Claim Missing Document
Check
Articles

KAJIAN DAERAH RAWAN BENCANA ALAM GERAKAN TANAH BERDASARKAN ANALISIS FAKTOR PENGONTROL DI WILAYAH KECAMATAN CILONGOK, KABUPATEN BANYUMAS, JAWA TENGAH Kusumayadi, Henri; Rachwibowo, Prakosa; Hidajat, Wahju Krisna
Geological Engineering E-Journal Vol 6, No 2 (2014): Wisuda Periode Juli - Oktober 2014
Publisher : Program Studi Teknik Geologi, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2476.685 KB)

Abstract

Kecamatan Cilongok merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten Banyumas yang berada di lereng selatan Gunung Slamet. Kecamatan ini memiliki  daerah-daerah rawan bencana alam gerakan tanah yang dikontrol oleh faktor kondisi geologi (litologi), kemiringan lereng, dan tata guna lahan. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui zona kerentanan gerakan tanah dan mengetahui cara untuk mengurangi gerakan tanah. Metode penelitian meliputi pengamatan lapangan yang dilanjutkan dengan metode analisis.Pengamatan lapangan meliputi pemetaan lokasi gerakan tanah dan pemetaan faktor-faktor penyebab gerakan tanah (litologi, kelerengan, dan tata guna lahan). Setelah melakukan pengamatan lapangan, data lapangan dianalisis sehingga menghasilkan peta geologi, peta kelerengan, peta tata guna lahan. Kemudian analisis dilanjutkan dengan melakukan pembobotan faktor-faktor pengontrol gerakan tanah dilakukan sehingga menghasilkan nilai bobot setiap faktor pengontrol.  Langkah selanjutnya yaitu menumpangtindihkan (overlaying) ketiga peta faktor pengontrol (dengan nilai bobot masing-masing) sehingga menghasilkan peta tingkat kerentanan gerakan tanah.Berdasarkan peta tingkat kerentanan gerakan tanah, Kecamatan Cilongok dapat dibagi menjadi tiga zona tingkat kerentanan gerakan tanah, yaitu zona tingkat kerentanan tinggi (luas mencakup + 35% peta), zona tingkat kerentanan sedang (luas mencakup + 15% peta), dan zona tingkat kerentanan rendah (luas mencakup + 50% peta). Peta zona tingkat kerentanan gerakan tanah dapat digunakan untuk skala prioritas mitigasi bencana alam gerakan tanah berdasarkan zona tingkat kerentanan. Untuk mengendalikan gerakan tanah, dapat dilakukan tindakan yang tepat berdasarkan faktor pengontrol gerakan tanah di masing-masing daerah.
MODEL KONSEPTUAL PERKEMBANGAN DELTA SEPINGGAN, INTERVAL “MFS 1-MFS 5”, BLOK SOUTH MAHAKAM, CEKUNGAN KUTAI, KALIMANTAN TIMUR Permana, Irfandi Oky; Nugroho, Hadi; Hidajat, Wahju Krisna
Geological Engineering E-Journal Vol 6, No 2 (2014): Wisuda Periode Juli - Oktober 2014
Publisher : Program Studi Teknik Geologi, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (8295.96 KB)

Abstract

The energy demand  are growing by day,  especially in Indonesia, whereas these needs are not matched by the number of oil and gas production in Indonesia. This case is evidenced by the release of Indonesia as a member of an organization of oil exporting countries on October 9-10, 2008 in Vienna (Kompas, 10 October 2008). Thus required a study on the potential of producing hydrocarbon basin that will be expected to meet the energy demand of the oil and gas in Indonesia. One of the basins in Indonesia is the Kutai Basin which is the largest and widest Tertiary Basin in western Indonesia. The study area is located at the South Mahakam, Kutai Basin, East Kalimantan. This study aims to make conceptual model of delta Sepinggan development. The method included analysis of well log analysis method, 2D seismic analysis method, method of data analysis of rock core and biostratigraphic data analysis method. Based on analysis results can be obtained in the form of variations in lithology information on Sepinggan Zone deltaic sequence at intervals of MFS 1-MFS 5 marker are coal, sandstone, shale and limestone.  Process on Sepinggan Delta are regretion process dominated on Early Miocene – Middle Miocene (N4-N14), and transgretion process on Middle Miocene –Late Miocene (N14-N16). Sedimentation process influenced by East Manpatu Fault that increasing accomodation space in Rocky Field area, so sediment layer in Rocky Field area is thicker 60-150 meter than Zahra-Zidane Field area.
POTENSI SITUS-SITUS WARISAN GEOLOGI DI AREA KARS GUNUNG SEWU SEBAGAI PENDUKUNG DAN PELUANG PENGEMBANGAN GEOPARK DI INDONESIA UNTUK ASET GEOWISATA KREATIF Permadi, Reza; Rachwibowo, Prakosa; Hidajat, Wahju Krisna
Geological Engineering E-Journal Vol 6, No 2 (2014): Wisuda Periode Juli - Oktober 2014
Publisher : Program Studi Teknik Geologi, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1175.262 KB)

Abstract

Kars Gunung Sewu yang melingkupi wilayah Gunungkidul, Wonogiri dan Pacitan merupakan salah satu kawasan Kars yang paling terkenal di Jawa karena kekhasan dan keunikan Karsnya.  Gunung sewu secara geologi terbentuk dari batugamping berumur Neogen (Miosen Tengah) dengan ketebalan mencapai lebih dari 200 m. Karena ciri khas morfologinya menjadikan Gunung Sewu terpilih sebagai kandidat Geopark (Taman Bumi) di Indonesia. Geopark merupakan suatu konsep manajemen pengembangan kawasan secara berkelanjutan, yang memadu-serasikan tiga keragaman alam, yaitu keragaman geologi (geodiversity), keragaman hayati (biodiversity), dan keragaman budaya (cultural diversity), dengan tujuan untuk pembangunan serta pengembangan ekonomi kerakyatan yang berbasis pada asas perlindungan (konservasi) terhadap ketiga keragaman tersebut.  Sebanyak 30 geological heritage dan 3 non-geological heritage yang berada di Kawasan Kars Gunung Sewu yang diakui sebagai geopark atau taman geologi nasional oleh Badan Geologi Kementerian Energi Sumber Daya Mineral. Situs-situs ini ditargetkan akan dikelola oleh masyarakat dengan berbasis pemberdayaan masyarakat.Berdasarkan hasil analisis citra landsat Area Kars Gunung Sewu dikelompokkan menjadi 4 Satuan yaitu : Unit K1 Dataran Tinggi Kars, Unit K5 Dataran Alluvial Kars, Unit K6 Doline dan Unit K8 Lembah Kering (Brahmantyo B, 2006). Hasil analisis SWOT dan scoring self-assesment yang melingkupi Keadaan Geologi, Struktur Manajemen, Edukasi Lingkungan, Geotourism dan Perkembangan Ekonomi Daerah secara berkelanjutan didapat nilai 73,25%, angka tersebut (lebih dari 50 %) yang berarti Kawasan Kars Gunung Sewu sangat layak untuk bergabung ke dalam Jaringan Global Geopark National oleh UNESCO. Sebab, pengembangan kawasan geopark memiliki dampak yang sangat besar untuk pariwisata yang mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat setempat juga kebutuhan Negara.
Coastal Area Management Based on Disaster Mitigation: A Case Study in Purworejo Regency, Indonesia Hidajat, Wahju Krisna; Anggoro, Sutrisno; Najib, Najib
Indonesian Journal on Geoscience Vol 8, No 2 (2021)
Publisher : Geological Agency

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1620.371 KB) | DOI: 10.17014/ijog.8.2.147-156

Abstract

DOI:10.17014/ijog.8.2.147-156Indonesia is an archipelago blessed with the wealth of coastal resources, but also with the risk of natural hazards including tectonic earthquake and tsunami. This potential risk is high in the Purwodadi Subregency, Purworejo Regency, Indonesia, because of its location in an active subduction zone at the edge of the Indian Ocean. Therefore, this study was conducted in the region located on the southern coast of Java Island. The high probability of disaster in the area needs a proper coastal management strategy and mitigation measures. Hence, this study aims to establish an appropriate policy using the strength-weakness-opportunity-threat (SWOT) analysis. Furthermore, the data obtained from this novel analysis include the population and social vulnerability, geological conditions, landuse allocation, and disaster strategies. Each is carefully assessed and then incorporated into the matrix to obtain the result. In addition, the alternative strategies used are the development of disaster mitigation facilities, infrastructure, and institutional strengthening.
Coastal Area Management Based on Disaster Mitigation: A Case Study in Purworejo Regency, Indonesia Hidajat, Wahju Krisna; Anggoro, Sutrisno; Najib, Najib
Indonesian Journal on Geoscience Vol 8, No 2 (2021)
Publisher : Geological Agency

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17014/ijog.8.2.147-156

Abstract

DOI:10.17014/ijog.8.2.147-156Indonesia is an archipelago blessed with the wealth of coastal resources, but also with the risk of natural hazards including tectonic earthquake and tsunami. This potential risk is high in the Purwodadi Subregency, Purworejo Regency, Indonesia, because of its location in an active subduction zone at the edge of the Indian Ocean. Therefore, this study was conducted in the region located on the southern coast of Java Island. The high probability of disaster in the area needs a proper coastal management strategy and mitigation measures. Hence, this study aims to establish an appropriate policy using the strength-weakness-opportunity-threat (SWOT) analysis. Furthermore, the data obtained from this novel analysis include the population and social vulnerability, geological conditions, landuse allocation, and disaster strategies. Each is carefully assessed and then incorporated into the matrix to obtain the result. In addition, the alternative strategies used are the development of disaster mitigation facilities, infrastructure, and institutional strengthening.
PENGARUH KENAIKAN AIR LAUT PADA EFEKTIFITAS BANGUNAN UNTUK PERLINDUNGAN PANTAI KOTA SEMARANG Buddin A Hakim; Suharyanto Suharyanto; Wahju Krisna Hidajat
Buletin Oseanografi Marina Vol 2, No 3 (2013): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (252.353 KB) | DOI: 10.14710/buloma.v2i3.6954

Abstract

Adanya interaksi lautan dan daratan akan berpengaruh terhadap kondisi Pantai, Perairan Semarang yang berbatasan langsung dengan laut lepas berpotensi terjadi abrasi akibat dari energi gelombang yang mengenai daratan, faktor kenaikan air laut sebagai pengaruh dari perubahan iklim secara langsung akan mempengaruhi luasan abrasi yang terjadi. Penelitian bertujuan untuk mengetahui proyeksi kenaikan air laut, memperkirakan daerah abrasi serta mengetahui efektifitas bangunan groin dalam menanggulangi abrasi di Pantai Semarang. Identifikasi daerah abrasi dan tingkat efektifitas penanggulangan abrasi dilakukan dengan pemodelan menggunakan software CEDAS 2.01 sedangkan analisis spasial menggunakan software ArcGIS 9.3, sebagai inputan model data didapatkan dari analisis data Angin dan data pasang surut Kota Semarang serta survei data lapangan mengenai morfologi pantai dan kondisi sedimen di lokasi penelitian. Dari analisis data Pasang Surut didapatkan Proyeksi Kenaikan Muka Air Laut di Perairan Semarang diberikan dengan persamaan regresi y = 8,8209 x – 17367, R2 = 0,9453, dengan nilai kenaikan air laut sebesar 7.806 cm/tahun. Dari Hasil pemodelan didapatkan bahwa jika tidak ada upaya perlindungan yang dilakukan di Pantai maka pada tahun 2015 dilokasi penelitian akan mengalami abrasi sebesar 116.307 m2 dan meningkat pada tahun 2020 sebesar 174.593 m2 dengan lokasi abrasi berada di Kelurahan Jerakah, Tugurejo Karanganyar, Randu Garut, dan Kelurahan Mangkang Wetan, sedangkan dari skenario penambahan bangunan pantai jenis groin untuk menanggulangi abrasi didapatkan bahwa pembangunan Groin dengan jarak yang semakin pendek antara groin satu dengan yang lainnya lebih efektif dalam menanggulangi abrasi pantai di lokasi penelitian dibandingkan dengan pembangunan Groin yang panjang tetapi jarak antar groinnya terlalu panjang.   Kata Kunci : Kenaikan Air Laut, Prediksi Daerah Abrasi, Efektifitas Bangunan, Pantai Semarang
PENYELIDIKAN GEOLOGI TEKNIK UNTUK PENENTUAN LOKASI PEMBANGUNAN AS BENDUNGAN PELOSIKA DI DESA ASINUA JAYA, KECAMATAN ASINUA, KABUPATEN KONAWE, PROVINSI SULAWESI TENGGARA Sawung Kawedar Daya Kristy; Hadi Nugroho; Wahju Krisna Hidajat; Dandung Marhento
Geological Engineering E-Journal Vol 6, No 2 (2014): Wisuda Periode Juli - Oktober 2014
Publisher : Program Studi Teknik Geologi, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1575.528 KB)

Abstract

Development plan of Dam Pelosika is located in a river Konaweha, Asinua Jaya village, Asinua District, Konawe, Southeast  Sulawesi  Province. Konaweha river has a length of 127 km and has an Regional water bin area of 6,664 km2.The purpose of this research is to study the geology around the River Konaweha to determine the condition of the morphology and lithology of the area so it can be recommended as dam Pelosika construction site of several alternative locations. Then determine the engineering geology condition of the selected location. In addition, determine the spread and water level inundation. The research method used was a descriptive survey method engineering geological mapping. The descriptive method is collecting secondary data from topographic maps, regional geological maps, earth maps and technical data of dams. While the analytical survey method is analyze the data based on the geological conditions of the regional geology and geological engineering investigation of the data included surface geological conditions, core drilling and test results of geoelectric. Based on investigation in the field, the morphological conditions of the studyis divided into three units namely structural denudated steep hills landform unit, denudated structural undulating hills landform unit and plains of fluviall and denudated form unit. The lithology of the study area is a constituent of metamorphic rocks such as schist of Paleozoic Metamorphic Formation, conglomerates and sandstones of Pleistocene age Alangga Formation and deposition of clay to gravel-sized Alluvium Holocene age. Based on several parameters geology and geological engineering, so that from several alternative locations as dam development determined that 4th alternative locations is a selected location for construction Dam Pelosika. The foundation of the dam on the left side at elevation +121 m rests on weathering soil bedrock sandy silt-sized. The foundation of the center of the dam at elevation +16.9 m rests on clay silt layers firm. The foundation of the right of the dam at elevation +115 m rests on weathering soil bedrock sandy silt-sized. The inundation spread area is 165.98 km2, constrained by the topography of the area around the river. Inundation water levels is +180 m.
KAJIAN DAERAH RAWAN BENCANA ALAM GERAKAN TANAH BERDASARKAN ANALISIS FAKTOR PENGONTROL DI WILAYAH KECAMATAN CILONGOK, KABUPATEN BANYUMAS, JAWA TENGAH Henri Kusumayadi; Prakosa Rachwibowo; Wahju Krisna Hidajat
Geological Engineering E-Journal Vol 6, No 2 (2014): Wisuda Periode Juli - Oktober 2014
Publisher : Program Studi Teknik Geologi, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2476.685 KB)

Abstract

Kecamatan Cilongok merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten Banyumas yang berada di lereng selatan Gunung Slamet. Kecamatan ini memiliki  daerah-daerah rawan bencana alam gerakan tanah yang dikontrol oleh faktor kondisi geologi (litologi), kemiringan lereng, dan tata guna lahan. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui zona kerentanan gerakan tanah dan mengetahui cara untuk mengurangi gerakan tanah. Metode penelitian meliputi pengamatan lapangan yang dilanjutkan dengan metode analisis.Pengamatan lapangan meliputi pemetaan lokasi gerakan tanah dan pemetaan faktor-faktor penyebab gerakan tanah (litologi, kelerengan, dan tata guna lahan). Setelah melakukan pengamatan lapangan, data lapangan dianalisis sehingga menghasilkan peta geologi, peta kelerengan, peta tata guna lahan. Kemudian analisis dilanjutkan dengan melakukan pembobotan faktor-faktor pengontrol gerakan tanah dilakukan sehingga menghasilkan nilai bobot setiap faktor pengontrol.  Langkah selanjutnya yaitu menumpangtindihkan (overlaying) ketiga peta faktor pengontrol (dengan nilai bobot masing-masing) sehingga menghasilkan peta tingkat kerentanan gerakan tanah.Berdasarkan peta tingkat kerentanan gerakan tanah, Kecamatan Cilongok dapat dibagi menjadi tiga zona tingkat kerentanan gerakan tanah, yaitu zona tingkat kerentanan tinggi (luas mencakup + 35% peta), zona tingkat kerentanan sedang (luas mencakup + 15% peta), dan zona tingkat kerentanan rendah (luas mencakup + 50% peta). Peta zona tingkat kerentanan gerakan tanah dapat digunakan untuk skala prioritas mitigasi bencana alam gerakan tanah berdasarkan zona tingkat kerentanan. Untuk mengendalikan gerakan tanah, dapat dilakukan tindakan yang tepat berdasarkan faktor pengontrol gerakan tanah di masing-masing daerah.
REKONSTRUKSI STRUKTUR GEOLOGI DAERAH SUPIORI TIMUR – SELATAN, KABUPATEN SUPIORI, PULAU BIAK, PAPUA Fadlillah Rumanda; Wahju Krisna Hidajat; Fahrudin Fahrudin; Joko Wahyudiono
Geological Engineering E-Journal Vol 6, No 2 (2014): Wisuda Periode Juli - Oktober 2014
Publisher : Program Studi Teknik Geologi, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (800.837 KB)

Abstract

Papua and Papua New Guinea are had geology condition are very complex involving interaction between two plates, the Australian Plate and the Pacific Plate. New Guinea formed the result of the movement of oblique convergence (convergence oblique). The products of convergence are shrinkage and formed strike-slip structures and subduction which occur in Papua on 10 Ma. Sorendiweri Strait seen horizontal and vertical fault motion that separated the Biak Island and Supiori Island thar can be identified with the alignment on the satellite image.The purpose of this study was to determine the geological conditions in the study area, the pattern of structures, the main stress that formed the geological structure and reconstruct of geological structures in the study area. The Field research methods are field observation on Supiori track. Record the characteristics of the rock on each formation, measurement of geological structures such as bedding plane, joint and fault plane. Analysis methods such as analysis of alignment manually and visually interpreted on a satellite image DSM (Digital Surface Map). Stereographic analysis of geological structures, combining field data and analysis of alignment to determine the type of structure zone with rotated stress analysis and subsidiary structures method.Geological conditions consist of Oligocene clastic limestone Wainukendi Formation. and Miocene non-clastic limestones Wafordori Formation. Pattern geological structure on Wainukendi Formation., NE-SW normal faults, WSW-ENE strike-slip faults and NE-SW thrust fault. Wafordori Formation., NE-SW normal faults, NE-SW thrust fault. N-S trending major stress is the main primary stress, NE-SW and NW-SE sharpness trending are local stress. Reconstruction of geological structures of the study area began with N-S primary stress that formed E-W Maru reverse fault, NE-SW Soren sinisral fault and NW-SE Maruu, Yondonkir, Maryadori, Biniki dextral fault. The NE-SW trending secondary stress formed NW-SE Kepudari thrust fault, Yon reverse fault and Donkir reverse fault at south of the study area. 
POTENSI SITUS-SITUS WARISAN GEOLOGI DI AREA KARS GUNUNG SEWU SEBAGAI PENDUKUNG DAN PELUANG PENGEMBANGAN GEOPARK DI INDONESIA UNTUK ASET GEOWISATA KREATIF Reza Permadi; Prakosa Rachwibowo; Wahju Krisna Hidajat
Geological Engineering E-Journal Vol 6, No 2 (2014): Wisuda Periode Juli - Oktober 2014
Publisher : Program Studi Teknik Geologi, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1175.262 KB)

Abstract

Kars Gunung Sewu yang melingkupi wilayah Gunungkidul, Wonogiri dan Pacitan merupakan salah satu kawasan Kars yang paling terkenal di Jawa karena kekhasan dan keunikan Karsnya.  Gunung sewu secara geologi terbentuk dari batugamping berumur Neogen (Miosen Tengah) dengan ketebalan mencapai lebih dari 200 m. Karena ciri khas morfologinya menjadikan Gunung Sewu terpilih sebagai kandidat Geopark (Taman Bumi) di Indonesia. Geopark merupakan suatu konsep manajemen pengembangan kawasan secara berkelanjutan, yang memadu-serasikan tiga keragaman alam, yaitu keragaman geologi (geodiversity), keragaman hayati (biodiversity), dan keragaman budaya (cultural diversity), dengan tujuan untuk pembangunan serta pengembangan ekonomi kerakyatan yang berbasis pada asas perlindungan (konservasi) terhadap ketiga keragaman tersebut.  Sebanyak 30 geological heritage dan 3 non-geological heritage yang berada di Kawasan Kars Gunung Sewu yang diakui sebagai geopark atau taman geologi nasional oleh Badan Geologi Kementerian Energi Sumber Daya Mineral. Situs-situs ini ditargetkan akan dikelola oleh masyarakat dengan berbasis pemberdayaan masyarakat.Berdasarkan hasil analisis citra landsat Area Kars Gunung Sewu dikelompokkan menjadi 4 Satuan yaitu : Unit K1 Dataran Tinggi Kars, Unit K5 Dataran Alluvial Kars, Unit K6 Doline dan Unit K8 Lembah Kering (Brahmantyo B, 2006). Hasil analisis SWOT dan scoring self-assesment yang melingkupi Keadaan Geologi, Struktur Manajemen, Edukasi Lingkungan, Geotourism dan Perkembangan Ekonomi Daerah secara berkelanjutan didapat nilai 73,25%, angka tersebut (lebih dari 50 %) yang berarti Kawasan Kars Gunung Sewu sangat layak untuk bergabung ke dalam Jaringan Global Geopark National oleh UNESCO. Sebab, pengembangan kawasan geopark memiliki dampak yang sangat besar untuk pariwisata yang mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat setempat juga kebutuhan Negara.
Co-Authors Anis Kurniasih Athik Dina Nashihah Buddin A Hakim Citra Ningtyas Citra Ningtyas Dalimunte, Hasnan Luthfi Dandung Marhento Dandung Marhento Dedi Setiono Dedi Setiono Dendi Tantra Praditya Devina Trisnawati Dhony Indrawan Dhony Indrawan Dwiyanto Joko Suprapto Dwiyanto Joko Suprapto Eko Yulianto F.X. Yudi Triyono F.X. Yudi Triyono Fachry Afif Fauzan Fachry Afif Fauzan Fadlillah Rumanda Fadlillah Rumanda Fahrudin Fahrudin Fahrudin Fahrudin Fakhlove Wardhani Fakhlove Wardhani Fatimah, Illya Nur Hadi Nugroho Hadi Nugroho Hadi Nugroho Hendardi, Rizaldi Primanda Henri Kusumayadi Henri Kusumayadi Herlina Rachman Herlina Rachman Indriyani Martiningtyas Irfandi Oky Permana Irfandi Oky Permana Izza H. Hanani Jenian Marin Joko Wahyudiono Joko Wahyudiono Khansa Mutia Yahya Kiflan Muzwar Kurniasih, Anis Maemonah, Maemonah Mega Sari Mega Sari Najib Najib Najib Najib Najib, Najib Narulita Santi Nurakhmi Qadaryati Oki Satriawan Oki Satriawan Prakosa Rachwibowo Prakosa Rachwibowo Prakosa Rachwibowo Prakosa Rachwibowo Pranata, Maulana Septian Dwi Pudjihardjo Henarno Purna Sulastya Putra Putri, Salsabila Prihandoko Qadaryati, Nurakhmi Reddy Setyawan Reza Permadi Reza Permadi Rinal Khaidar Ali Ringga, Anita Galih Rio Andryantoro Rio Andryantoro Rizky Septianingrum Rizky Septianingrum Santi, Narulita Sawung Kawedar Daya Kristy Sawung Kawedar Daya Kristy Septriono Hari Nugroho Setiono Setiono Setiono Setiono Setyawan, Reddy Suharyanto Suhesti Suhesti Sutrisno Anggoro Thomas Triadi Putranto, Thomas Triadi Tiara, Meidey Tri Winarno Wahyu Budhi Khorniawan Widiarso Dian Agus Yermia Heriadji Yermia Heriadji Yosep Purnama Yosep Purnama Zainun Zainun