Claim Missing Document
Check
Articles

Found 26 Documents
Search

Burkitt Lymphoma Krisna Murti
Jurnal Kedokteran dan Kesehatan : Publikasi Ilmiah Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya Vol. 2 No. 2 (2015): Jurnal Kedokteran dan Kesehatan : Publikasi Ilmiah Fakultas Kedokteran Universi
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32539/jkk.v2i2.35

Abstract

Burkitt lymphoma merupakan keganasan limfosit B yang agresif. Diagnosa tepat BL memerlukan kelengkapan sarana laboratorium yang lengkap, karena morfologi BL dapat menyerupai limfoma afresif lainnya. Dijumpai tiga varian BL yang tersebar sesuai dengan kondisi geografi. Sel-sel BL membelah dengan cepat sehingga memerlukan pengobatan segera. Regimen intensif dapat membantu remisi pasien BL namun cara ini sering menimbulkan efek toksik yang sulit di toleransi oleh pasien.
The Expression of NFATc1 is more Predominant in Triple Negative Breast Carcinoma Patients Riana Sari Puspita Rasyid; Krisna Murti; Zen Hafy
Jurnal Kedokteran dan Kesehatan : Publikasi Ilmiah Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya Vol. 9 No. 1 (2022): Jurnal Kedokteran dan Kesehatan : Publikasi Ilmiah Fakultas Kedokteran Universi
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32539/jkk.v9i1.193

Abstract

Karsinoma payudara adalah keganasan paling umum pada wanita di negara maju dan berkembang. Karsinoma payudara invasif diklasifikasikan menjadi 4 subtipe yaitu luminal A dan B, human epidermal growth factor receptor 2 (HER2) dan triple negative yang memiliki prognosis terburuk. Nuclear factor of activated T cell (NFATc) 1 merupakan faktor transkripsi penting dalam proses transformasi dan perkembangan keganasan. Oleh karena itu, ekspresi NFATc1 dapat menentukan prognosis karsinoma payudara. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran NFATc1 pada progresivitas karsinoma payudara. Bahan dan metode, 52 blok parafin dipilih dan disiapkan untuk menilai ekspresi NFATc1 dengan imunohistokimia. Data ini diambil dari rekam medis: yaitu klasifikasi molekuler, usia pasien, ukuran tumor, invasi limfovaskular dan grade tumor. Ekspresi NFATc1 positif diamati pada 4 sampel yaitu pada inti luminal A (1 dari 12; 8,8%), luminal B (1 dari 15; 6,7%), dan triple negative (2 dari 12; 16,7%), tetapi tidak ada ekspresi NFATc1 yang terdeteksi dalam sampel HER2. Secara klinis, pasien ini lebih banyak pada usia dekade kelima (38,5%), dengan ukuran tumor lebih besar (≥2 cm; 90%), invasi limfovaskular positif (80,8%), dan derajat tinggi (3; 59,6%). Ekspresi NFATc1 lebih dominan pada karsinoma payudara triple negative.
LANGERHANS CELLS HISTIOCYTOSIS Krisna Murti; Maria Ulfa
Jurnal Kedokteran dan Kesehatan : Publikasi Ilmiah Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya Vol. 10 No. 1 (2023): Jurnal Kedokteran dan Kesehatan : Publikasi Ilmiah Fakultas Kedokteran Univers
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32539/jkk.v10i1.337

Abstract

Langerhans cell histiocytosis (LCH) merupakan salah satu penyakit terbanyak dari histiositosis dengan 2,0–5,4 kasus/100 juta populasi diseluruh dunia usia<15 tahun dan jarang terjadi pada dewasa. Penyakit ini bermanifestasi sebagai spektrum klinik dengan gejala bervariasi mulai dari ringan, tersebar diseluruh tubuh, bahkan bisa mengancam nyawa penderitanya. Klinisi dan ahli patologi dapat mengenali manifestasi klinis dan gambaran mikroskopik LCH, sehingga dapat menegakkan diagnosis LCH secara akurat. Diagnosis akurat bermanfaat untuk penatalaksaan yang adekuat bagi pasien. Metode yang digunakan adalah literature review. Data diperoleh dari buku dan artikel internasional hasil penelitian dan pemikiran para peneliti dan praktisi. Pasien LCH distratifikasi dalam kategori resiko berdasarkan keberlanjutan penyakit dan berat ringannya disfungsi organ; yaitu pasien dengan single-system disease, biasanya hanya memerlukan terapi lokal atau observasi saja. Pasien dengan multy-system disease yaitu penyakit yang lebih berat yang juga melibatkan multi organ membutuhkan terapi sistemik. Efek jangka panjang banyak terjadi pada pasien dengan keterlibatan multy-system disease dan pasien dengan reaktivasi penyakit beberapa kali. Efek jangka panjang yang dilaporkan yang tersering adalah diabetes insipidus dan orthopedic abnormalities (20%). Gambaran mikroskopik sel-sel tumor LCH berupa sel-sel bentuk oval, berinti satu dengan bentuk inti berlobus seperti biji kopi atau bentuk ginjal atau groove dan sitoplasma eosinofilik mengandung Birbeck granules yang dapat dideteksi dengan marker anti- CD1a dan Langerin (CD207). LCH dapat di diagnosis secara akurat dengan mengenali gambaran klinis dan gambaran mikroskopik. Penderita dapat ditangani secara tepat dan adekuat, sehingga mengurangi morbiditas, mortalitas dan komplikasi.
The association of serum 25-hydroxyvitamin D and Alzheimer’s Disease: a meta-analysis Siti Sarahdeaz Fazzaura Putri; Irfannuddin Irfannuddin; Krisna Murti; Yudianita Kesuma; Noriyuki Koibuchi
Jurnal Aisyah : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol 8, No 2: June 2023
Publisher : Universitas Aisyah Pringsewu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (738.923 KB) | DOI: 10.30604/jika.v8i2.1769

Abstract

Serum 25-hydroxyvitamin D deficiency has been suggested as a promising prognostic factor for dementia. Meta-analysis published revealed statistically significant differences of 25-hydroxyvitamin D levels in patients with Alzheimer's disease (AD) but other studies have been published since then.The purpose of present study was to quantify the association of serum 25-hydroxyvitamin D and AD. Literature search was performed from inception up to November 22 using Pubmed database. Based on the pooled analysis, patients with Alzheimer’s disease tend to have a vitamin D deficiency relative to patients with normal cognitive function. These results strongly support the involvement of vitamin D as a critical disease-modifying variable in the reduction of AD symptoms.
Relationship between Plasma Cell Density and Clinico-histopathological Characteristics of DLBCL Nyimas Chodijah; Krisna Murti; Riana Sari Puspita Rasyid
Sriwijaya Journal of Medicine Vol. 4 No. 2 (2021): Vol 4, No 2, 2021
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32539/sjm.v4i2.105

Abstract

Diffuse Large B Cell Lymphoma (DLBCL) is a malignancy derived from the malignant transformation of B cells from the germinal center. This type of non-Hodgkin's lymphoma is the most common and represents about 30-40% of all cases. The tumor microenvironment of B-cell lymphoma plays an important role in the regulation of tumor cell survival and proliferation. Plasma cells in the tumor microenvironment have an important role in the formation of the anti-tumor immune response, even in low numbers, these cells can produce large amounts of cytokines and antibodies. The purpose of this study was to determine the relationship between plasma cell density and clinico-histopathological characteristics of DLBCL patients. A cross-sectional study was conducted. The samples of this study were paraffin blocks of DLBCL patients referred to Anatomic Pathology Departement Faculty of Medicine Universitas Sriwijaya/RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang. From 50 cases during the 2018-2020 period, 32 samples were selected. Plasma cells were morphologically identified on HE slides. Statistical analysis was performed using the chi-square test. The distribution of DLBCL cases found more in the age group <60 years (56,3%), male gender (68,8%), extranodal tumor location (56,3%). Centroblastic variants were higher (78,1%) than others, and the non-GCB subtype (78,1%) was higher than the GCB. There is no significant relationship between plasma cell density and the clinico-histopathological characteristics of DLBCL age, sex, tumor location, variant, and subtype.
Hubungan Antara Ekspresi Reseptor Estrogen, Progesteron dan Ki67 dengan Karakteristik Klinikopatologi pada Karsinoma Payudara Subtipe Luminal A Adrina Esther Liaw; Wresnindyatsih Wresnindyatsih; Sri Nita; Krisna Murti; Budi Santoso
Sriwijaya Journal of Medicine Vol. 4 No. 3 (2021): Vol 4, No 3, 2021
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32539/SJM.v4i3.139

Abstract

Karsinoma payudara subtipe luminal A adalah ER positif dan atau PR positif, Her-2 negatif, dan Ki67 <20% dan merupakan subtipe yang sering dijumpai dengan prognosis yang lebih baik dibandingkan dengan subtipe lain. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan karakteristik klinikopatologi dengan status ER dan PR pada karsinoma payudara subtipe luminal A di Laboratorium Patologi Anatomi RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang. Jenis penelitian ini berupa observational analitik dengan desain penelitian cross-sectional teknik purposive sampling. Populasi dari penelitian ini adalah semua pasien yang terdiagnosis karsinoma payudara di RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang dengan sampel penelitian berupa wanita yang terdiagnosis karsinoma payudara subtipe luminal A. Berdasarkan karakteristik klinikopatologi, karsinoma payudara subtype luminal A banyak ditemukan pada kelompok usia 41-50 tahun (34.7%), berada dalam stadium III (75.3%) dan jenis histologi yang banyak ditemukan berupa karsinoma invasif NST (77.3%), sering ditemukan pasien dengan derajat histopatologi grade III (53.3%) dan banyak pasien ditemukan mempunyai metastasis limfonodus (41.3%). Pasien karsinoma payudara subtype luminal A lebih dominan memiliki ekspresi ER dan PR positif (92.0% dan 94.7%). Penelitian ini tidak menemukan hubungan yang signifikan antara karakteristik klinikopatologi dengan status ER dan PR pada karsinoma payudara subtipe luminal A. Namun pada ekspresi Ki67, dijumpai terdapat hubungan yang signifikan antara Ki67 dengan derajat histopatologi. Kesimpulan dari penelitian ini adalah status ER dan PR tidak mempunyai hubungan langsung terhadap karakteristik klinikopatologi pada karsinoma payudara subtipe luminal A.