Claim Missing Document
Check
Articles

Found 9 Documents
Search
Journal : AdBispreneur

THE BUSINESS DYNAMIC OF TRADITIONAL MARKET PLACE : DEMAND PREFERENCAE APPROACH Muftiadi, R. Anang; Maulina, Erna
AdBispreneur Vol 1, No 2 (2016): Adbispreneur
Publisher : Departemen Ilmu Administrasi Bisnis, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, UNPAD

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (430.374 KB) | DOI: 10.24198/adbispreneur.v1i2.10234

Abstract

ABSTRACT  The focus of this research is to understand the possibility of changes in the behavior of consumer demand for products in traditional markets, whether caused by internal and external factors. Traditional markets tend to focus on fresh agricultural products (perishable goods), daily and low quality durable goods, while the more modern market focus on  the product packaging factory. In fact the growing type of manufacturing product, less accomodated in the traditional market. Conveniences and other factors are the important key of appeal of the traditional market. If proportion of such as consumers are greater, the the traditional market would experience faster transition into smaller markets and increasing incompetitiveness. Existence of change in traditional markets is a natural, associated  with  the  diversification  and  differention  of  product,  consumera  levvel  of  income, technology, education, land use and changes in consumers lifestyles. Keywords: consumer preference, agricultural products, conveniece market   DINAMIKA BISNIS PADA PASAR TRADISIONAL DARI SISI PERMINTAAN KONSUMEN DENGAN PENDEKATAN DEMAN PREFERENCE ABSTRAK  Fokus dari penelitian ini adalah berupaya memahami kemungkinan perubahan perilaku permintaan konsumen terhadap produk yang ada pada pasar tradisional, baik yang disebabkan oleh faktor internal maupun eksternal yang mempengaruhinya. Pasar tradisional cenderung fokus pada produk pertanian segar (perishable goods) dan sedikit barang tahan lama kualitas biasa hingga rendah, sedangkan pasar modern lebih pada produk kemasan pabrik. Secara faktual jenis produk pabrikan yang semakin berkembang,  kurang terakomodasi  di  pasar tradisional. Kenyamanan  dan ketertiban adalah  kunci penting bagi daya tarik pasar tradisional. Bila proporsi yang tidak sesuai preferensinya semakin besar, maka pasar tradisional akan mengalami transisi lebih cepat menjadi pasar sub masyarakat tertentu saja dan semakin tidak kompetitif. Eksistensi pasar tradisional yang mengalami perubahan adalah hal alamiah, terkait dengan perkembangan diversifikasi dan diferensiasi produk, tingkat pendapatan, teknologi, tingkat pendidikan, perubahan tata guna lahan dan perubahan dalam pola hidup konsumen.  Kata kunci: preferensi konsumen, produk segara pertanian, kenyamanan pasar.
PENGEMBANGAN DESA WISATA DAN POTENSINYA DI KABUPATEN PANGANDARAN Muftiadi, Anang
AdBispreneur Vol 2, No 2 (2017): AdBispreneur
Publisher : Departemen Ilmu Administrasi Bisnis, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, UNPAD

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (197.997 KB) | DOI: 10.24198/adbispreneur.v2i2.13163

Abstract

ABSTRACTThis research focus is  on tourism activities development by utilizing the high intensity of Pangandaran Beach tourism. This research aim is to build the concept of village tourism which is comprehensively based on Community Based Tourism (CBT). The research method uses qualitative approach and contextual technique of regional development in Pangandaran Regency with the following stages (1) collecting secondary and primary data through field review (2) understanding of regional economic context (3) tourism potential analysis (4) conceptualization of tourism village development. The results showed that the development of tourist villages in Pangandaran Regency is an important step to diversify tourist destinations. The tourism village should have specific tourism objects (e.g: caves, rivers, lakes, plantations and typical rural nature, beaches etc.) and be associated with existing Pangandaran Beach tourism activities as the anchor. The government need to provides support for public infrastructure and facilities, builds a tourism forum network, provides stimulation and facilitation through a competition program to become a serious participation of the community.Keywords : Tourism destination diversification, villages tourism, community based tourism  ABSTRAKPenelitian ini menjadi salah satu upaya untuk membangun konsep desa wisata di Kawasan Pangandaran yang komprehensif berbasis masyarakat dan berkelanjutan. Pendekatan pengembangan dilakukan dengan Community Based Tourism (CBT). Metode penelitian yang digunakan ialah pendekatan kualitatif dan teknik kontekstual pengembangan wilayah di Kabupaten Pangandaran dengan tahapan (1) mengumpulkan data sekunder dan primer melalui tinjauan lapangan (2) pemahaman konteks perekonomian daerah (3) analisis potensi wisata (4) konseptualisasi pengembangan desa wisata. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengembangan desa wisata di Kabupaten Pangandaran ialah langkah penting untuk diversifikasi destinasi wisata. Desa wisata yang dikembangkan harus memiliki obyek wisata spesifik (misalnya goa, sungai, danau, perkebunan dan alam perdesaan yang khas, pantai dan lain sebagainya) serta dikaitkan dengan dengan kegiatan wisata yang sudah ada sebagai anchor terdekat, yaitu Pantai Pangandaran. Pemerintah memberikan dukungan prasarana dan sarana publik, membangun jejaring forum wisata dan memberikan stimulasi dan fasilitasi pengembangan melalui program kompetisi untuk menjadi kesungguhan partisipasi masyarakat.Kata kunci : Diversifikasi tujuan wisata, desa wisata, community based tourism.
THE BUSINESS DYNAMIC OF TRADITIONAL MARKET PLACE : DEMAND PREFERENCAE APPROACH R. Anang Muftiadi; Erna Maulina
AdBispreneur : Jurnal Pemikiran dan Penelitian Administrasi Bisnis dan Kewirausahaan Vol 1, No 2 (2016): AdBispreneur : Jurnal Pemikiran dan Penelitian Administrasi Bisnis dan Kewirausa
Publisher : Departemen Ilmu Administrasi Bisnis, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, UNPAD

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (430.374 KB) | DOI: 10.24198/adbispreneur.v1i2.10234

Abstract

ABSTRACT  The focus of this research is to understand the possibility of changes in the behavior of consumer demand for products in traditional markets, whether caused by internal and external factors. Traditional markets tend to focus on fresh agricultural products (perishable goods), daily and low quality durable goods, while the more modern market focus on  the product packaging factory. In fact the growing type of manufacturing product, less accomodated in the traditional market. Conveniences and other factors are the important key of appeal of the traditional market. If proportion of such as consumers are greater, the the traditional market would experience faster transition into smaller markets and increasing incompetitiveness. Existence of change in traditional markets is a natural, associated  with  the  diversification  and  differention  of  product,  consumera  levvel  of  income, technology, education, land use and changes in consumers lifestyles. Keywords: consumer preference, agricultural products, conveniece market   DINAMIKA BISNIS PADA PASAR TRADISIONAL DARI SISI PERMINTAAN KONSUMEN DENGAN PENDEKATAN DEMAN PREFERENCE ABSTRAK  Fokus dari penelitian ini adalah berupaya memahami kemungkinan perubahan perilaku permintaan konsumen terhadap produk yang ada pada pasar tradisional, baik yang disebabkan oleh faktor internal maupun eksternal yang mempengaruhinya. Pasar tradisional cenderung fokus pada produk pertanian segar (perishable goods) dan sedikit barang tahan lama kualitas biasa hingga rendah, sedangkan pasar modern lebih pada produk kemasan pabrik. Secara faktual jenis produk pabrikan yang semakin berkembang,  kurang terakomodasi  di  pasar tradisional. Kenyamanan  dan ketertiban adalah  kunci penting bagi daya tarik pasar tradisional. Bila proporsi yang tidak sesuai preferensinya semakin besar, maka pasar tradisional akan mengalami transisi lebih cepat menjadi pasar sub masyarakat tertentu saja dan semakin tidak kompetitif. Eksistensi pasar tradisional yang mengalami perubahan adalah hal alamiah, terkait dengan perkembangan diversifikasi dan diferensiasi produk, tingkat pendapatan, teknologi, tingkat pendidikan, perubahan tata guna lahan dan perubahan dalam pola hidup konsumen.  Kata kunci: preferensi konsumen, produk segara pertanian, kenyamanan pasar.
PENERAPAN MODEL COBB-DOUGLAS UNTUK ANALISIS PRODUKTIVITAS PDAM DAN POTENSI UNIVERSAL AKSES DI INDONESIA Anang Muftiadi; Dian Fordian
AdBispreneur : Jurnal Pemikiran dan Penelitian Administrasi Bisnis dan Kewirausahaan Vol 5, No 2 (2020): AdBispreneur : Jurnal Pemikiran dan Penelitian Administrasi Bisnis dan Kewirausa
Publisher : Departemen Ilmu Administrasi Bisnis, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, UNPAD

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/adbispreneur.v5i2.26777

Abstract

Gap of Indonesia universal access on safe drinking water is still wide in 2017, which is big challenge for Local-government Owned Companies on Drinking Water (PDAMs) as main suppliers.  Unfortunately, in 2018, around 26% of PDAMs were ‘less healthy’ and 14% were 'unhealthy'. Among the problems of PDAMs are productivity level as fundamental factor correlated with production capacity and the efficiency. This research used the Cobb-Douglas Production Function Model to measure its productivity, by using 261 PDAMs in Indonesia. The result show that the production elasticity of PDAMs in Indonesia is 1.19 (more than 1) or 'increasing return to scale' in character. This means that PDAM has the potential to use more efficient production factors, potential capital accumulation to increase number of customers, source of profit as well as attractive for investors. As many as 61.6% PDAMs (133) were classified as 'productive' and 48% of PDAMs (112) were classified as 'sub-productive'. This information is very important for revitalization of PDAMs by the Ministry of Public Works and Public Housing in order to achieve universal access of safe drinking water in Indonesia and for the self-evaluation of all  PDAMs in Indonesia.  Gap capaian Universal Akses Air Minum Aman masih sangat  lebar pada Tahun 2017, yaitu sebesar 72,04%. Hal ini menjadi tantangan besar bagi Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) sebagai penyedia utama akses air minum aman. Namun demikian, pada Tahun 2018 sebanyak 26% PDAM di Indonesia tergolong ‘kurang sehat’ dan 14% tergolong ‘sakit’. Diantara masalah yang dihadapi oleh PDAM yaitu tingkat produktivitas air, sebagai faktor mendasar yang berkaitan dengan kapasitas pelayanan dan efisiensinya. Studi ini menggunakan Fungsi Produksi Cobb-Douglas untuk mengukur produktivitasnya, menggunakan data 261 PDAM. Hasil studi menunjukkan bahwa elastisitas produksi PDAM di Indonesia sebesar 1,19 (lebih dari 1) atau bersifat ‘increasing return to scale’. Artinya PDAM memiliki potensi penggunaan faktor produksi yang lebih efisien, potensi daya akumulasi kapital untuk penambahan jumlah pelanggan dan berpotensi menjadi sumber profit serta menarik bagi investor. Dari 261 PDAM yang diteliti, sebanyak 61,6% PDAM (133) tergolong ‘produktif’ dan 48% PDAM (112) tergolong ‘sub-produktif’. Informasi ini sangat penting bagi upaya penyehatan PDAM oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat dalam rangka pencapaian universal akses air minum aman di Indonesia dan bagi evaluasi diri seluruh PDAM di Indonesia.
PENGEMBANGAN DESA WISATA DAN POTENSINYA DI KABUPATEN PANGANDARAN Anang Muftiadi
AdBispreneur : Jurnal Pemikiran dan Penelitian Administrasi Bisnis dan Kewirausahaan Vol 2, No 2 (2017): AdBispreneur : Jurnal Pemikiran dan Penelitian Administrasi Bisnis dan Kewirausa
Publisher : Departemen Ilmu Administrasi Bisnis, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, UNPAD

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (197.997 KB) | DOI: 10.24198/adbispreneur.v2i2.13163

Abstract

ABSTRACTThis research focus is  on tourism activities development by utilizing the high intensity of Pangandaran Beach tourism. This research aim is to build the concept of village tourism which is comprehensively based on Community Based Tourism (CBT). The research method uses qualitative approach and contextual technique of regional development in Pangandaran Regency with the following stages (1) collecting secondary and primary data through field review (2) understanding of regional economic context (3) tourism potential analysis (4) conceptualization of tourism village development. The results showed that the development of tourist villages in Pangandaran Regency is an important step to diversify tourist destinations. The tourism village should have specific tourism objects (e.g: caves, rivers, lakes, plantations and typical rural nature, beaches etc.) and be associated with existing Pangandaran Beach tourism activities as the anchor. The government need to provides support for public infrastructure and facilities, builds a tourism forum network, provides stimulation and facilitation through a competition program to become a serious participation of the community.Keywords : Tourism destination diversification, villages tourism, community based tourism  ABSTRAKPenelitian ini menjadi salah satu upaya untuk membangun konsep desa wisata di Kawasan Pangandaran yang komprehensif berbasis masyarakat dan berkelanjutan. Pendekatan pengembangan dilakukan dengan Community Based Tourism (CBT). Metode penelitian yang digunakan ialah pendekatan kualitatif dan teknik kontekstual pengembangan wilayah di Kabupaten Pangandaran dengan tahapan (1) mengumpulkan data sekunder dan primer melalui tinjauan lapangan (2) pemahaman konteks perekonomian daerah (3) analisis potensi wisata (4) konseptualisasi pengembangan desa wisata. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengembangan desa wisata di Kabupaten Pangandaran ialah langkah penting untuk diversifikasi destinasi wisata. Desa wisata yang dikembangkan harus memiliki obyek wisata spesifik (misalnya goa, sungai, danau, perkebunan dan alam perdesaan yang khas, pantai dan lain sebagainya) serta dikaitkan dengan dengan kegiatan wisata yang sudah ada sebagai anchor terdekat, yaitu Pantai Pangandaran. Pemerintah memberikan dukungan prasarana dan sarana publik, membangun jejaring forum wisata dan memberikan stimulasi dan fasilitasi pengembangan melalui program kompetisi untuk menjadi kesungguhan partisipasi masyarakat.Kata kunci : Diversifikasi tujuan wisata, desa wisata, community based tourism.
ANALISIS DAN DETERMINAN EFISIENSI SEKTOR KONSTRUKSI DI INDONESIA Anang Muftiadi; Rivani .; Dian Fordian
AdBispreneur : Jurnal Pemikiran dan Penelitian Administrasi Bisnis dan Kewirausahaan Vol 4, No 1 (2019): Adbispreneur : Jurnal Pemikiran dan Penelitian Administrasi Bisnis dan Kewirausa
Publisher : Departemen Ilmu Administrasi Bisnis, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, UNPAD

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (57.334 KB) | DOI: 10.24198/adbispreneur.v4i1.21030

Abstract

The construction sector business, as the backbone of infrastructure development is tend to be in-efficient and burdensome on national infrastructure costs. This study aims to explore the in-efficiency level and its determinants of Construction Sector businesses. Efficiency level is measured by input coefficients of Input-Output Table and use secondary data from Central Statistics Agency in 1995, 1998, 2000, 2003, 2005, 2008,and 2010.The results show, there is in-efficiency in Construction Sector at 2010 and is likely to continue to following years. The dominant source of the in-efficiency is Industrial Sector of Metal Products which provides steel and other metals as main materials in the Construction Sector. The petroleum refining industry that produces fuel accelerates the increase construction costs. The single national price policy of fuel is a instant step to reduce the negative impact of in-efficiency in Construction Sector. Sektor bisnis konstruksi yang menjadi tulang punggung pembangunan infrastruktur menunjukkan gejala in-efisiensi dan membebani biaya infrastruktur nasional. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kecenderungan tingkat in-efisiensi tersebut dan menggali determinan in-efisiensi yang dihadapi oleh bisnis pada sektor konstruksi. Tingkat efisiensi diukur dengan Koefisiensi Input pada Tabel Input-Output dan menggunakan data sekunder dari Badan Pusat Statistik tahun 1995,1998,2000,2003,2005,2008, dan 2010.Hasil penelitian menunjukkan bahwa Sektor Konstruksi mengalami in-efisiensi pada akhir tahun 2010 dan cenderung akan terus mengalami in-efisiensi pada tahun berikutnya. Sumber in-efisiensi terbesar berasal Sektor Industri Barang dari Logam yang menyediakan kebutuhan baja dan logam lainnya yang digunakan sebagai material penting Sektor Konstruksi. Industri pengilangan minyak bumi yang menghasilkan BBM turut mempercepat kenaikan biaya konstruksi. Kebijakan satu harga nasional menjadi langkah cepat untuk mengurangi dampak negatif in-efisiensi pada Sektor Konstruksi.
MODEL TERINTEGRASI KAPASITAS DESTINASI WISATA UNTUK BISNIS GOVERNANCE PARIWISATA MENGGUNAKAN FORMULA LITTLE’S LAW Anang Muftiadi; Ulyses Sitompul
AdBispreneur : Jurnal Pemikiran dan Penelitian Administrasi Bisnis dan Kewirausahaan Vol 8, No 1 (2023): AdBispreneur : Jurnal Pemikiran dan Penelitian Administrasi Bisnis dan Kewirausa
Publisher : Departemen Ilmu Administrasi Bisnis, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, UNPAD

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/adbispreneur.v8i1.37458

Abstract

Rebuilding tourism business governance due to the Covid19 pandemic can be started by analyzing the constraints of tourist destinations capacity, including for Indonesia's priority tourist destinations, such as Makassar Raya and its surroundings. This study aims to analyze the capacity of tourist destinations, especially foreign tourists as a source of national foreign exchange. This research approach integrates the carrying capacity of tourism with the quantitative method of Little's Law of operations management. This method measures the flow of tourists within the capacity of tourist destinations, which consists of attractions, amenities and accessibility from the initial arrival of foreign tourists at the airport until they return to their countries.The results of this study indicate that from various aspects of attractions, amenities and accessibility to the capacity of tourist destinations in Makassar Raya and its surroundings, there are bottlenecks at the favorite tourist locations, check-in counters in airports, restaurants & cafes on the weekends. Therefore, in order to increase the capacity of foreign tourist visits, additional capacity is needed for the three kinds of bottleneck.Membangun kembali tata kelola bisnis pariwisata akibat pandemi Covid19 dapat dimulai dengan menganalisis hambatan kapasitas destinasi wisata, termasuk untuk destinasi wisata prioritas Indonesia, seperti Makassar Raya dan sekitarnya. Penelitian ini bertujuan menganalisis kapasitas destinasi wisata, khususnya terhadap turis mancanegara sebagai sumber devisa. Pendekatan penelitian ini mengintegrasikan daya dukung pariwisata dengan metode kuantitatif Aliran Little’s Law dalam lingkup manajemen operasi. Metode ini mengukur kelancaran aliran wisatawan dalam daya tampung kapasitas destinasi wisata, yang terdiri dari atraksi, amenitas dan aksesbilitas dari awal kedatangan wisatawan mancanegara di bandara hingga mereka kembali ke negaranya. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dari berbagai aspek atraksi, amenitas dan aksesbilitas pada kapasitas destinasi wisata di Makassar Raya dan sekitarnya,  terjadi bottleneck pada kapasitas pada lokasi wisata favorit,  bandara, restoran & kafe di akhir pekan. Karena itu untuk meningkatkan kapasitas kunjungan wisatawan mancanegara, maka pada ketiga bottleneck tersebut perlu adanya penambahan kapasitas.
TRANSMISI DAMPAK PANDEMI COVID-19 PADA STABILITAS BANK: STUDI KASUS PERBANKAN DI INDONESIA DI AWAL PANDEMI Santoso, Teguh; Sapulette, Militcyano Samuel; Dyana, Dyana; Dwiputra, Muhammad Faishal Akbar; Muftiadi, Anang
Adbispreneur Vol 8, No 3 (2023): AdBispreneur : Jurnal Pemikiran dan Penelitian Administrasi Bisnis dan Kewirausa
Publisher : Departemen Ilmu Administrasi Bisnis, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, UNPAD

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/adbispreneur.v8i3.47673

Abstract

The COVID-19 pandemic has caused an unforeseen contraction and a spike in volatility in the financial sector. This study aims to estimate the transmission impact of the spread of the COVID-19 pandemic on banking stability through economic activity and bank performance. Using a simultaneous equation model with panel data from 71 banks from January to June 2020, the study found that control policies caused by an increase in confirmed cases of COVID-19 significantly affected economic output and unemployment. Economic output and unemployment further disseminated the impact of the pandemic on bank profitability and lending, which was then significantly transmitted to bank stability. The findings of this study provide an overview of how the impact of health sector disasters on economic turmoil and banking performance. Hopefully, this finding can be a reference related to policymaking when unprecendented events occur in the future.Pandemi COVID-19 telah menimbulkan kontraksi yang tak terduga dan lonjakan volatilitas pada sektor keuangan. Studi ini bertujuan untuk mengestimasi transmisi dampak penyebaran pandemi COVID-19 terhadap stabilitas perbankan melalui aktivitas ekonomi dan kinerja bank. Menggunakan model persamaan simultan dengan data panel dari 71 bank dari Januari hingga Juni 2020, studi ini menemukan bahwa kebijakan pengendalian yang disebabkan oleh peningkatan kasus terkonfirmasi COVID-19 secara signifikan memengaruhi output ekonomi dan pengangguran. Output ekonomi dan pengangguran selanjutnya menyebarluaskan dampak pandemi pada profitabilitas bank dan penyaluran kredit yang kemudian secara signifikan juga tertransmisikan ke pada stabilitas bank. Temuan dari studi ini memberikan gambaran bagaimana dampak bencana sektor kesehatan terhadap gejolak ekonomi dan kinerja perbankan. Diharapkan temuan ini dapat menjadi referensi terkait pengambilan kebijakan ketika terjadi kejadian yang tak terduga di masa depan.
REINVENSI KINERJA PERUSAHAAN DAERAH AIR MINUM (PDAM) DI INDONESIA MENUJU AGENDA SUSTAINABLE DEVELOPMENT GOALS 2030 Muftiadi, Anang; Rizal, Muhamad; Marselina, Mariana
Adbispreneur Vol 8, No 2 (2023): AdBispreneur : Jurnal Pemikiran dan Penelitian Administrasi Bisnis dan Kewirausa
Publisher : Departemen Ilmu Administrasi Bisnis, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, UNPAD

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/adbispreneur.v8i2.44848

Abstract

Achieving the target of drinking water access in SGDs 2030, Indonesia faces shortage of supply and development capacity, especially for PDAMs as service providers, so they need comprehensive strategies, considering the productivity, cost efficiency and sufficient profit level. Therefore, this study used measures the above three aspects, by using regression of 380 PDAMs data in Indonesia. Profit category consists of 1.3 percent of high profit PDAMs, 87.9 percent of profit, 9.5 percent of loss and 1.3 percent of huge loss. According to productivity, it shows that capital and number of employees has increasing return to scale. On the productivity categories, consist of 11.6 percent of high productivity,  42.65 percent of productive, 32.0 percent of less productive, and 13.8 percent of low productivity. According to the production cost category, all independent variables significantly affected the average cost. As many as 6.9 percent PDAM as high efficiency, 53.2 percent efficient, 25.4 percent less efficient, and 15.6 percent in-efficient. Then we have 32 PDAM categories of the three models with generic strategy option for individual PDAM strategies. Local governments as PDAM owners could use this model for development and performance increasement. In addition, sectoral ministries can utilize the 32 categories of PDAMs as basis for programs of facilitation, technical guidance, management and governance for achieving the SDGs 2030.Pencapaian target akses air minum pada SDGs 2030, Indonesia menghadapi keterbatasan pasokan dan kapasitas pengembangan, khususnya pada PDAM sebagai penyedia, sehingga membutuhkan strategi yang komprehensif, mempertimbangkan kategori produktivitas, efisiensi biaya hingga tingkat keuntungan yang mencukupi. Untuk itu, penelitian ini membahas ketiga aspek tersebut, menggunakan metode regresi dari data 380 PDAM di Indonesia.  Pada kategori Profit, sebanyak 1,3% tergolong profit tinggi, 87,9% memperoleh profit kecil, 9,5% rugi dan 1,3% rugi besar. Dari model produktivitas, bahwa kapital dan jumlah pegawai berpengaruh signifikan dan produksi bersifat increasing return to scale. PDAM Produktivitas tinggi sebanyak 11,6%, produktif 42,6%, kurang produktif 32,0% dan produktivitas rendah 13,8%. Dari model biaya produksi, seluruh variabel bebas signifikan mempengaruhi biaya rata-rata. PDAM efisiensi tinggi sebanyak 6,9%, efisien 53,2%, kurang efisien 25,4%, dan tidak efisien 14,6%. Dari ketiga bahasan, diperoleh 32 kategori PDAM dengan generic strategy masing-masing PDAM secara individual. Pemerintah daerah sebagai pemilik PDAM, dapat menggunakan model ini untuk arah pengembangan dan penyehatan. Selain itu kementerian teknis dapat memanfaatkan 32 kategori PDAM sebagai dasar kegiatan fasilitasi, pembinaan teknis, manajemen dan tata kelola agar dapat menjadi wahana pencapaian agenda SDGs 2030.