire to be loved deeper, felt appreciated and fidelity of partner, tried to prove that be able to have a baby. While the extrinsic motivation are a feeling of being scared of people’s contempt, afraid that her partner will get married again, motivated to get a better life, getting attention from partner and partner’s parents, and having grown up and responsible partner. Key Words: Premarital Pregnancy, Motivation, Balinese Women.
Kualitas hidup pascastrok peserta yoga pada Komunitas Ambarashram, Ubud, Bali Dewi, I Gusti Ayu Agung Silvia Wulan; Tobing, David Hizkia
Jurnal Psikologi Udayana Vol 6 No 02 (2019)
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (291.643 KB) | DOI: 10.24843/JPU.2019.v06.i02.p14

Abstract

Strok merupakan faktor penyebab kematian kedua di dunia yang menyerang fungsi otak dan mengakibatkan kelumpuhan pada separuh bagian tubuh yang disebabkan oleh tekanan darah tinggi, penyakit jantung, stres, faktor kelelahan dan kurang berolahraga. Strok merupakan penyebab utama kualitas hidup yang buruk karena adanya gejala sisa yang memengaruhi keseluruhan aspek kehidupan. Kualitas hidup memengaruhi kondisi pada penderita strok seperti kondisi fisik, psikologis dan hubungan sosial. Upaya untuk mengurangi dampak strok dapat dilakukan dengan melibatkan seluruh anggota tubuh untuk bergerak secara rutin, serta dengan melakukan manajemen perawatan diri. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah yoga. Yoga menjadi pengobatan bidang kedokteran serta perawatan psikologis. Yoga merupakan teknik pelatihan pengontrol kecemasan serta keharmonisan antara pikiran dan tubuh yang memiliki manfaat mengurangi keluhan fisik dan mengendalikan kestabilan emosi. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui bagaimana kualitas hidup peserta yoga pascastrok yang mengikuti yoga pada sebuah komunitas Ambarashram yang terletak di Ubud, Bali. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Pada peneltian ini terdapat lima responden dengan rentang usia 40 – 55 tahun yang memiliki riwayat strok dan mengikuti yoga. Data dikumpulkan dengan teknik wawancara mendalam dan observasi. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa kondisi individu pascastrok digambarkan melalui empat tema yaitu penyebab strok, dampak strok, manfaat yoga dan gejala jika tidak rutin melakukan yoga. Responden dalam penelitian ini mengalami perubahan kualitas hidup ke arah positif setelah mengikuti yoga secara rutin. Kata kunci: Kualitas hidup, strok, yoga.
FAKTOR-FAKTOR YANG MENGHAMBAT COMING OUT PADA LESBI FEMME DI BALI Dewi, I Gst Ayu Puspasari; Tobing, David Hizkia
Jurnal Psikologi Udayana Vol 3 No 1 (2016)
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (477.441 KB) | DOI: 10.24843/JPU.2016.v03.i01.p03

Abstract

In psychology, lesbian has not regarded as a psychiatric disorder since 1973 until now based on guidebook of the DSM (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder). But until now presence of lesbians on the society are still faced with a denial and violation of religion, norms, and values prevailing in society. In Indonesia, especially in Bali, lesbian being as individual mostly "down" due to two main things, there are strong patriarchy culture that makes women as a minority and then because lesbians are still considered a disease and deviant. This makes the lesbian increasingly difficulty in adjusting to society that makes lesbian experience barriers to self-disclosure (coming out). Doing coming out in lesbian is not easy, especially in the lesbian femme which recognized very good at hiding his identity as a lesbian, because other people cannot just interpret a feminine woman is a lesbian. This makes the researchers want to determine the factors that hinder the coming out on lesbian femme in Bali.This study uses qualitative research methods with phenomenology approach. Respondents this study were four people who have an identity as a lesbian femme in Bali and have not done of coming out phase as a lesbian. The results of this study indicate that all respondents have not been able to reach the final stage of coming out as known as integration stage. The respondents only can reach the stage of awareness, exploration and acceptance. There are two limiting factor which inhibit of coming out phase, factors that originate from within the individual (internal limiting factor) and the factors that come from outside the individual (external limiting factor). Internal limiting factor obtained in the research that is the hope of re-heterosexual, guilt, and love, while the external limiting factor is influenced by family, social pressures, norms and culture.Keywords: Inhibit, Self-disclosure, Coming Out, Lesbian, Bali
Co-Authors Adi, Ida Ayu Ratih Purnama Alfiani, Christina Amanda, Anak Agung Ayu Nisha Ananda Aditya Hutapea Ardyanti, Putu Vebby Diah Arini, Ni Ketut Ayu Paramita Antari Buana, Yuli Endah Purwati Arum Cempaka, Ni Luh Mas Ristha Delicia Theofilia Evangelista Dewi, A.A. Sagung Suari Dewi, I Gst Ayu Puspasari Dewi, I Gusti Ayu Agung Silvia Wulan Dwijayanthi, Ida Ayu Mas Ganggadewi Gunawan, Ivana Haryati, Tuningsih Hutapea, Ananda Aditya Ida Bagus Agung Permana Manuaba Krisadelia, Ni Putu Leman, Theresia Zefany Hope Leman Mahardini, Ni Made Dwi Mayradevi, Ida Ayu Pringga Meidalinda, Ni Putu Mayunda Meilani, Karunia Monika, Kadek Ayu Naomi Vembriati Ni Luh Indah Desira Suwandi Ni Made Suari Dewi Ni Made Yanthi Ary Agustini Ni Made Yanthi Ary Agustini Nita, Ni Made Ayu Asri Nugraha, Aussie Safitri Nugroho, Agrhashakara Tegarpandhiga Oktaveriyanto, Aditya Pratama Pastini, Luh Putu Dewi Pradnyanitya Permana, I Made Dian Puji Palupi, Agra Putri Purnama Devi, Ni Putu Lilis Putri, Ida Ayu Karina Putri, Ida Ayu Kencana Jalatri Samgara Putu Nugrahaeni Widiasavitri Putu Yudi Suwetha Putu Yudi Suwetha Pratama Ratih, AA Sagung Weni Kumala Ratu, Sri Caitanya Maha Santiari, I Gusti Agung Tri Saraswaty, Ratih Simarmata, Marina Somawati, Ida Ayu Putu Suari Dewi, Ni Made Supriyadi Supriyadi Suwetha, Putu Yudi Swadnyana, I Putu Bagus Swari, Ni Ketut Elsa Parmata Tuhumury, Raynisha Gildasa Putri Tuningsih Haryati Ummi Aimen Wangsa, Pande Ryan Praba Wiragita, Gede Angga Yanti, Made Yoela, Yemima Yohanes Kartika Herdiyanto Yudha, I Nyoman Bagus Darma