Claim Missing Document
Check
Articles

Found 23 Documents
Search

Traditional Acehnese House: Constructing Architecture by Responding to the Power of Nature in Relation to the Local Wisdom Values Izziah Izziah; Laina Hilma Sari; Erna Meutia; Mirza Irwansyah
Aceh International Journal of Science and Technology Vol 9, No 3 (2020): December 2020
Publisher : Graduate Program of Syiah Kuala University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (892.136 KB) | DOI: 10.13170/aijst.9.3.17323

Abstract

The existence of traditional houses in Banda Aceh has been extinguished in modern times. With globalization's impact, the traditional house connotates as ‘old house style,’ and thus, the house style is not up to date. A large number of house owners demolish them and reconstruct them with new modern houses. Despite that, it is approved that the traditional houses of Aceh were survived the earthquake that frequently hit the region. As Banda Aceh is one of the regions resided on Sumatran's segment, the region has a large number of earthquakes.  This paper, which is part of the previous study on the thermal comfort of traditional and modern houses in Aceh, explores a historical architectural example that reveals local experiences that involve local wisdom and expertise. This paper focuses on a traditional house located in a modern housing neighborhood in Banda Aceh city. In doing this, the paper identifies how Acehnese ancestors, through their local knowledge, have constructed a traditional Acehnese house. The article also shows how its architectural form's construction techniques respond to the region's geographical condition. In constructing this study, interview and observation toward the building as primary data collections are conducted. Also, several written sources, as secondary data, related to an Acehnese traditional house, are reviewed. This paper shows that constructing a conventional house is a responsive architecture toward hot climate and earthquake. Therefore, this architectural building type with the local wisdom value's involvement is worthy of being applied and adapted in modern life.
An Assessment of the Spatial Comfort at the Open Piazza of Baiturrahman Mosque, Banda Aceh, Indonesia Laina Hilma Sari; Izziah Hasan; Erna Meutia
Aceh International Journal of Science and Technology Vol 9, No 2 (2020): August 2020
Publisher : Graduate Program of Syiah Kuala University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1264.188 KB) | DOI: 10.13170/aijst.9.2.14889

Abstract

 The Baiturrahman Grand Mosque is well-known as the identity of Banda Aceh town, Indonesia. The extensive renovation was carried out in 2015 to the Mosque, presenting an open piazza coated with glossy white marble replacing the previous greeneries and grass. This change creates a much different thermal sensation of the prior environment. This condition also invites the contrast to respond and define spatial comfort, including thermal and visual comfort. Therefore, this study conducts an assessment of thermal and visual comfort at the open piazza, which was done through field measurements. The outdoor thermal comfort was calculated using the equations proposed by Sangkertadi that are appropriate for the tropics. The visual comfort was examined using the De Boer glare scale. The result shows the discomfort appearance for both thermal and visual comfort. The study gives recommendations, such as planting greeneries, providing more shades for achieving lower outdoor air temperature. Replacing the glossy marble with the diffusing and rough surface will reduce the glare for getting the more acceptable visual comfort against the marbles.
Adaptive Thermal Comfort in The Tropic: A Case Study of The Aceh Tsunami Museum Laina Hilma Sari; Zulfian .
Aceh International Journal of Science and Technology Vol 2, No 3 (2013): December 2013
Publisher : Graduate Program of Syiah Kuala University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (438.807 KB) | DOI: 10.13170/aijst.2.3.1008

Abstract

Abstract - Thermal comfort calculated using ISO 7730 has been questioned and responded by more adaptive thermal comfort methods. This study was therefore conducted to assess the acceptable thermal comfort for the local people in the tropical Aceh using the measurement based on ISO 7730 and with adaptive thermal comfort method by questionnaires. In this research, Aceh Tsunami Museum building, located in Banda Aceh, Indonesia, was in an open designed layout to be assessed as a case study. This study was conducted onsite using mechanical equipment and involving 138 respondents. The result shows that the comfort temperature calculated by mechanical equipment based on ISO 7730 is 23.140C. This is in contrast with the result of the questionnaires that showed people in an open building design rate the air temperature up to 320C as slightly cool. This condition is influenced by the mean air speed of 2.34 m/s and the mean relative humidity of 66.25%. This finding agrees that obtaining the comfort air temperature especially in tropics merely from the prediction of comfort index in ISO 7730 is inaccurate since the respondents actually could adapt with the higher air temperature. Keywords: Adaptive thermal comfort; Tropics; Aceh Tsunami Museum
Evaluasi Tingkat Kenyamanan Termal Bangunan Museum Tsunami Aceh Filzah Ikramina; Laina Hilma Sari; Husnus Sawab
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Arsitektur dan Perencanaan Vol 5, No 3 (2021): Volume 5, No.3, Agustus 2021
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (630.404 KB)

Abstract

Kenyamanan Temal adalah salah satu aspek yang sangat penting yang harus diperhatikan dalam merancangan sebuah bangunan, karena sebuah bangunan harus dapat menunjang aktivitas dan kebutuhan pengguna ketika berada didalam bangunan. Museum Tsunami Aceh merupakan bangunan yang dibangun untuk mengenang peristiwa tsunami di Aceh saat ini menjadi tempat yang paling diminati pengunjung baik masyarakat lokal maupun mancanegara. Museum yang dikategorikan sebagai salah satu ruang publik, haruslah memperhatikan kenyamanan pengguna agar pengguna merasa nyaman ketika berada di dalam museum. Tujuan dilakukan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi kenyamanan termal ruang dalam Museum Tsunami Aceh berdasarkan variable-variabel lingkungan yang diukur, terdiri atas temperatur udara (Ta), kelembaban udara (Rh), dan kecepatan angin (v). Pengukuran variabel lingkungan menggunakan alat Anemometer Digital, Infrared Thermometer Gun, dan Thermometer Data Logger. Hasil penelitian kemudian dibandingkan dengan standar kenyamanan SNI 03-6572-2001. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa secara keseluruhan kondisi termal pada beberapa ruang pada bangunan Museum Tsunami Aceh yang melebihi standar kenyamanan termal yang telah ditetapkan SNI terutama pada ruang yang beriorientasi ke arah barat dan timur karena menyerap radiasi panas dari matahari paling tinggi dengan kecepatan angin didalam ruangan sangat rendah, disamping itu, terdapat juga ruang yang telah memenuhi standar kenyamanan termal yang memiliki orientasi menghadap ke arah utara-selatan serta memiliki ventilasi yang baik sehingga pergerakan udara pada ruangan cukup optimal dan menghasilkan tingkat kenyamanan yang sesuai dengan standar nyaman termal berdasarkan SNI yang dikondisikan untuk wilayah tropis lembab seperti Indonesia
Sejarah Umah Rabung Lime di Kota Takengon Lisa Maharani; Cut Dewi; Laina Hilma Sari
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Arsitektur dan Perencanaan Vol 6, No 3 (2022): Volume 6, No.3, Agustus 2022
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (329.159 KB)

Abstract

AbstrakUmah Rabung Lime merupakan rumah tinggal yang memiliki atap berbentuk kerucut landai bersegi. Keberadaan Umah Rabung Lime di lansekap Kota Takengon menjadi perhatian khusus karena memiliki bentuk berbeda dengan rumah adat suku Gayo yang berbentuk panggung dan menggunakan atap pelana. Perbedaan tersebut menimbulkan beberapa pertanyaan menarik, salah satunya bagaimana sejarah Umah Rabung Lime dapat hadir dan menyebar. Penelitian ini adalah penelitian studi literatur dari tulisan ilmiah, arsip, dan sumber ilmiah lainnya yang bertujuan untuk menganalisis sejarah Umah Rabung Lime di Kota Takengon. Hasil penelitian menunjukkan Umah Rabung Lime merupakan bangunan dengan bentuk segilima yang dibangun oleh bangsa Belanda saat menduduki Kota Takengon. Bangunan tersebut  berfungsi sebagai pesanggrahan yang kemudian difungsikan sebagai rumah tinggal. Bentuk segilima yang unik dan dapat mencerminkan status sosial pemiliknya kemudian diadopsi dan diadaptasi oleh beberapa kalangan masyarakat bahkan setelah masa pendudukan berakhir. Hal ini menyebabkan Umah Rabung Lime banyak dibangun dan tersebar di lansekap Kota Takengon.  Kata kunci: Umah Rabung Lime, Kota Takengon, Studi Literatur The History of Umah Rabung Lime in Takengon CityAbstractUmah Rabung Lime is a residence with a sloping conical roof. The presence of Umah Rabung Lime in Takengon City's landscape is of particular concern because it differs from the traditional Gayo’s house, which is shaped like a stage and has a gable roof. These distinctions raise some intriguing questions, one of which is how Umah Rabung Lime came to exist and spread. This research is a literature review that uses scientific writings, archives, and other scientific sources to examine the history of Umah Rabung Lime in Takengon City. The findings revealed that Umah Rabung Lime was a pentagon-shaped building constructed by the Dutch during their occupation. The structure serves as a guesthouse before becoming a residence. Even after the occupation ended, some communities adopted and adapted the unique pentagon shape, which can reflect the social status of its owner. As a result, many Umah Rabung Lime are constructed and spread across the landscape of Takengon City.Keywords: Umah Rabung Lime, Takengon City, Literature Study
Analisis Jalur Pedestrian Melalui Konsep Walkability (Studi Kasus : Jalan Diponegoro, Pasar Aceh) Varagita Rizvina; Laina Hilma Sari; Masdar Djamaluddin
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Arsitektur dan Perencanaan Vol 7, No 1 (2023): Volume 7, No.1, Februari 2023
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (965.98 KB) | DOI: 10.24815/jimap.v7i1.22507

Abstract

Keberadaan pedestrian pada suatu kawasan adalah untuk memenuhi fasilitas bagi pejalan kaki yang mengutamakan kenyamanan keamanan, dan memudahkan dalam berinteraksi bagi pengguna dengan memberikan visual di sepanjang jalur pedestrian seperti konsep Walkability. Ekonomi menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi perubahan sebuah kota termasuk Banda Aceh. Salah satu kawasan terletak di Pasar Aceh yang menjadi penyebab aksesibilitas yang tinggi. Pedestrian yang ada pada suatu kawasan memberikan aspek aksesibilitas yang baik, keamanan, kenyamanan dan estetika yang menjadi pertimbangan bagi masyarakat menggunakan pedestrian sebagai fasilitas untuk berjalan kaki dan menjadi dasar dalam penelitian ini. Pertanyaan penelitian ini adalah bagaimana kondisi aksesibilitas jalur pedestrian terhadap konsep Walkability yang berada di Jl. Diponegoro, Pasar Aceh dan bagaimanan tanggapan masyarakat terhadap konsep Walkability di Jl. Diponegoro Pasar Aceh. Metode penelitian yang digunakan adalah mix methode (kualitatif dan kuantitatif). Pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara, kuesioner, observasi, dan studi pustaka. Metode analisis data menggunakan program microsoft excel dengan skala Guttman yaitu penyebaran kuesioner berdasarkan indikator penelitian dan membandingkan informasi primer yang diperoleh dengan studi literatur terkait. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keberadaan pedestrian dibutuhkan dengan fungsi yang seharusnya tanpa mengganggu pejalan kaki. Memperbaiki kenyamanan aksesibilitas, keamanan, kenyamanan dan estetika pedestrian, seperti letak parkir, fasilitas pedestrian, serta vegetasi yang menjadi prioritas bagi pejalan kaki.
Pengaruh Heatsink Terhadap Kinerja Modul Surya T. Mizan Sya’rani D; Ira Devi Sara; Laina Hilma Sari
Jurnal Nasional Komputasi dan Teknologi Informasi (JNKTI) Vol 2, No 1 (2019): APRIL 2019
Publisher : Program Studi Teknik Komputer, Fakultas Teknik. Universitas Serambi Mekkah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32672/jnkti.v2i1.1051

Abstract

Panas matahari yang diserap oleh modul surya dapat menaikkan suhu modul surya dan menurunkan tegangan keluarannya. Oleh karena itu perlu usaha untuk menurunkan suhu modul surya agar kinerja modul surya agar tetap optimal. Pemasangan bahan heatsink digunakan untuk mendinginkan modul surya. Pemakaian heatsink mampu menurunkan suhu modul surya sebesar 45,9oC lebih besar daripada tanpa menggunakan heatsink  53,3oC sedangkan tegangan keluaran dari modul surya mampu ditingkatkan menjadi 20,03 volt.  Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pemakaian bahan heatsink lebih baik untuk menurunkan suhu modul surya daripada tanpa menggunakan heatsink.
Evaluasi Pencahayaan Alami Pada Umah Pitu Ruang di Desa Buntul Linge Salsabilla, Salsabilla; Sari, Laina Hilma; Edytia, Muhammad Heru Arie
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Arsitektur dan Perencanaan Vol 7, No 3 (2023): Volume 7, No.3, Agustus 2023
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jimap.v7i3.24832

Abstract

Terdapat beberapa wilayah di Indonesia yang masih mempertahankan arsitektur tradisional dengan tetap menjaga kearifan lokal dan mampu bertahan lama walaupun tidak ditempati lagi oleh masyarakat. Salah satu contoh arsitektur tersebut adalah Umah Pitu Ruang (UPR) yang terletak di desa Buntul Linge, Aceh Tengah. Pada desa ini, terdapat dua UPR yaitu Umah Pitu Ruang 1 (UPR 1) dan Umah Pitu Ruang 2 (UPR 2). Ada beberapa faktor yang membuat bangunan ini tidak ditempati kembali seperti faktor kenyamanan pencahayaan yang gelap. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah tingkat pencahayaan yang masuk pada kedua UPR sudah sesuai standar yang ditetapkan oleh SNI 03-6575-2001 dan mengetahui orientasi serta desain kedua UPR dalam merespon masuknya pencahayaan alami. Metode pengumpulan data menggunakan metode kuantitatif yang diperoleh dari hasil observasi dan pengukuran lapangan. Hasil penelitian menunjukkan jika kinerja pencahayaan alami pada kedua UPR belum memenuhi standar SNI 03-6575-2001. Pada bilik UPR 1, nilai iluminasi yang diukur mencapai 3,7 lux sedangkan pada bilik UPR 2 mencapai 3,1 lux. Sementara pada ruang serami, nilai iluminasi mencapai 306,4 lux pada UPR 1 dan 1.052,9 lux di UPR 2. Disisi lain, pada area lepo diperoleh nilai iluminasi 5.727 lux pada UPR 1 dan 4.140 lux pada UPR 2. Pengaplikasian orientasi dan desain bangunan UPR menjadi faktor pencahayaan yang masuk belum memenuhi standar sehingga hal tersebut perlu diperhatikan kembali.
Perancangan Hotel Resort Danau Laut Tawar di Aceh Tengah (Tema: Arsitektur Neo Vernakular) Alfini, Putri; Sari, Laina Hilma; Nasution, Burhan
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Arsitektur dan Perencanaan Vol 8, No 3 (2024): Volume 8, No. 3, Agustus 2024
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jimap.v8i3.24879

Abstract

Indonesia memiliki banyak tempat tujuan wisata yang memiliki potensi yang sangat besar. Salah satu daerah di Indonesia yang sangat menarik potensi indusri pariwisatanya adalah Aceh, terutama Aceh Tengah dilihat dengan banyaknya wisatawan lokal dan mancanegara yang berkunjung ke Aceh Tengah terus meningkat dari tahun ke tahun, baik untuk berlibur atau untuk tujuan bisnis. Aceh Tengah menawarkan pesona alam yang cukup. Jika dilihat dari meningkatnya wisatawan yang datang ke Aceh Tengah, sarana yang mendukung peningkatan jumlah wisatawan seperti hotel masih kurang mencukupi. Pemilihan Perancangan Hotel Resort didasarkan oleh potensi alam yang dimiliki Aceh Tengah dimana salah satunya adalah danau, yang dapat digunakan sebagai view utama pembagunan Hotel Resort di Aceh Tengah. Pilihan yang tepat Hotel Resort dengan bintang empat untuk di bangun dikawasan ini. Pada Perancangan Hotel Resort menggunakan pendekatan Arsitektur Neo Vernakular karena bangunan ini akan berusaha menampilkan dan mencerminkan tradisi lokal tetapi juga tetap modern.
Green Maintenance pada Bangunan Bersejarah (Studi Kasus Bangunan Kandang di Banda Aceh) Havilia, Raihan Cantika; Sari, Laina Hilma; Rauzi, Era Nopera
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Arsitektur dan Perencanaan Vol 7, No 3 (2023): Volume 7, No.3, Agustus 2023
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jimap.v7i3.24830

Abstract

Peninggalan kuno dan situs sejarah di provinsi Aceh sebagian besar berasal dari peradaban Islam, upaya sedang dilakukan untuk mengembalikannya. Banda Aceh merupakan salah satu titik persebaran bangunan bersejarah dari peradaban islam yang berasal dari masa Kesultanan Aceh. Bangunan bersejarah ini umumnya di temukan pada wilayah strategis Kesultanan Aceh, Salah satunya ialah Kandang tempat pemakaman raja yang menyimpan nilai sejarah tinggi dalam menyampaikan pesan sejarah kesultanan. Keutamaan nilai sejarah ini menjadikan Kandang sebagai salah satu bangunan yang terdaftar sebagai bangunan cagar budaya. Adapun upaya konservasi untuk melestarikan nilai sejarahnya dilakukan. Saat ini pemeliharaan pada Kandang telah dilakukan secara periodik. Namun teknik pemeliharaan yang digunakan pada Kandang apakah telah sesuai dengan prinsip keberlanjutan, hal inilah akan dikaji pada penelitian ini. Prinsip keberlanjutan ini merupakan landasan pemilihan teknik pemeliharaan dalam meminimalkan dampak lingkungan dari upaya konservasi. Dampak lingkungan yang dihasilkan, dihitung melalui metode Green Maintenance dimana jejak emisi karbon menjadi tolak ukurnyanya. Untuk menentukan teknik perawatan yang tepat, diperlukan studi kerusakan pada bangunan. Studi mengenai perawatan pada Kandang belum pernah dipelajari sebelumnya, menyebabkan intervensi pemeliharaan yang tidak efektif dan peningkatan biaya. Dari penelitian ini didapatkan bahwa teknik yang digunakan dalam merawat bangunan bersejarah sudah sesuai dengan konsep Green Maintenance. Tetapi hasil dapat dimaksimalkan dengan pengurangan intervensi melalui penebalan lapisan cat yang digunakan sebagai konservasi.