Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : MEDIA MEDIKA INDONESIANA

Penilaian Fungsi Pribadi dan Sosial Sebelum dan Sesudah Mendapat Pengobatan pada Penderita Gangguan Jiwa Korban Pemasungan Alifiati Fitrikasari; Titis Hediati
MEDIA MEDIKA INDONESIANA 2011:MMI Volume 45 Issue 1 Year 2011
Publisher : MEDIA MEDIKA INDONESIANA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACTAssessment of personal and social function in shackled mentally disorders patients before and after treatmentBackground: The deprivation of people suspected of suffering from psychiatric disorders is an act contrary to human rights. Action deprivation is a common practice in developing countries, including Indonesia. The absence of regulations, low levels of education, lack of understanding of the symptoms of psychiatric disorders, as well as economic limitations are factors determining the emergence of shackled events. The objective of this study is to know the differences in the level of personal ability and social function in persons being deprived of their life before and after treatment at the Mental Hospital (RSJ).Method: The study was an observational study conducted in Pekalongan, Pati, Jepara, Salatiga, and Blora, Central Java, which aimed to find out the level of social and personal values in patients with mental disorders being deprived. The method used was done to 27 shackled cases with the scale of the personal and social performance (PSP scale).Results: There were 21 men (77.7%) and 6 women (22.3%), and almost all were diagnosed as schizophrenia. All of them are from poor families. The period of restraint ranged from 8 months to 27 years. Based on PSP scale, 19 cases (70.4%) had a low value and as many as 8 cases (29.6%) were categorized as having better value. There was improvement in PSP scale of every case after being treated.Conclusion: Medical treatment improve the value of the PSP. Thus deprivation, bedside inhumane is also depriving mentally ill persons for having better quality of life.Keywords: Shackled, stocks, schizophrenia, PSP scaleABSTRAKLatar belakang: Pemasungan terhadap orang yang diduga mengidap gangguan kejiwaan merupakan tindakan yang bertentangan dengan HAM. Tindakan pemasungan merupakan gejala yang umum ditemukan di negara berkembang, termasuk di Indonesia. Ketiadaan aturan hukum, rendahnya tingkat pendidikan, keterbatasan pemahaman terhadap gejala gangguan kejiwaan, serta keterbatasan ekonomi merupakan faktor yang mendeterminasi munculnya kejadian pasung. Penelitian ini merupakan studi observasi awal yang dilaksanakan di Kabupaten Pekalongan, Pati, Jepara, Salatiga, Rembang, dan Blora Jawa Tengah yang bertujuan untuk mengetahui tingkat kemampuan nilai sosial dan pribadi pada penderita gangguan jiwa yang mengalami pemasungan. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui perbedaan tingkat kemampuan fungsi pribadi dan sosial pada penderita jiwa yang mengalami pemasungan sebelum dan setelah dirawat di rumah sakit jiwa (RSJ) pada penderita yang dipasung dalamwilayah Provinsi Jawa Tengah.Metode: Metode yang digunakan adalah pemeriksaan fungsi pribadi dan sosial yang dilakukan terhadap 27 orang penderitagangguan jiwa yang di pasung dengan skala personal and social performance (PSP). Data disajikan secara deskriptif dan uji beda pada skala PSP sebelum dan sesudah pengobatan.Hasil: Didapatkan 21 pria (77,7%) dan 6 wanita (22,3%) dan hampir semua terdiagnosis sebagai skizofrenia. Semuanya berasal dari keluarga miskin. Masa pengekangan berkisar dari 8 bulan sampai 27 tahun. Didapatkan sebanyak 19 kasus (70,4%) yang mempunyai nilai PSP yang buruk dan sebanyak 8 kasus (29,6%) yang mempunyai nilai PSP sedang. Didapatkan perbedaan yang bermakna pada nilai PSP saat pasung dan setelah dirawat di RSJ.Simpulan: Pengobatan dapat memperbaiki nilai PSP, dengan demikian pemasungan selain merendahkan martabat manusia, menghilangkan kesempatan penderita gangguan jiwa untuk memiliki kualitas hidup yang lebih baik.
Kejadian Pasung di Jawa Tengah Alifiati Fitrikasari
MEDIA MEDIKA INDONESIANA 2010:MMI VOLUME 44 ISSUE 3 YEAR 2010
Publisher : MEDIA MEDIKA INDONESIANA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (179.608 KB)

Abstract

Shackelled/stocked psychiatric cases in Central JavaBackground: Stocks deprivation to person with mental disorder is against human rights, but is stll commonly practiced in developing countries including Indonesia. There is not yet a study on this issue in Central Java. The study aimed to describe the characteristic of stocks deprivation subjects, socio cultural condition of the community.Method: A qualitative ethnographic study with a cross sectional design was carried in Kabupaten Pati, Pekalongan, Jepara, Rembang, Salatiga and Blora. In depth interview was done by a psychiatrist using unstructured questenaire. Result of the interview are presented in a descriptive and narrative explaination.Results: Twenty seven stocks deprivation cases were found, consisted of 21 males and 6 females and most of them were diagnosed as schizophrenics, but some families to consider the subject because of ill spirit. Reasons prevent the deprivation of the subjects berserk, lost or become public scorn around, especially young children. All of them were from economically deprived families. Duration of deprivation was between 8 months to 28 years. Ways of deprivation was mostly chained or tied and put away from main house. As the initiator of most stocks are families on the grounds as family and community efforts in maintaining social order (for not disturbing the environment) within the limitation of economics and education.Conclusion: Stocks deprivation is mainly an ignorancy economic and cultural issues with ignorancy on mental health management being worsened by poverty as the main factor. Solution and prevention on this issue should be a mental health promotion at primary health care service level.ABSTRAKLatar belakang: Pemasungan terhadap orang yang mengidap gangguan kejiwaan merupakan tindakan yang bertentangan dengan HAM, tetapi masih umum ditemukan di negara berkembang, termasuk di Indonesia. Belum ada penelitian mengenai masalah ini di Jawa Tengah. Studi bertujuan untuk mengetahui karakteristik subyek pasung dan memahami budaya pasung yang hidup dalam masyarakat dan untuk menemukan solusi terhadap praktek pemasungan.Metode: Dilaksanakan studi kualitatif etnografi dengan pendekatan belah lintang, di kabupaten Pati, Pekalongan, Jepara, Rembang, Salatiga dan Blora. Data diperoleh dengan interview mendalam dan di analisis secara diskriptif naratif.Hasil: Didapatkan 27 kasus pasung, terdiri dari 21 pria dan 6 wanita, dan hampir semua terdiagnosis sebagai skizofrenia, tetapi sebagian keluarga menganggap sakit subyek karena kesambet makhluk halus. Alasan pemasungan mencegah subyek mengamuk, hilang, menjadi cemooh masyarakat sekitar terutama anak-anak kecil. Seluruh subyek penelitian berasal dari masyarakat miskin. Masa pemasungan berkisar antara 8 bulan sampai 28 tahun. Metode pasung terbanyak dengan diikat tali maupun rantai dan ditempatkan di ruang yang terpisah dengan rumah utama. Sebagai inisiator pasung terbanyak adalah keluarga dengan alasan sebagai upaya masyarakat dan keluarga dalam menjaga tertib sosial (tidak mengganggu lingkungan) dalam keterbatasan ekonomi (kemiskinan) dan pendidikan.Simpulan: Pasung merupakan masalah ketidaktahuan, dan ekonomi budaya masyarakat di mana faktor yang paling berpengaruh adalah ketidaktahuan masyarakat tentang penanganan gangguan jiwa yang diperberat oleh faktor ekonomi yang kurang. Pemecahan atau pencegahannya memerlukan pendekatan program promosi kesehatan jiwa di tingkat pelayanan kesehatan primer.