Claim Missing Document
Check
Articles

Found 34 Documents
Search

Sinergitas Guru dalam Mengatasi Perilaku Indisipliner Siswa di MAN 1 Ponorogo Wilis Werdiningsih; Binti Ahlaku Mukaromah
MA'ALIM: Jurnal Pendidikan Islam Vol. 5 No. 1 (2024): MA'ALIM: Jurnal Pendidikan Islam
Publisher : Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21154/maalim.v5i1.9691

Abstract

The purpose of education cannot be separated from the role of a teacher, namely educating, guiding, teaching and training. With synergy between moral belief teachers and guidance and counseling teachers, students can overcome disciplinary behavior. The moral aqidah teacher has the role of providing an understanding of religious values, while the guidance and counseling teacher has the role of providing guidance and counseling services to students. This research aims to analyze the synergy of the moral aqidah teacher and guidance teacher in overcoming student disciplinary behavior at MAN 1 Ponorogo. Data collection was carried out using interviews, observation and documentation techniques. With the data analysis stage using the interactive model analysis technique of Milles, Huberman, and Saldana. Meanwhile, the technique for checking the validity of the data in this study uses triangulation techniques. Based on data analysis, it was found that the synergy between moral aqidah teachers and guidance and counseling teachers was well established, while the form of synergy that existed was establishing communication, coordination and cooperation in developing their respective roles to complement each other. Supporting factors come from the teacher and family environment while inhibiting factors come from the student's personality and friendship environment. With the role of moral belief teachers and guidance and counseling teachers, they can help overcome disciplinary behavior even though it is not yet completely perfect. Because there needs to be role and support from all teachers, staff, and employees at the Madrasah.
The Influence of School Facilities and Social Support on Non-Academic Achievement: The Role of Study Club Extracurricular Mediation And Student Self-Efficacy Wijayanti, Betha; Werdiningsih, Wilis
Pedagogi: Jurnal Ilmu Pendidikan Vol 25 No 2 (2025): Pedagogi: Jurnal Ilmu Pendidikan
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/pedagogi.v25i2.2578

Abstract

The non-academic achievement of students has not been the main focus of the school coaching strategy. Lack of facilities and low social support are considered to hinder student involvement and strengthen self-efficacy. This study aims to explore the role of extracurricular study clubs and self-efficacy as mediators in the influence of school facilities and social support on students' non-academic achievement. The survey method was used to collect data from 82 active students in the extracurricular study club of SMAN 2 Ponorogo through probability sampling techniques. The instrument used was a Likert scale questionnaire 1–4 which included 5 variables and 33 research constructs. Data analysis was carried out using the Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM) approach to test 7 direct influences and 5 indirect influences. The results of the study showed that school facilities and social support had a positive and significant impact on students' non-academic achievement, both directly and indirectly through the mediation of self-efficacy and involvement in study clubs. Self-efficacy has been shown to have a strong mediating role in the relationship between social support and non-academic achievement. The implication of these findings is the importance of integrating extracurricular programs and confidence-building in educational strategies. This research makes a novel contribution through the simultaneous integration of physical environment variables, social support, psychological aspects, and student activities in a single PLS-SEM-based conceptual model.
Peningkatan Mutu Sarana dan Prasarana Pendidikan di SDIT Qurrota A’yun Melalui Peran Kepala Sekolah Sebagai Administrator Utammi Lihyatul Fiqri; Wilis Werdiningsih
Edumanagerial Vol. 1 No. 1 (2022): EDUMANAGERIAL: Journal of Islamic Education Management
Publisher : Program Studi Manajemen Pendidikan Islam, Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan, IAIN Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kelangsungan kegiatan belajar-mengajar sangat dipengaruhi oleh pemanfaatan sarana dan prasarana di sekolah. Pembelajaran dapat berlangsung secara bermakna dan menyenangkan, jika sarana dan prasarana terpenuhi. Oleh sebab itu pelayanan secara profesional terhadap sarana dan prasarana yang dimiliki sekolah, perlu dilaksanakan dengan baik melalui kegiatan manajemen sarana dan prasarana pendidikan. Kegiatan manajemen sarana dan prasarana ini, sangat dipengaruhi oleh peran kepala sekolah sebagai administrator. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan secara mendetail peran kepala sekolah sebagai administrator dalam manajemen sarana dan prasarana pendidikan di SDIT Qurrota A’yun Ponorogo. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Dalam pengumpulan data, penulis menggunakan metode wawancara, observasi, dan dokumentasi. Teknik yang dipilih dalam analisis data adalah reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Dari hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan: (1) kepala sekolah melaksanakan tahapan dalam manajemen sarana dan prasarana yang dimulai dari melakukan kegiatan perencanaan, pengadaan, inventarisasi, penggunaan, serta penghapusan dengan melakukan pengawasan dan pendampingan; (2) kepala sekolah melakukan berbagai upaya dalam meningkatkan mutu sarana dan prasarana dengan mengajak kerja sama beberapa pihak eksternal dan instansional melalui program yang telah dibuat serta berkonsultasi dengan pihak yang ahli dalam pengembangan sarana dan prasarana sekolah, serta melakukan analisis berbagai permasalahan yang ada di lingkungan sekolah (3) upaya yang diterapkan kepala sekolah cukup berhasil dibuktikan dengan meningkatnya sarana dan prasarana setiap tahunnya.
Manajemen Program Double Track dalam Meningkatkan Kompetensi Lulusan di SMA Negeri 1 Jenangan Kabupaten Ponorogo Azka Maziyyah Ridhwanah; Wilis Werdiningsih
Edumanagerial Vol. 1 No. 1 (2022): EDUMANAGERIAL: Journal of Islamic Education Management
Publisher : Program Studi Manajemen Pendidikan Islam, Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan, IAIN Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

SMA Negeri 1 Jenangan merupakan salah satu sekolah yang berada di pinggiran kota Ponorogo. Letak geografis ini menyebabkan motivasi para siswa untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi rendah. Selain itu orientasi sebagian besar orang tua adalah menginginkan anaknya untuk segera bekerja setelah lulus sekolah. Program double track hadir untuk membekali siswa agar memiliki keahlian tertentu sebagai bekal terjun ke dunia kerja. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan pelaksanaan program double track, menganalisis faktor pendukung dan penghambatnya, serta menganalisis hasil pelaksanaan program double track dalam meningkatkan kompetensi lulusan di SMA Negeri 1 Jenangan. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif yang menghasilkan data deskriptif. Data diperoleh dari wawancara dan dokumentasi. Teknik yang digunakan untuk menganalisis data yakni: reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Dari hasil penelitian ini ditemukan bahwa: (1) Manajemen program double track dimulai dari perencanaan yakni penentuan program pelatihan melalui angket yang diberikan kepada siswa kelas XI, pemilihan trainer sesuai dengan kompetensi yang dimiliki guru dan penjadwalan pelaksanaan kegiatan; (2) Faktor pendukung kegiatan double track berupa antusiasme dari siswa dalam mengikui program double track, sedangkan faktor penghambatnya adalah adanya kebijakan pembelajaran daring selama pandemi yang menyebabkan kegiatan double track tidak dapat berjalan secara maksimal; (3) Hasil program double track yaitu meningkatnya kompetensi siswa SMAN 1 Jenangan sesuai dengan program yang dipilihnya. Hal ini dapat dibuktikan dengan adanya sebagian siswa yang memiliki usaha secara mandiri.
Manajemen Kesiswaan Dalam Meningkatkan Etos Belajar Peserta Didik di MAN 1 Madiun Anjarni Kumala Khotim; Wilis Werdiningsih
Edumanagerial Vol. 1 No. 1 (2022): EDUMANAGERIAL: Journal of Islamic Education Management
Publisher : Program Studi Manajemen Pendidikan Islam, Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan, IAIN Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Etos belajar adalah kemauan peserta didik yang dicerminkan dalam tingkah laku peserta didik pada saat pembelajaran. Sebagai upaya meningkatkan etos belajar dibutuhkan adanya pelaksanaan program salah satunya melalui kegiatan manajemen kesiswaan. MAN 1 Madiun merupakan lembaga pendidikan yang memiliki berbagai kegiatan kesiswaan di antaranya yakni program kelas olimpiade, program kelas keterampilan dan program kelas tahfidz. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan upaya yang dilakukan manajemen kesiswaan dalam meningkatkan etos belajar peserta didik melalui program-program unggulan MAN 1 Madiun. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Dalam pengumpulan data, penulis menggunakan metode wawancara, observasi, dan dokumentasi. Teknik yang dipilih dalam analisis data adalah reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Dari hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan: (1) Manajemen kesiswaan dalam meningkatkan etos belajar yaitu melalui program unggulan MAN 1 Madiun yaitu program olimpiade, keterampilan dan tahfidz; (2) Faktor pendukung keberhasilan manajemen kesiswaan meliputi adanya motivasi, pendanaan yang mencukupi dan kerja sama antar pihak, sedangkan faktor penghambat manajemen kesiswaan meliputi waktu yang bertabrakan dengan jam pelajaran; (3) Dampak yang diperoleh dari peningkatan etos belajar peserta didik di MAN 1 Madiun yaitu membantu kesiswaan mewujudkan visi, misi dan tujuan madrasah, salah satunya sekolah selalu dapat mengirimkan delegasi untuk mengikuti perlombaan baik bidang akademik maupun non akademik. Pada setiap perlombaan tersebut, peserta didik berhasil mendapatkan berbagai macam prestasi baik tingkat lokal, regional maupun nasional.
Pengaruh Ketersediaan dan Kualitas Pelayanan Sarana dan Prasarana Pendidikan terhadap Self-satisfaction Peserta Didik di SMK Negeri 1 Ponorogo Dyah, Fadzillah; Wilis Werdiningsih
Edumanagerial Vol. 4 No. 2 (2025): EDUMANAGERIAL : Journal of Islamic Education Management
Publisher : Program Studi Manajemen Pendidikan Islam, Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan, IAIN Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21154/edumanagerial.v4i2.5357

Abstract

Self-satisfaction adalah bentuk evaluasi individu terhadap terpenuhinya rasa puas dan nyaman karena kebutuhannya bisa terpenuhi. Adanya ketersediaan sarana dan prasarana adalah hal penting untuk kegiatan pembelajaran yang terlaksana dengan lancar dimana terdiri dari ruang pembelajaran, ruang penunjang, dan ruang pembelajaran khusus. Kualitas pelayanan adalah tingkat ukuran seberapa bagus pelayanan yang diberikan mampu memenuhi harapan pelanggan. Jenis penelitian yang digunakan adalah ex-post facto. Adapun teknik pengumpulan data dengan menggunakan observasi, angket, dan dokumentasi. Teknik pengambilan sampel menggunakan probability sampling dengan jumlah 137 sampel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) terdapat pengaruh secara signifikan antara ketersediaan sarana dan prasarana pendidikan terhadap self-satisfaction peserta didik dibuktikan dengan nilai F hitung > F tabel sebesar 17.431 > 3.08 dengan tingkat signifikansi 0,001 < 0,05 dan R2 sebesar 0,114, 2) terdapat pengaruh secara signifikan antara kualitas pelayanan sarana dan prasarana pendidikan terhadap self-satisfaction peserta didik dibuktikan dengan nilai F hitung > F tabel sebesar 74.007 > 3.08 dengan tingkat signifikansi 0,001 < 0,05 dan R2 sebesar 0,354; 3) terdapat pengaruh secara signifikan antara ketersediaan dan kualitas pelayanan sarana dan prasarana pendidikan terhadap self-satisfaction peserta didik dibuktikan dengan nilai F hitung > F tabel sebesar 98.416 > 3.08 probability F hitung (Sig.) lebih kecil dari tingkat signifikansi yaitu 0,001 < 0,05 dan R2 sebesar 0,589
The Influence Of School Facilities And Social Support On Non-Academic Achievement: The Role Of Study Club Extracurricular Mediation And Student Self-Efficacy Wijayanti, Betha; Wilis Werdiningsih
Jurnal Inspirasi Pendidikan Vol 15 No 2 (2025): Agustus 2025
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas PGRI Kanjuruhan Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21067/jip.v15i2.12719

Abstract

Prestasi non-akademik siswa belum menjadi fokus utama strategi pembinaan sekolah. Kurangnya fasilitas dan dukungan sosial yang rendah dianggap menghambat keterlibatan siswa dan memperkuat efikasi diri. Studi ini bertujuan untuk mengeksplorasi peran klub studi ekstrakurikuler dan efikasi diri sebagai mediator dalam pengaruh fasilitas sekolah dan dukungan sosial terhadap prestasi non-akademik siswa. Metode survei digunakan untuk mengumpulkan data dari 82 siswa aktif di klub studi ekstrakurikuler SMAN 2 Ponorogo melalui teknik pengambilan sampel probabilitas. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner skala Likert 1–4 yang mencakup 5 variabel dan 33 konstruk penelitian. Analisis data dilakukan menggunakan pendekatan Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM) untuk menguji 7 pengaruh langsung dan 5 pengaruh tidak langsung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fasilitas sekolah dan dukungan sosial memiliki dampak positif dan signifikan terhadap prestasi non-akademik siswa, baik secara langsung maupun tidak langsung melalui mediasi efikasi diri dan keterlibatan dalam klub belajar. Efikasi diri terbukti memiliki peran mediasi yang kuat dalam hubungan antara dukungan sosial dan prestasi non-akademik. Implikasi dari temuan ini adalah pentingnya mengintegrasikan program ekstrakurikuler dan pembangunan kepercayaan diri dalam strategi pendidikan. Penelitian ini memberikan kontribusi baru melalui integrasi simultan variabel lingkungan fisik, dukungan sosial, aspek psikologis, dan aktivitas siswa dalam satu model konseptual berbasis PLS-SEM.
Manajemen Sumber Daya Manusia dalam Meningkatkan Kompetensi Guru Melaksanakan Pembelajaran Daring Wilis Werdiningsih
Southeast Asian Journal of Islamic Education Management Vol. 2 No. 1 (2021): Manajemen Pendidikan Islam
Publisher : Universitas Islam Negeri Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo (previously known as IAIN Ponorogo)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21154/sajiem.v2i1.48

Abstract

Abstrak Masa pandemi yang sampai saat ini masih berlangsung, menuntut guru untuk mampu melaksanakan pembelajaran secara daring. Pembelajaran daring adalah pembelajaran tanpa adanya kegiatan tatap muka, yang dilakukan menggunakan berbagai platform yang tersedia di internet. Kemampuan guru dalam memanfaatkan media teknologi yang ada, sangat berpengaruh terhadap pelaksanaan pembelajaran daring ini. Sekolah memiliki tanggung jawab melaksanakan manajemen sumber daya manusia (SDM) dengan baik sebagai upaya memastikan seluruh guru dapat melaksanakan pembelajaran daring menggunakan berbagai platform yang tersedia. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji lebih mendalam berkaitan dengan manajemen SDM dalam peningkatan kemampuan guru dalam melaksanakan pembelajaran daring. Metode library research digunakan melalui penggalian informasi dari berbagai literatur terkait dengan pelaksanakaan manajemen SDM di lembaga pendidikan serta upaya peningkatan kompetensi guru dalam melaksanakan pembelajaran daring. Hasil menunjukkan bahwa peningkatan kompetensi guru dalam melaksanakan pembelajaran daring dapat dilakukan melalui pelaksanaan kegiatan pelatihan pembelajaran daring, pembentukan tim khusus yang fokus membantu guru dalam melaksanakan pembelajaran daring, serta kegiatan supervisi yang berkelanjutan. Kata Kunci: manajemen SDM, kompetensi guru, pembelajaran daring.
Implementasi Model Pembelajaran PAUD Berbasis Sentra dan Waktu Lingkaran dalam Meningkatkan Berbagai Aspek Perkembangan Anak Wilis Werdiningsih
Southeast Asian Journal of Islamic Education Management Vol. 3 No. 2 (2022): Manajemen Pendidikan Islam
Publisher : Universitas Islam Negeri Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo (previously known as IAIN Ponorogo)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21154/sajiem.v3i2.101

Abstract

Early childhood education (PAUD) is an important stage for a child's early development. PAUD has a goal to facilitate the growth and development of children in a more measurable and comprehensive manner. A conducive environment in PAUD institutions has a positive impact on children's development. There are various kinds of learning models in early childhood, one of which is the center learning model and circle time (Beyond Centers and Circle Time/BCCT). The center learning model and the circle time or commonly referred to as the center model, is a model for implementing PAUD that focuses on children, which in the learning process is centered in the play center and uses four types of footings to support children's development. Therefore, in learning centers it is necessary to prepare for a center class and various equipment that supports learning activities in each center class. This study aims to explore in greater depth the implementation of the center-based PAUD learning model and circle time. The approach used in this study is a qualitative approach. Data obtained from interviews, observations, documentation and supported by various references related to the learning center model. The results show that the learning center model is one of the learning models that can increase student activity in learning activities, as well as improve various aspects of child development, including aspects of religious and moral values, physical-motor, cognitive, language, social-emotional, and artistic aspects.   Keywords: PAUD learning model, BCCT/central class, aspects of child development.
Pendidikan Moderasi Beragama dan Simbol Keagamaan (Pembentukan Identitas Islam Moderat Anak Melalui Songkok NU Perspektif Teori Konstruksi Sosial Peter Berger) Abu Muslim; Wilis Werdiningsih
Southeast Asian Journal of Islamic Education Management Vol. 4 No. 1 (2023): Manajemen Pendidikan Islam
Publisher : Universitas Islam Negeri Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo (previously known as IAIN Ponorogo)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21154/sajiem.v4i1.135

Abstract

This paper examines managing religious moderation education by strengthening religious symbols, namely songkok, with NU logic. This study aimed to analyze how the use of symbols on the NU skullcap can shape the personality of SD Islamiyah Magetan students in forming an understanding of religious moderation from the perspective of Peter L. Berger's social construction theory. How can symbols convey messages about religious moderation as a form of planting moderate Islam and identity formation? This symbol has several functions, such as describing something as well as a form of conveying an implied message. Therefore, to analyze it using the social construction theory approach of Peter L. Berger. From the results of the reading, it can be concluded: First, the implementation of the regulation on wearing the NU songkok at SD Islamiyah Mageran is outlined in a regulation that enforces every male student to wear the NU songkok. Second, Sonkok NU can become an identity and have moderate Islamic values ??found in the relationship between moderate Islamic values ??of NU ideas such as tawasuth, tawazun, tasamuh, and ta’adul, which have an impact on their use in everyday life. Third, Religious Moderation Education through Sonkok NU as a moderate Islamic identity from the perspective of Peter L Berger's sociological theory of knowledge is through a process of externalization, objectivation, and internalization.