Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search
Journal : JURNAL HUTAN LESTARI

PEMANFAATAN PANDAN DURI DAN SENGGANG SEBAGAI BAHAN KERAJINAN ANYAMAN OLEH MASYARAKAT DESA LABIAN KECAMATAN BATANG LUPAR KABUPATEN KAPUAS HULU Dirhamsyah, M; Yani, Ahmad; Yanti, Hikma; Bija, Yosanti Ester
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 12, No 1 (2024): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v12i1.72338

Abstract

The people of Labian Village, Batang Lupar District, Kapuas Hulu Regency still carry out the use of plants as materials for woven crafts. This research aims to describe the use of pandan thorns and senggang as woven craft materials and the craft products produced by the people of Labian Village, Batang Lupar District. This research uses a survey method with data collection techniques using Snowball sampling. Data was obtained through observation and interviews with 16 respondents. The research results show that two types of plants are often used as woven material, namely, Pandan thorn (Pandanus tectorius) and Senggang (Hornstedtia reticulate). There are seven types of woven crafts produced from the Pandan duri plant, such as ale', kambu, iyut, alung-alung, singkara nest, kambu bara, and tolop bakam, while from the Senggang plant, six types of woven craft products are produced, namely baskets, lids, capan, mat, uyuyuk, and temuagan. The parts of the Pandan thorn and Senggang plants used as woven craft materials are the leaves and bark, and the processing is still in the traditional form.Keywords: Labian Village Community, Pandan Duri and Senggang, UtilizationAbstrakPemanfaatan tumbuhan sebagai bahan kerajinan anyaman masih dilakukan oleh masyarakat Desa Labian Kecamatan Batang Lupar Kabupaten Kapuas Hulu. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan bentuk pemanfaatan pandan duri dan senggang sebagai bahan kerajinan anyaman dan mendiskripsikan produk kerajinan yang dihasilkan oleh masyarakat Desa Labian Kecamatan Batang Lupar. Penelitian ini menggunakan metode survei dengan teknik pengumpulan data menggunakan Snowball sampling.   Data diperoleh melalui observasi dan wawancara dengan jumlah responden sebanyak 16 orang. Berdasarkan hasil penelitian tumbuhan yang   dimanfaatkan sebagai bahan anyaman adalah Pandan duri (Pandanus tectorius), dan    Senggang (Hornstedtia reticulate). Kerajinan anyaman yang dihasilkan dari tumbuhan Pandan duri sebanyak 7 jenis produk seperti  ale"™, kambu, iyut, alung- alung, sarang singkara, kambu bara, dan tolop bakam, sedangkan dari tumbuhan Senggang menghasilkan kerajinan anyaman sebanyak 6 jenis produk yaitu bakul, tutup benda, capan, tikar, uyuyuk, dan temuagan. Bagian tumbuhan Pandan duri dan Senggang yang digunakan sebagai bahan kerajinan anyaman adalah daun dan kulit batang serta pengolahannya masih dalam bentuk tradisional. Kata kunci: Masyarakat Desa Labian, Pandan Duri dan Senggang, Pemanfaatan
INTERPRETASI EKOWISATA ABIOTIK AIR TERJUN SARAY BRUNYAU DI DESA RIAM PIYANG KABUPATEN KAPUAS HULU KALIMANTAN BARAT Gunawan, Heri; Siahaan, Sarma; Yanti, Hikma
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 11, No 4 (2023): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v11i4.64133

Abstract

Bunut Hulu District is one of the most important sub-districts in Kapuas Hulu Regency.  Bunut Hulu has several very interesting attractions to visit, one of which is Saray Brunyau Waterfall located in Riam Piyang Village. Saray Brunyau Waterfall is included in the area with the status of a protected forest area. The purpose of this study is to obtain data on the potential of ecotourism objects and compile data on the interpretation of the ecotourism potential of the Saray Brunyau waterfall in Riam Piyang Village, Bunut Hulu District, Kapuas Hulu Regency. This research uses a descriptive survey method with direct observation techniques and direct interviews. Sampling of community respondents using purposive sampling. As a result of interviews and direct observations, 8 potentials can support the interpretation of ecotourism potential, namely Rice Fields, Fields, Rubber Plantations and Kratom Gardens, Tembawang Forest, Sebilit River, Saray Brunyau Waterfall, and Protected Forest. The results of the exploration are arranged into one tourist route, namely the abiotic interpretation path of ecotourism in Riam Piyang Village. The path from the settlement to the Saray Brunyau waterfall attraction is 3.50 km away.Keywords: Ecotourism, Interpretation, Kapuas Hulu Regency, Saray Brunyau, WaterfallAbstrakKecamatan Bunut Hulu merupakan salah satu kecamatan yang terletak di Kabupaten Kapuas Hulu. Bunut Hulu memiliki beberapa objek wisata yang sangat menarik untuk dikunjungi, salah satunya yaitu Air Terjun Saray Brunyau yang terletak di Desa Riam Piyang. Air Terjun Saray Brunyau masuk ke dalam kawasan yang berstatus kawasan hutan lindung. Tujuan dari penelitian ini yaitu mendapatkan data potensi objek ekowisata abiotik dan menyusun data interpretasi potensi ekowisata abiotik air terjun Saray Brunyau di Desa Riam Piyang Kecamatan Bunut Hulu Kabupaten Kapuas Hulu. Penelitian ini menggunakan metode survey yang bersifat deskriptif dengan teknik observasi langsung dan wawancara langsung. Pengambilan sampel responden masyarakat menggunakan purposive sampling. Hasil dari wawancara dan observasi langsung terdapat 8 potensi yang dapat mendukung interpretasi potensi ekowisata, yaitu Sawah, Ladang, Kebun Karet dan Kebun Kratom, Hutan Tembawang, Sungai Sebilit, Air Terjun Saray Brunyau, dan Hutan Lindung. Hasil eksplorasi tersebut disusun menjadi satu jalur wisata, yaitu jalur interpretasi abiotik ekowisata Desa Riam Piyang. Jalur dari pemukiman ke objek wisata air terjun Saray Brunyau hanya berjarak 3,50 km.Kata Kunci: Air Terjun, Ekowisata, Interpretasi, Kabupaten Kapuas Hulu, Saray Brunyau
KEANEKARAGAMAN JENIS SEMUT (Formicidae) ARBOREAL DI HUTAN MANGROVE DESA SEBUBUS KECAMATAN PALOH KABUPATEN SAMBAS Yanti, Hikma; Andriadi, Andriadi; Wardenaar, Evy
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 11, No 3 (2023): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v11i3.53808

Abstract

Ants (Formicidae) are an insect that has a stable population throughout the seasons and years. Their large and regular numbers make ants one of Indonesia's most important insect colonies. Ant ecosystems are often used as bioindicators in environmental assessment programs. This study aims to collect data on ant species diversity based on the vegetation type in the mangrove forest located in Sebubus Village, Paloh District, Sambas Regency. This study used a survey method by observing tree species with a diameter of 10 cm and above. Data were collected through fly sheet traps placed under the high tide tree and at the top of the tree. The data obtained found four types of ants consisting of 2 subfamilies with 1,330 individual ants in three tree species, classified as moderate (H '= 1-3). The wealth index value (DMg) of ant species on three tree species is classified as low. The ant species' evenness index (E) for three tree species was ranked as high. Dominance index (C): the highest dominance index value for the type of ant was Crematogaster sp. (2.0839), and the lowest was in the Crematogaster reticulate ant species (0.2629). The species similarity index (IS) value of arboreal ants with the highest species similarity was Rhizophora sp., Bruguiera sp., Bruguiera sp., and X. granatum (50%).Keywords: Formicidae, Diversity, Mangrove, Sebubus, Ants ArborealAbstrakSemut (Formicidae) adalah serangga yang memiliki populasi yang cukup stabil sepanjang musim dan tahun. Jumlahnya yang besar dan stabil menjadikan semut salah satu koloni serangga penting di Indonesia, ekosistem semut sering digunakan sebagai bioindikator dalam program penilaian lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengumpulkan data tentang keanekaragaman spesies semut berdasarkan jenis vegetasi hutan mangrove yang terletak di Desa Sebubus Kecamatan Paloh Kabupaten Sambas. Penelitian ini menggunakan metode survei dengan mengamati jenis pohon yang diameternya 10 cm ke atas. Data dikumpulkan melalui jebakan fly sheet yang diletakkan di bawah pohon batas tertinggi air pasang dan di atas pohon. Hasil data yang diperoleh yaitu ditemukan 4 jenis semut yang terdiri dari 2 subfamili dengan jumlah keseluruhan 1.330 individu semut di tiga jenis pohon yaitu tergolong sedang (H’=1- 3). Nilai indeks kekayaan (DMg) jenis semut pada tiga jenis pohon yaitu tergolong rendah. Indeks kemerataan (E) jenis semut untuk tiga jenis pohon yaitu tergolong tinggi. Indeks dominansi (C) nilai indeks dominansi jenis semut tertinggi ditemukan pada jenis semut Crematogaster sp (2,0839) dan terendah pada jenis semut Crematogaster reticulate (0,2629). Nilai indeks kesamaan jenis (IS) semut arboreal yang mempunyai kesamaan jenis tertinggi yaitu pada jenis pohon Rhizophora sp dan Bruguiera sp serta Bruguiera sp dan X.granatum (50%). Kata kunci : Formicidae, Keanekaragaman, Mangrove, Sebubus, Semut Arboreal
PEMANFAATAN BAMBU OLEH MASYARAKAT DI SEKITAR BUKIT KINAI DESA SETANDUK KECAMATAN CAPKALA KABUPATEN BENGKAYANG Bagaskara, Arul; Dirhamsyah, M; Yanti, Hikma
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 13, No 2 (2025): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v13i2.87795

Abstract

Bamboo is one of the non-timber forest products that is widely used by the community around Bukit Kinai, Setanduk Village, Capkala District, Bengkayang Regency for various daily needs. Therefore, this study aims to obtain data on the types of bamboo utilized and the form of bamboo utilization by the Setanduk Village community. This research uses a survey method with direct interview techniques. Sampling at the research site was carried out using purposive sampling, namely respondents who utilize and use bamboo, the community that was used as a respondent was 213 people. Based on the results of the study, 7 types of bamboo were obtained which were utilized by the community around Bukit Kinai, Setanduk Village, Capkala District, Bengkayang Regency, namely aur (Bambusa vulgaris), tarekng (Gigantochloa hasskarliana), purasak (Schizostachyum lima), buuh poe (Schizostachyum brachyladum), batukng (Dendrocalamus asper), tumiang (Schizostachyum sp.), and munti (Schizostachyum sp.). There are 4 forms of bamboo utilization by the community around Bukit Kinai, Setanduk Village, Capkala District, Bengkayang Regency, namely as construction materials, woven materials, consumption materials, and cultural / traditional ritual materials. The Use Value (UV) value on the utilization of bamboo species, namely aur (Bambusa vulgaris), buuh poe (Schizostachyum brachyladum) and munti (Schizostachyum sp.) has the highest UV value with a value of 1. Then for the percentage of Fidelity Level (FL) the highest value (100%) is found in 4 types of bamboo namely tarekng (Gigantochloa hasskarliana), batukng (Dendrocalamus asper), tumiang (Schizostachyum sp.), and munti (Schizostachyum sp.). Keywords: Bamboo, Bukit Kinai, Community, Setanduk Village, Utilization Abstrak Bambu merupakan salah satu hasil hutan bukan kayu yang banyak dimanfaatkan oleh masyarakat di Sekitar Bukit Kinai Desa Setanduk Kecamatan Capkala Kabupaten Bengkayang untuk berbagai kebutuhan sehari-hari. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan data jenis-jenis bambu yang dimanfaatkan dan bentuk pemanfaatan bambu oleh masyarakat Desa Setanduk. Penelitian ini menggunakan metode survey dengan teknik wawancara secara langsung. Pengambilan sampel di lokasi penelitian dilakukan dengan menggunakan purposive sampling, yaitu responden yang memanfaatkan dan menggunakan bambu, masyarakat yang dijadikan responden sebanyak 213 orang. Berdasarkan hasil penelitian, diperoleh 7 jenis bambu yang dimanfaatkan oleh masyarakat di Sekitar Bukit Kinai Desa Setanduk Kecamatan Capkala Kabupaten Bengkayang, yaitu aur (Bambusa vulgaris), tarekng (Gigantochloa hasskarliana), purasak (Schizostachyum lima), buuh poe (Schizostachyum brachyladum), batukng (Dendrocalamus asper), tumiang (Schizostachyum sp.), dan munti (Schizostachyum sp.). Pemanfaatan bambu oleh masyarakat di Sekitar Bukit Kinai Desa Setanduk Kecamatan Capkala Kabupaten Bengkayang ada 4 bentuk pemanfaatan yaitu sebagai bahan kontruksi, bahan anyaman, bahan konsumsi, dan bahan budaya/ritual adat. Nilai Use Value (UV) pada pemanfaatan jenis bambu yaitu aur (Bambusa vulgaris), buuh poe (Schizostachyum brachyladum), dan munti (Schizostachyum sp.) memiliki niai UV tertinggi dengan nilai 1. Kemudian untuk persentase Fidelity Level (FL) nilai tertinggi (100 %) terdapat 4 jenis bambu yaitu tarekng (Gigantochloa hasskarliana), batukng (Dendrocalamus asper), tumiang (Schizostachyum sp.), dan munti (Schizostachyum sp.). Kata kunci: Bambu, Bukit Kinai, Masyarakat, Desa Setanduk, Pemanfaatan