Claim Missing Document
Check
Articles

Found 20 Documents
Search

Peranan Lingkungan Formal dan Informal dalam Pemerolehan Bahasa Kedua Putu Andyka Putra Gotama
LAMPUHYANG Vol 14 No 1 (2023)
Publisher : Lembaga Penjaminan Mutu STKIP Agama Hindu Amlapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47730/jurnallampuhyang.v14i1.328

Abstract

Manusia dalam berinteraksi dengan sesamanya menggunakan sarana bahasa. Masyarakat Indonesia hendaknya mampu menguasai lebih dari satu bahasa karena negara Indonesia merupakan negara kepulauan, dan tentu memiliki Bahasa Daerah yang beragam. Berkomunikasi dengan menggunakan bahasa daerah dengan masyarakat interen suku tentu tidak akan mengalami kesulitan, namun apabila berkomunikasi dengan masyarakat di luar suku, sudah dapat dipastikan akan mengalami kesulitan. Oleh karena itulah, di Indonesia telah ada bahasa persatuan/bahasa nasional yaitu bahasa Indonesia. Itulah sebabnya kenapa masyarakat disarankan untuk menggunakan lebih dari satu bahasa, minimal untuk masyarakat Indonesia, mampu menggunakan bahasa daerah sebagai B1 (bahasa Ibu) dan bahasa Indonesia sebagai bahasa keduanya (B2). Selain B2 bahasa Indonesia, kenyataan sekarang karena Indonesia terkenal dengan dunia pariwisata dan juga demi kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, maka ada semacam tuntutan yang wajib dilaksanakan yaitu, menguasai bahasa Inggris sebagai B2 yang lain. Terlepas dari pernyataan di atas, disadari bahwa dalam belajar B2 itu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Banyak kesulitan-kesulitan dalam belajar bahasa kedua. Ada banyak faktor yang mempengaruhi seseorang dalam belajar bahasa kedua. Salah satu faktornya adalah faktor lingkungan. Oleh karena itu, dalam artikel ini dibuat dengan tujuan untuk mengetahui pengertian lingkungan bahasa, peranan lingkungan formal dalam pemerolehan bahasa kedua, dan peranan lingkungan informal dalam pemerolehan bahasa kedua. Berdasarkan pembahasan diperoleh hasil bahwa yang termasuk lingkungan bahasa adalah situasi di mana orang tersebut belajar B2, misalnya di rumah, di sekolah, di kantor, di tempat nongkrong, dan yang lainnya. Kualitas lingkungan bahasa merupakan salah satu hal yang sangat penting bagi kesuksesan seseorang dalam belajar B2. Kemudian, ada banyak faktor yang memengaruhi seseorang dalam belajar bahasa kedua. Salah satu faktor yang paling berpengaruh adalah faktor lingkungan. Lingkungan dapat dibedakan menjadi dua, yaitu lingkungan formal dan lingkungan nonformal. Lingkungan formal adalah salah satu lingkungan dalam belajar bahasa yang memfokuskan pada penguasaan kaidah-kaidah bahasa yang dipelajari secara sadar. Sementara itu, lingkungan nonformal adalah lingkungan yang mampu menjadi data input yang baik bagi pembelajar B2. Data input ini bila telah mengalami internalisasi akan menjadi pengetahuan linguistik yang berguna kelak sebagai bahan monitor. Lingkungan informal yang terpahami merupakan lingkungan bahasa yang baik bagi pembelajar. Seorang pembelajar B2 akan mampu menguasai bahasa target dengan baik apabila kedua lingkungan di atas dapat di manfaatkan dengan baik.
ANALISIS PENGGUNAAN KALIMAT EFEKTIF DALAM TEKS BERITA: KAJIAN TATA BAHASA TAKSONOMI: ANALYSIS OF THE USE OF EFFECTIVE SENTENCES IN NEWS TEXTS: A GRAMMAR TAXONOMY STUDY Darmayanti, Ida Ayu Made; Gotama, Putu Andyka Putra; Kami, Kanisius; Sukrin, Sukrin; Suandi, I Nengah; Putrayasa, Ida Bagus
Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Undiksha Vol. 14 No. 1 (2024)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpbsi.v14i1.70458

Abstract

Penelitian deskriptif kualitatif ini bertujuan mendeskripsikan penggunaan kalimat efektif dalam teks berita yang dikaji dari tata bahasa Taksonomi dan kendala-kendala yang dihadapi oleh siswa kelas XI.H SMA Negeri 1 Singaraja saat menyusun teks berita. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas XI.H SMA Negeri 1 Singaraja. Data dikumpulkan dengan metode dokumentasi dan wawancara. Analisis data dilakukan dengan teknik analisis deskriptif kualitatif. Penelitian penting dilakukan karena siswa cenderung tidak mengaplikasikan kaidah kebahasaan dalam menyusun kalimat efektif saat menulis teks berita. Hasil penelitian menunjukkan penggunaan kalimat efektif dalam teks berita siswa kelas XI.H SMA Negeri 1 Singaraja yang dikaji dari tata bahasa Taksonomi itu ada pada tataran morfologi dan sintaksis yang dikaji berdasarkan identifikasi, klasifikasi, dan penamaan. Kendala-kendala yang dihadapi oleh siswa adalah masih bingung dengan penyusunan kalimat efektif, terutama masalah penggunaan ciri-ciri atau aspek-aspek kalimat efektif dalam menulis teks berita; menulis teks berita memerlukan waktu yang lumayan lama, terlebih, harus menyimak dengan baik materi yang ditayangkan oleh guru agar dapat menyusun teks berita dengan benar; serta harus memahami dengan baik konsep kalimat efektif dan kaidah kebahasaan yang ada saat menulis teks berita.
Pemanfaatan linguistik generatif transformasional dalam pengajaran pengembangan kalimat berbasis muatan lokal pada Siswa Sekolah Dasar Dwipayana, I Kadek Adhi; Gotama, Putu Andyka Putra; Putrayasa, Ida Bagus
Academy of Education Journal Vol. 15 No. 1 (2024): Academy of Education Journal
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47200/aoej.v15i1.2163

Abstract

This research uses a library research approach that prioritizes philosophical analysis over empirical data testing. There are three important points studied in this research, namely learning sentence analysis in elementary school students using a transformative generative linguistic approach, the application of types of transformation in learning sentence analysis, and the relevance of learning sentence analysis by utilizing local content. The results of this study are projected to be used as a reference source for language teaching guidelines that further develop language creativity, especially the use of sentences. The generative transformational linguistic approach developed by Chomsky, offers an interesting theoretical framework for understanding sentence variation and its underlying structural transformations. Implementation of sentence analysis teaching based on a transformational generative linguistic approach to elementary school students requires implementation steps that are appropriate to the level of cognitive development and language skills of students at the elementary school level, namely the initial stage (first and second grade students), the middle stage (third grade students and four), and advanced stages (fifth and sixth grade students). Implementation of the transformational generative linguistic approach can be carried out through several stages, namely introducing the basic ideas of generative grammar, understanding the basic structure of sentences, understanding syntactic transformations, transformation exercises and case studies. Local cultural inclusion can be utilized in teaching sentences to elementary school students. Students can use language in their own cultural context, consider variations in linguistic expression, and explore the cultural strengths of sentence structure.
PELATIHAN KREATIVITAS KULINER SEBAGAI DAYA TARIK WISATA BAGI IBU PKK DI BANJAR SILAKARANG Suryanto, I Wayan; Astuti, Ni Made Erpia Ordani; Prastyandhari, I Gusti Ayu Ika Monika; Diarini, I Gusti Ayu Agung Sinta; Suartana, I Ketut; Fransiska, Maria; Gotama, Putu Andyka Putra; Sentosa, I Putu Pranatha
Seminar Nasional Aplikasi Iptek (SINAPTEK) Vol. 7 (2024): PROSIDING SINAPTEK
Publisher : LPPM Universitas Dhyana Pura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

PKK Br. Silakarang, Desa singapadu Kaler, Sukawati, Gianyar adalah daerah dengan potensi budaya, seni, dan pariwisata khususnya bidang kuliner. Salah satu kendala yang dihadapi mitra adalah masih rendahnya Kreativitas Kuliner mitra dalam menciptakan kudapan yang unik dan menarik, yang dapat meningkatkan daya tarik wisata kuliner di Banjar Silakarang. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, program strudi Pendidikan kesejahtraan keluarga melakukan kegiatan pelatihan yang fokus pada pengembangan kreativitas dalam menciptakan kudapan yang unik dan menarik, yang dapat meningkatkan daya tarik wisata kuliner di Banjar Silakarang dan strategi pemasaran yang efektif untuk memperkenalkan dan mempromosikan produk kuliner hasil kreasi ibu-ibu PKK kepada wisatawan. Metode yang digunakan dalam kegiatan pelatihan adalah metode ceramah dan demonstrasi dengan melibatkan partisipasi aktif selurung anggota PKK Br silakarang dalam pelaksanaan kegiatan. Hasil dari kegiatan pelatian, terjadi peningkatan pengetahuan dan keterampilan kuliner PKK Br Silakarang dalam membuat kudapan yang unik, lezat, dan bergizi, yang dapat menarik minat wisatawan peserta, dan peningkatan kemampuan pemasaran produk kuliner.
Perbedaan Minat dan Hasil Belajar Siswa melalui Penerapan Role Playing Berbantuan Media Audiovisual pada Mata Pelajaran Front Office Sabuna, Agnes Monica; Gotama, Putu Andyka Putra; Suryanto, I Wayan
JAKADARA: JURNAL EKONOMIKA, BISNIS, DAN HUMANIORA Vol. 3 No. 3 (2024): JAKADARA: JURNAL EKONOMI, BISNIS, DAN HUMANIORA
Publisher : LPPM Universitas Dhyana Pura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36002/jd.v3i3.3480

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan minat belajar dan hasil belajar melalui penerapan model Role Playing berbantuan media audiovisual pada mata pelajaran front office. Metode penelitian ini adalah kuantitatif dengan rancangan penelitian yaitu one group pretest-posttest design. Teknik sampling yang digunakan yaitu purposive sampling. Responden dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI Perhotelan 1 di SMK Pariwisata Dwi Tunggal Tabanan yang berjumlah 31 orang. Data yang dikumpulkan menggunakan metode observasi, kuesioner, dan dokumentasi. Pengujian hipotesis dalam penelitian ini menggunakan Paired sample t-test. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa telah terjadi peningkatan, pada pretest minat belajar diperoleh rerata sebesar 60.48, sedangkan pada posttest diperoleh rerata sebesar 84.84. Dari hasil pengukuran tersebut secara deskriptif terdapat peningkatan nilai sebesar 24. Pada pretest hasil belajar diperoleh rerata sebesar 73.59, sedangkan pada posttest diperoleh rerata sebesar 84.41. Dari hasil pengukuran tersebut secara deskriptif terdapat peningkatan nilai sebesar 10.82. Hasil uji paired sample t-test yang membandingkan antara pretest-posttest minat belajar menunjukkan signifikansi sebesar 0.000 < 0.05 sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan minat belajar melalui penerapan model role playing berbantuan media audiovisual. Pada hasil belajar menunjukkan signifikansi sebesar 0.000 < 0.05 sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan hasil belajar melalui penerapan model role playing berbantuan media audiovisual.
Perbedaan Minat dan Hasil Belajar Siswa Melalui Penggunaan Media Pembelajaran Video Tutorial Table Set-Up di SMK Wira Harapan Syahrani, Dewa Ayu Mirah; Gotama, Putu Andyka Putra; Suryanto, I Wayan
JAKADARA: JURNAL EKONOMIKA, BISNIS, DAN HUMANIORA Vol. 3 No. 3 (2024): JAKADARA: JURNAL EKONOMI, BISNIS, DAN HUMANIORA
Publisher : LPPM Universitas Dhyana Pura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36002/jd.v3i3.3486

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan minat dan hasil belajar siswa melalui penggunaan media pembelajaran video tutorial table set-up di SMK Wira Harapan. Jenis penelitian adalah eksperimen jenis nonequivalent control group design yang dilakukan pada siswa kelas XI Kuliner 1 dan XI Kuliner 2 di SMK Wira Harapan. Teknik sampling menggunakan purposive sampling. Jumlah responden 42 siswa. Data yang dikumpulkan menggunakan metode observasi, angket, tes perbuatan, dan dokumentasi. Teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini dilakukan dengan independent sample t-test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa telah terjadi peningkatan pada pretest kelas eksperimen yang mana rerata minat belajar sebesar 86.00 dan pada posttest setelah mendapatkan perlakuan diperoleh sebesar 101.24. Sedangkan, pada pretest kelas kontrol yang mana rerata minat belajar sebesar 86.67 dan pada posttest tanpa diberikan perlakuan hanya diperoleh sebesar 91.90. Dari hasil pengukuran tersebut terdapat peningkatan skor kelas eksperimen sebesar 15.24 dan kelas kontrol sebesar 5.23. Pada pretest kelas eksperimen yang mana rerata hasil belajar sebesar 75.24 dan pada posttest setelah mendapatkan perlakuan diperoleh sebesar 90.00. Sedangkan, pada kelas kontrol pretest hasil belajar diperoleh rerata sebesar 76.19 dan pada posttest tanpa diberikan perlakuan hanya diperoleh sebesar 78.81. Dari hasil pengukuran tersebut terdapat peningkatan skor kelas eksperimen sebesar 14.76 dan kelas kontrol sebesar 2.62. Hasil uji independent sample t-test yang membandingkan posttest minat belajar menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan dengan signifikansi sebesar 0.000 < 0.05 dan hasil belajar menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan dengan signifikansi sebesar 0.000 < 0.05.
Perbedaan Keaktifan dan Hasil Belajar melalui Model Team Games Tournament berbantuan Media Wordwall pada Mata Pelajaran Dasar – Dasar Kuliner di SMK Nusa Dua Putri S. A, Ni Made Dwi Mahadewi; Suryanto, I Wayan; Gotama, Putu Andyka Putra
JAKADARA: JURNAL EKONOMIKA, BISNIS, DAN HUMANIORA Vol. 3 No. 3 (2024): JAKADARA: JURNAL EKONOMI, BISNIS, DAN HUMANIORA
Publisher : LPPM Universitas Dhyana Pura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36002/jd.v3i3.3491

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan keaktifan dan hasil belajar siswa melaui penerapan model TGT berbantuan media Wordwall pada mata pelajaran dasar-dasar kuliner. Jenis penelitian ini adalah kuasi eksperimen tipe non-equivalent control group design yang dilakukan pada siswa kelas X Kuliner 1 dan kelas X Kuliner 2 di SMK Nusa Dua. Teknik sampling penelitian menggunakan purposive sampling. Responden penelitian ini berjumlah 64 siswa. Pengumpulan data menggunakan observasi, kuesioner, tes dan dokumentasi. Teknik analisis adalah Independent Sample T-Test. Hasil penelitian menunjukkan terdapat peningkatan pada pretest di kelas eksperimen yang mana rerata keaktifan diperoleh sebesar 75, dan pada post-test diperoleh sebesar 81. Sedangkan pada pretest kelas kontrol, rerata keaktifan diperoleh sebesar 66, dan pada post-test diperoleh sebesar 67. Dari hasil pengukuran, terdapat peningkatan skor pada kelas eksperimen sebesar 6, dan pada kelas kontrol sebesar 1. Pada pretest kelas eksperimen rerata hasil belajar memperoleh nilai 73.79, dan pada post-test diperoleh sebesar 86.54. Sedangkan pada pretest kelas kontrol rerata hasil belajar diperoleh sebesar 74.29, dan pada post-test diperoleh sebesar 77.12. Dari hasil pengukuran tersebut, terdapat peningkatan skor pada kelas eksperimen sebesar 12.75 dan pada kelas kontrol sebesar 2.83. Hasil uji Independent Sample T-Test yang membandingkan post-test keaktifan menunjukkan terdapat perbedaan signifikan dengan signifikansi sebesar 0.004 dan 0.003 < 0.05, dan pada hasil belajar menunjukkan terdapat perbedaan nilai rerata pada kelas eksperimen sebesar 86.38 dan 77.00 pada kelas kontrol yang artinya keaktifan dan hasil belajar siswa yang diajar dengan model TGT berbantuan media Wordwall lebih tinggi dibandingkan hasil belajar siswa yang diajar dengan model konvensional.
Penerapan Model Pembelajaran (CPS) Creative Problem Solving pada Pembelajaran Praktik Continental untuk Meningkatkan Kreativitas dan Hasil Belajar Siswa Pradata, Inggrit Fajar; Sentosa, I Putu Pranatha; Gotama, Putu Andyka Putra
JAKADARA: JURNAL EKONOMIKA, BISNIS, DAN HUMANIORA Vol. 4 No. 1 (2025): JAKADARA: JURNAL EKONOMI, BISNIS, DAN HUMANIORA
Publisher : LPPM Universitas Dhyana Pura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36002/jd.v4i1.3835

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan peningkatan kreativitas dan hasil belajar siswa pada mata Pelajaran continental melalui penerapan model creative problem solving. Metode penelitian ini adalah kuantitatif dengan rancangan penelitian one group pretest- posttest design. Teknik sample yaitu total sampling. Responden dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI kuliner 2 SMK Wira Harapan yang berjumlah 41 siswa. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa telah terjadi peningkatan, pada pretest kreativitas diperoleh rerata sebesar 34,85, sedangkan pada posttest memperoreh rerata sebesar 42,00. Dari hasil pengukuran tersebut secara deskriptif terdapat peningkatan sebesar 7,29. Pada pretest hasil belajar diperoleh rerata sebesar 75% dari tiga ranah hasil belajar. Sedangkan pada postest hasil belajar diperoleh rerata sebesar 83%. dari hasil pengukuran tersebut secara deskriptif terdapat peningkatan skor sebesar 8%. Hasil uji paired sample t-test yang membandingkan antara pretest-posttest kemandirian menunjukkan signifikansi sebesar 0.000 < 0,05 sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan kemandirian melalui penerapan model creative problem solving. Pada pada hasil belajar menunjukkan signifikansi sebesar 0.000 < 0,05 sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan hasil belajar melalui penerapan model creative problem solving.
Quizizz-Assisted Microlearning Model to Improve Students’ Activeness and Learning Outcomes in Basic Culinary Subject at SMK PGRI 3 Badung: Penerapan Model Microlearning Berbantuan Quizizz untuk Meningkatkan Keaktifan dan Hasil Belajar Siswa pada Mata Pelajaran Dasar-Dasar Kuliner di SMK PGRI 3 Badung Ria, Bina; Gotama, Putu Andyka Putra; Sentosa, I Putu Pranatha
JAKADARA: JURNAL EKONOMIKA, BISNIS, DAN HUMANIORA Vol. 4 No. 2 (2025): JAKADARA: JURNAL EKONOMIKA, BISNIS, DAN HUMANIORA
Publisher : LPPM Universitas Dhyana Pura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36002/jd.v4i2.4467

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh model pembelajaran Microlearning berbantuan Quizizz terhadap keaktifan dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran Dasar - dasar Kuliner kelas X Kuliner 3 SMK PGRI 3 Badung. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain pre-eksperimental one-group pretest–posttest. Sebanyak 40 siswa dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Instrumen pengumpulan data meliputi kuesioner keaktifan dan tes hasil belajar, dianalisis menggunakan uji t berpasangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keaktifan siswa meningkat dari rata-rata 53,225 menjadi 57,725, dengan peningkatan tertinggi pada indikator penerapan pengetahuan dan evaluasi diri. Hasil belajar siswa meningkat dari rata-rata 70,13 menjadi 88,6 disertai penyempitan rentang nilai. Uji t menunjukkan nilai signifikansi 0,010 untuk keaktifan dan 0,000 untuk hasil belajar (p < 0,05), yang berarti terdapat perbedaan signifikan sebelum dan sesudah penerapan model. Temuan ini membuktikan bahwa model Microlearning berbantuan Quizizz efektif meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa.
EKSPLORASI STRATEGI PENANGGULANGAN STRESS KERJA GURU: KAJIAN PADA GURU SMK NEGERI DI KECAMATAN KUTA SELATAN Sentosa, I Putu Pranatha; Diarini, I Gusti Ayu Agung Sinta; Gotama, Putu Andyka Putra
JOURNAL OF SCIENCE AND SOCIAL RESEARCH Vol 8, No 4 (2025): November 2025
Publisher : Smart Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54314/jssr.v8i4.4843

Abstract

Abstract: This study aims to analyze several things, namely: a) a significant positive relationship between teacher work stress and teacher performance, b) factors that influence teacher work stress and c) work stress management strategies by teachers of State Vocational High Schools in South Kuta District. This study is a quantitative descriptive study, where teachers are the main actors in the world of education who play an important role in shaping the nation's next generation. This research was conducted at State Vocational High Schools in South Kuta District. The number of samples in this study was 32 teachers. Based on the results of the study, the R square value of 0.696 means that work stress and work culture affect teacher performance by 69.6% while 30.4% is influenced by other factors not examined in this study. Teachers are one of the main actors in the world of education who play an important role in shaping the nation's next generation. However, in carrying out their duties, teachers are often faced with various demands and pressures, both academically, administratively, and psychologically. This can trigger work stress, which if not managed properly can negatively impact teacher performance, the quality of learning, and their mental well-being. In the State Vocational High School (SMK) environment, the challenges faced by teachers tend to be more complex compared to public schools. Keyword: Exploration, Strategy, Work stress, Vocational school, Teacher Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis beberapa hal yaitu: a) hubungan positif yang signifikan antara stress kerja guru terhadap kinerja guru, b) factor yang mempengaruhi stress kerja guru dan c) strategi  penanggulangan stres kerja oleh guru SMK Negeri di Kecamatan Kuta Selatan. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif, dimana guru merupakan aktor utama dalam dunia pendidikan yang memegang peran penting dalam membentuk generasi penerus bangsa. Penelitian ini dilakukan di SMK Negeri di Kecamatan Kuta Selatan. Jumlah sampel pada penelitian ini sebanyak 32 orang guru. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan nilai R square 0,696 bermakna bahwa stress kerja dan budaya kerja mempengaruhi kinerja guru sebesar 69,6% sedangkan 30,4% dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak diteliti pada penelitian ini. Guru merupakan salah satu aktor utama dalam dunia pendidikan yang memegang peran penting dalam membentuk generasi penerus bangsa. Namun, dalam menjalankan tugasnya, guru sering kali dihadapkan pada berbagai tuntutan dan tekanan, baik dari segi akademik, administratif, maupun psikologis. Hal ini dapat memicu stres kerja, yang jika tidak dikelola dengan baik dapat berdampak negatif terhadap kinerja guru, kualitas pembelajaran, serta kesejahteraan mental mereka. Di lingkungan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri, tantangan yang dihadapi guru cenderung lebih kompleks dibandingkan dengan sekolah umum.  Kata kunci: Eksplorasi, Strategi, Stres kerja, SMK, Guru