Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

Perilaku Kopula Adalah dan Variasinya dalam Bahasa Indonesia NH, Siti Rahajeng; Jayanti, Cicik Tri; Taufiqurrahman, Febri; Taturia, Dwika Muzakky Anan
Jurnal Onoma: Pendidikan, Bahasa, dan Sastra Vol. 11 No. 4 (2025): Penulis dari 3 negara (Indonesia, Jerman dan Turki)
Publisher : Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/onoma.v11i4.6777

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menyelidiki penggunaan kopula adalah dan variasinya yakni merupakan, ialah, yakni, dan yaitu dalam bahasa Indonesia dan perbedaan kelima kopula tersebut. Kopula adalah merupakan kopula yang digunakan untuk menyatakan unsur yang ‘identik dengan atau sama maknanya dengan’. Kopula adalah biasanya digunakan untuk menyatakan identifikasi atau penjelasan sebuah konsep. Selain adalah, kata yang juga penggunaannya sejenis dan berada dalam konteks penggunaan yang sama adalah merupakan, ialah, yakni, dan yaitu. Kelima kata tersebut memiliki kesamaan makna. Walaupun demikian, tidak ada kata bersinonim yang maknanya sama persis, melainkan akan ada yang membedakannya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode simak bebas libat cakap dengan data yang diambil dari korpus Indonesian Wac Sketch Engine. Data tersebut diambil dan direduksi sesuai dengan kolokat berbentuk kata yang mengikuti masing-masing kopula, bukan berupa tanda baca atau simbol tertentu. Pengurutan data kolokat dilakukan berdasarkan nilai signifikansi antara node dengan kolokatnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa produktivitas penggunaan kopula tersebut secara berurutan adalah adalah, merupakan, yaitu, yakni, dan ialah. Kelimanya merupakan bentuk penghubung atau konektor dalam kalimat yang menghubungkan dua unsur fungsi yang berbeda. Kopula tersebut dapat menghubungkan unsur fungsi subjek dengan predikat nonverbal serta menghubungkan subjek dengan fungsi pelengkap bergantung pada struktur kalimatnya. Kopula adalah dan merupakan berpotensi muncul pada kalimat predicational, spesificational, identificational, dan equational; kopula yaitu berpotensi muncul pada kalimat prediational, spesificational sentences, dan identificational; sementara kopula yakni berpotensi muncul pada kalimat predicational dan specificational. Adapun kopula ialah adalah kopula dengan produktifitas yang cukup rendah dalam bahasa Indonesia yang muncul pada jenis kalimat predicational dan spesificational.
Wacana Fiksimini bahasa Indonesia: Analisis struktur, keterpaduan, permainan bahasa, dan fungsi Jayanti, Cicik Tri
Bahasa dan Seni: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni, dan Pengajarannya Vol. 44, No. 2
Publisher : citeus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study is aimed to describe the characteristics of mini fiction by explaining the structure and coherence between elements, forms of language, and discourse functions in Indonesian mini fiction. It is a qualitative study by using mini fiction discouse as research objects. The research data were in the form of tweets by the users who retweeted any tweets from @fiksimini account. Thus, the data collected in the research were written and collected by transcribing the data. The results of the study showed that (1) the structure of mini fiction discourse consists of three elements, topic, title and content; (2) the language play in the discourse was presented through the reader’s understanding of the texts and some distortion of the language varieties; and (3) the mini fiction discourse has four functions, such as emotive, retorical, cognitive and poetic speech function.
Struktur Diksi dalam Penamaan Rumah Makan Pedas di Malang Raya Cicik Tri Jayanti
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 13, No 1 (2024): Ranah: jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v13i1.6034

Abstract

Potential consumers' interest in food is not only through taste but also the uniqueness of the place of origin or restaurant. One form of uniqueness is the naming of the restaurant. The use of word choices (diction) in naming restaurants varies, especially the use of spicy elements. In 2022, 246 restaurants in Malang will label place names and dishes with spicy taglines and their derivatives. Therefore, this research aims to analyze (1) the general structure of naming spicy restaurants in Malang Raya; (2) the specific structure of naming spicy restaurants in Malang Raya; and (3) spicy associations. Qualitative descriptions were used as a design framework in this research. The research data is in linguistic units in the names of spicy restaurants in Greater Malang. Data is in the form of words and sentences. There are seven procedures carried out for this research, including providing core data with five analysis steps: direct observation, textualization, developing analysis columns, segmentation, thematization, propositionalization, and data reduction stages. The following five steps include the process of (1) elaborating, (2) interpreting, (3) summarizing, (4) concluding, and (5) drawing suggestions. Based on these steps, the results were found: (1) the general structure of naming spicy restaurants in Malang, the most common and widely used, is the cooking element (essential ingredients) and the spicy element or spicy identity; (2) the unique structure for naming spicy restaurants in Malang Raya consists of product name, mention of restaurant identity, cuisine (essential ingredients), place (address), processing method, spicy elements, owner's name, spicy identity and additional information; (3) The choice of words (diction) in the spicy identity element uses references, namely creatures, body elements, humans, animals and objects, traits, verbs and circumstances or adverbs. AbstrakKetertarikan calon konsumen terhadap makanan tidak hanya melalui rasa, namun juga keunikan dari tempat asal atau rumah makan tersebut. Salah satu bentuk keunikan tersebut adalah penamaan rumah makan. Penggunaan pilihan kata (diksi) dalam penamaan rumah makan memiliki ragam yang bervariasi, terlebih pada penggunaan unsur pedas dalam penamaan rumah makan. Tahun 2022, tercatat 246 rumah makan di kota Malang yang melabeli nama tempat dan olahan dengan tagline pedas dan turunannya. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan menganalisis (1) struktur umum penamaan rumah makan pedas di Malang Raya; (2) struktur khusus penamaan rumah makan pedas di Malang Raya; dan (3) asosiasi pedas. Deskripsi kualitatif digunakan sebagai kerangka desain dalam riset ini.  Data penelitian berupa satuan kebahasaan pada nama-nama rumah makan pedas di Malang raya. Data berupa kata dan kalimat. Terdapat tujuh prosedur yang dilakukan untuk penelitian ini meliputi penyediaan data inti dengan lima langkah analisisnya, yakni pengamatan langsung, tekstualisasi, mengembangkan kolom analisis, memberikan segmentasi, tematisasi, proposisionalisasi, serta tahapan reduksi data. Lima Langkah berikutnya mencakup proses (1) penguaraian, (2) penafsiran, (3) perangkuman, (4) penyimpulan, dan (5) penarikan saran. Berdasarkan langkah-langkah tersebut, ditemukan hasil: (1) struktur umum penamaan rumah makan pedas di Malang raya paling umum dan banyak digunakan adalah unsur masakan (bahan dasar) dan unsur pedas atau asosiasi pedas; (2) struktur khusus penamaan rumah makan pedas di Malang Raya terdiri dari nama produk, penyebutan identitas rumah makan, masakan (bahan dasar), tempat (alamat), cara mengolah, unsur pedas, nama pemilik, asosiasi pedas dan keterangan tambahan; (3) Pemilihan kata (diksi) di dalam unsur asosiasi pedas menggunakan acuan, yaitu Makhluk, unsur tubuh, manusia, hewan,  dan benda, sifat, kata kerja, dan keadaan atau adverbia.   
Persuasive Strategies in Indonesian Titles of Chinese Vertical Microdramas on YouTube Cicik Tri Jayanti
 Southeast Asian Language and Literature Studies Vol. 3 No. 1 (2026): Southeast Asian Languages and Literature Studies
Publisher : BRIN Publishing (Penerbit BRIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55981/salls.2026.16777

Abstract

Video titles function as the first point of contact between short-video producers and prospective viewers, yet the titles of Chinese vertical microdramas (duanju) circulating in Indonesian on YouTube remain unexamined as a site of persuasive language. This study analyzes 200 Indonesian-language titles of Chinese vertical microdramas using a newly proposed Lexical Trigger–Persuasion Framework (LTPF), which traces titles across five levels: lexical triggers, linguistic devices, persuasive strategies, persuasion patterns, and viewer expectations. Grounded in Persuasive Communication theory, Advertising Language theory, Curiosity Gap theory, and Viewer Expectation theory, the framework operationalizes each analytical category through an explicit codebook with inclusion and exclusion criteria, enabling replicable, corpus-based coding rather than impressionistic classification. Beyond an expected romance-dominant framing (85.0% of titles), a finding particularly distinctive of this corpus is the salience of rebirth/second-chance narratives (9.5%), a persuasive-narrative device largely absent from prior clickbait and headline scholarship. Positive-Emotion Valence (46.5%) and Curiosity Gap (46.0%) emerge as the two dominant persuasive strategies. Yet, co-occurrence analysis shows they rarely combine within the same title (22.6–22.8% overlap), suggesting Indonesian-language duanju titles are constructed along two largely separate persuasive routes — one emotion-led, one curiosity-led — rather than one blended appeal. Lexical co-occurrence analysis further shows that Social Status triggers (e.g., CEO) co-occur with Relational triggers in 55.6% of Status-marked titles but Economic triggers in only 1.6%, indicating status-based fantasy operates largely independently of the rags-to-riches reversal assumed in prior genre commentary. This study contributes a transferable coding framework based on observable linguistic forms. It demonstrates its analytical value over conventional single-level persuasion coding for short-form digital titles beyond the Chinese microdrama genre.