Claim Missing Document
Check
Articles

Found 26 Documents
Search

Age, Parity, and The Prevalence of Anemia in Third-Trimester Pregnant Women: A Correlation Study Anggraini Dyah Setiyarini; Ayu Rosita Dewi
Health and Technology Journal (HTechJ) Vol. 3 No. 3 (2025): June 2025
Publisher : KHD Production

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53713/htechj.v3i3.352

Abstract

Lack of iron the most prevalent type of anemia during pregnancy is and is still a global health problem. Both the mother and the unborn child are impacted by anemia. Data on pregnant women who experience anemia in Desa Semen in 2025 were 8 pregnant women. This study aimed to ascertain how age and parity relate to the prevalence of anemia in the third trimester of pregnancy in Semen Village, Semen Subdistrict, Kediri Regency. The study employed a cross-sectional methodology. There were fifteen participants in the study, which was carried out in Semen Village; Total sampling was used as the sampling method. A questionnaire on the mother's age and parity as well as the findings of laboratory tests to evaluate the anemia status were employed in the data-gathering process. Chi-square was utilized in both univariate and bivariate data analysis. The study revealed that the number of pregnant women at risk (less than 20 years and more than 35 years) was 7 (46.7%), and the number of pregnant women at risk (more than three times) was 7 (46.7%). Seven individuals (46.7%) had normal hemoglobin levels (≥11 g/dl) throughout pregnancy, while eight individuals (53.3%) had abnormal hemoglobin levels (<11 g/dl). The study of parity and age with the incidence of anemia revealed a p-value of 0.032 (p < 0.05) and 0.032 (p < 0.05), respectively. Additionally, in Semen Village, Semen Subdistrict, Kediri Regency, there is a correlation between the incidence of anemia in the third trimester of pregnancy and age, as well as between parity and anemia incidence. Researchers hope to program pregnancy at the ideal age and pay attention to the number of parities so that pregnancy is safer and healthier.
The Association Between Perimenopausal Women's Knowledge and Educational Attainment and Their Readiness for Menopause Dwi Margareta Andini; Anggraini Dyah Setiyarini
Health and Technology Journal (HTechJ) Vol. 3 No. 3 (2025): June 2025
Publisher : KHD Production

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53713/htechj.v3i3.354

Abstract

Women go through a phase called menopause, during which their menstrual periods stop during the climacteric era. Around age 45, ovarian function starts to deteriorate, which lowers the production of the hormone estrogen. Given that many women experience anxiety or fear during this time, they must know about menopause. This study's goal is to ascertain how perimenopausal women relate their degree of education and knowledge to their preparedness for menopause. This study uses a cross-sectional research design and is quantitatively analytical. Six hundred forty-one perimenopausal women made up the study population. Purposive sampling was used, and there were 89 participants in the sample. Research Results: Based on the results of the knowledge analysis, 48 ​​respondents (53.9%) had good knowledge, 30 respondents (33.7%) had sufficient knowledge, and 11 respondents (12.4%) had insufficient knowledge. The analysis results of respondent readiness were in the category of ready-to-face menopause, with 67 respondents (75.3%) and 22 respondents (22.7%) not ready to face menopause. The chi-square non-parametric analysis test shows that the significance value obtained is 0.000. It can be concluded that there is a relationship between knowledge and readiness to face menopause in perimenopausal. There is a relationship between education level and readiness to face menopause in perimenopausal women with a value of p = 0.000.
Analisis Faktor Risiko Kejadian Campak di Provinsi Jawa Timur Tahun 2024 : Analisis Faktor Risiko Kejadian Campak di Provinsi Jawa Timur Tahun 2024 nofita sari; Elvanda Helzalia Putri2; Krisnita Dwi Jayanti; Endah Retnani Wismaningsih; Ayu Pangestuti; Anggraini Dyah Setiyarini
Journal of Health Educational Science And Technology Vol. 9 No. 1 (2026): J-HESTECH (Journal Of Health Educational Science And Technology)
Publisher : Faculty of Health Sciences , Dr. Soetomo University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25139/htc.v9i1.12008

Abstract

Latar belakang penelitian ini didasarkan pada masih tingginya angka kasus campak di Jawa Timur yang dipengaruhi oleh berbagai faktor risiko kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara cakupan imunisasi MR 1, MR 2, pemberian vitamin A, status gizi buruk, dan kepadatan penduduk dengan kejadian suspek campak di Provinsi Jawa Timur. Metode yang digunakan adalah analisis bivariat dengan uji korelasi terhadap data sekunder yang bersumber dari Profil Kesehatan Provinsi Jawa Timur. Hasil analisis menunjukkan bahwa seluruh variabel independen tidak memiliki hubungan yang signifikan secara statistik terhadap kejadian suspek campak (p > 0,05). Nilai koefisien korelasi ditemukan lemah, yakni MR 1 (-0,180), MR 2 (-0,072), pemberian vitamin A (0,059), status gizi buruk (-0,111), dan kepadatan penduduk (-0,126). Simpulan dari penelitian ini adalah faktor-faktor risiko tersebut tidak berkorelasi langsung dengan jumlah kasus suspek campak pada periode data tersebut, sehingga diperlukan penelitian lebih lanjut mengenai faktor lingkungan fisik dan validitas pelaporan data lapangan. Kata Kunci: Campak, Imunisasi MR, Vitamin A, Gizi Buruk, Jawa Timur. ABSTRACT The background of this research is based on the persistently high number of measles cases in East Java, influenced by various health risk factors. This study aims to analyze the correlation between MR 1 and MR 2 immunization coverage, vitamin A supplementation, malnutrition status, and population density with the incidence of suspected measles in East Java Province. The method used is bivariate analysis with correlation tests on secondary data sourced from the East Java Provincial Health Profile. The analysis results showed that all independent variables did not have a statistically significant relationship with the incidence of suspected measles (p > 0.05). The correlation coefficients were found to be weak: MR 1 (-0.180), MR 2 (-0.072), vitamin A supplementation (0.059), malnutrition (-0.111), and population density (-0.126). The conclusion of this study is that these risk factors do not directly correlate with the number of suspected measles cases during the data period, suggesting the need for further research into physical environmental factors and the validity of field data reporting. Keywords: Measles, MR Immunization, Vitamin A, Malnutrition, East Java.
HUBUNGAN DUKUNGAN SUAMI TERHADAP KEPATUHAN IBU HAMIL TRIMESTER III DALAM MENGKONSUMSI TABLET  TAMBAH DARAH Anggraini Dyah Setiyarini; Candra Dewi Nataningtyas
Jurnal Bidan Pintar Vol. 7 No. 1 (2026): April 2026
Publisher : Universitas Kadiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30737/jubitar.v7i1.7553

Abstract

Abstrak   Kepatuhan ibu hamil dalam mengonsumsi Tablet Tambah Darah (TTD) merefleksikan ketaatan terhadap instruksi medis. Tingkat kepatuhan tersebut diukur berdasarkan parameter kuantitas, ketepatan cara penggunaan, serta frekuensi konsumsi harian. Pemberian suplemen zat besi yang dikombinasikan dengan asam folat merupakan intervensi paling efektif untuk mencegah dan menanggulangi anemia selama masa kehamilan, terutama jenis anemia defisiensi besi. Sebaliknya, rendahnya tingkat kepatuhan ibu hamil dalam mengonsumsi TTD berkorelasi signifikan terhadap peningkatan risiko terjadinya anemia. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis korelasi antara dukungan suami dengan tingkat kepatuhan ibu hamil trimester III dalam mengonsumsi Tablet Tambah Darah (TTD) sebagai upaya preventif terhadap kejadian anemia selama masa kehamilan." Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif, pendekatan cross-sectional. Instrumen pengumpulan data berupa kuesioner yang disebarkan kepada 38 responden. Teknik pengambilan sampel dilakukan melalui metode accidental sampling, sementara analisis data menggunakan uji statistik Chi-Square untuk menguji hubungan antar variabel. Temuan penelitian menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara dukungan suami dengan kepatuhan ibu hamil trimester III dalam mengonsumsi Tablet Tambah Darah (TTD). Hal ini dibuktikan dengan perolehan nilai p-value sebesar 0,000 (p < 0,05), yang mengindikasikan bahwa dukungan suami berkorelasi positif terhadap perilaku kepatuhan konsumsi suplemen tersebut. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa faktor pengetahuan dan dukungan suami memiliki korelasi signifikan terhadap tingkat kepatuhan ibu hamil trimester III dalam mengonsumsi Tablet Tambah Darah (TTD). Oleh karena itu, tenaga kesehatan, khususnya bidan, direkomendasikan untuk mengintegrasikan peran suami secara aktif dalam setiap sesi edukasi kesehatan maupun kunjungan Antenatal Care (ANC). Dukungan nyata dari suami sangat krusial sebagai instrumen penguat perilaku ibu dalam upaya pencegahan anemia selama masa kehamilan.   Kata kunci : Dukungan Suami, Kepatuhan, Ibu Hamil Trimester III
PENGARUH SENAM HAMIL TERHADAP RUPTURE PERINEUM Nareswari Diska Nugraha; Candra Dewi Nataningtyas; Anggraini Dyah Setiyarini
Jurnal Bidan Pintar Vol. 7 No. 1 (2026): April 2026
Publisher : Universitas Kadiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30737/jubitar.v7i1.7574

Abstract

Abstrak   Rupture perineum adalah komplikasi umum pada persalinan pervaginam yang dapat dicegah melalui senam hamil. Senam hamil merupakan faktor penting dalam meningkatkan elastisitas otot panggul dan menurunkan risiko terjadinya rupture perineum pada persalinan. Tujuan penelitian ini ntuk mengetahui efektivitas senam hamil terhadap kejadian rupture perineum pada ibu bersalin di wilayah kerja Puskesmas X Kabupaten Kediri. Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan rancangan analitik pendekatan case control. Sampel terdiri dari 30 ibu bersalin yang dipilih dengan teknik quota sampling. Data dikumpulkan dan dianalisis secara univariat dan bivariat dengan uji Spearman. Hasil: Hasil analisis menunjukan nilai koefisien korelasi yang diperoleh pada kelompok kasus p-value 0,012 (< 0,05) dan pada kelompok control p-value 0,000 < 0,05) sehingga dinyatakan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara senam hamil dan rupture perineum. Kesimpulan dan Saran: Hasil Penelitian dapat disimpulkan bahwa senam hamil efektif dalam menurunkan resiko rupture perineum pada ibu bersalin.     Kata kunci : Senam Hamil, Ruptur perineum, Ibu bersalin
PENGARUH PREEKLAMPSIA, KETUBAN PECAH DINI, DAN SKOR APGAR MENIT PERTAMA TERHADAP LAMA PERAWATAN NEONATUS DI PUSKESMAS PASEAN PAMEKASAN Miftahul Khairoh; Anggraini Dyah Setiyarini
Jurnal Medicare Vol. 5 No. 2 (2026): APRIL 2026
Publisher : Rena Cipta Mandiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62354/jurnalmedicare.v5i2.526

Abstract

Lama perawatan neonatus merupakan indikator penting dalam menilai kondisi kesehatan bayi baru lahir dan efektivitas pelayanan maternal-neonatal. Faktor maternal seperti preeklampsia dan ketuban pecah dini, serta kondisi awal bayi yang dinilai melalui skor APGAR menit pertama, berpotensi memengaruhi kebutuhan perawatan neonatus. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh preeklampsia, ketuban pecah dini, dan skor APGAR menit pertama terhadap lama perawatan neonatus di Puskesmas Pasean Pamekasan. Metode penelitian ini menggunakan desain kuantitatif analitik dengan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian berjumlah 40 neonatus yang dipilih menggunakan teknik total sampling. Data diperoleh dari rekam medis ibu dan bayi, kemudian dianalisis secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat kemaknaan α = 0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 12 ibu (30,0%) mengalami preeklampsia, 14 ibu (35,0%) mengalami ketuban pecah dini, dan 15 neonatus (37,5%) memiliki skor APGAR menit pertama rendah. Sebanyak 16 neonatus (40,0%) menjalani perawatan lebih dari 3 hari. Hasil uji bivariat menunjukkan terdapat hubungan antara preeklampsia dengan lama perawatan neonatus (p = 0,006), ketuban pecah dini dengan lama perawatan neonatus (p = 0,035), serta skor APGAR menit pertama dengan lama perawatan neonatus (p = 0,001). Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa preeklampsia, ketuban pecah dini, dan skor APGAR menit pertama berpengaruh terhadap lama perawatan neonatus. Deteksi dini faktor risiko maternal dan penilaian kondisi bayi segera setelah lahir perlu dioptimalkan untuk mendukung penatalaksanaan neonatus yang lebih cepat dan tepat.