Claim Missing Document
Check
Articles

Found 21 Documents
Search

Efektivitas Metode Elastic Band Exercise Terhadap Keseimbangan Dinamis Pada Lansia Yuliana, Sri; Nawarani Putri, Aulia; Nur Afifah, Zulaika; Fadhil Dzil Ikrom Al Hazmi, Dhofirul; Yudistira, Efraldo; Muhammad Akbar, Bota; Shiddiqi, Toumi; Ardiaviandaru Siamy, Hapy; Fairuz Fajri A.Zain, Afif
JURNAL PROFESIONAL FISIOTERAPI Vol. 4 No. 2 (2025): July
Publisher : Universitas Muhammadiyah Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24127/fisioterapi.v4i2.8382

Abstract

Belakang Hasil survei lanjut usia yang aktif di Indonesia pada tahun 2020 yaitu 9,78% dari populasi penduduk Indonesia yang berjumlah sekitar 270,20 jiwa. Pertambahan penduduk lanjut usia meningkat sebanyak 7,57% seiring juga dengan meningkatnya gangguan keseimbangan pada lansia..Lanjut usia adalah puncak dalam siklus kehidupan, semakin bertambahnya usia akan mengalami penurunan fungsi pada organ tubuhnya. Gangguan keseimbangan salah satu masalah yang muncul akibat dari perubahan fisiologis yang akan berdampak pada gangguan patologis secara degeneratif. Gangguan keseimbangan adalah ketidak mampuan seseorang dalam mempertahankan pusat gravitasi ketika dalam posisi tegak maupun gerak. Sehingga lansia ingin melakukan pengobatan terkait dampak dari gangguan keseimbangan. Salah satu upaya untuk meningkatkan keseimbangan yaitu dengan modalitas fisioterapi. Banyak intervensi yang dapat diberikan fisioterapi, salah satunya elastic band exercise. Tujuan : Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui efek Elastic Band Exercise dalam meningkatkan keseimbangan dinamis pada lanjut usia. Metode penelitian : Jenis penelitian ini adalah dengan menggunakan study case.Hasil : Setelah di lakukan penatalaksanaan fisioterapi dengan metode elastic band exercise sebanyak 24 kali selama 8 minggu terdapat peningkatan dinamis pada lansia. Kesimpulan : Elastic band exercise dapat meningkatkan keseimbangan dinamis pada lansia. Kata kunci : Lansia, Elastic band, Keseimbangan, Dinamis.
Potensi Cidera Pada Olahraga Hapkido Provinsi Lampung Yudistira, Efraldo; Khasanah, Al Um Aniswatun; Sefriana, Novi
Jurnal Surya Vol 13 No 3 (2021): VOL 13 NO 03 DESEMBER 2021
Publisher : Universitas Muhammadiyah Lamongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38040/js.v13i3.297

Abstract

Background: Injury conditions in martial arts based on epidemiological research are in the 10th position in dangerous sports with the potential for injury to reach 2.4% overall. The injury model that occurs each time is determined by a certain dominance technique of a discipline resulting from the philosophy of the sport discipline, training objectives, as well as from the rules of sports competition. The management of hapkido Lampung is aware of the lack of facilities for approaching medical science in injury management to review data and carry out training developments to minimize injuriesObjectives: This study purpose was to determine the risk of injury to Hapkido Athletes in order to develop training programs to focus on preventing or reducing the potential for existing injuries so that athletes have maximum performance.Design: This research is descriptive analytic research using cross sectional design . In this design a transverse approach is used. Where is the observation of the independent variable and the dependent variable is carried out only once at the same time with the number of research samples 60Data Source: The results of this study are data on the incidence of injuries experienced by hapkido athletes based on questionnaire data collectionResults: The data obtained are 53.3% female samples and 46.7% male, with data on the incidence of injury 50.9% in the ankle region, and 44.4% specific tissue injury to joints and ligaments and the incidence of injury during technical training 50.9%Conclusions: The incidence rate of injury to the hapkido martial arts athlete in Lampung has the largest presentation in the ankle region and in specific ligamentous tissues with the risk of it occurring during movement technique training activities where the results can be concluded that hapkido sports require good joint stability, especially in the ankle region.
KOMORBIDITAS PENYANDANG CEREBRAL PALSY DI KOMUNITAS CEREBRAL PALSY METRO KHASANAH, AL UM ANISWATUN; Yudistira, Efraldo; Akbar, Bota Muhammad
Jurnal Surya Vol 13 No 3 (2021): VOL 13 NO 03 DESEMBER 2021
Publisher : Universitas Muhammadiyah Lamongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38040/js.v13i3.298

Abstract

Background: Kondisi salah satu difabel macam-macam salah satunya yaitu Cerebral Palsy. Sebagian besar anak Cerebral Palsy paling sedikit memiliki satu kelainan penyerta atau komorbiditas. Pada data SCPE, komorbiditas yang paling umum ditemukan adalah gangguan berbahasa (71%), diikuti oleh gangguan intelektual (62%), epilepsi (39%), dan gangguan penglihatan (22%).Objectives: Tujuan penelitian untuk mengetahui masalah komorbiditas Cerebral Palsy sehubungan dengan  angka harapan hidup pasien yang bergantung pada beratnya disabilitas yang dialami pada komunitas Cerebral Palsy MetroDesign: Rancangan Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif analitik dengan menggunakan desain cross sectional atau potong lintang. Dalam desain cross sectional digunakan pendekatan transversal, dimana observasi terhadap variabel bebas dan variabel terikat dilakukan hanya sekali pada saat yang sama.Dengan Jumlah sampel penelitian 50.Data Sources: Subjek penelitian laki-laki 31 (62%) dan perempuan 19 (38%), dengan sampel rentang usia antara 0-18 tahun. Peserta paling banyak pada tipe CP Spastik QuadriplegiaResults: hasil Komorbiditas Cerebral Palsy pada subjek penelitian. Pada Disabilitas intelektual berjumlah 30 (60%), Epilepsy berjumlah 19(38%), Gangguan visual 3(6%), Gangguan wicara 37(74%), Gangguan perkembangan dan pertumbuhan 14(28%), Gangguan BAB 10 (20%), Gangguan Pernapasan 4 (8%), Gangguan ortopedi deformitas ankle 23(46%), Gangguan deformitas scoliosis 21 (42%), Gangguan subluksasi Hip 9(18%), Gangguan tidur 11 (22%), yang mana perindividu Cerebral Palsy paling banyak memiliki tiga komorbiditas dan banyak dimiliki oleh tipe CP Spastik QuadriplegiaConclusions: Komorbiditas pada penyandang cerebral palsy di komunitas cerebral palsy  metro yang paling banyak pada gangguan wicara serta ditemukan lebih dari tiga komorbiditas pada individu cerebral palsy  dengan tipe CP spastik Quadriplegia.
PENDAMPINGAN PARENTAL TRADITIONAL THAI MASSAGE UNTUK MENINGKATKAN KESADARAN SENSORI PADA KOMUNITAS PEDULI AUTIS LAMPUNG (KOPALA) Yudistira, Efraldo; Khasanah, Al Um Aniswatun; Soliha, Sangidatus; Vahlia, Ira; Dewi, Wardhani Utami
SINAR SANG SURYA Vol 9, No 2 (2025): Agustus 2025
Publisher : UM Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24127/sss.v9i2.4090

Abstract

Pengabdian ini bertujuan untuk memberikan pendampingan Parental Thai Massage. permasalahan yang diterapkan dalam komunitas ini adalah Parental Traditional Thai Massage, yang bertujuan untuk mengurangi stres, meningkatkan relaksasi, serta meningkatkan kesadaran sensorik pada anak autisme.Parental Traditional Thai Massage ini memberikan stimulasi pada sistem saraf pusat, membantu meredakan ketegangan otot, dan menciptakan efek relaksasi yang bermanfaat bagi anak. Metode pengabdian ini yaitu pengumpulan data, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi. Hasil pengabdian menunjukkan mitra sangat antusias dalam mengikuti pendampingan pendampingan Parental Thai Massage. Sebelum pendampingan dilakukan, hampir secara keseluruhan mitra belum mengetahui manfaat pendampingan Parental Thai Massage untuk meningkatkan kesadaran sensoris pada anak autis. Setelah diberikan pendampingan Parental Thai Massage 90% anggota KOPALA memahami dalam pelaksanaan teknik Parental Thai Massage. Dalam kegiatan tersebut, KOPALA sangat antusias dalam mengikuti pendampingan pembuatan Parental Thai Massage. Sebelum pendampingan dilakukan, hampir secara keseluruhan KOPALA belum mengetahui bahwasannya Parental Thai Massage memberikan efek stimulasi untuk meningkatkan kesadaran sensoris. Setelah diberikan pendampingan teknik Parental Thai Massage 90% orang tua KOPALA memahami teknik Parental Thai Massage 
PERMASALAHAN AKTIFITAS GERAK BODY AWARENESS PADA ANAK AUTIS DI KOMUNITAS PEDULI ANAK AUTIS LAMPUNG (KOPALA) KOTA METRO Khasanah, Al Um Aniswatun; Yudistira, Efraldo; Akbar, Bota Muhammad; Afifah, Zulaika Nur; Nata Dewi, Anak Ayu Nyoman Trisna
Journal of Hospital Administration and Excellent Health Service Vol. 1 No. 1 (2024): JANUARY
Publisher : Journal of Hospital Administration and Excellent Health Service

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Permasalahan lain pada kondisi autis salah satunya adalah body awareness atau kesadaran tubuh, mengingat permasalahan sensorik dan integrasi sensoris menjadi ciri khas individu dengan kondisi autism. Penelitian ini menggunakan pendekatan dengan mencari data dengan melakukan survei atau kuantitative yang datanya diambil secara langsung dengan orangtua di Komunitas Peduli Autis Lampung. Sampel penelitian dilakukan survei pada anak autis di Komunitas Peduli Autis Lampung dengan jumlah responden sebanyak 32 anak dengan metode melakukan tanya jawab kepada orang tua anak tersebut, dalam desain cross sectional digunakan pendekatan transversal, dimana observasi terhadap variabel bebas dan variabel terikat dilakukan hanya sekali pada saat yang sama. Setelah dilkukan survey didapatkan jumlah laki-lakinya 28 (87,5%) lebih banyak dibandingkan perempuan 4 (12,5%).Permasalahan aktivitas body awareness yang paling banyak adalah Sering menabrak dinding atau tersandung oleh objek di tengah lantai 28 (87,5%), Sering tersandung dengan kakinya sendiri 32 (100%), Kesulitan meniru gerakan yang dia lihat di TV atau saat bermain dengan Anda atau anak-anak lain 24 (75%), Suka mengunyah/ menggigit atau menarik pakaiannya sendiri atau orang lain 24 (75%), Saat menendang atau berjalan dengan kekuatan ekstra 26 (81,25%), Saat menulis memegang erat pensil atau menulis dengan tekanan ke kertas dengan ekstra 18 (56,25%), Tidak suka dengan ruang yang gelap 20 (62,5%), Suka melakukan pelukan yang erat kekeluarga atau benda kesayangan 26 (81,25%). Berdasarkan hasil survey yang paling banyak permasalahan aktivitas body awareness pada anak autis adalah anak sering tersandung dengan kakinya sendiri.
STUDY KASUS PENDEKATAN INOVATIF FISIOTERAPI PEDIATRI: MENINGKATKAN KONSENTRASI ANAK AUTISME MELALUI INTERVENSI MIRROR GAMES Utami, Inggrid Regita; Khasanah, Al Um Aniswatun; Sri Yuliana; Afifah, Zulaika Nur; Al Hazmi, Dhofirul Fadhil Dzil Ikrom; Yudistira, Efraldo; Yudistira, Bota Muhammad Akbar; Yudistira, Toumi Shiddiqi; Siamy, Hapy Ardiaviandaru; A.Zain, Afif Fairuz Fajri
Journal of Hospital Administration and Excellent Health Service Vol. 2 No. 2 (2025): Juli 2025
Publisher : Journal of Hospital Administration and Excellent Health Service

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Background: Autism or Autism Spectrum Disorder (ASD) is a neurodevelopmental condition characterized by two main symptoms: difficulties in social communication and interaction, as well as restricted and repetitive patterns of interests, activities, and behaviors. Children with autism often struggle to maintain concentration, which affects their ability to engage in learning and social activities. One therapeutic approach that can be used to improve concentration is mirror games, a mimicry-based activity involving both visual and motor interaction.Objective: To determine whether the mirror games method can improve concentration in children with autism.Research Method: This research used a single case study design, aimed at evaluating the effectiveness of physiotherapy management using the mirror games method to enhance concentration in a child with autism.Results: The results showed an increase in sustained attention duration and the ability to follow sequential instructions. The subject was able to maintain focus for a longer period and follow more instructions in sequence compared to before the intervention. This indicates that mirror games positively contribute to improving a child's concentration.Conclusion: The mirror games method can enhance concentration in children with autism and may serve as an enjoyable and practical alternative therapy that can also be applied at home.
PENDAMPINGAN PARENTAL TRADITIONAL THAI MASSAGE UNTUK MENINGKATKAN KESADARAN SENSORI PADA KOMUNITAS PEDULI AUTIS LAMPUNG (KOPALA) Efraldo Yudistira; Al Um Aniswatun Khasanah; Sangidatus Soliha; Ira Vahlia; Wardhani Utami Dewi
SINAR SANG SURYA Vol 9 No 2 (2025): Agustus 2025
Publisher : UM Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24127/sss.v9i2.4090

Abstract

Pengabdian ini bertujuan untuk memberikan pendampingan Parental Thai Massage. permasalahan yang diterapkan dalam komunitas ini adalah Parental Traditional Thai Massage, yang bertujuan untuk mengurangi stres, meningkatkan relaksasi, serta meningkatkan kesadaran sensorik pada anak autisme.Parental Traditional Thai Massage ini memberikan stimulasi pada sistem saraf pusat, membantu meredakan ketegangan otot, dan menciptakan efek relaksasi yang bermanfaat bagi anak. Metode pengabdian ini yaitu pengumpulan data, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi. Hasil pengabdian menunjukkan mitra sangat antusias dalam mengikuti pendampingan pendampingan Parental Thai Massage. Sebelum pendampingan dilakukan, hampir secara keseluruhan mitra belum mengetahui manfaat pendampingan Parental Thai Massage untuk meningkatkan kesadaran sensoris pada anak autis. Setelah diberikan pendampingan Parental Thai Massage 90% anggota KOPALA memahami dalam pelaksanaan teknik Parental Thai Massage. Dalam kegiatan tersebut, KOPALA sangat antusias dalam mengikuti pendampingan pembuatan Parental Thai Massage. Sebelum pendampingan dilakukan, hampir secara keseluruhan KOPALA belum mengetahui bahwasannya Parental Thai Massage memberikan efek stimulasi untuk meningkatkan kesadaran sensoris. Setelah diberikan pendampingan teknik Parental Thai Massage 90% orang tua KOPALA memahami teknik Parental Thai Massage 
IMPLEMENTASI KEBIJAKAN PELAYANAN KESEHATAN LANSIA MELALUI PEMERIKSAAN FUNGSIONAL DI TINGKAT DESA: STUDI DESKRIPTIF DI PURWODADI 13A METRO Al Um Aniswatun Khasanah; Hapy Ardiaviandaru Siamy; Sri Yuliana; Afif Fairuz A Zain; Bota Muhammad Akbar; Dhofirul Fadhil Dzil Ikrom Alhazmi; Efraldo Yudistira
Journal of Hospital Administration and Excellent Health Service Vol. 3 No. No, 1 (2026): Januari 2026
Publisher : Journal of Hospital Administration and Excellent Health Service

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Peningkatan jumlah penduduk lanjut usia (lansia) menuntut penguatan sistem pelayanan kesehatan yang tidak hanya bersifat kuratif, tetapi juga promotif dan preventif. Salah satu bentuk implementasi kebijakan pelayanan kesehatan lansia berbasis komunitas adalah pemeriksaan fungsional di tingkat desa untuk mendeteksi dini risiko penurunan fungsi fisik. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan implementasi kebijakan pelayanan kesehatan lansia melalui pemeriksaan fungsional menggunakan Sit and Reach Test di Balai Desa Purwodadi 13A Metro. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif kuantitatif dengan teknik total sampling terhadap 14 lansia yang mengikuti kegiatan pemeriksaan kesehatan. Variabel yang diamati meliputi karakteristik responden (jenis kelamin, usia, berat badan) serta hasil fleksibilitas otot hamstring dan punggung bawah melalui Sit and Reach Test. Data dianalisis secara deskriptif menggunakan nilai minimum, maksimum, dan rerata. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden adalah perempuan (78,6%) dengan rentang usia 51–77 tahun dan berat badan 48–75 kg. Pemeriksaan Sit and Reach Test memperoleh nilai terendah 9 cm dan tertinggi 20 cm, dengan rerata 14,07 cm. Sebagian besar lansia berada pada kategori fleksibilitas cukup hingga baik, serta lansia perempuan cenderung memiliki nilai fleksibilitas lebih tinggi dibandingkan laki-laki. Temuan ini menegaskan bahwa pemeriksaan fungsional lansia telah terlaksana sebagai bagian dari implementasi kebijakan pelayanan kesehatan lansia di tingkat desa. Pemeriksaan sederhana seperti Sit and Reach Test dapat menjadi indikator penting dalam pelayanan preventif serta dasar perencanaan program lanjutan, seperti senam lansia dan pemantauan kesehatan berkala.
PROFIL KESEHATAN MASYARAKAT BERDASARKAN HASIL SKRINING KESEHATAN DASAR SEBAGAI UPAYA DETEKSI DINI FAKTOR RISIKO PENYAKIT TIDAK MENULAR DI MARGOREJO Nabila Nur Afifah Fitri; Al Um Aniswatun Khasanah; Efraldo Yudistira; M Tasa Kasumbung; Muhammad Faris Nuuruddin; Bota Muhammad Akbar
JURNAL PROFESIONAL FISIOTERAPI Vol. 5 No. 2 (2026): July
Publisher : Universitas Muhammadiyah Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24127/fisioterapi.v5i2.12628

Abstract

Pendahuluan: Penyakit tidak menular (PTM) merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas yang sebagian besar berkembang tanpa gejala pada tahap awal, sehingga deteksi dini melalui skrining kesehatan dasar menjadi upaya penting dalam mengidentifikasi faktor risiko di masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan profil kesehatan masyarakat berdasarkan hasil skrining kesehatan dasar sebagai upaya deteksi dini faktor risiko penyakit tidak menular di Desa Margorejo. Metode: Penelitian ini menggunakan desain deskriptif dengan pendekatan cross-sectional terhadap 24 responden yang mengikuti kegiatan skrining kesehatan menggunakan teknik total sampling. Pemeriksaan meliputi tekanan darah, heart rate, respiratory rate, berat badan, tinggi badan, dan indeks massa tubuh (IMT). Data dianalisis secara deskriptif menggunakan distribusi frekuensi, persentase, rerata, dan simpangan baku. Hasil: Rata-rata usia responden adalah 58,0±8,3 tahun. Seluruh responden dengan data tekanan darah yang lengkap mengalami hipertensi, terdiri atas hipertensi stadium 1 (43,5%) dan hipertensi stadium 2 (56,5%). Seluruh responden memiliki heart rate dalam rentang normal, sedangkan 54,5% memiliki respiratory rate di atas rentang normal. Berdasarkan IMT, 50,0% responden memiliki status gizi normal, 33,3% overweight, dan 16,7% obesitas. Simpulan: Skrining kesehatan dasar mampu memberikan gambaran profil kesehatan masyarakat serta mengidentifikasi faktor risiko PTM, terutama hipertensi, kelebihan berat badan, dan peningkatan respiratory rate, sehingga dapat menjadi dasar dalam penyusunan program promotif, preventif, serta tindak lanjut pelayanan kesehatan di masyarakat.
ANALISIS MANAJEMEN PELAYANAN PEMERIKSAAN KLASIFIKASI ATLET PENYANDANG DISABILITAS DI NATIONAL PARALYMPIC COMMITTEE INDONESIA PROVINSI LAMPUNG Kasumbung, M Tasa; Yudistira, Efraldo; Akbar , Bota Muhammad; Khasanah, Al Um Aniswatun; Nuuruddin, Muhammad Faris; Fitri, Nabila Nur Afifah
Journal of Hospital Administration and Excellent Health Service Vol. 3 No. 2 (2026): Juli
Publisher : Journal of Hospital Administration and Excellent Health Service

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24127/jhahe.v3i2.12635

Abstract

Introduction: Athlete classification is a fundamental component of para-sports, ensuring fair competition by determining athletes' eligibility based on functional abilities according to the International Paralympic Committee (IPC) standards. At the regional level, classification requires not only accurate clinical assessment but also efficient health service management. However, the classification process at the National Paralympic Committee of Indonesia (NPCI) Lampung Province still faces challenges related to scheduling, infrastructure, and administrative management. Objective: This study aimed to analyze the health service management of athlete classification and propose strategies to improve service efficiency at NPCI Lampung Province. Methods: A qualitative descriptive approach was employed. Data were collected through in-depth interviews, observations, focus group discussions, and document reviews involving NPCI administrators, medical classifiers, physiotherapists, technical classifiers, and para-athletes. Data were analyzed using the Miles, Huberman, and Saldaña interactive model. Results: Three major challenges were identified, including scheduling inconsistencies, limited examination infrastructure, and paper-based administrative management. Based on these findings, an Integrated Para-Classification System (IPCS) was proposed to integrate administrative processes, medical screening, physiotherapy assessment, technical classification, and documentation into a single service pathway. Conclusion: The proposed integrated service model has the potential to improve service efficiency, strengthen multidisciplinary collaboration, and enhance the quality of athlete classification management at NPCI Lampung Province.