Asmini Budiani
Unknown Affiliation

Published : 47 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Isolasi dan mikroenkapsulasi vitamin E dari crude palm oil sebagai sumber antioksidan bahan pangan Isolation and microencapsulation of vitamin E from crude palm oil as source of food antioxidant Irma KRESNAWATY; Asmini BUDIANI; . TRI-PANJI; . SUHARYANTO
E-Journal Menara Perkebunan Vol 80, No 2: Desember 2012
Publisher : INDONESIAN RESEARCH INSTITUTE FOR BIOTECHNOLOGY AND BIOINDUSTRY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (268.43 KB) | DOI: 10.22302/iribb.jur.mp.v80i2.38

Abstract

AbstractIn order to increase  value added  and  to support downstream industry of  palm oil, minor components of the oil such as β-carotene and vitamin E should be utilized. Vitamin E is a high value  vitamin  that could be used as material for pharmaceutical and  neutraceutical products. Technological constraints encountered in the utilization of  vitamin E from CPO are lack of optimal extraction and purification method as well as the way to stabilize of the product. The research was conducted to find optimal extraction and purification method of vitamin E from CPO and microencapsulation method of vitamin E as pharmaceutical and neutraceutical product. The research showed that vitamin E could be recovered  from CPO by several steps process including saponification using NaOH, separation of unsaponificated  solution,  followed by dissolution using 2-propanol in hexane and extraction  using methanol. Raw extract of vitamin E was then purified by coloumn chromatography with stationary phase of silica gel and mobile phase (eluent) of petroleum benzene/ diethyl ether/acetic acid 70 : 30 : 0,2. Purified vitamin E could be collected as fraction 4-8. Vitamin E obtained  had  similar antioxidant activity as in pure vitamin E (Sigma) and vitamin C. Microencapsulation method could be conducted using arabic gum as coating material followed by spray drying and resulted IC50-DPPH value 132.55  ppm which considered middle activity category.AbstrakUntuk meningkatkan nilai tambah dan mengem-bangkan industri hilir minyak kelapa sawit (CPO), komponen minor minyak tersebut seperti vitamin E dan β-karoten perlu dimanfaatkan. Vitamin E merupakan produk bernilai ekonomis tinggi sebagai bahan farmaseutikal dan neutrasetikal. Kendala yang dihadapi dalam pemanfaatan vitamin E dari CPO, yaitu belum tersedianya teknik ekstraksi dan purifikasi yang optimal dan cara memper-tahankan stabilitas vitamin E. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh teknik ekstraksi dan purifikasi vitamin E dari CPO dan teknik mikroenkapsulasi vitamin E sebagai bahan farmaseutikal dan neutrasetikal.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa vitamin E dapat diproduksi dengan beberapa tahapan yakni saponifikasi dengan NaOH, pemisahan lapisan pekat tak tersabunkan, pelarutan dengan2-propanol dalam heksana, ekstraksi dengan metanol dan pelarutan ekstrak dengan 2-propanol dalam heksana. Ekstrak kasar vitamin E dimurnikan dengan kromatografi kolom dengan fasa diam silika gel dan fasa gerak petroleum benzen/dietil eter/asam asetat = 70 : 30 : 0,2. Vitamin E dapat dimurnikan pada fraksi ke-4 sampai dengan ke-8. Aktivitas antioksidan vitamin E hasil ekstraksi tersebut setara dengan vitamin E murni (Sigma). Teknik mikroenkapsulasi vitamin E hasil ekstraksi dari CPO dapat dilakukan dengan penyalut gum arab dan pengeringan dengan spray dryer  yang menghasilkan anti-oksidan dengan aktivitas IC50 DPPH = 132,55 ppm yang termasuk kategori beraktivitas sedang.
Transformasi kopi robusta (Coffea canephora) dengan gen kitinase melalui Agrobagterium tumefaciens LBA4404 Transformation of robusta coffee (Coffea canephora) with chitinase gene mediated by Agrobacterium tumefaciens LBA4404 . SISWANTO; Fetrina OKTAVIA; Asmini BUDIANI; . , SUDARSONO; . PRIYONO; Surip MAWARDI
E-Journal Menara Perkebunan Vol 71, No 2: Desember 2003
Publisher : INDONESIAN RESEARCH INSTITUTE FOR BIOTECHNOLOGY AND BIOINDUSTRY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1075.003 KB) | DOI: 10.22302/iribb.jur.mp.v71i2.162

Abstract

SummaryGenetic engineering of robusta coffee forresistance to pathogenic fungi is considered to beone of the potential approaches to overcome theproblem at robusta coffee plantation caused bypathogenic fungi. This research was aimed tointroduce chitinase (CHI) gene into embryogeniccalli of robusta coffee and regenerate theplantlets. Embryogenic calli were co-cultivatedwith Agrobacterium tumefaciens LBA4404harboring pCAMBIA1301 which containschitinase gene under 35S promoter. In thisresearch four concentrations (0, 50, 100 and150 mg/L) of acetosyringone (AC) were used inthe co-cultivation medium. Selection fortransformed calli was conducted by graduallyincreasing the concentration of hygromicin from5 to 25 mg/L. Somatic embryo (SE) was inducedfrom callus on the medium containing acombination of BAP 5 mg/L and IAA (0, 0.25 or0.50 mg/L). Integration CHI in plant genome wasexamined by GUS assay and PCR. The resultrevealed that among the four AC concentrationstested, 100 mg/L gave the highest percentage ofcalli growing on the selection medium (42.5%).BAP concentration of 5 mg/L alone was the mosteffective for inducing of SE from transformedcalli with the highest percentage of 43.1% andaverage number SE of 8.8 ± 3. The strongestGUS expression on the calli at 3 days aftertransformation and the calli grown on selectionmedium containing 150 mg/L AC, which were56.5% and 40% respectivelly. PCR analysisshowed that 7 out of 12 plantlets tested,contained CHI gene. From this research 28transgenic plantlets of robusta coffee wereobtainedRingkasanRekayasa genetika untuk merakit tanamankopi robusta tahan jamur pathogen dipandangmerupakan salah satu pendekatan alternatif yangpotensial untuk mengatasi masalah padaperkebunan kopi robusta akibat serangan jamurpatogen. Penelitian ini bertujuan untuk meng-introduksikan gen kitinase (CHI) ke dalam kalusembriogenik kopi robusta dan regenerasinyamenjadi planlet, sebagai upaya untuk merakittanaman kopi robusta tahan serangan jamur.Kalus embriogenik diko-kultivasi denganAgrobacterium tumefaciens LBA4404 pembawapCAMBIA1301 yang mengandung gen kitinasedi bawah kontrol promotor 35S. Pada percobaanini, empat konsentrasi asetosiringon (AS) (0, 50,100 dan 150 mg/L) digunakan dalam medium ko-kultivasi. Seleksi kalus hasil transformasidilakukan dengan peningkatan konsentrasi higro-misin secara bertahap dari 5 mg/L sampai25 mg/L. ES diinduksi dari kalus pada mediumyang mengandung BAP 5 mg/L dan IAA (0; 0,25dan 0,50 mg/L). Integrasi gen CHI ke dalamgenom tanaman dianalisis melalui uji GUS danPCR. Hasil penelitian menunjukkan bahwa darikeempat konsentrasi AS yang diuji, AS 100 mg/Lternyata menghasilkan persentase tertinggi kalusyang tumbuh pada medium seleksi (42,5%).Konsentrasi BAP 5 mg/L tanpa penambahan IAAefektif menginduksi ES dari kalus hasiltransformasi dengan persentase tertinggi 43,1%dan rata-rata jumlah ES 8,8±3. Ekspresi GUStertinggi dideteksi pada kalus tiga hari setelahtransformasi dan kalus yang tumbuh di mediumseleksi yang mengandung AS 150 mg/L,masing-masing 56,5% dan 40,0 %. Analisis PCRmenunjukkan bahwa 7 planlet dari 12 planletyang diuji, membawa gen CHI. Dari penelitianini dihasilkan 28 planlet kopi robusta transgenik.
Karakterisasi gen penyandi lipase dari kapang Rhizopus oryzae dan Absidia corymbifera Characterization of gene encoding lipase from fungus Rhizopus oryzae and Absidia corymbifera Riza A PUTRANTO; Djoko SANTOSO; . TRI-PANJI; . SUHARYANTO; Asmini BUDIANI
E-Journal Menara Perkebunan Vol 74, No 1: Juni 2006
Publisher : INDONESIAN RESEARCH INSTITUTE FOR BIOTECHNOLOGY AND BIOINDUSTRY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (471.091 KB) | DOI: 10.22302/iribb.jur.mp.v74i1.118

Abstract

SummaryLipase is a group of enzymes which catalyze fat hydrolysis. Lipase is recently used to produce diacylglycerol (DAG) from triacylglycerol (TAG). Lipase  can be used to produce healthy oil. Having a rich biodiversity, Indonesia has the opportunity to produce lipase using indigenous microbes, such as molds. This research aimed to detect  LIPASE  gene on several strains of molds employing PCR technique. Genomic DNAs were isolated from four strains of molds (M. sitophila, R. oryzae, R. microsporus, and A. corymbifera). Heterologous primers for LIPASE  were designed based on the conserved region of 12 LIPASE  sequences accessed from GenBank and used to amplify the genomic DNA resulted in a 466 bp fragmen. BLAST analysis showed that the bands of DNAs have high homology with common lipase protein in several strains of  Rhizopus.Ringkasan Lipase merupakan kelompok enzim yang berfungsi sebagai biokatalis hidrolisis lemak. Lipase banyak digunakan untuk konversi triasilgliserol (TAG) menjadi diasilgliserol (DAG). Penggunaan lipase penting untuk produksi minyak sehat (healthy oil). Indonesia dengan keanekaragaman hayati tinggi berpeluang besar   mengembangkan   produksi   lipase   dari mikroba lokal, salah satunya adalah kapang. Deteksi gen merupakan langkah awal dalam upaya peningkatan produksi lipase melalui rekayasa genetika. DNA genomik empat galur kapang (M. sitophila, R. oryzae, R. microsporus, dan A. corymbifera) telah berhasil diisolasi. Sepasang primer heterologous telah berhasil dirancang berdasarkan daerah terkonservasi 12 sekuen gen LIPASE dari GenBank. Amplikon DNA yang diperoleh pada PCR menggunakan pasangan primer RLP memiliki panjang 466 bp. Analisis BLAST memperlihatkan bahwa amplikon PCR memiliki homologi yang tinggi dengan protein LIPASE  beberapa galur Rhizopus. 
Mikropropagasi planlet tebu menggunakan sistem perendaman sesaat (SPS) Micropropagation of sugarcane plantlets using temporary immersion system (TIS) Hayati MINARSIH; Imron RIYADI; . SUMARYONO; Asmini BUDIANI
E-Journal Menara Perkebunan Vol 81, No 1: Juni 2013
Publisher : INDONESIAN RESEARCH INSTITUTE FOR BIOTECHNOLOGY AND BIOINDUSTRY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (448.502 KB) | DOI: 10.22302/iribb.jur.mp.v81i1.53

Abstract

bstractTo achieve Indonesian sugar self-sufficiency in2014, the national production needs to be escalatedthrough land extensification that requires a largenumbers of cane planting materials. This can be achievedby mass propagation of sugarcane through in vitroculture. Solid medium is commonly used for callusproliferation in sugarcane tissue culture. However, solidmedium is considered inefficient in terms of plantletproduction level, labour and space. The use of liquidmedium may solve the problem by allowing automationto increase plantlet production scale and uniformity.Temporary immersion system (TIS) is based on a shortperiodic immersion of explants in a liquid medium for aspecific frequency and duration. Research on in vitromass propagation of sugarcane using TIS was conductedat the Indonesian Biotechnology Research Institute forEstate Crops. Callus initiated from immature unfoldedleaves of PSJT 941 and PS 881 was cultured on liquidMS medium in TIS with different frequencies (12 and24 h) and durations (1 and 3 min) of immersion. Eachtreatment was replicated three times. The callus biomassof two elite cane varieties (PSJT 941 and PS 881)cultured in TIS for six weeks was higher (2 – 4 times fold)than that of on solid medium. The PSJT 941 varietyreached the highest calli biomass with immersion forthree min every 24 h. However, PS 881 variety reachedits highest biomass with immersion for one minute every24 h. The propagation of sugarcane using TIS culturewas proven to produce higher calli biomass up to fourfolds and to form more numbers and uniform shootscompared to the solid medium culture. The callus wassuccesfully regenerated to shoots and plantlets.AbstrakUntuk mencapai swasembada gula, perlu dilakukanpeningkatan produksi gula nasional melalui perluasanareal pertanaman tebu sehingga diperlukan bibit dalamjumlah besar. Hal tersebut dapat diatasi antara laindengan perbanyakan tebu melalui kultur in vitro. Peng-gunaan medium padat pada perbanyakan kalus tebumelalui kultur in vitro merupakan teknik yang umumdigunakan saat ini. Akan tetapi penggunaan mediumpadat dianggap kurang efisien dalam hal jumlah planletyang diproduksi, tenaga kerja dan ruang digunakan.Penggunaan medium cair dapat mengatasi kelemahantersebut dengan dimungkinkannya otomatisasi sehinggadapat meningkatkan skala produksi secara massal dankeseragaman planlet. Sistem perendaman sesaat (SPS)merupakan teknik kultur in vitro dalam medium cairmenggunakan bejana bersekat dimana kontak antaraeksplan dan medium terjadi hanya secara sesaat danperiodik. Penelitian perbanyakan massal bibit tebumelalui SPS dilakukan di Balai Penelitian BioteknologiPerkebunan Indonesia. Kalus diinisiasi dari daun meng-gulung varietas PSJT 941 dan PS 881 yang ditumbuhkanpada media MS cair dalam kultur SPS dengan frekuensiyang berbeda (12 dan 24 jam) dan lama perendaman (1dan 3 menit). Setiap perlakuan diulang tiga kali. Bobotbasah (biomassa) kalus dari dua varietas tebu (PSJT 941dan PS 881) yang ditumbuhkan dengan metode SPSsetelah enam minggu menunjukkan pening-katan yanglebih tinggi yaitu antara 2 - 4 kali lipat dibandingkandengan kontrol (media padat). Peningkatan biomassatertinggi pada varietas PSJT 941 diperoleh pada per-lakuan SPS dengan interval perendaman 24 jam dan lamaperendaman tiga menit. Sedangkan pada PS 881,peningkatan tertinggi biomassa diperoleh pada intervalperendaman 24 jam dan lama perendaman satu menit.Perbanyakan dengan metode SPS terbukti dapat mening-katkan biomassa kalus lebih dari empat kali lipat danpembentukan tunas yang lebih seragam dibandingkandengan pada media padat. Kalus yang dihasilkan dapatdiregenerasikan menjadi tunas dan planlet.
Evaluasi 18 primer SSR untuk pengembangan sidikjari DNA tanaman karet (Hevea brasiliensis Muell. Arg.) Evaluation of 18 SSR primers to develop DNA fingerprint of rubber tree (Hevea brasiliensis Muell. Arg.) Asmini BUDIANI; Sekar WOELAN; Hayati MINARSIH; . NUHAIMI-HARIS; Riza Arief PUTRANTO
Menara Perkebunan Vol. 82 No. 2: 82 (2), 2014
Publisher : INDONESIAN OIL PALM RESEARCH INSTITUTE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22302/iribb.jur.mp.v82i2.23

Abstract

Abstract Breeding program of rubber tree to produce elite clones is hampered by the length of selection cycles. On the other hand, attempts to increase production by extensification of the plantation area is also facing a problem from the availability of the rootstock, causing the occurence of fake clones without any information of their origin. Therefore, the availability of molecular markers to be used as DNA fingerprint of rubber tree clones is needed. This will help the breeder to shorten the length of selection program and to identify the purity of the clone. This research was aimed to evaluate 18 SSR primer pairs that had been published to identify 17 rubber clones. Pure genomic DNAs were isolated from 17 clones, followed by experiment to optimize annealing tempe-rature for each primer to obtain the best amplification product. Initially, the PCR product was run in both the agarose and polyacrylamide gels. However, the analysis of all PCR products were then conducted on SDS polyacrylamide gel, since this gel can separate DNA fragments with only a few bases differences. The results showed that 14 clones have been identified specifically using 11 primers. Four out of 18 primer pairs used could identify 12 rubber tree clones, which are PR 107, PR 261, SP 217, PB 330, PB 340, IRR 5, IRR 112, IRR 118, IRR 220, GT 1, BPM 101 and RRIM 712. Each clone can be distinguished from each other using only one primer pair. Identification of the other tree clones (PB 5/51, PB 260, and RRIC 110) has to be conducted by combining the several PCR products using different primer pairs. Although these results showed that SSR markers had high potential to be used as DNA fingerprint on rubber tree clones, the set of the primer pairs should be tested among other clones, as well as other SSR primers should be tested to identify the clones which could not be identified using the 18 primer pairs in this experiment.Abstrak Pemuliaan tanaman karet untuk menghasilkan klon-klon unggul baru menghadapi masalah lamanya siklus seleksi. Di sisi lain, upaya peningkatan produksi melalui pembukaan lahan baru, juga terkendala oleh ketersediaan bibit, yang memicu beredarnya bibit palsu, yang umumnya tidak jelas asal usulnya. Oleh karena itu, diperlukan ketersediaan marka yang dapat digunakan sebagai sidikjari DNA bagi klon-klon tanaman karet yang ada, sehingga dapat membantu mempercepat proses seleksi dan mengetahui kemurnian bibit. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi 18 primer SSR yang telah dipublikasikan untuk mengidentifikasi 17 klon karet. DNA yang murni diisolasi dari 17 klon, kemudian dilakukan optimasi suhu annealing untuk setiap jenis primer agar diperoleh hasil amplifikasi terbaik.  Pada awal percobaan hasil PCR dicek pada gel agarosa dan gel poliakrilamida, namun analisis untuk seluruh hasil PCR dilakukan pada gel SDS poliakrilamid, karena gel ini secara nyata dapat memisahkan fragmen DNA yang hanya berbeda beberapa basa. Hasil percobaan menunjukkan bahwa 14 klon dapat diidentifikasi secara spesifik menggunakan 11 primer. Empat dari 18 pasang primer yang diuji dapat mengidentifikasi 12 klon yang dianalisis, yaitu PR 107, PR 261, SP 217, PB 330, PB 340,. IRR 5, IRR 112, IRR 118, IRR 220, GT 1, BPM 101 dan RRIM 712. Masing-maing klon tersebut dapat dibedakan dari klon lainnya hanya dengan menggunakan satu jenis primer. Sedangkan identifikasi tiga klon lainnya (PB 5/51, PB 260, dan RRIC110) harus dilakukan dengan menggabungkan hasil PCR menggunakan beberapa primer. Meskipun hasil percobaan ini menunjukkan bahwa marka SSR sangat berpotensi untuk digunakan sebagai sidikjari DNA klon-klon karet, namun primer yang sama perlu diuji untuk klon-klon lainnya. Demikian pula primer lain perlu diuji untuk mengidentifikasi klon-klon yang belum teridentifikasi menggunakan 18 primer dalam penelitian ini.
Ekspresi gen penyandi ACCase subunit biotin karboksilase dari mesokarp buah kelapa sawit pada Escherichia coli Expression of gene encoding ACCase subunit biotin carboxylase from oil palm fruit mesocarp in Escherichia coli Asmini BUDIANI
Menara Perkebunan Vol. 82 No. 1: 82 (1), 2014
Publisher : INDONESIAN OIL PALM RESEARCH INSTITUTE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22302/iribb.jur.mp.v82i1.29

Abstract

Abstract Production of palm oil could be increased, one of which is by increasing oil content in the mesocarp of oil palm. This might be done by increasing the activity of key enzymes of the oil biosynthesis pathway in the oil palm mesocarp. Acetyl-CoA carboxylase has been reported as the enzyme that plays important role in oil accumulation in the oil palm mesocarp. Gene encoding one subunit of ACCase, biotin carboxylase (BC) had been isolated from oil palm mesocarp and cloned in E. coli. This reseach was aimed to examine the expression of the cloned BC gene in the E. coli. The cloned cDNA encoding BC was reisolated from recom-binant E. coli by PCR using spesific primers. The PCR products were verified in the agarose gel, and then ligated to pTrcHis-TOPO expression vector. The ligation product, recombinant vector pTrcHis-TOPO/BC, was introduced into E. coli XL1-Blue. Recombinant colonies grew in the selection media were analyzed using PCR to confirm the existent of the target DNA.  The colonies, which have been confirmed to contain target DNA were then subcultured in the LB media, for extraction of total protein. The protein extract was then analyzed quantitatively by Lowry method, and qualitatively by electrophoresis on SDS polyacrylamide gel. The result showed that recombinant plasmid pTrcHis-TOPO/BC has been successfully inserted into E. coli XL-1 Blue. SDS-PAGE analysis of the extracted protein showed that recombinant E. coli produced specific protein with MW of about 43 kDa, much higher compared with that of untransformed E. coli. This results demonstrate that  the cloned BC was strongly expressed in E. coli Abastrak Produksi minyak sawit dapat ditingkatkan, salah satu-nya dengan meningkatkan rendemen minyak. Hal ini dapat dilakukan dengan cara  meningkatkan aktivitas enzim kunci biosintesis minyak pada mesokarp buah sawit. Acetyl-CoA carboxylase telah dilaporkan merupakan enzim yang berperan penting dalam akumulasi minyak pada mesokarp kelapa sawit. Pada penelitian sebelumnya, gen penyandi salah satu subunit ACCase, yaitu biotin carboxylase (BC), telah diisolasi dari jaringan mesokarp kelapa sawit dan diklon pada E.coli. Tujuan penelitian ini adalah untuk menguji ekspresi gen tersebut pada E. coli. cDNA penyandi BC diisolasi kembali dari E. coli rekombinan dengan PCR menggunakan pasangan primer spesifik. Hasil isolasi diveri-fikasi pada gel agarose, kemudian diligasikan dengan vektor ekspresi  pTrcHis-TOPO.  Vektor  rekombinan (pTrcHis-TOPO/BC) hasil ligasi diintroduksikan ke dalam E. coli XL1-Blue. Koloni rekombinan yang tumbuh pada media seleksi dianalisis menggunakan PCR untuk mengkonfirmasi ada tidaknya sisipan DNA target. Koloni yang  terbukti mengandung sisipan DNA target dikulturkan pada media LB kemudian protein total diekstrak dari kultur E. coli dan dianalisis dengan elektroforesis SDS-PAGE. Hasil PCR koloni menunjukkan bahwa transformasi E. Coli XL-1 Blue menggunakan konstruk vektor rekombinan pTrcHis-TOPO/ BC berhasil baik. Analisis SDS-PAGE dari ekstrak protein menunjukkan bahwa E. coli rekombinan menghasilkan protein dengan berat molekul sekitar 43 kDa yang inten-sitasnya jauh lebih tinggi dibandingkan dengan protein yang sama yang dihasilkan oleh E. coli  yang tidak ditrans-formasi. Hal ini membuktikan bahwa gen penyandi BC dalam vektor pTrcHis-TOPO dapat diekspresikan dengan kuat pada   E. coli.
Isolasi dan mikroenkapsulasi vitamin E dari crude palm oil sebagai sumber antioksidan bahan pangan Isolation and microencapsulation of vitamin E from crude palm oil as source of food antioxidant Irma KRESNAWATY; Asmini BUDIANI; . TRI-PANJI; . SUHARYANTO
Menara Perkebunan Vol. 80 No. 2: 80 (2), 2012
Publisher : INDONESIAN OIL PALM RESEARCH INSTITUTE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22302/iribb.jur.mp.v80i2.38

Abstract

AbstractIn order to increase  value added  and  to support downstream industry of  palm oil, minor components of the oil such as β-carotene and vitamin E should be utilized. Vitamin E is a high value  vitamin  that could be used as material for pharmaceutical and  neutraceutical products. Technological constraints encountered in the utilization of  vitamin E from CPO are lack of optimal extraction and purification method as well as the way to stabilize of the product. The research was conducted to find optimal extraction and purification method of vitamin E from CPO and microencapsulation method of vitamin E as pharmaceutical and neutraceutical product. The research showed that vitamin E could be recovered  from CPO by several steps process including saponification using NaOH, separation of unsaponificated  solution,  followed by dissolution using 2-propanol in hexane and extraction  using methanol. Raw extract of vitamin E was then purified by coloumn chromatography with stationary phase of silica gel and mobile phase (eluent) of petroleum benzene/ diethyl ether/acetic acid 70 : 30 : 0,2. Purified vitamin E could be collected as fraction 4-8. Vitamin E obtained  had  similar antioxidant activity as in pure vitamin E (Sigma) and vitamin C. Microencapsulation method could be conducted using arabic gum as coating material followed by spray drying and resulted IC50-DPPH value 132.55  ppm which considered middle activity category.AbstrakUntuk meningkatkan nilai tambah dan mengem-bangkan industri hilir minyak kelapa sawit (CPO), komponen minor minyak tersebut seperti vitamin E dan β-karoten perlu dimanfaatkan. Vitamin E merupakan produk bernilai ekonomis tinggi sebagai bahan farmaseutikal dan neutrasetikal. Kendala yang dihadapi dalam pemanfaatan vitamin E dari CPO, yaitu belum tersedianya teknik ekstraksi dan purifikasi yang optimal dan cara memper-tahankan stabilitas vitamin E. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh teknik ekstraksi dan purifikasi vitamin E dari CPO dan teknik mikroenkapsulasi vitamin E sebagai bahan farmaseutikal dan neutrasetikal.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa vitamin E dapat diproduksi dengan beberapa tahapan yakni saponifikasi dengan NaOH, pemisahan lapisan pekat tak tersabunkan, pelarutan dengan2-propanol dalam heksana, ekstraksi dengan metanol dan pelarutan ekstrak dengan 2-propanol dalam heksana. Ekstrak kasar vitamin E dimurnikan dengan kromatografi kolom dengan fasa diam silika gel dan fasa gerak petroleum benzen/dietil eter/asam asetat = 70 : 30 : 0,2. Vitamin E dapat dimurnikan pada fraksi ke-4 sampai dengan ke-8. Aktivitas antioksidan vitamin E hasil ekstraksi tersebut setara dengan vitamin E murni (Sigma). Teknik mikroenkapsulasi vitamin E hasil ekstraksi dari CPO dapat dilakukan dengan penyalut gum arab dan pengeringan dengan spray dryer  yang menghasilkan anti-oksidan dengan aktivitas IC50 DPPH = 132,55 ppm yang termasuk kategori beraktivitas sedang.
Aktivitas antibakteri ekstrak kulit buah kakao (Theobroma cacao L.) terhadap Escherichia coli, Bacillus subtilis, dan Staphylococcus aureus Agustin Sri MULYATNI; Asmini BUDIANI; Darmono TANIWIRYONO
Menara Perkebunan Vol. 80 No. 2: 80 (2), 2012
Publisher : INDONESIAN OIL PALM RESEARCH INSTITUTE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22302/iribb.jur.mp.v80i2.39

Abstract

AbstractCocoa (Theobroma cacao L.), one of the most important export commodities from Indonesia, is widely planted with current total area of 1.6 million Ha, producing 500.000 metric tons of dry bean  in 2011 . At the time of harvest, instead of seed approximately the same volume cacao husk is produced. The aim of the study was to assess the potential of cocoa husk extract as an antibacterial against Escherichia coli, Bacillus subtilis, and Staphylococcus aureus, and to determine the minimum inhibitory concentration (MIC) of cocoa husk extract to the three test bacteria. Extraction of cocoa husk conducted by maceration method using ethanol 96%. Analysis of antibacterial activity was done by paper disc diffusion method. Completely Randomized Design of single factor presentage that is extract concentration of 0; 1; 2; 4; 8; 16; 32; and 64% (g/mL) with three replicans were applied.The results showed that the extract of cocoa pod husk has antibacterial activity against S. aureus, B. subtilis, and E. coli with the MIC are 8% (g/ mL), 16% (g/ mL), and 32% (g/ mL) respectively.AbstrakKakao (Theobroma cacao L.), salah satu komoditi ekspor terpenting Indonesia, ditanam secara luas dengan total luasan 1,6 juta Ha, menghasilkan 500.000 ton biji kering pada tahun 2011. Di samping biji sebagai hasil utama, pada saat panen juga dihasilkan kulit buah dengan volume yang hampir sama dengan biji. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji potensi ekstrak kulit buah kakao sebagai antibakteri terhadap Escherichia coli, Bacillus subtilis, dan Staphylococcus aureusserta menentukan konsentrasi hambat minimum (KHM) ekstrak kulit buah kakao terhadap ketiga bakteri uji. Ekstraksi kulit buah kakao dilakukan dengan metode Maserasi menggunakan pelarut etanol 96%. Analisis aktivitas antibakteri dilakukan dengan metode difusi cakram  kertas. Penelitian  ini  menggunakan  Rancangan Acak  Lengkap (RAL) dengan faktor tunggal  konsen-trasi ekstrak, yaitu 0; 1; 2; 4; 8; 16; 32; dan 64% (g/mL), masing-masing dengan tiga kali ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak kulit buah kakao berpotensi sebagai antibakteri terhadap S. aureus, B. subtilis dan  E. coli, dengan KHM berturut-turut adalah 8% (g/mL), 16% (g/mL), dan 32% (g/mL).
Kloning cDNA lengkap penyandi ACCase subunit biotin carboxylase dari mesokarp kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.) Cloning of full length cDNA encoding ACCase subunit biotin carboxylase from mesocarp of oil palm (Elaeis guineensis Jacq.) Asmini BUDIANI; Antonius SUWANTO; Hajrial ASWIDINNOO; Djoko SANTOSO; Basil J NIKOLAU
Menara Perkebunan Vol. 81 No. 2: 81 (2), 2013
Publisher : INDONESIAN OIL PALM RESEARCH INSTITUTE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22302/iribb.jur.mp.v81i2.43

Abstract

AbstractAcetyl-CoA Carboxylase (ACCase) is considered to beone of the key enzymes in palm oil biosynthesis. Availabilityof genes encoding this enzyme would give some advantagesin the molecular breeding of oil palm. Over expression ofthe genes in the oil palm mesocarp might increase the oilproduction in this tissue. On the other hand, downregulating of ACCase could divert the central metaboliteAcetyl-CoA to other product such as PHB (Polyhydroxy-butyrate), one of the known biodegradable plastic. Thispaper reported the work of cloning of the full length codingsequence of biotin carboxylase (BC), one subunit of theACCase. Based on the DNA sequence of the BC conservedregion that had cloned previously, primers pairs weredesigned to amplify 5’- and 3’- cDNA ends of BC usingRACE-PCR. The RACE products of 5’- and 3’- cDNA endsof BC were cloned into E.coli, and the DNAs weresequenced and analysed. The full cDNA of BC was obtainedby reisolation of the cloned 5’- and 3’- cDNA ends followedby digestion using KpnI, ligation into pGEM-T vector andcloning into E.coli. Colony PCR was carried out to confirmthat the target gene has been cloned. The recombinantplasmid containing full cDNA of BC was then isolated forDNA sequencing. The results showed that the 5’-BC (1367bp), 3’- BC (1032 bp), and the full length cDNA encodingBC (2182 bp) had been successfully cloned, and the DNAsequence had been confirmed as gene encoding ACCasesubunit biotin carboxylase.AbstrakAcetyl-CoA Carboxylase (ACCase) merupakan salahsatu enzim kunci dalam biosintesis minyak sawit. Keter-sediaan gen penyandi enzim ini sangat berguna dalampemuliaan kelapa sawit secara molekuler. Over-ekspresi genpenyandi ACCase pada mesokarp dapat meningkatkan pro-duksi minyak pada jaringan tersebut. Sebaliknya ekspresiACCase dapat ditekan melalui mekanisme down regulation sehingga metabolit central Acetyl-CoA dapat diarahkanuntuk menghasilkan produk lain seperti PHB (polyhydro-xybutyrate), salah satu jenis biodegradable plastik yangtelah banyak dikenal. Penelitian ini bertujuan untukmengklon cDNA lengkap penyandi ACCase subunit biotincarboxylase (BC) dari mesokarp kelapa sawit. Berdasarkansekuen DNA daerah konservatif BC yang telah diklon darimesokarp kelapa sawit pada penelitian sebelumnya, duapasang primer dirancang untuk mengamplifikasi daerahujung 5’- dan 3’- cDNA BC dengan RACE-PCR. Produk5’-RACE dan 3’-RACE diklon dan disekuen. cDNAlengkap penyandi BC diperoleh dengan jalan mengisolasikembali fragmen 5’- dan 3’- cDNA terklon, dilanjutkandengan digesti menggunakan enzim restriksi KpnI, ligasikedua fragmen ke vektor kloning pGEM-T, dan introduksike dalam E. coli. Setelah dilakukan PCR koloni untukmenguji keberhasilan kloning, plasmid rekombinan yangmengandung cDNA lengkap dari BC diisolasi untuk analisissekuen DNA. Dari penelitian ini fragmen cDNA 5’-BC(1367 pb) dan 3’- BC (1032 pb), serta cDNA lengkappenyandi BC berukuran 2182 pb telah diperoleh dan diklondalam E. coli. Analisis sekuen DNA mengkonfirmasi bahwacDNA terklon adalah benar gen penyandi ACCase subunitbiotin carboxylase.
Dinamika populasi Trichoderma harzianum DT38 pada campuran arang hayati tandan kosong kelapa sawit (TKKS) dan gambut Population dinamic of Trichoderma harzianum DT38 on mixture of empty fruit bunches of oil palm (EFBOP) biochar and peat Irma KRESNAWATY; Sayhas SUHADA; Asmini BUDIANI; T W DARMONO
Menara Perkebunan Vol. 80 No. 1: 80 (1), 2012
Publisher : INDONESIAN OIL PALM RESEARCH INSTITUTE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22302/iribb.jur.mp.v80i1.45

Abstract

Abstract Biochar offers option for managing land as a source  of carbon and soil conditioner. The ability of biochar in  increasing soil  fertility associates with its ability to retain water, reduce soil acidity, and keep the availability of essential nutrients for plant thus increasing crop produc-tivity, and reducing the risk of soil erosion. Biochar is also substance to provide a  suitable environment for the growth of beneficial microbes, including an isolate of  Trichoderma harzianum used in this study, that has been proven capable in stimulating plant growth and suppressing soil borne diseases. The purpose of this research was to determine the in vitro compatibility of T. harzianum DT38, Indonesia Biotech-nology Research Institute for Estate Crop (IBRIEC) collection, in mixtures of  EFBPO biochar and peat during 28 days. This research was performed in completely randomized design with single factor, comprising of five formulas: 1) 100% EFBOP biochar (K1), 2) 100% peat (K2), 3) Mixture of EFBOP biochar and peat = 1 : 4 (F1), 4) Mixture of EFBOP biochar and peat=  1 : 8 (F2), dan 5) Mixture of EFBOP biochar and peat=  1 : 12 (F3). The colony forming units were determined after storage to express the amount of fungal propaguls in each mixture. The results was analized using one-way ANOVA test and Duncan Test. Result showed that the total of  T. harzianum DT38 propaguls was not significantly difference among five mixture preparations tested during 0 and 7 days storage. The total propaguls were insignificantly difference between F1 and K2, and also between  F2 and F3in 14, 21 and 28 days incubation. Peat addition on biochar increased the total of  T. harzianum DT38 propaguls during 28 days incubation. The total propaguls which are remain high in F1, F2 and F3 formula up to 28 days storage indicating that the mixtures suitable for microbe media and biofertilizer formula.Abstrak Penggunaan arang hayati (biochar) merupakan alternatif pengelolaan tanah terutama sebagai penyedia karbon dan pembenah tanah.  Kemampuan biochar dalam meningkatkan kesuburan tanah berhubungan dengan kemampuannya untuk menahan air, mengurangi keasaman tanah, menjaga keter-sediaan nutrien yang penting bagi tanaman sehingga mening-katkan  produktivitas  tanaman, serta mengurangi resiko erosi  tanah. Arang hayati  juga berperan dalam menyediakan ling-kungan yang   cocok   untuk   pertumbuhan   mikroba,  ter-masuk isolat Trichoderma harzianum yang digunakan dalam penelitian ini dan teruji mampu meningkatkan pertumbuhan tanaman dan mengendalikan penyakit tular tanah. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui kompatibilitas T. harzianum DT38 koleksi BPBPI pada bahan pembawa berupa campuran biochar tandan kosong kelapa sawit (TKKS) dan gambut selama penyimpanan 28 hari secara in vitro. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) untuk menguji lima perlakuan, yaitu : 1) 100% biochar TKKS (K1), 2) 100% gambut (K2), 3) Campuran biochar TKKS dan gambut 1 : 4 (F1), 4) Campuran biochar TKKS dan gambut 1 : 8 (F2), dan 5) Campuran biochar TKKS dan gambut 1 : 12 (F3). Hasil pengamatan pada penyimpanan 0 dan 7 hari menunjukkan bahwa jumlah propagul T. harzianum DT38 dari berbagai formula tidak berbeda nyata.  Jumlah propagul antara formula F1 dan K2, serta F2 dan F3 tidak berbeda nyata pada penyim-panan 14, 21 dan 28 hari.  Penambahan gambut pada biochar TKKS dapat meningkatkan jumlah propagul T. harzianum DT 38 selama penyimpanan 28 hari secara in vitro.  Jumlah propagul T. harzianum DT38 pada media F1, F2 dan F3 selama penyimpanan 28 hari masih memenuhi jumlah minimal propagul dalam bahan pembawa yang menunjukkan bahwa media ini sesuai untuk pertumbuhan mikroba dan berpotensi sebagai formula pupuk hayati.