Claim Missing Document
Check
Articles

Found 26 Documents
Search

Karakteristik papain soluble collagen gelembung renang ikan manyung dengan variasi praperlakuan alkali dan rasio ekstraktan: Characterization of papain-soluble collagen from swim bladder sea catfish with variations in alkali pretreatment and extractant ratio Utami, Rahmadiana; Trilaksani, Wini; Hardiningtyas, Safrina Dyah
Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia Vol. 27 No. 3 (2024): Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia 27(3)
Publisher : Department of Aquatic Product Technology IPB University in collaboration with Masyarakat Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia (MPHPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17844/jphpi.v27i3.49968

Abstract

Kolagen merupakan biomaterial penting pada beberapa industri di Indonesia, namun pemenuhan kebutuhannya masih mengandalkan impor. Transformasi hasil samping gelembung renang ikan manyung (Arius thalassinus) sebagai sumber kolagen. Optimalisasi proses ekstraksi kolagen menjadi penting diteliti dalam meningkatkan rendemen. Faktor ekstraksi yang memengaruhi antara lain waktu pra-perlakuan alkali dan rasio sampel dan ekstraktan. Penelitian ini bertujuan menentukan waktu perendaman alkali terbaik dalam menghilangkan protein non-kolagen dan mengevaluasi pengaruh perbedaan jenis alkali pada pra-perlakuan serta rasio sampel dan ekstraktan dalam menghasilkan kolagen gelembung renang ikan manyung. Penelitian ini terdiri dari dua tahap, yaitu pertama penentuan waktu perendaman terbaik dalam larutan alkali (KOH), dan kedua ekstraksi papain soluble collagen selama 48 jam dengan variasi alkali (KOH dan NaOH 0,05 M) dan rasio sampel dan ekstraktan (1:10;1:20;1:30 b/v). Ekstraktan yang digunakan adalah enzim papain 5.000 U/g dalam asam asetat 0,5 M. Parameter yang dianalisis meliputi proporsi ikan, proksimat, asam amino, konsentrasi protein, rendemen, stabilitas termal, gugus fungsi, berat molekul, dan zeta potensial. Hasil menunjukkan bahwa gelembung renang ikan manyung memiliki proporsi 4,08%, kadar protein 33,58±0,11%, asam amino penciri prolina 29,2 mg/g, alanina 28,9 mg/g dan hidroksiprolina 18,18 mg/g. Waktu perendaman terbaik dalam larutan KOH adalah 6 jam. Perlakuan terbaik untuk ekstraksi papain soluble collagen yakni menggunakan pra-perlakuan alkali menggunakan NaOH selama 6 jam dengan rasio sampel dan ekstraktan 1:20 (b/v). Rendemen kolagen yang diperoleh sebesar 35,31±0,65% dengan karakteristik gugus amida (A, B, I, II, III), pola elektroforesis (α1,α2, β), suhu transisi maksimum 33,06°C dan zeta potensial +32 mV.
Eksplorasi aktivitas enzimatik dari fungi endofit laut serta aplikasinya untuk hidrolisis kitosan: Exploration of enzymatic activity of marine endophyte fungi and its application for chitosan hydrolysis Budiman, Muhammad Arief; Tarman, Kustiariyah; Hardiningtyas, Safrina Dyah; Nurazizah, Mirah Afiza
Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia Vol. 27 No. 11 (2024): Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia 27(11)
Publisher : Department of Aquatic Product Technology IPB University in collaboration with Masyarakat Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia (MPHPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17844/jphpi.v27i11.58419

Abstract

Fungi endofit laut merupakan fungi yang berasosiasi dengan jaringan organisme laut, yaitu rumput laut, koral, lamun, bunga karang maupun sedimen di lingkungan laut. Fungi dapat memproduksi metabolit sekunder berupa senyawa enzim ekstraseluler, di antaranya selulase, amilase, pektinase, kitosanase, lipase, maupun protease. Penelitian ini bertujuan menentukan potensi isolat fungi endofit berdasarkan aktivitas kitosanolitik, selulolitik, dan proteolitik untuk mendegradasi kitosan. Isolat fungi endofit laut diisolasi dari jaringan rumput laut, lamun, dan mangrove dari perairan Sukabumi dan Kepulauan Buton, Indonesia. Fungi sebanyak 20 isolat dilakukan penapisan aktivitas enzimatik (kitosanolitik, selulolitik, dan proteolitik) dengan metode difusi agar untuk mengetahui diameter zona bening yang dihasilkan. Proses hidrolisis dilakukan dengan menginokulasi isolat ke media hidrolisis yang berisi koloidal kitosan selama 7 hari. Hasil penelitian menunjukkan 12 isolat memiliki aktivitas kitosanolitik, 8 isolat selulolitik, dan 10 isolat proteolitik. Lima isolat memiliki aktivitas terhadap semua aktivitas enzimatik yang diuji. Dua isolat dengan kode KVA dan BM48A memiliki diamater zona bening kitosanolitik tertinggi. Kedua isolat tersebut diidentifikasi melalui DNA Barcoding sebagai spesies dengan galur Trichoderma harzianum KTR3 dan Aspergillus sydowii KTR50. Rendemen hidrolisat kitosan yang dihidrolisis menggunakan isolat T. harzianum KTR3 dan A. sydowii KTR50 7,44% dan 6,74%. Nilai viskositas yang dihidrolisis menggunakan isolat T. harzianum KTR3 dan A. sydowii KTR50 berturut-turut 21,10 cP dan 9,26 cP serta nilai bobot molekul 9,06 kDa dan 4,47 kDa. Aktivitas enzimatik yang dihasilkan oleh isolat fungi endofit laut memiliki kemampuan dalam mendegradasi kitosan, hal ini dibuktikan dengan terjadinya penurunan nilai viskositas dan bobot molekul kitosan.
Fermentasi daun mangrove Rhizophora mucronata sebagai teh herbal : Fermentation of mangrove leaves (Rhizophora mucronata) as herbal tea Lein, Marianus Ada; Desniar, Desniar; Hardiningtyas, Safrina Dyah
Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia Vol. 28 No. 2 (2025): Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia 28(2)
Publisher : Department of Aquatic Product Technology IPB University in collaboration with Masyarakat Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia (MPHPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17844/jphpi.v28i2.61684

Abstract

Rhizophora mucronata merupakan jenis mangrove yang banyak ditemukan di Indonesia. Daun tanaman ini mengandung berbagai metabolit sekunder, yaitu tanin, karotenoid, fenol, klorofil, dan alkaloid, yang berpotensi digunakan sebagai bahan teh herbal fermentasi. Senyawa tanin aman dikonsumsi dan memiliki berbagai fungsi, yaitu antioksidan, antibakteri, antikanker serta antialergi. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan lama waktu fermentasi daun mangrove terbaik sebagai bahan baku teh herbal dengan starter BAL Lactobacilus plantarum SK (5). Rancangan acak lengkap (RAL) digunakan dengan perlakuan lama fermentasi (0, 1, 2, 3, dan 4 hari) dan tiga kali ulangan. Karakteristik bahan baku dilakukan dengan uji logam berat, kadar air, abu, dan fitokimia. Penelitian pembuatan teh herbal, yaitu pencampuran daun mangrove (20 g) dan akuades (60 mL) serta ditambah starter (10% (v/b)) kemudian difermentasi selama empat hari pada suhu 37°C. Analisis meliputi pengukuran pH, total asam titrat (TAT), total bakteri, dan total BAL. Kandungan logam berat, kadar air, dan abu daun mangrove memenuhi persyaratan SNI. Senyawa golongan flavonoid, fenol, saponin, tanin, dan steroid terdeteksi pada daun mangrove R mucronata bahan baku dan produk fermentasi. Waktu fermentasi terbaik diperoleh pada hari ke-2 dengan nilai pH 4,9, TAT 2,4%, dan total BAL (1,7 log CFU/mL). Perlakuan lama fermentasi daun mangrove menunjukkan perubahan pada nilai pH, TAT, total bakteri dan total BAL selama proses fermentasi. Nilai pH, TAT, total bakteri dan total BAL selama proses fermentasi menunjukkan daun mangrove berpotensi sebagai teh herbal fermentasi.
Isolation and Characterization of Cellulase Enzymes from Marine Endophytic Fungi Tarman, Kustiariyah; Hardiningtyas, Safrina Dyah; Mardiana, Rina; Isti'anah, Ismi; Salamah, Ella
Molekul Vol 21 No 1 (2026)
Publisher : Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.jm.2026.21.1.9857

Abstract

ABSTRACT. Enzymes called cellulases can break down the β 1,4-glycosidic bonds in cellulose to produce glucose or simple sugars. In this study, marine endophytic fungi that were isolated from the seagrass Enhalus sp. were used to obtain cellulase enzymes, assess activity, and identify the ideal pH and temperature for cellulase enzymes. The research involved a number of steps for the isolation and characterization of cellulase enzymes from Enhalus sp. named EN marine fungi, including preparing the seaweed by soaking it in warm and room-temperature water, extracting the cellulase enzymes by cultivating the marine fungi on production media with pretreated seaweed, counting the total cellulase activity was assessed using the Mandels et al. (1976) technique, and purifying the cellulase enzymes by depositing it with ammonium sulfate at a saturation level of 30-80%. According to the findings, on day 9 with seaweed carbon as a source of warm water immersion, cellulase enzyme isolated from seagrass Enhalus sp. had the greatest crude extract activity of total cellulase enzyme activity (FPAse), amounting to 0.0276 U/mL. The cellulase enzyme precipitated at a 70% saturation level of ammonium sulfate with an FPAse activity of 0.0381 U/mL and a specific activity of 1.85 U/mg. At pH 5 and 50 °C, cellulase enzyme deposition in this investigation was at its best. Keywords: cellulase enzyme, extraction, Enhalus sp., seaweed
Synthesis of Chitosan and Ulva sp.-Based Hydrogel Beads as Bioadsorbents for Heavy Metal Removal of Pb and Cd Dyah Safrina Hardiningtyas; Faza Maulida; Bustami Ibrahim
Journal of Marine and Coastal Science Vol. 15 No. 2 (2026): JUNE
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jmcs.v15i2.90198

Abstract

Water pollution remains a critical global concern, with heavy metals such as lead (Pb) and cadmium (Cd) posing serious health and environmental risks. Adsorption using biobased materials has emerged as a sustainable solution for mitigating heavy metal contamination in water. Among various bioadsorbents, chitosan and seaweed (Ulva sp.) are notable for their abundance, environmental friendliness, and effectiveness in removing toxic metals. While chitosan and Ulva have been studied individually for their adsorption properties, research on their combined use in hydrogel beads is limited, especially when their compositional ratios are systematically varied. The present study seeks to address this gap by evaluating how the incorporation and proportion of Ulva affect the structural, functional, and adsorptive properties of chitosan-based hydrogel beads, with a specific focus on the simultaneous removal of Pb and Cd from water. Hydrogel beads were synthesized with different chitosan-to-Ulva ratios (U1 [1:0], U2 [1:0.1], and U3 [1:0.5]) and characterized for swelling behavior, gel fraction, and heavy metal adsorption capacity. Results show that adding Ulva to the chitosan matrix significantly enhances the bioadsorbent’s performance, especially at the highest tested ratio (U3), which achieved an average bead diameter of 3.7 ± 0.01 mm, high swelling, and stable gel fraction. Most importantly, U3 beads demonstrated superior removal efficiencies for both Pb and Cd, highlighting the synergistic effect of combining chitosan and Ulva. These findings suggest that chitosan–Ulva hydrogel beads are promising, eco-friendly bioadsorbents for remediating heavy metal-contaminated water and could play an important role in sustainable water treatment technologies.
Peningkatan Pengetahuan dan Keterampilan Warga Desa Babakan melalui Pelatihan Pembuatan Cookies Spirulina Iriani Setyaningsih; Kustiariyah Tarman; Safrina Dyah Hardiningtyas; Rizfi Faris Pari; Desniar; Uju Uju; Wahyu Ramadhan; Tati Nurhayati
Agrokreatif: Jurnal Ilmiah Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 10 No. 1 (2024): Agrokreatif Jurnal Ilmiah Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/agrokreatif.10.1.76-84

Abstract

Cookies are dry cakes made with flour as the primary baking ingredient. Spirulina platensis was rich in protein, amino acids, glycoproteins, essential fatty acids, polysaccharides, and beta-carotene. Therefore, using sago flour combined with spirulina and seaweed in cookies can increase the nutritional value and produce gluten-free cakes. This training aims to increase knowledge about spirulina, packaging, and product marketing strategies and the skills of Babakan village residents by providing training on making spirulina cookies. This community service activity was conducted by counseling and training on making spirulina cookies in Babakan Village, Dramaga. Counseling activities were carried out to increase knowledge about the potential of spirulina, good packaging, and product marketing strategies, as well as training on making spirulina cookies to improve the skills of Babakan village residents. There were 18 training participants: Family Welfare Empowerment administrators and members. Pre-tests and post-tests were carried out before and after the training activities regarding the topic provided by the speakers. The achievements of the training activities were seen from an increase in post-test results, which was 60% answered correctly compared to only 40% for the pre-test. The evaluation results of the participant's acceptance of training topics and training speakers had an average of 58 to 69%, respectively, perfect. While the participants's assessment of the training facilities and consumption had an average of 50%, they were good.