Claim Missing Document
Check
Articles

Found 25 Documents
Search

Stress management to reduce prisoner stress levels (Community service training in class I Tanjung Gusta prison, Medan) Siregar, Rodiatul Hasanah; Hasnida; Raras Sutatminingsih; Saragih, Juliana Irmayanti; Lubis, Arliza Juariani
ABDIMAS TALENTA: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 4 No. 2 (2019): ABDIMAS TALENTA: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Talenta Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (308.466 KB) | DOI: 10.32734/abdimastalenta.v4i2.4090

Abstract

Penitentiary (prison) is a place where prisoners' room is limited and they are isolated from the community. Prison conditions in Indonesia that are overcapacity now are also conditions that are not ideal for the lives of prisoners. The room must be filled with many people, simple and less varied food, and strict prison rules are stressors that cause prisoners to experience stress. Sarafino (2011) defines stress as a condition where transactions between individuals and the environment lead to a perceived gap between the physical or psychological demands of a situation with the resources of one's biological, psychological, and social systems. The condition of prisoners who experience stress causes them to get angry easily and even behave aggressively which makes the prison atmosphere more uncomfortable. Therefore prisoners need to be helped to manage their stress through Stress Management Training. Stress Management Training given to male prisoners in class I Tanjung Gusta Medan shows the results that stress management techniques taught and applied by prisoners in daily life can reduce the level of stress they experience. Furthermore, by applying stress management techniques routinely, they are expected to be able to manage their stress better so they can live comfortably while serving their sentences in prison.
Quarterlife Crisis in Batak Women Entering the Emerging Adulthood Period: and What is the Role of Self-Concept and Social Support in It? Aryani, Dwi Septi; Sutatminingsih, Raras; Fauzia, Rahma
Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 12, No 4 (2023): Volume 12, Issue 4, December 2023
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/psikostudia.v12i4.12601

Abstract

Quarterlife crisis is a phenomenon that makes an individual confused about how to live their life in the future. Confused about fulfilling his developmental duties. A quarterlife crisis can cause a variety of stresses and anxieties including worries about career achievements, financial opportunities, increased competition between members of a group, the rise of psychological issues, and fear of relationships. This causes stress, anxiety, and even depression. There are feelings of anxiety, pessimism, low self-esteem, helplessness. This study aims to determine the influence of self-concept on quarterlife crisis moderated by social support for Batak women entering the emerging adulthood. This research used the quantitative method. This study involved 272 Batak women entering the emerging adulthood. The measuring instruments used in this research are quarterlife crisis, self-concept, and social support scale. Data in this research were analyzed using simple regression analysis and moderated regression analysis methods. The result show that self-concept has a negative and significant effect on the quarterlife crisis among Batak women entering the emerging adulthood the value is -572 with significant .000. This means that higher the self-concept, than lowest the quarterlife crisis among Batak women entering the emerging adulthood. The second result is social support moderated the effect of self-concept on the quarterlife crisis the significant is .047. This means that social support strengthens or weakens the influence of self-concept on quarterlife crisis.Quarterlife crisis adalah fenomena yang membuat seorang individu mengalami kebingungan untuk menjalani kehidupannya ke depan. Bingung untuk memenuhi tugas perkembangannya. Adanya tekanan dan kecemasan meliputi peluang finansial, kebimbangan atas pencapaian karier, meningkatnya persaingan antar anggota dalam suatu kelompok, maraknya isu-isu psikologi, serta ketakutan menjalin hubungan merupakan dampak yang akan dirasakan pada saat seorang individu mengalami quarterlife crisis. Hal ini menimbulkan respons stres, cemas, bahkan depresi. Pada saat mengalami quarterlife crisis akan muncul perasaan gelisah, pesimis, rendah diri dan tak berdaya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh konsep diri terhadap quarterlife crisis dimoderasi oleh dukungan sosial pada wanita suku Batak yang menginjak masa emerging adulthood. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif. Penelitian ini melibatkan 272 wanita suku Batak yang menginjak masa emerging adulthood. Skala quarterlife crisis, konsep diri dan dukungan sosial merupakan alat ukur yang digunakan pada penelitian ini. Data dalam penelitian ini dianalisis dengan menggunakan regresi sederhana dan regresi moderasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsep diri berpengaruh negatif dan signifikan terhadap quarterlife crisis pada wanita suku Batak yang menginjak masa emerging adulthood nilainya adalah -572 dengan signifikansi .000. Ini berarti semakin tinggi konsep diri maka semakin rendah quarterlife crisis pada wanita suku Batak yang menginjak masa emerging adulthood. Hasil kedua adalah dukungan sosial memoderasi pengaruh konsep diri terhadap quarterlife crisis dengan nilai signifikansi .047 Artinya dukungan sosial memperkuat atau memperlemah pengaruh konsep diri terhadap quarterlife crisis. 
The Role of Gratitude in the Resilience of Mothers Who Have Children with Autism Spectrum Disorders Daulay, Dira Anisah Ulfah; Sutatminingsih, Raras; Siregar, Ade Rahmawati
Jurnal Obsesi : Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini Vol. 8 No. 6 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/obsesi.v8i6.6446

Abstract

The resilience of mothers who have children with autism spectrum disorders in Indonesia has not been studied quantitatively. It is important to study because it is linked to the variable gratitude for resilience in mothers who have children with autism spectrum disorders. This research was carried out in the city of Medan in places that have mothers of children with autism spectrum disorders, such as special schools (SLB), both public and private, therapy places, or paediatrician clinics. In this research, the sampling technique used was non-probability sampling. Gratitude plays a positive and significant role in resilience in mothers who have children with autism spectrum disorders. Most research subjects had a high sense of gratitude and resilience, totalling 47 people. Subjects who had high feelings of gratitude with moderate resilience were 42, subjects who had moderate feelings of gratitude and moderate resilience were eight people, subjects who had moderate gratitude with low resilience were four people, subjects who had moderate gratitude with high resilience were two people, and subjects who had high gratitude with low resilience were one person.
Resilience in Adversity: Studi Deskriptif Resiliensi pada Individu Emerging Adulthood dengan Pengalaman Adverse Childhood Experiences Afifah Aminova; Raras Sutatminingsih; Josetta M.R. Tuapattinaja
Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Vol. 4 No. 2 (2025): Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Volume 4 Nomor 2 (October 202
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jerkin.v4i2.3719

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan tingkat resiliensi pada individu emerging adulthood yang memiliki pengalaman Adverse Childhood Experiences (ACEs). Masa emerging adulthood (usia 18–25 tahun) merupakan periode transisi yang rentan terhadap tekanan psikologis, terutama pada individu dengan pengalaman masa kecil yang penuh adversitas. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain deskriptif. Partisipan berjumlah 167 individu berusia 18–25 tahun yang berdomisili di Kota Medan dan memiliki pengalaman ACEs minimal satu kategori. Instrumen yang digunakan meliputi ACE-IQ (WHO) dan Connor–Davidson Resilience Scale (CD-RISC). Analisis data dilakukan menggunakan statistik deskriptif dan tabulasi silang dengan bantuan SPSS versi 25. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki tingkat resiliensi tinggi (63,5%) meskipun mayoritas mengalami empat atau lebih kategori ACEs (64,7%). Uji Chi-square menunjukkan adanya perbedaan distribusi signifikan antara jumlah ACEs dan tingkat resiliensi (p = .001), serta perbedaan berdasarkan jenis kelamin (p = .026), di mana laki-laki memiliki resiliensi lebih tinggi dibandingkan perempuan. Temuan ini menegaskan peran resiliensi sebagai faktor pelindung penting bagi penyintas ACEs di masa emerging adulthood
The Influence of Self-Efficacy Training on Military Prisoners at the Medan Military Penitentiary I Sutatminingsih, Raras; Hasanah Siregar, Rodiatul; Nurmaini, Nurmaini
Jurnal Ilmiah Muqoddimah: Jurnal Ilmu Sosial, Politik dan Hummaniora Vol 9, No 4 (2025): November 2025
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jim.v9i4.2025.2498-2506

Abstract

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan self efficacy narapianda militer di Lembaga Pemasyarakatan Militer I Medan. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat berupa pemberian pelatihan self efficacy dengan metode eksperimental yang menggunakan desain one group pre-test post-test. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa terjadi peningkatan tingkat self efficacy pada narapianda Lemasmil I Medan dalam kategori rendah menurun dari 20% (4 orang) menjadi 0% (0 orang), dalam kategori seandg menurun dari 70% (14 orang) menjadi 30% (6 orang), and kategori tinggi meningkat dari 10% (2 orang) menjadi 70% (14 orang)