Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

Pectin Extraction from Various Sources: A Literature Review Triyatna, Vira; Fetriyuna, Fetriyuna; Rohmah, Miftakhur
Bioeksperimen: Jurnal Penelitian Biologi March 2025
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/bioeksperimen.v11i1.10066

Abstract

Plant cell walls include a complex polymer called pectin, which combines methoxyl with galacturonic acid to produce a gel. Applications for pectin are found in both the food and non-food industries. It is utilized as an edible coating, gel-forming, texture enhancer, stability enhancer, and appearance enhancer in the food industry. Pectin can be combined with other ingredients to make non-food products. For example, pectin, chitosan, carboxymethyl cellulose (CMC), and alginate can be used to make biocomposites for wound dressings. Other sources of pectin include aloe vera, biosorbent, banana peel, corn starch, albedo watermelon, nutmeg, pumpkin, and dragon fruit skin. The properties of pectin are generally determined by its yield, equivalent weight, methoxyl content, galacturonic acid content, and degree of esterification. The two most common methods used to extract pectin are chemical and mechanical. Typically, chemical processes use solvents and mechanical techniques to combine liquid and solid components.
Sifat Fisikokimia dan Fungsional Tepung Nanopartikel Kulit Biji Kakao (Theobroma cacao L.) Dari Kategori Mutu Edel dan Bulk Terfermentasi Djali, Mohamad; Mooira, Lumongga; Indiarto, Rossi; Subroto, Edy; Fetriyuna, Fetriyuna; Utama, Gemilang Lara; Lembong, Elazmanawati
Teknotan: Jurnal Industri Teknologi Pertanian Vol 20, No 1 (2026): TEKNOTAN, April 2026
Publisher : Fakultas Teknologi Industri Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jt.vol20n1.7

Abstract

Kulit biji kakao merupakan hasil samping agroindustri yang belum dimanfaatkan secara optimal, padahal mengandung senyawa bioaktif penting seperti polifenol (katekin, epikatekin, antosianin, tannin), alkaloid (theobromine dan kafein), serat pangan, protein, serta mineral esensial yang berpotensi tinggi untuk dikembangkan sebagai bahan pangan fungsional. Melalui teknologi nano, kulit biji kakao dapat dimodifikasi menjadi nanopartikel sehingga memiliki sifat fisikokimia, fungsional, dan amilografi yang lebih sesuai dengan kebutuhan industri pangan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi sifat fungsional, amilografi, dan fisikokimia nanopartikel kulit biji kakao terfermentasi dari kategori mutu edel, bulk, serta campuran keduanya. Penelitian dilakukan secara eksperimental dengan pendekatan deskriptif menggunakan tiga jenis sampel dan dua ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan kategori mutu tidak memberikan pengaruh signifikan terhadap sifat fungsional, amilografi, dan fisikokimia. Namun, kategori mutu edel memiliki nilai kelarutan (41,27%), swelling volume (96 mL/g), dan daya serap air (3,05 g/g) tertinggi. Hal ini diduga terkait dengan kadar serat dan amilosa yang lebih tinggi serta kadar lemak yang lebih rendah. Secara umum, ketiga sampel menunjukkan profil viskositas rendah yang menandakan kemampuan pengembangan terbatas, namun memiliki kapasitas penyerapan air yang tinggi. Temuan ini mengindikasikan bahwa kulit biji kakao, khususnya kategori edel, berpotensi dikembangkan sebagai bahan pangan fungsional dalam bentuk nanopartikel yang aplikatif untuk industri.