Claim Missing Document
Check
Articles

Found 22 Documents
Search

Adolescents’ HIV Preventive Behavior: The Roles of HIV Literacy, HIV Sensitivity, AI Openness, and Chatbot Engagement Masruroh, Masruroh; Susanto, Agus; Wijayanti, Heny Noor
Media Publikasi Promosi Kesehatan Indonesia (MPPKI) Vol. 9 No. 3 (2026): March 2026
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/mppki.v9i3.9270

Abstract

Introduction: Adolescents remain vulnerable to HIV due to gaps in knowledge, attitudes, and digital health engagement. Cognitive, attitudinal, and digital factors may influence preventive behaviors, yet their combined effects remain underexplored, particularly as adolescents increasingly interact with AI-driven platforms that shape health information access. Objective: This study aimed to examine the associations of HIV literacy, HIV sensitivity, AI openness, and chatbot choice with HIV preventive behaviors among adolescents. Methods: A cross-sectional study was conducted among 910 senior high school and vocational students in Sleman Regency, Indonesia. Participants completed a validated questionnaire assessing HIV preventive behavior (low vs. high) and four predictors: HIV literacy, chatbot choice, AI openness, and HIV sensitivity. Chi-square tests were used to assess bivariate associations. Multivariate logistic regression identified independent predictors, with odds ratios (ORs) and 95% confidence intervals (CIs) reported. Results: Bivariate analyses showed that higher HIV literacy, greater HIV sensitivity, increased AI openness, and active chatbot choice were significantly associated with high-level HIV preventive behavior (all p < 0.001). Multivariate logistic regression confirmed all variables as significant independent predictors: HIV literacy (OR = 1.18, 95% CI: 1.12–1.24), chatbot choice (OR = 1.10, 95% CI: 1.05–1.16), AI openness (OR = 1.08, 95% CI: 1.02–1.14), and HIV sensitivity (OR = 1.10, 95% CI: 1.04–1.16). The model explained a meaningful proportion of variance in preventive behavior (Nagelkerke R² = 0.234). Conclusion: HIV literacy, HIV sensitivity, and engagement with AI-based digital tools significantly predict adolescents’ HIV preventive behaviors. Interventions that enhance knowledge, strengthen attitudes, and promote informed digital decision-making may reinforce HIV prevention efforts among adolescents.
SOSIALISASI EDUKASI JENIS PELAYANAN ASUHAN KEBIDANAN KOMPLEMENTER GUNA MENINGKATKAN KESEHATAN ANAK Wijayanti, Heny Noor; Setyaningsih, Dewi; Novika, Almira Gitta; Wahyuningsih, Melania; Susanti, Santi; Boka, Yurita; Dila Apriyani N, Dila
Jurnal Pengabdian Dharma Bakti VOL 9, NO 1 (2026): FEBRUARI
Publisher : Universitas Respati Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sekarang ini terapi komplementer telah terbukti dapat mendukung untuk mempermudah dalam masa kehamilan, persalinan, nifas, serta perkembangan bayi baru lahir dan anak-anak menjadi lebih nyaman dan menyenangkan. Yoga prenatal, akupresuare, aromaterapi, yoga anak, baby massage atau pijat bayi dan perawatan kebidanan komplementer lainnya data digunakan untuk ibu dan anak. Namun, banyak masyarakat yang belum mengetahui tentang pelayanan asuhan kebidanan komplementer. komplementer ini dikenal dengan terapi tradisional yang digabungkan dalam pengobatan modern. Dalam rangka meningkatkan kesehatan, diadakannya kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk mengedukasi para ibu tentang berbagai bentuk layanan asuhan kebidanan komplementer untuk anak-anak. Kegiatan ini dilakukan secara langsung di Dusun Pondok Desa Selomartani Kec Kalasan Kab. Sleman Yogyakarta pada bulan Agustus 2024, dimana metode yang digunakan melalui ceramah dan diskusi. Dalam kegiatan edukasi ini yang ikut berpartisipasi ada sebanyak 20 peserta ibu yang mempunyai baduta usia 0-24 bulan, kader posyandu dan ibu dukuh. Dari hasil yang didapatkan bahwa nilai rata-rata meningkat dari 75 pada pre-test menjadi 91 saat post-test menunjukkan kegiatan ini berhasil dan pengetahuan ibu-ibu termasuk dalam kategori pengetahuan yang baik. Para ibu baduta ini sangat antusias dan puas untuk mengikuti kegiatan edukasi tersebut. Dalam kegiatan edukasi ini menjadikan pengetahuan dan pemahaman ibu baduta meningkat tentang jenis pelayanan asuhan kebidanan komplementer pada anak, sehingga diharapakan perlu adanya kontribusi tenaga kesehatan yang dapat menginformasikan tentang kesehatan layanan kebidanan komplementer yang bisa dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari.