Claim Missing Document
Check
Articles

Found 23 Documents
Search

Analisis Persepsi Nelayan terhadap Penangkapan Ikan Terukur di Pelabuhan Perikanan Samudera Bungus Bayu Eko Wibowo; Eni kamal; Suparno Suparno
Jurnal Locus Penelitian dan Pengabdian Vol. 5 No. 5 (2026): JURNAL LOCUS: Penelitian dan Pengabdian
Publisher : Riviera Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58344/locus.v5i5.5818

Abstract

Upaya menyeimbangkan eksploitasi ikan dengan kesehatan laut dilakukan pemerintah Indonesia melalui kebijakan Penangkapan Ikan Terukur (PIT) yang berbasis pada pembagian zona dan jatah tangkapan. Selain mengawasi pemanfaatan ikan agar tidak berlebihan, kebijakan ini juga menargetkan pemerataan ekonomi lokal. Penelitian ini mengevaluasi sejauh mana nelayan di Pelabuhan Perikanan Samudera (PPS) Bungus memahami dan menerima kebijakan PIT tersebut. Data dikumpulkan dari 74 nelayan di PPS Bungus menggunakan instrumen wawancara dan kuesioner dalam kerangka metode deskriptif. Untuk mengevaluasi persepsi mereka, digunakan skala Likert, sementara penentuan arah strategi manajemen perikanan dilakukan lewat analisis SWOT.  Berdasarkan hasil studi, mayoritas nelayan menilai kesiapan mereka melalui indikator ketersediaan alat tangkap, jumlah ikan di laut, penggunaan BBM, dan pemahaman regulasi. Walaupun mekanisme kuota dan pengawasan pemerintah disambut baik, kebijakan mengenai kewajiban transmitter dan perombakan sistem perizinan masih menghadapi hambatan berupa resistensi dari nelayan. Pentingnya keterlibatan nelayan secara partisipatif dalam implementasi PIT menjadi poin utama temuan ini, di mana pertimbangan terhadap situasi sosial-ekonomi serta peningkatan dukungan teknis dan sosialisasi sangat diperlukan. Pilihan strategi pengelolaan jatuh pada kategori agresif di Kuadran I, di mana fokus utamanya adalah penegakan regulasi untuk memaksimalkan sistem pengawasan berbasis teknologi dan perluasan sosialisasi. Pendekatan ini bertujuan agar kebijakan PIT di PPS Bungus berjalan efektif demi menjamin keberlanjutan sumber daya laut.
Influencing the environmental factors on the abundance of puerulus Panulirus homarus in the Mentawai Islands, West Sumatra, Indonesia SUPARNO SUPARNO; YUSRA YUSRA; AMELIA SRIWAHYUNI LUBIS; AIDY FITRI YUSEN VIZA
Biodiversitas Journal of Biological Diversity Vol. 25 No. 10 (2024)
Publisher : Society for Indonesian Biodiversity

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.13057/biodiv/d251038

Abstract

Abstract. Suparno, Yusra, Lubis AS, Viza AFY. 2024. Influencing the environmental factors on the abundance of puerulus Panulirus homarus in the Mentawai Islands, West Sumatra, Indonesia. Biodiversitas 25: 3758-3767. The lobster puerulus, the final larval stage of the spiny lobster, is significantly influenced by environmental factors, making it crucial for sustainable aquaculture development. This study aimed to analyze how these factors affect the abundance of puerulus Panulirus homarus (Linnaeus, 1758) in the Mentawai Islands, West Sumatra, Indonesia has practical implications for aquaculture. A one-way analysis of variance revealed that the temporal period significantly impacts the abundance of puerulus P. homarus (P<0.05). In February (west season), the abundance was not significantly different from April (transition season I), but both differed significantly from June (east season). The highest abundance occurred in June (33.8±4.21 ind/trip), followed by April (27.00±5.00 ind/trip) and February (23.20±2.22 ind/trip). Regression analysis showed that temperature (R²=0.8111), salinity (R²=0.5158), and phosphate (R²=0.5492) strongly correlated with puerulus abundance. In contrast, chlorophyll-a (R²=0.2236), nitrate (R²=0.4136), and sea current velocity (R²=0.0223) were less significant. These results emphasize the importance of temperature, salinity, and phosphate as key factors influencing puerulus distribution, providing valuable insights for sustainable aquaculture. Environmental parameters were observed using Aqua Modis satellite imagery. They included Sea Surface Temperature (SST), chlorophyll-a concentration, and current velocity, showing a good correlation with field measurements from the Copernicus Marine Environment Monitoring Service (CMEMs).
Tingkat Penetasan Penyu Hijau di Pulau Pandan Kawasan Konservasi Pulau Pieh, Sumatera Barat Andriyatno Hanif; Harfiandri Damanhuri; Suparno Suparno; Mohd Uzair Rusli
Akuatiklestari Vol 6 No 1 (2022): Jurnal Akuatiklestari
Publisher : Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan, Universitas Maritim Raja Ali Haji

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31629/akuatiklestari.v6i1.4696

Abstract

Kajian penelitian tingkat penetasan penyu dilakukan di Pulau Pandan, Kawasan Konservasi Pulau Pieh. Tujuan kajian untuk melihat faktor mempengaruhi keberhasilan penetasan sarang semi alami, dan melihat capaian optimal tingkat penetasan. Penelitian dilaksanakan bulan Januari – Juni 2022 dengan mengkoleksi data jumlah telur, morfometrik, kedalaman sarang, dan lama waktu inkubasi, serta data sekunder. Metode penelitian secara kuantitatif dengan analisis regresi linear berganda untuk melihat pengaruh variabel bebas dengan variabel terikat. Hasil analisis korelasi antara jumlah telur dengan panjang karapas didapati hubungan positif dengan kategori rendah (r=0,215, t=2,253, df=26, p=0,033), sedangkan jumlah telur dengan kedalaman sarang memiliki hubungan negatif dengan kategori sangat rendah (r=0,154, t=1,684, df=26, p=0,104), sementara pengaruh panjang karapas, kedalaman sarang secara bersamaan terhadap jumlah telur didapati nilai R2 = 29,2%. penyu hijau memiliki telur tebanyak; 131 butir, dan jumlah telur sedikit; 29 butir, dengan rata-rata jumlah telur; 93,86 butir. Korelasi tingkat penetasan dengan kedalaman sarang didapati hubungan positif (r=0,019, t=2,324, df=367, p=0,021), tingkat penetasan dengan masa inkubasi hubungan posistif dengan kategori sangat rendah (r = 0,021, t=2,520, df=367, p=0,012), dan pengaruh bersamaan didapati nilai R2 = 3,6%. Tingkat penetasan telur penyu berada pada kondisi optimum ditemukan angka rata-rata; 86,67%, penyu mendarat dan bertelur dominan ukuran dewasa dengan nilai rata-rata panjang karapas; 97,10 cm, serta lama inkubasi pada rentang; 45-58 hari.