Sri Ratna Dwiningsih
Departemen Obstetri Dan Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya

Published : 22 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 22 Documents
Search

Preoperative TNF-a Reduction in Endometriosis Lesions with Combined Oral Contraceptives Thengkano, Irwanto; Yanuari Primariawan, Relly; Hernaningsih, Yetti; Ratna Dwiningsih, Sri
Indonesian Journal of Obstetrics and Gynecology Volume 13. No. 2 April 2025
Publisher : Indonesian Socety of Obstetrics and Gynecology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32771/inajog.v13i2.2547

Abstract

Background: The goals of endometriosis treatment vary greatly depending on the patient's symptoms and reproductive needs. Hormonal therapy to alleviate pain has generally been shown to have positive effects. Combined Oral Contraceptives (COC) are widely available, relatively affordable, and well-known by the public. Objective: This study aims to compare the effects of COC therapy with two newer endometriosis treatments: oral Dienogest 2 mg and injectable Leuprorelin acetate 3.75 mg on TNF alfa levels in serum and peritoneal fluid. Methods: Forty subjects were divided into four groups: three groups receiving medical therapy—COC (0.03 mg ethinylestradiol and 0.15 mg levonorgestrel, taken one active tablet per day continuously), oral Dienogest 2 mg, and intramuscular Leuprorelin acetate 3.75 mg every four weeks—and a control group of endometriosis patients who had not received any hormonal therapy. Peripheral venous blood samples were taken before surgery, and peritoneal fluid was collected at the start of surgery in the pelvic cavity. TNF alfa levels were analyzed using the ELISA method. Data analysis was performed using the Kruskal-Wallis test with a significance level of 0.05. Results: The Kruskal-Wallis test showed significant differences between treatment groups in TNF alfalevels in peritoneal fluid (p:0.023), specifically between the COC group and the control group, and between the Dienogest group and the control group. Conclusion: Preoperative hormonal therapy for estradiol suppression provides limited benefit in reducing systemic inflammatory agents but is effective locally, as evidenced by reduced TNF alfa levels in the peritoneal fluid after preoperative COC and Dienogest therapy. Keywords: COC, Dienogest, Leuprorelin Acetate, Serum, Peritoneal Fluid, TNF alfa
Analisa Hubungan Kualitas Udara (Pm2.5, Pm10, Pm1 Dan No2) Terhadap Angka Kejadian Bayi Berat Badan Lahir Rendah (Bblr) di Surabaya Tahun 2022-2024 Naura Annisa Faradila; Budi Prasetyo; Sulistiawati Sulistiawati; Sri Ratna Dwiningsih; Lalu Muhamad Jaelani
Jurnal Ners Vol. 9 No. 4 (2025): OKTOBER 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v9i4.51144

Abstract

Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) tetap menjadi masalah kesehatan masyarakat yang penting di Indonesia. Salah satu faktor utama yang berkontribusi adalah polusi udara, terutama di daerah perkotaan seperti Surabaya. Kualitas udara yang buruk akibat emisi kendaraan bermotor, aktivitas industri, dan tempat pembuangan limbah dapat meningkatkan risiko LBW. Studi ini bertujuan untuk mengkaji hubungan antara polusi udara dan insiden LBW di Surabaya. Studi ini menggunakan desain analitik cross-sectional untuk menyelidiki hubungan antara polusi udara dan Berat Badan Lahir Rendah (LBW) di Surabaya. Data sekunder dari pusat kesehatan masyarakat (Puskesmas) dan catatan kualitas udara akan dikumpulkan. Analisis statistik akan dilakukan menggunakan SPSS versi 25 untuk menilai korelasi antara tingkat polusi udara dan insiden LBW. Analisis menunjukkan hubungan yang signifikan antara kualitas udara dan insiden Berat Badan Lahir Rendah (LBW). Paparan terhadap PM2.5 (r = 0.740; p = 0.000), PM10 (r = 0.762; p = 0.000), PM1 (r = 0.605; p = 0.000), dan nitrogen dioksida (NO2) (r = 0.614; p = 0.000) semuanya memiliki korelasi yang kuat dengan insiden LBW. Semua parameter kualitas udara memiliki nilai p < 0.05, menunjukkan hubungan yang signifikan secara statistik dan menyebabkan penolakan hipotesis nol (H1) demi hipotesis alternatif (Hₐ). Kualitas udara di Surabaya menunjukkan tingkat yang baik untuk PM2.5, PM10, dan PM1, tetapi tingkat NO2 yang berbahaya. Insiden LBW di Benowo berfluktuasi, mencapai puncaknya pada tahun 2023. Hubungan yang signifikan antara kualitas udara dan LBW ditemukan, dengan faktor lingkungan berperan.