Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search
Journal : JURNAL LENTERA

Karakteristik Dan Prospek Ekonomi Sistem Agroforestri Di Kabupaten Bireuen Aceh Satriawan, Halus
JURNAL LENTERA Vol 13, No 2 (2013): Vol.13 No.2 Juni 2013
Publisher : JURNAL LENTERA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Praktik agroforestri sudah cukup dikenal dan telah diterapkan secara luas oleh masyarakat di Kabupaten Bireuen sebagai bentuk perkebunan rakyat. Berkembangnya agroforestri di daerah ini tidak lepas dari pengelolaan yang lebih mudah dibandingkan dengan bentuk usahatani pertanian umumnya seperti padi sawah atau pertanian monokultur lainnya. Agroforestri juga memberikan banyak alternatif pendapatan dan produk yang lebih banyak bagi masyarakat di Kabupaten Bireuen Provinsi Aceh. Oleh karena itu telah dilakukan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis jenis dan pola tanam Agroforestri serta potensi pendapatan masyarakat di Kabupaten Bireuen Provinsi Aceh. Penelitian dilakukan dengan metode survey menggunakan teknik purposive sampling dimana sampel yang diambil adalah petani yang menerapkan sistem Agroforestri di 3 kecamatan yang mewakili wilayah kabupaten. Karakteristik Agroforestri yang diamati adalah jenis, pola tanam, umur tanaman dan ragam komoditas tanaman. Karakteristik usahatani yang diamati untuk menentukan potensi ekonomi adalah luas kepemilikan, lama pengusahaan, tingkat pengelolaan, jenis sarana produksi, biaya dan pendapatan usahatani, hambatan usaha tani dan keterlibatan pemerintah. Berdasarkan hasil survey dan interview ditemui 2 jenis utama sistem Agroforestri yaitu agrisilvikultur dan agrosilvopastural. Agrisilvikultur dipraktikkan dengan sistem tumpangsari, alley cropping dan intercropping yang dikelola secara intensif (90%) dan tradisional-semi intensif (10%). Jenis tanaman yang dibudidayakan dengan sistem agroforestri terdiri dari kelompok pepohonan (sengon, mahoni), tanaman penghasil buah,  (kakao, pepaya, pinang, kelapa, kelapa sawit),  tanaman penghasil pakan ternak, tanaman pangan dan hortikultura dengan kisaran umur tanaman < 1 - 17 tahun.  Rata-rata kepemilikan lahan 1,6 ha dengan pengalaman usaha tani 7,3 tahun. Rata-rata biaya usahatani agrofortestri yang dikeluarkan petani untuk bibit/benih, pupuk, pestisida, insektisida, dan peralatan/mesin sebesar Rp. 4,332,857/tahun, dengan rata-rata pendapatan usahatani Rp. 19,480,714/tahun. Jumlah biaya produksi sangat tergantung dari jenis tanaman dan luas usaha tani yang dikembangkan. Biaya produksi tertinggi diperoleh pada agrisilvikultur dengan kombinasi tanaman tahunan-tanaman pangan-tanaman hortikultura, sedangkan terendah pada agrosilvopastural. Umumnya petani mengalami kendala rendahnya harga produk usahatani karena penentu harga di tingkat petani adalah pedagang pengumpul. Namun demikian heterogenitas tanaman dan keberlanjutan pendapatan petani dari penerapan agroforestri memberikan keamanan dan ketahanan sosial dan ekonomi bagi mayarakat di Kabupaten Bireuen. Dilain pihak diperlukan perhatian pemerintah yang lebih intensif baik melalui penyuluhan, pelatihan dan pendampingan dalam mengelola tanaman yang menjadi unggulan. Kata Kunci: Agroforestri, usahatani, karakteristik.
Alih Fungsi Lahan Di Kawasan Hulu Dan Dampaknya Terhadap Kualitas Air Di Kawasan Hilir Daerah Aliran Sungai Satriawan, Halus
JURNAL LENTERA Vol 10, No 2 (2010): Vol.10, No.2, Nopember 2010
Publisher : JURNAL LENTERA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Semakin besar intensitas kegiatan pembangunan, maka terjadi pula peningkatan eksploitasi sumberdaya alam yang bersifat multi-use, sehingga terjadi konflik kepentingan yang memicu kerusakan lingkungan.  Kawasan hulu mempunyai peran penting yaitu selain sebagai tempat penyedia air untuk dialirkan ke daerah hilirnya bagi kepentingan pertanian, industri dan pemukiman, juga berperan sebagai pemelihara keseimbangan ekologis untuk sistem penunjuang kehidupan. Beberapa jenis aktivitas utama yang menimbulkan pencemaran sungai antara lain : (1) penggundulan hutan,  (2) alih fungsi hutan menjadi lahan pertanian dan perkebunan, dan (3) alih fungsi hutan menjadi lahan terbangun.  Kata Kunci: Daerah Aliran Sungai, Alih Fungsi Lahan, Kualitas Air
Penentuan Periode Tanam Beberapa Komoditas Tanaman Semusim Di Kecamatan Peusangan Selatan Kabupaten Bireuen Satriawan, Halus
JURNAL LENTERA Vol 10, No 2 (2010): Vol.10, No.2, Nopember 2010
Publisher : JURNAL LENTERA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Iklim dan cuaca merupakan lingkungan fisik esensial bagi tanaman yang sulit dikendalikan atau dimodifikasi. Akibat berbagai sifat ekstrimnya, tidak jarang iklim merupakan kendala bagi produksi pertanian. Salah satu cara mengendalikan iklim dalam meningkatkan produksi pertanian adalah melalui pendekatan empiris untuk menentukan periode tanam. Penentuan periode tanam dengan pendekatan empiris yang umum dilakukan adalah dengan menentukan periode curah hujan efektif yang tersedia berdasarkan curah hujan dan evapotranspirasi potensial. secara umum waktu tanam Padi tadah hujan, jagung dan kedelai dengan tanpa memperhitungkan kandungan air tanah tersedia sepanjang minggu dalam setahunnya. Dengan memperhitungkan keadaan air tanah diatas optimum, untuk padi tadah hujan diperoleh selama 32 minggu, hal ini terjadi karena terdapat selama 4 minggu dimana kandungan air tanah diperkirakan berada dibawah nilai optimum, sehingga minggu-minggu ini tidak disarankan untuk menanam tanaman.
Perubahan Kualitas Tanah Ultisol Akibat Penambahan Berbagai Sumber Bahan Organik Satriawan, Halus
JURNAL LENTERA Vol 12, No 3 (2012)
Publisher : JURNAL LENTERA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sifat tanah Ultisol yang sering dianggap menjadi faktor pembatas penggunaannya adalah kemasaman tanah yang rendah, rendahnya kandungan hara terutama P dan kation-kation dapat ditukar seperti Ca, Mg, Na, dan K, kadar Al tinggi, kapasitas tukar kation rendah, dan peka terhadap erosi. Untuk memprbaiki kualitasnya sering diperlakukan dengan penambahan bahan orgaxnik maupun pengapuran. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perubahan sifat tanah ultisol yang diberikan bahan organik. Perlakuan yang diuji adalah penambahan bahan organik dari sumber jerami, mucuna dan pupuk kandang. Hasil penelitian menunjukkan pemberian bahan organic tersebut berpengaruh nyata terhadap beberapa sifat kimia ultisol seperti C-organik, N tanah total dan pH.Kata kunci: Bahan organik, tanah Ultisol
Evaluasi Tingkat Bahaya Banjir dan Erosi Serta Strategi Penanggulangannya di Kabupaten Nagan Raya Satriawan, Halus
JURNAL LENTERA Vol 10, No 1 (2010): Vol.10, No.1, Juni 2010
Publisher : JURNAL LENTERA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh data dan informasi yang menggambarkan tingkat bahaya banjir dan erosi yang terjadi serta menyusun rekomendasi penanganan banjir dan erosi erosi di wilayah Kab. Nagan Raya sehingga memudahkan dalam pengambilan keputusan untuk rehabilitasi lahan kritis yang diakibatkan erosi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei untuk menentukan indeks bahaya banjir dan erosi. Secara umum tingkat kerawan banjir di Kabupaten Nagan Raya cukup bervariasi. Namun demikian jika dikerucutkan berdasarkan sebaran wilayah, Kecamatan Kuala dan Darul makmur merupakan wilayah yang paling rentan terhadap bahaya banjir kategori sedang dan tinggi. Sedangkan ditinjau dari tingkat bahaya erosi, maka Kabupaten Nagan Raya tergolong sangat rawan erosi.Kata kunci: tingkat bahaya banjir, tingkat bahaya erosi
Permodelan Dalam Perencanaan Konservasi Tanah dan Air Satriawan, Halus
JURNAL LENTERA Vol 13, No 1 (2013): lentera vol.13,no.1 (2013)
Publisher : JURNAL LENTERA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Salah satu alat bantu yang dapat digunakan dalam perencanaan penggunaan lahan adalah model prediksi erosi. Penggunaan model-model erosi telah banyak digunakan di berbagai negara termasuk Indonesia, namun demikian pengembangan model-model erosi dan input paramaternya yang sesuai untuk kondisi negara tropis seperti Indonesia belum banyak dilakukan. Ada dua macam model penduga erosi yang sekarang ini banyak dipakai yakni model berbasis empirik (empirically based model) dan model berbasis proses (process based model).Kata Kunci: Erosi, Permodelan, Konservasi Tanah dan Air