Claim Missing Document
Check
Articles

Komunikasi Interpersonal Remaja dan Orang Tua Dalam Membangun Keterbukaan Diri Mahasiswa Rantau Naswah, Hera Nisa Haerul; Supratman, Lucy Pujasari
eProceedings of Management Vol. 12 No. 6 (2025): Desember 2025
Publisher : eProceedings of Management

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Keterbatasan jarak yang jauh dapat menjadi penghambat dalam berkomunikasi mengingat orang tua ataupun remajatidak dapat memastikan kondisi dan keadaan satu sama lain apabila tidak mendapatkan pemberitahuan secaralangsung. Kondisi ini sangat sulit apabila remaja tidak memiliki kecenderungan untuk membuka diri kepada orangtua. Hal inilah yang memicu terjadinya perubahan komunikasi interpersonal remaja dan orang tua. Penelitian iniberfokus kepada komunikasi interpersonal remaja dan orang tua dalam membangun keterbukaan diri pada mahasiswarantau. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan komunikasi interpersonal remaja dan orangtua dalam membangun keterbukaan diri mahasiswa rantau, serta mendeskripsikan perubahan perilaku komunikasi danketerbukaan diri remaja mahasiswa rantau. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan teknik wawancarakepada informan utama dan informan pendukung guna mendapatkan data yang sesuai dengan penelitian, valid, dankomprehensif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa komunikasi interpersonal yang dilakukan oleh remaja danorang tua pada kasus mahasiswa rantau dilakukan melalui telfon, chat, dan video call. Pada penelitian ini jugamenunjukkan bahwa komunikasi interpersonal remaja dan orang tua dalam membangun keterbukaan diri mahasiswarantau ditandai dan dipengaruhi oleh pengungkapan diri, rasa pemahaman, daya dukung, komunikasi konstruktif, dankesamaan nilai. Selain itu, ditemukan adanya perubahan perilaku komunikasi remaja dan orang tua pada kasusmahasiswa rantau.Kata Kunci: Komunikasi Interpersonal, Keterbukaan Diri, Mahasiswa Rantau
Persepsi Remaja Akhir yang Tumbuh Tanpa Figur Ayah Di Kota Bogor Vernandes, Christian Gerald; Supratman, Lucy Pujasari
eProceedings of Management Vol. 12 No. 6 (2025): Desember 2025
Publisher : eProceedings of Management

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Banyak remaja akhir yang kehilangan sosok figur ayah di dalam hidupnya. Meskipun demikan,kehadiran peran serta figur ayah memiliki hubungan dengan persepsi remaja akhir. Tujuan daripenelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana persepsi diri remaja akhir yang selama initumbuh tanpa seorang figur ayah. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif melaluiwawancara yang terbuka dengan pendekatan studi kasus. Teori persepsi menjadi pilar danlandasan teori yang digunakan dalam penelitian ini. Hasil penelitian menunjukan bahwa kehadiranfigur ayah dan persepsi diri memiliki peran penting khususnya dalam membantu remaja akhirmemahami dirinya. Penelitian ini menegaskan bahwa persepsi diri remaja mampumengembangkan komunikasi intrapersonal yang baik dan pemahaman yang lebih matangmengenai diri sendiri.Kata Kunci: Remaja Akhir, Figur Ayah, Persepsi, Komunikasi Intrapersonal
Penggunaan Bahasa Jaksel Sebagai Penguat Identitas Komunitas BOT (Batavia On Telkom) di Telkom University Premono, Michelle Zevana; Supratman, Lucy Pujasari
eProceedings of Management Vol. 12 No. 6 (2025): Desember 2025
Publisher : eProceedings of Management

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini mengkaji penggunaan Bahasa Jaksel sebagai alat penguatan identitas Komunitas BOT (Batavia OnTelkom) di Telkom University. Bahasa Jaksel, campuran bahasa Indonesia, Inggris, dan slang lokal, mencerminkankreativitas linguistik dan identitas anak muda urban. Dengan pendekatan etnografi komunikasi, penelitian inimenganalisis praktik linguistik, aspek pragmatik, dan pengaruh media sosial untuk memahami peran Bahasa Jakseldalam memperkuat solidaritas kelompok di luar Jakarta. Penelitian ini mengisi kesenjangan studi sebelumnya yangberfokus pada Jakarta atau platform digital, serta menawarkan rekomendasi bagi pendidik untuk memanfaatkanBahasa Jaksel dalam memperkuat solidaritas tanpa mengabaikan bahasa formal.Kata kunci: Bahasa Jaksel, identitas komunitas, Komunitas BOT, Telkom University, Sosiolinguistik
KOMUNIKASI TERAPEUTIK CLINICAL INSTRUCTOR DI RUMAH SAKIT JIWA PROVINSI JAWA BARAT Herfira, Ane; Supratman, Lucy Pujasari
Manajemen Komunikasi Vol 1, No 2 (2017): Jurnal Manajemen Komunikasi Vol.1 No. 2 April 2017
Publisher : Faculty of Communication Sciences Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (160.108 KB) | DOI: 10.24198/jmk.v1i2.11697

Abstract

Clinical Instructor atau pembimbing klinik adalah seorang perawat professional yang terpilih yang ahli dalam praktek klinik keperawatan. Seorang Clinical Instructor memiliki jobdesk yang salah satunya adalah membimbing dan mengarahkan peserta didik. Peserta didik yang dimaksud dalam hal ini adalah mahasiswa yang sedang melakukan Praktek Kerja Lapangan (PKL) pada rumah sakit tersebut. Sesuai dengan jobdesk tersebut, seorang Clinical Instructor harus memiliki pengetahuan yang lebih dalam bidangnya, yaitu kesehatan khususnya keperawatan. Berdasarkan pra penelitian yang dilakukan peneliti, peneliti mensurvey secara langsung bahwa terdapat perbedaan antara pemahaman teori dengan praktik komunikasi terapeutik di Rumah Sakit Jiwa Provinsi Jawa Barat. Perbedaan teori dan praktek yang terjadi adalah tentang hubungan komunikasi terapeutik. Dengan adanya kesalahpahaman ini maka teori tentang komunikasi terapeutik dan hubungan terapeutik ini akan terus menerus salah pemahaman kedepannya. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan studi kasus. Data dari penelitian ini diperolah dari hasil wawancara, observasi dan juga dokumentasi. Informan dalam penelitian ini diperoleh dengan cara snowball sampling. Peneliti bertemu dengan satu clinical instructor untuk dijadikan informan. Informan berikutnya didapatkan dari rekomendari yang diberikan oleh informan pertama. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pemahaman dan penerapan komunikasi terapeutik oleh clinical instructor di Rumah Sakit Jiwa Provinsi Jawa Barat ini dirasa masih kurang. Beberapa clinical instructor masih ada yang kurang memahami tentang teknik komunikasi non-terapeutik, komunikasi paraverbal dan juga tentang hubungan terapeutik. Selain itu untuk penerapan teknik komunikasi non-terapeutik dan komunikasi verbal dirasa masih kurang maksimal. Komunikasi non-terapeutik dikatakan seperti komunikasi seperti biasa atau untuk di rumah sakit tersebut sering disebut dengan istilah komunikasi sosial.
STUDI FENOMENOLOGI TENTANG KOMUNIKASI ANTARPRIBADI ANGGOTA KOMUNITAS ANAK INDIGO INDONESIA Fauzan, Mochamad Fachri; Supratman, Lucy Pujasari
Manajemen Komunikasi Vol 1, No 2 (2017): Jurnal Manajemen Komunikasi Vol.1 No. 2 April 2017
Publisher : Faculty of Communication Sciences Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (306.426 KB) | DOI: 10.24198/jmk.v1i2.11684

Abstract

Tuhan menciptakan setiap manusia dengan sempurna, namun tidak dapat dipungkir bahwa ada manusia yang terlahir tidak sempurna dalam bentuk fisik maupun mental. Hal tersebut dapat menjadi sebuah kekurangan ataupun kelebihan bagaimana cara kita memaknai dirinya sendiri, sama halnya seperti anak indigo. Konsep diri merupakan gambaran yang dimiliki seseorang tentang dirinya yang dibentuk melalui pengalaman-pengalaman yang diperoleh dari interaksi dengan lingkungan. Tujuan penelitian ini adalah mengguraikan konsep diri anggota komunitas anak indigo dalam melakukan komunikasi antarpribadi. Penelitian ini dikaitan dengan orientasi motif masa lalu, masa kini, dan masa akan datang. Informan yang terlibat dalam penelitian ini ada lima anak indigo yang tergabung Komunitas Anak Indigo (KAI). Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan cara wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi.Teknik analisis data penelitian ini menggunakan teknik analisis data fenomenologi Van Kaam. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat ditarik kesimpulan bahwa anggota Komunitas Anak Indigo menilai dirinya memiliki konsep diri positif dan negatif yang terbentuk berdasarkan pengalaman interaksi dalam oritentasi masa lalu, masa kini, dan masa akan datang. Anggota Komunitas Anak Indigo (KAI) menilai keberadaan mereka dalam Komunitas Anak Indigo (KAI) mengalami perubahan ke arah yang lebih baik dari berbagai aspek kehidupan pribadi para anggota Komunitas Anak Indigo (KAI).
Peran Komunikasi Keluarga dalam Pengambilan Keputusan Mahasiswa Asing untuk Kuliah di Indonesia Neva Halwa Khairunissa; Lucy Pujasari Supratman
Jurnal Ilmu Komunikasi dan Bisnis Vol 10 No 1 (2024): Oktober 2024
Publisher : Universitas Tarakanita

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36914/7k46n033

Abstract

Studying abroad is something that many students want to do. However, it is clear that a serious decision requires careful consideration including considering the viewpoints of family members. This study aims to determine the role of family communication in international students' decision-making in discussing their desire to study abroad. This research uses qualitative methodology and a case study approach. As a result, both families and international students recognized the importance of family contact in the decision-making process of international students. Family communication allows for expressing opinions and listening to perspectives, which ultimately leads to mutual agreement and understanding among international students and their families.
PELATIHAN KOMUNIKASI EFEKTIF DALAM MENCIPTAKAN KEHARMONISAN ANTAR SYBLINGS DI PANTI ASUHAN ROEMAH QUR’AN: PENGHAFAL QUR’AN YATIM DAN DHUAFA ANTAPANI, BANDUNG Lucy Pujasari Supratman; Nofha Rina; Aep Wahyudin
The Proceeding of Community Service and Engagement (COSECANT) Seminar Vol. 4 No. 1 (2024): The Proceeding of Community Service and Engagement (COSECANT) Seminar
Publisher : Telkom University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25124/cosecant.v6i1.7767

Abstract

Komunikasi yang baik dan lancar antara sesama keluarga bisa memperkuat hubungan sebuah keluarga. Di sebuah panti asuhan, keluarga inti yang dibangun adalah hubungan adik-kakak asuh. Panti asuhan merupakan sebuah lembaga social dengan fungsi keluarga di dalamnya. terutama bagi para anak-anak asuh dengan beragam rentang usia yang tinggal bersama layaknya keluarga biologis (saudara sedarah). Komunikasi antara anak-anak panti asuhan yang tinggal dalam satu rumah (panti asuhan) terjalin dalam hubungan sebagai fosters syblings (kakak adih asuh) menjadi permasahalah bila anak- anak sudah tidak mau/segan mengenal satu sama lain karena adanya sibling rivalty (persaingan kakak-adik). Di panti asuhan Rumah Qur’an: Penghafal Qur’an Yatim dan Dhuafa Antapani, Bandung system kakak adik asuh membantu seluruh anak-anak panti asuhan saling merekatkan satu sama lain membangun attachment satu sama lain karena melalui system ini, semua anak asuh mendapatkan rotasi peran sebagai kakak adik asuh untuk membangun ikatan batin. Urgensi pengabdian Masyarakat ini dilakukan yaitu untuk memberikan pemahaman tentang pentingnya peran komunikasi keluarga dalam membangun keharmonisa antar saudarasaudari angkat di Panti Asuhan agat saling memahami dan menyayangim serta terhindar dari Syblings Rivalry. Kegiatan ini juga akan melibatkan game interaktif untuk memperkuat tali persaudaran antar adik kakak angkat di Panti Asuhan Roemah Qur’an
Negotiating Sundanese Cultural Values through Family WhatsApp Communication: Intergenerational Identity Work in Sundanese WhatsApp Groups Wahyudin Aep; Supratman Lucy Pujasari; Sarbini Ahmad; Solahudin Dindin
INJECT (Interdisciplinary Journal of Communication) Vol. 11 No. 2 (2026)
Publisher : FAKULTAS DAKWAH UIN SALATIGA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18326/inject.v11i2.6827

Abstract

This study examines how Sundanese cultural values are negotiated and communicated through family WhatsApp group interactions in everyday digital communication. The research aims to explore how family members reproduce cultural meanings and maintain relational values through routine online interaction. The study contributes to communication studies by providing insight into the role of digital family communication in shaping cultural identity within the context of Indonesian local culture. A qualitative approach was employed using thematic analysis informed by semiotic interpretation. Data were collected from three Sundanese family WhatsApp groups in West Java, Indonesia, over a three-month observation period. The data consists of text-based conversations containing greetings, advice, religious expressions, humor, and everyday family discussions. The findings show that Sundanese cultural values are communicated through recurring interactional patterns such as politeness, respect toward elders, expressions of care, humility, and religious discourse. These interactions demonstrate that WhatsApp group communication functions not only as a medium for information exchange but also as a space where cultural meanings are continuously negotiated through everyday interaction. The study highlights the importance of digital family communication in sustaining social relationships and cultural identity within contemporary mediated environments.
Intercultural Health Communication in Islamic Medicine among Generation Z Rita Destiwati; Lucy Pujasari Supratman; Junardi Harahap; Wan Maryam Wan Ahmad Kamil
Nyimak: Journal of Communication Vol. 10 No. 1 (2026): Nyimak: Journal of Communication
Publisher : Faculty of Social and Political Science, Universitas Muhammadiyah Tangerang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31000/nyimak.v10i1.15217

Abstract

Islamic medical content circulating on social media plays a significant role in shaping Generation Z’s understanding and acceptance of health practices. However, Research on spirituality-based medicine and digital health literacy in shaping Generation Z’s intercultural communication when accessing thibbun Nabawi therapists, religious leaders, or health influencers remains limited. This study aims to explore how spirituality and digital literacy influence Generation Z’s decisions to engage in Islamic medical practices in Indonesia and Malaysia. Employing a comparative qualitative approach, the study involved six Generation Z informants aged 17 to 24, consisting of three participants from Bandung, Indonesia, and three participants from Malaysia, each with prior experience using Islamic medical practices. The findings indicate that Indonesian Generation Z engages with Islamic medicine mainly through family traditions and religious communities, whereas Malaysian Generation Z is influenced by institutional legitimacy and health campaigns integrating religious values with contemporary lifestyles. These results show that Islamic medical literacy extends beyond health behavior to identity formation, spirituality, and meaning making. Therefore, intercultural responsiveness and contextual sensitivity with digital health communication strategies are crucial for improving the effectiveness.Keywords: Intercultural, health communication, generation Z, Islam medical ABSTRAKKonten pengobatan Islam yang beredar di media sosial memainkan peran penting dalam membentuk pemahaman dan penerimaan Generasi Z terhadap praktik kesehatan. Namun, penelitian mengenai pengobatan berbasis spiritual dan literasi kesehatan digital dalam membentuk komunikasi antarbudaya Generasi Z ketika mengakses terapis thibbun Nabawi, tokoh agama, dan influencer kesehatan masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi bagaimana spiritualitas dan literasi digital memengaruhi keputusan Generasi Z dalam menggunakan praktik pengobatan Islam di Indonesia dan Malaysia. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif komparatif, penelitian ini melibatkan enam informan Generasi Z berusia 17–24 tahun, yang terdiri atas tiga partisipan dari Bandung, Indonesia, dan tiga partisipan dari Malaysia, yang masing-masing memiliki pengalaman menggunakan pengobatan Islam. Temuan penelitian menunjukkan bahwa Generasi Z di Indonesia lebih banyak terlibat dalam pengobatan Islam melalui tradisi keluarga dan komunitas keagamaan, sedangkan Generasi Z di Malaysia dipengaruhi oleh legitimasi institusional dan kampanye kesehatan yang mengintegrasikan nilai-nilai religius dengan gaya hidup kontemporer. Hasil ini menunjukkan bahwa literasi pengobatan Islam tidak hanya berkaitan dengan perilaku kesehatan, tetapi juga mencakup pembentukan identitas, spiritualitas, dan pencarian makna. Oleh karena itu, responsivitas antarbudaya dan sensitivitas kontekstual dalam strategi komunikasi kesehatan digital menjadi krusial untuk meningkatkan efektivitas.Kata Kunci: Antarbudaya, komunikasi kesehatan, generasi Z, pengobatan Islam