Claim Missing Document
Check
Articles

Degradasi Zat Warna Malachite Green Secara Ozonolisis Dengan Penambahan Katalis TiO2-anatase dan ZnO Bhayu Gita Bhernama
Elkawnie Vol. 3 No. 1 (2017)
Publisher : Faculty of Science and Technology Universitas Islam Negeri Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/ekw.v3i1.535

Abstract

Degradation of malachite green has been done. In this research, degradation process of malachite green was done by ozonolisis method, using TiO2- anatase and ZnO catalyst. The residu of malachite green was centrifuged and measured by spectroscopy UV / Vis at 200-800 nm after degradation. 6 mg / L malachite green diozonolisis for 5 minutes obtained pH optimum at pH 7. 6 mg / L malachite green was added 0.025 mg TiO2-anatase catalyst, and 0.025 mg ZnO at pH 7 with a variation time obtained optimum time of 5 minutes. Percent degradation of malachite green is generated by the addition of 0.0250 grams of TiO2-anatase 99.77% and 0.0250 grams of ZnO 93.59%. Percent of the results showed that the degradation of degradation with the addition of TiO2-anatase is greater than the addition of ZnO, because of the stability of TiO2- anatase is large.
Study of Hazard Analysis Critical Control Point (HACCP) On Unlabeled Soft Drink Products Sold By Street Traders in Banda Aceh Bhayu Gita Bhernama
Elkawnie Vol. 3 No. 2 (2017)
Publisher : Faculty of Science and Technology Universitas Islam Negeri Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/ekw.v3i2.2097

Abstract

Peredaran minuman ringan tak berlabel yang dijual oleh pedagang kaki lima dalam proses produksi masih diragukan keamanannya sehingga menimbulkan keresahan pada masyarakat. Oleh karena itu, perlu pengetahuan tentang food safety knowladge and practice. Untuk meningkatkan kualitas dan keamanan produk dibutuhkan penerapan HACCP. HACCP menggunakan Panduan Penyusunan Rencana HACCP yang direkomendasikan oleh Standar Nasional Indonesia. Hasil HACCP menunjukan bahwa yang ditetapkan sebagai CCP adalah proses perebusan air mineral, penambahan pewarna/sirup/bubuk pop ice dan pengemasan. Penerapan HACCP yang sesuai akan meningkatkan kualitas dan keamanan produk minuman ringan tak berlabel yang dijual pedagang kaki lima.
Analysis of CO2 Transfer in a Siphon-Mediated Bioreactor and Its Impact on the Fermentation Dynamics and Nutrient Profile of Sargassum-Based Biostimulants Nurhayati, Nurhayati; Bhernama, Bhayu Gita; Bellia, Santi; Asmara , Anjar Purba
Elkawnie Vol. 12 No. 2 (2026): Article In Press
Publisher : Faculty of Science and Technology Universitas Islam Negeri Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/ekw.v12i2.34357

Abstract

Abstract: Controlling gaseous byproducts such as CO2 during fermentation is crucial for optimising microbial activity and product consistency in biostimulant production. This study evaluates CO2 transfer dynamics in a siphon-mediated dual-tank fermentation system and its impact on pH regulation and Sargassum liquid fertiliser (SLF) nutrient composition. Two siphon diameters (1.5 cm and 0.5 cm denoted as I and II, respectively) were tested over 21 days, and a revised generation-limited physical model was developed to describe gas transport under low-pressure conditions. Cumulative CO2 transfer reached 250 ± 12 g (siphon I) and 205 ± 10 g (siphon II) (p < 0.01), with average volumetric flow rates of 7.8 × 10-5 and 6.3 × 10-5 L s-1, respectively. Estimated headspace pressures (18–35 Pa) confirmed laminar, near-atmospheric operation, indicating that gas transfer was biologically limited rather than hydraulically constrained. Increased CO2 transfer significantly reduced pH in the receiving tank (ΔpH up to −1.8; p < 0.01), demonstrating strong coupling between gas dissolution and acidification. Temperature (32–33 oC) and relative humidity (87–92%) showed moderate correlations with CO2 production (R2 = 0.65–0.76), suggesting environmentally modulated fermentation kinetics. Higher CO2 transfer enhanced total nitrogen content in SLF (up to 2.25 ± 0.14%; R2 = 0.92), while phosphorus and potassium exhibited nonlinear responses. Overall, the system functions as a biologically driven, low-pressure gas redistribution model, where the siphon diameter acts as a secondary parameter for optimising nutrient transformation, which can be applied to enhance the productivity of organic fertiliser industries.  Abstrak: Kontrol terhadap hasil samping gas CO2 selama fermentasi sangat penting untuk mengoptimalkan aktivitas mikroba dan konsistensi produk dalam produksi biostimulan. Studi ini mengevaluasi transfer CO2 dalam sistem fermentasi tangki ganda yang dihubungkan oleh sifon dan dampaknya terhadap pengaturan pH dan komposisi nutrisi pupuk cair (SLF). Dua diameter sifon (1,5 cm dan 0,5 cm, atau sifon I dan II) diuji selama 21 hari, dan model fisik terbatas generasi yang direvisi dikembangkan untuk menggambarkan transportasi gas dalam kondisi tekanan rendah. Transfer CO2 kumulatif mencapai 250 ± 12 g (sifon I) dan 205 ± 10 g (sifon II) (p < 0,01), dengan laju aliran volumetrik rata-rata masing-masing 7,8 × 10-5 dan 6,3 × 10-5 L s-1. Estimasi tekanan ujung (18–35 Pa) mengonfirmasi operasi laminar, mendekati atmosfer, menunjukkan bahwa transfer gas dibatasi secara biologis dan bukan secara hidraulik. Peningkatan transfer CO2 secara signifikan mengurangi pH di tangki penerima (ΔpH hingga −1,8; p < 0,01), menunjukkan keterkaitan yang kuat antara pelarutan gas dan pengasaman. Suhu (32–33 oC) dan kelembapan relatif (87–92%) menunjukkan korelasi sedang dengan produksi CO2 (R2 = 0,65–0,76), menunjukkan kinetika fermentasi yang dimodulasi oleh lingkungan. Transfer CO2 yang lebih tinggi meningkatkan kandungan N total dalam SLF (hingga 2,25 ± 0,14%; R2 = 0,92), sementara P dan K menunjukkan respons nonlinier. Secara keseluruhan, sistem ini berfungsi sebagai model redistribusi gas bertekanan rendah yang digerakkan secara biologis, di mana diameter sifon bertindak sebagai parameter sekunder untuk mengoptimalkan transformasi nutrisi sehingga meningkatkan produksi SLF di skala industri.