Claim Missing Document
Check
Articles

Found 19 Documents
Search

Factors Related to the Low Visit of Posbindu PTM in Sintang Distric Wagiran; Rudiansyah; Ria Damayanti; Sohibun; Aditya Sardi; Novin Yetiani
International Journal of Integrative Sciences Vol. 2 No. 3 (2023): March 2023
Publisher : PT FORMOSA CENDEKIA GLOBAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55927/ijis.v1i4.3515

Abstract

The prevalence of non communicable disease (PTM) on Riskesdas 2018 has increased compared to 2013. The problem of high PTM and its large impact requires efforts to control PTM risk factors with PTM Posbindu activities but The number of PTM Posbindu visits still very low in. The purpose of this study  to determine the factors associated with the low number of community visits in the posbindu PTM. This research is a quantitative research with cross sectional design with a sample of 286 respondents with random sampling technique. The statistical test used the square-test with a 95% CI. The results showed education p-value =0.033, PR =1.313, knowledge p-value =0.010, PR =1.423, attitude p-value = 0.045, PR =1.326, access to health services p value =0.016, PR =1.357 , family support p-value =0.009, PR =1.383, motivation p-value =0.001, PR =1.481 with low PTM Posbindu visits. It is suggested to the government to improve supporting facilities, as well as strengthening health workers and cadres in providing optimal posbindu services
FAKTOR – FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN TINDAKAN PENCEGAHAN PENYAKIT RABIES DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS SEPAUK TAHUN 2022 Wagiran, Wagiran; B. Asnol, Uray; Akhmad, Akhmad; Bilchairi Jakti, Uray; Damayanti, Ria
JURNAL ILMIAH OBSGIN : Jurnal Ilmiah Ilmu Kebidanan & Kandungan P-ISSN : 1979-3340 e-ISSN : 2685-7987 Vol 16 No 2 (2024): JUNI
Publisher : NHM PRESS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36089/job.v16i2.2067

Abstract

Penyakit Rabies merupakan penyakit dengan Case Fatality Rate (CFR) atau angka kematian mencapai 100%. Menurut data dari World Health Organization (WHO) tahun 2018, diperkirakan 55.000 kematian di dunia disebabkan oleh penyakit ini. Berdasarkan laporan tahunan yang dibuat oleh Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Barat, pada tahun 2022 kasus gigitan hewan penular rabies yaitu sebanyak 286 kasus dengan 2 kematian salah satunya di Puskesmas Sepauk. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan tindakan pencegahan penyakit rabies di Puskesmas Sepauk. Penelitian ini merupakan rancangan kuantitatif dengan pendekatan case control. Jumlah sampel sebanyak 120 responden dengan teknik Accidental Sampling. Uji statistik yang digunakan uji-square dengan tingkat kepercayaan 95%. Hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat hubungan yang bermakna pengetahuan p value = 0,022, OR = 2,854, sikap p value = 0,012, OR = 2,954, dukungan tokoh masyarakat p value = 0,022, OR = 2,889, peranan tenaga kesehatan p value = 0,009, OR = 3,029, dan peranan tenaga Kesehatan hewan (p value = 0,011, OR = 3,064 dengan Tindakan pencegahan penyakit Rabies.Disarankan kepada pemerintah agar meningkatkan infomasi/ penyuluhan terkait rabies, melakukan pendataan HPR, serta selalu tersedianya kebutuhan serum anti rabies jika terdapat kasus.
Determinants Of Pulmonary Tuberculosis Incidence In Sintang District B. Asnol, Uray; Yuanita Pratama, Rika; Rudi, Abil; Montessori, Yolanda; Amartani, Rizki; Wagiran, Wagiran
International Journal of Health and Pharmaceutical (IJHP) Vol. 4 No. 4 (2024): November 2024
Publisher : CV. Inara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51601/ijhp.v3i4.253

Abstract

Pulmonary tuberculosis is an infectious disease that is still endemic in society. The research sites were in the villages of Tanjung Ria, Tanjung Hulu and Sungai Raya, Sepauk District, Sintang District, with a total of 78 cases of tuberculosis, consisting of old cases and new cases.The purpose of this study was to determine the factors causing the incidence of pulmonary tuberculosis in the community. This type of research is quantitative with a case control approach method retrospective. The sample in the study for the case group used the total sampling technique and the accidental sampling control group. Analysis using chi square significance level of 0.05. The results showed that there was a relationship between house ventilation and the incidence of pulmonary tuberculosis (OR=4.521), there was a relationship between the humidity of the house and the incidence of pulmonary tuberculosis (OR=4.343), there was a relationship between the floor of the house and the incidence of pulmonary tuberculosis (OR=4.000), there was a relationship between lighting and the incidence of pulmonary tuberculosis (OR=4.169), there is a relationship between house occupancy density and the incidence of pulmonary tuberculosis (OR=4.640), there is a relationship between work and the incidence of pulmonary tuberculosis (TB) (OR=3.571), there is a relationship between income and the incidence of pulmonary tuberculosis (TB) ( OR=9,277). Recommended for Communities in Tanjung Ria, Tanjung Hulu and Sungai Raya Villages, Sepauk District, Sintang District need to maintain compliance with housing sanitation standards and increase their economic level so that they become examples for communities in other villages.
DETERMINAN PENCEGAHAN TUBERKULOSIS (TBC) PADA MASYARAKAT Wagiran, Wagiran; Sardi, Adtya; Akhmad, Akhmad; Brasila, Barliy; Pratama, Yuanita
JURNAL ILMIAH OBSGIN : Jurnal Ilmiah Ilmu Kebidanan & Kandungan P-ISSN : 1979-3340 e-ISSN : 2685-7987 Vol 16 No 4 (2024): DESEMBER
Publisher : NHM PRESS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tuberkulosis disebabkan oleh basil Mycobacterium tuberculosis, yang menyebar ketika orang yang sakit Tuberkulosis mengeluarkan bakteri ke udara; misalnya dengan batuk. Penyakit ini biasanya menyerang paru-paru (TB paru). Menurut data yang diperoleh dari WHO sekitar satu perempat populasi di dunia telah terinfeksi Mycobacterium tuberculosis (WHO, 2020). Tuberkulosis (TB) merupakan penyebab utama dari gangguan kesehatan dan termasuk salah satu dari 10 penyebab utama kematian di seluruh dunia. Indonesia masuk peringkat ke 2 beban TB tinggi yang menyumbang 86% dari semua perkiraan kasus insiden di seluruh dunia setelah India (26%), Indonesia (8,5%) (WHO, 2023). Keberhasilan program penanggulangan penyakit dan pencegahan penularan TB paru ditentukan oleh beberapa factor, baik itu factor internal dan external. Penelitian ini menggunakan pendekatan studi kuantitatif dengan desain cross sectional dengan sampel sebanyak 73 orang. Tenhik sampling yang digunakan adalah Purposive Sampling. Hasil penelitian menunjukkan Ada hubungan antara Pengetahuan (p-value = 0,019), pendidikan (p-value = 0,021), Pendidikan (p-value = 0,028), Status kontak (p-value = 0,508), dukungan keluarga (p-value = 0,001), jarak ke puskesmas (p-value = 0,759) dan peran tenaga kesehatan (p-value = 0,001) dengan tindakan pencegahan tuberkulosis. Faktor yang berhubungan dengan tindakan pencegahan tuberkulosis yaitu Pengetahuan, pendidikan, dukungan keluarga dan peran tenaga kesehatan. Upaya pencegahan penularan TBC harus dilakukan lebih aktif kepada kontak pasien serta dukungan yang positif dari keluarga dan tenaga kesehatan
Penyuluhan dan Simulasi Penggunaan Kondom Pada Lady Companion (LC) untuk Mencegah Infeksi Menular Seksual (IMS) Rika Yuanita Pratama; Wagiran Wagiran; Nensi Nensi
Jurnal Abdimas Indonesia Vol. 4 No. 2 (2024): April-Juni 2024
Publisher : Perkumpulan Dosen Muslim Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53769/jai.v4i2.712

Abstract

Infeksi Menular Seksual sering juga disebut penyakit kelamin merupakan penyakit yang sebagian besar ditularkan melaluihubungan seks atau hubungan kelamin. Kegiatan Penyuluhan dan simulasi penggunaan kondom kepada kelompok berisiko seperti Lady Companion (LC) diharapkan dapat menekan jumlah kasus dan penularan Infeksi Menular Seksual. Hasil yang didapatkan bahwa Lady Companion (LC) dapat menjelaskan kembali cara penggunaan kondom sebelum melakukan hubungan seksual dengan pelanggan untuk mencegah terjadinya Infeksi Menular Seksual Hal ini menunjukkan bahwa dengan adanya Kegiatan penyuluhan dan simulasi ini dapat meningkatkan kesadaran Lady Companion (LC) dalam menggunakan kondom dengan benar saat melakukan hubungan seksual serta dapat memberikanedukasi baik teman/rekan kerja lainnya maupun pelanggan secara langsung tentang pencegahan Infeksi Menular Seksual.
Pelatihan Investigasi Kontak Bagi Relawan Surveilans Sebagai Kader TBC (Tuberkulosis) Di Kecamatan Sintang Wagiran Wagiran; Aditya Sardi; Sohibun Sohibun; Rudiansyah Rudiansyah; Ria Damayanti
Jurnal Abdimas Indonesia Vol. 4 No. 2 (2024): April-Juni 2024
Publisher : Perkumpulan Dosen Muslim Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53769/jai.v4i2.718

Abstract

Peran relawan/kader dalam penanggulangan TBC sangat berperan penting untuk menemukan kasus baru TBC, kegiatan skrining, deteksi maupun investigasi kontak TBC yang dilaksanakan secara mandiri oleh kader. Oleh karena itu Kader perlu dibekali secara khusus tentang cara melakukan investigasi kontak. Investigasi kontak penting dilakukan untuk menemukan sedini mungkin terduga TBC dan mendapatkan pengobatan. Kegiatan pendampingan diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan kader dalam melakukan investigasi kontak sehingga berperan aktif dalam menemukan terduga melalui investigasi kontak. Kegiatan pengabdian ini dilaksanakan selama 2 hari, pelaksanaan dibagi 3 tahap yaitu: (1) tahap perencanaan, (2) tahap pelaksanaan dan (3) tahap evaluasi. Pelaksanaan kegiatan di ikuti oleh 100 peserta yang terdiri dari mahasiswa kesehatan yang berasa; dari 2 kampus di sekitar. Peserta mendapatkan pelatihan tentang investigasi kontak dan melakukan praktek langsung dilapangan yang didampingi oelh tenaga kesehatan dari puskesmas. Setelah pelatihan ini relawan akan melakukan invetsigasi kontak pada penderita TB sesuai dengan wilayah intervensi. Pelakasanan Pelatihan Rewalan Surveylans TBC berjalan dengan lancar dengan target pelatihan yang diberikan kepada relawan mampu untuk menemukan kasus TBC dengan cara mendeteksi secara dini dan sistematis terhadap orang yang kontak dengan sumber infeksi TBC sehingga meningkatkan capaian program.
Analisis Pelaksanaan Peran, Fungsi dan Wewenang Governing Body, dan Direktur di Rumah Sakit Dalam Upaya Peningkatan Manajemen Mutu Rudiansyah, Rudiansyah; Herman, Joni; Wagiran, Wagiran; Sardi, Aditiya; Rudi, Abil; Hasan, Akhmad; Nisa, Nurul Khoirun; Damayanti, Ria; Sohibun, Sohibun
SENTRI: Jurnal Riset Ilmiah Vol. 4 No. 7 (2025): SENTRI : Jurnal Riset Ilmiah, Juli 2025
Publisher : LPPM Institut Pendidikan Nusantara Global

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55681/sentri.v4i7.4198

Abstract

Healthcare services in hospitals involve a high level of complexity, making them prone to conflicts both within and outside the institution. The implementation of quality management still faces numerous obstacles, as evidenced by the lack of staff awareness regarding quality management, frequent conflicts, and unclear coordination, communication, and information pathways. This study aims to analyze the implementation of the roles, functions, and authorities of the governing body and the hospital director in quality management practices. The research design uses a descriptive method with a qualitative approach. The main informants are the governing body and the hospital director, while the triangulation informants include attending physicians, nurses, and the quality team leader. Data were collected through in-depth interviews and analyzed using content analysis. The results show that while the roles and functions of the governing body have been implemented, its authority has not been fully optimized. Likewise, the roles and authority of the director have been carried out, but the functions have not been optimally implemented. The study recommends allocating a budget for off-site training, creating guidelines for documentation and reporting, developing performance evaluation manuals, preparing evaluation checklists, and establishing internal satisfaction assessments.
Type 2 Diabetes Mellitus and Pulmonary Function Impairment Wagiran Wagiran; Barlie Brasila; Aditya Sardi; Sunarti Sunarti; Sohibun Sohibun; Rika Yuanita Pratama; Denny Saptono Fahrurodzi
Jurnal Ners Vol. 9 No. 3 (2025): JULI 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v9i3.44769

Abstract

Diabetes mellitus (DM) is a disease that can lead to complications in other organs, such as the lungs, which typically manifest after three years of DM onset. Mild symptoms often reduce public vigilance. Information and research on this topic are still rare. This study aims to determine the relationship between type 2 DM and pulmonary function disorders in individuals aged 40-65 years. This quantitative study employs a cross-sectional design. A total of 2,414 respondents were randomly selected. Cox regression analysis was used. The proportion of pulmonary function disorders in type 2 DM patients was 48.8%. A significant relationship was found, with a prevalence ratio of 1.99 (1.67-2.37; p=0.000) after controlling for age, sex, and smoking degree. Increasing awareness of pulmonary function testing in type 2 DM patients is an important consideration for preventing further complications
Edukasi kesehatan untuk membangun kesadaran tentang pernikahan dini pada remaja Pratama, Rika Yuanita; Sohibun, Sohibun; Wagiran, Wagiran; Karlia, Lilis
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 12 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v5i12.2444

Abstract

Background: Early marriage among adolescents remains a public health problem in Indonesia due to its impact on reproductive health, maternal and child health, and psychosocial well-being. Adolescents' limited knowledge about the health risks of early marriage contributes to low awareness and attitudes toward delaying marriage. Schools are a strategic setting for implementing health promotion and preventive education for adolescents. Purpose: To increase adolescents' knowledge and awareness about early marriage from a health perspective. Method: This community service activity was conducted at SMA Negeri 4 Sintang on July 22, 2025, and involved 50 high school students as respondents. The activity implemented a community education approach through health counseling activities. Material was delivered through interactive lectures and discussions, accompanied by educational media in the form of visual presentations related to early marriage and adolescent reproductive health. The activity was evaluated using pre-test and post-test questionnaires, analyzed using Wilcoxon Signed Rank to measure changes in students' knowledge and awareness levels before and after the education. The data obtained were analyzed descriptively to illustrate differences in adolescents' knowledge and awareness levels regarding early marriage from a health perspective. Results: The results of the activity showed an increase in student knowledge and awareness after the education. Before the education (pre-test), the majority of students had poor knowledge regarding the health impacts of early marriage, amounting to 22 students (44.0%). After the intervention (post-test), the proportion of students with good knowledge increased to 25 students (50.0%), and the proportion with fair knowledge increased to 20 students (40.0%). This indicates an increase in students' understanding of reproductive health risks and the importance of delaying marriage until physical, psychological, and social readiness is achieved. Conclusion: Community service activities in the form of education on early marriage from a health perspective have proven effective in increasing adolescents' knowledge and awareness of the long-term impacts of early marriage. Suggestion: Education on early marriage from a health perspective needs to be carried out sustainably and integrated into school health promotion activities. Schools are expected to collaborate with health workers in providing comprehensive reproductive health education to students. Keywords: Adolescents; Early marriage Health education; Health promotion; Reproductive health Pendahuluan: Pernikahan dini pada remaja masih menjadi permasalahan kesehatan masyarakat di Indonesia karena berdampak pada kesehatan reproduksi, kesehatan ibu dan anak, serta kesejahteraan psikososial. Rendahnya pengetahuan remaja mengenai risiko kesehatan pernikahan dini berkontribusi terhadap rendahnya kesadaran dan sikap dalam menunda usia pernikahan. Sekolah merupakan setting strategis dalam pelaksanaan promosi kesehatan dan edukasi preventif bagi remaja. Tujuan: Untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran remaja mengenai pernikahan dini dalam perspektif kesehatan. Metode: Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan di SMA Negeri 4 Sintang pada tanggal 22 Juli 2025 dan melibatkan 50 siswa/siswi SMA untuk menjadi responden. Pelaksanaan kegiatan menggunakan pendekatan pendidikan masyarakat (community education) melalui kegiatan penyuluhan kesehatan. Materi disampaikan melalui ceramah interaktif dan diskusi, disertai media edukatif berupa presentasi visual yang berkaitan dengan pernikahan dini dan kesehatan reproduksi remaja. Evaluasi kegiatan dilakukan menggunakan instrumen kuesioner pre-test dan post-test yang dianalisis dengan Wilcoxon Signed Rank untuk mengukur perubahan tingkat pengetahuan dan kesadaran siswa sebelum dan sesudah diberikan edukasi. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif untuk menggambarkan perbedaan tingkat pengetahuan dan kesadaran remaja terkait pernikahan dini dari perspektif kesehatan. Hasil: Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan dan kesadaran siswa setelah diberikan edukasi. Sebelum penyuluhan (pre-test), mayoritas siswa memiliki tingkat pengetahuan kurang mengenai dampak kesehatan pernikahan dini, yaitu sebanyak 22 siswa/siswi (44.0%). Setelah intervensi (post-test), proporsi siswa dengan tingkat pengetahuan baik meningkat menjadi 25 siswa/siswi (50.0%) dan kategori cukup menjadi sebanyak 20 siswa/siswi (40.0%). Hal ini menunjukkan peningkatan pemahaman siswa mengenai risiko kesehatan reproduksi serta pentingnya menunda pernikahan hingga kesiapan fisik, psikologis, dan sosial. Simpulan: Kegiatan pengabdian kepada masyarakat berupa edukasi pernikahan dini dalam perspektif kesehatan terbukti efektif dalam meningkatkan pengetahuan dan kesadaran remaja terhadap dampak jangka panjang pernikahan dini. Saran: Edukasi pernikahan dini dalam perspektif kesehatan perlu dilakukan secara berkelanjutan dan terintegrasi dalam kegiatan promosi kesehatan sekolah. Pihak sekolah diharapkan dapat bekerja sama dengan tenaga kesehatan dalam memberikan pendidikan kesehatan reproduksi yang komprehensif kepada siswa.