Claim Missing Document
Check
Articles

Found 33 Documents
Search
Journal : Vegetalika

Pengaruh Dosis Pupuk Kalium terhadap Pertumbuhan dan Hasil Wijen Hitam dan Putih Ardo Simare Mare; Dody Kastono; Sri Muhartini
Vegetalika Vol 4, No 2 (2015)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (738.092 KB) | DOI: 10.22146/veg.9269

Abstract

Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh dosis pupuk kalium terhadap pertumbuhan dan hasil wijen hitam dan putih. Penelitian ini dilaksanakan di Kebuh Tridharma Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada, Banguntapan, Bantul, Yogyakarta pada bulan Desember 2013 sampai dengan Maret 2014. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak kelompok lengkap dengan 2 faktor. Faktor pertama adalah dosis pupuk kalium yang terdiri dari 4 taraf, yaitu tanpa pemupukan kalium sebagai kontrol, dosis 30, 60, dan 90 kg/ha. Faktor kedua adalah dua varietas wijen yaitu SBR-1 dan lokal hitam. Data yang diperoleh dianalisis dengan analisis sidik ragam α= 5 %. Apabila terdapat beda nyata antar perlakuan maka dilanjutkan dengan uji Duncan Multiple Range Test (DMRT) 5 %. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian pupuk kalium sampai 90 kg K2O/ha secara nyata meningkatkan pertumbuhan tanaman pada variabel luas  daun,  berat  kering  tajuk,  dan  luas  akar. Analisis pertumbuhan yang dilakukan juga menunjukkan adanya peningkatan indeks luas daun, laju asimilasi bersih, laju pertumbuhan tanaman, dan indeks panen secara nyata. Perlakuan dosis pupuk kalium sebesar 30 kg K2O/ha meningkatkan komponen hasil dan hasil tanaman wijen yang ditunjukkan pada variabel jumlah polong, berat 1000 biji, dan berat biji per tanaman. Interaksi antara perlakuan dosis pupuk kalium dan varietas wijen berpengaruh nyata terhadap kandungan minyak wijen. Kombinasi perlakuan dosis pupuk kalium 90 kg K2O/ha pada wijen lokal hitam memberikan kandungan minyak tertinggi yaitu sebesar 49,70 %.
Pengaruh Jenis Bahan Tanam dan Takaran Kompos Blotong terhadap Pertumbuhan Awal Tebu (Saccharum officinarum L.) Danang Hartono; Dody Kastono; Rohlan Rogomulyo
Vegetalika Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (192.382 KB) | DOI: 10.22146/veg.25014

Abstract

Penelitian ini dilaksanakan pada 20 Mei sampai dengan 17 September 2015 di Desa Mojoagung, Kecamatan Trangkil, Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Penelitian ini bertujuan: 1) Mengetahui pengaruh jenis bahan tanam yaitu budchip, budset, dan bagal terhadap pertumbuhan awal tebu. 2) Mengetahui takaran kompos blotong yang tepat terhadap pertumbuhan awal tebu. 3) Mengetahui pengaruh jenis bahan tanam tebu pada berbagai takaran kompos blotong (filter cake) terhadap pertumbuhan awal tebu. Percobaan disusun dalam rancangan acak kelompok lengkap dengan tiga blok sebagai ulangan. Percobaan ini terdiri dari dua faktor. Faktor pertama adalah jenis bahan tanam terdiri dari tiga aras yaitu budchip, budset, dan bagal. Faktor kedua adalah dosis blotong yang terdiri dari 4 aras yaitu: 0 (kontrol), 5, 10, dan 15 ton/ha, Pengamatan dilakukan terhadap variabel tinggi tanaman, jumlah daun, diameter batang, jumlah anakan, jumlah ruas, bobot segar, bobot kering, luas daun dan luas akar. Data dianalisis menggunakan analisis varian pada level 5% dan dilanjutkan dengan Duncan’s Multiple Range Test jika hasil analisis varian menunjukkan perbedaan yang nyata antar perlakuan. Tanaman tebu yang berasal dari budchip dan budset memiliki jumlah anakan, jumlah daun, bobot segar, bobot kering, laju asimilasi bersih, dan laju asimilasi bersih yang lebih baik daripada tanaman tebu yang berasal dari bagal. Tanaman tebu yang diberi kompos blotong memiliki pertumbuhan yang lebih baik daripada tanaman yang tidak diberi takaran kompos blotong, tanaman tebu dengan perlakuan takaran kompos blotong 10 dan 15 ton/ha, dan memiliki pertumbuhan yang secara nyata lebih baik dibanding perlakuan yang lain pada parameter jumlah anakan, jumlah daun, jumlah ruas, bobot segar dan bobot kering.
Pengaruh Jarak Tanam terhadap Pertumbuhan Awal Lima Klon Tebu (Saccharum oficinarum L.) Asal Bibit Mata Tunas Tunggal di Lahan Kering Alfisol Latiful Muttaqin; Taryono Taryono; Dody Kastono; Wawan Sulistyono
Vegetalika Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1278.073 KB) | DOI: 10.22146/veg.25019

Abstract

Perluasan area penanaman tebu saat ini dilakukan di lahan kering akibat persaingan dengan komoditi lain di lahan sawah. Pemilihan klon tebu yang sesuai ditanam pada lahan kering tertentu sangat penting, mengingat adanya perbedaan sifat genetik klon tebu. Selain itu, penggunaan bibit mata tunas tunggal sebagai bahan tanam juga mulai dikembangkan karena kemampuannya dalam pertumbuhan tunas, pembentukan anakan yang serempak dan seragam, serta kemudahan dalam pengaturan jarak tanam di lapangan yang dinilai mampu meningkatkan produktivitas tebu. Informasi pengaturan jarak tanam dan pemilihan klon tebu sangat bermanfaat untuk mendukung pertumbuhan tebu supaya lebih optimal khususnya di lahan kering alfisol. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jarak tanam optimal dan klon terbaik pada sistem pindah tanam bibit tebu di lahan kering alfisol. Penelitian menggunakan empat jarak tanam (30, 40, 60 dan 75 cm) dan lima klon tebu (PS881, PS864, VMC, Kidang Kencana dan Bululawang). Penelitian dilaksanakan di desa Bendungan, kecamatan Karangmojo, kabupaten Gunung Kidul, menggunakan Rancangan Acak Kelompok Lengkap dengan empat blok sebagai ulangan. Data hasil pengamatan dianalisis menggunakan analisis varian dengan uji lanjutan Uji Jarak Berganda Duncan pada α=5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tanaman tebu cenderung lebih baik pada jarak tanam lebar dibandingkan jarak tanam rapat. Jarak tanam dalam baris 60 cm merupakan jarak yang paling optimal, sedangkan klon PS864 dinilai paling baik untuk ditanam di lahan kering alfisol.
Tanggapan Padi Lokal (Oryza sativa L.) Melati Menoreh terhadap Sistem Budidaya Semi Organik dan Organik dengan Jarak Tanam Berbeda di Kalibawang, Kulon Progo Reni Afiat; Didik Indradewa; Dody Kastono
Vegetalika Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (168.234 KB) | DOI: 10.22146/veg.26170

Abstract

Kebutuhan beras setiap tahun semakin bertambah seiring dengan laju pertumbuhan penduduk. Meningkatnya permintaan kebutuhan beras tersebut tidak diimbangi dengan produksi beras di dalam negeri, sehingga untuk pemenuhannya dilakukan impor beras. Oleh karena itu, untuk dapat memenuhi kebutuhan beras, diperlukan varietas dan lingkungan yang mendukung untuk kegiatan budidaya. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari tanggapan padi Melati Menoreh yang ditanam secara semi organik dan organik dengan jarak tanam berbeda, serta menentukan jarak tanam yang tepat untuk masing-masing cara budidaya. Penelitian dilaksanakan di Desa Banjararum, Kalibawang, Kulonprogo, Yogyakarta pada bulan Februari-Agustus 2016. Penelitian disusun dalam rancangan multilokasi (oversite) dua faktor dengan lima petak petani sebgai ulangan. Faktor pertama sistem budidaya yang terdiri dari 2 aras, yaitu semi organik dan organik. Faktor kedua jarak tanam yang terdiri dari 2 aras, yaitu       20 cm x 40 cm dan 25 cm x 40 cm. Perubahan sistem budidaya dari semi organik menjadi organik menyebabkan penurunan kadar klorofil total, pertumbuhan, dan kadar amilosa beras yang menyebabkan beras pulen, serta hasil gabah kering panen yang tidak berbeda, yaitu 7,31 ton/ha pada semi organik dan 7,71 ton/ha pada organik. Tetapi pergantian sistem budidaya tersebut dapat meningkatkan bobot beras yaitu dari 3,46 ton/ha menjadi 4,05 ton/ha. Jarak tanam yang lebih lebar dapat meningkatkan kadar klorofil total dan kadar amilosa beras yang menyebabkan beras pera, serta meningkatkan bobot beras di mana pada jarak tanam 25 cm x 40 cm menghasilkan 4,32 ton/ha, sedangkan jarak tanam 20 cm x 40 cm menghasilkan 3,19 ton/ha.
Pengaruh Pengayaan Oksigen dan Kalsium terhadap Pertumbuhan Akar dan Hasil Selada Keriting (Lactuca sativa L.) pada Hidroponik Rakit Apung Brian Krisna; Eka Eka Tarwaca Susila Putra; Rohlan Rogomulyo; Dody Kastono
Vegetalika Vol 6, No 4 (2017)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1041.175 KB) | DOI: 10.22146/veg.30900

Abstract

Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh pengkayaan oksigen (O2) dankalsium (Ca) dalam larutan nutrisi hidroponik rakit apung terhadap pertumbuhan akar, hasil dan serapan Ca selada keriting. Penelitian dilaksanakan di Rumah KacaDepartemen Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada yangterletak di Kecamatan Banguntapan, Kabupaten Bantul, Propinsi D.I. Yogyakarta, padabulan April-Juni 2016. Percobaan lapangan disusun dalam Rancangan Acak KelompokLengkap (RAKL) faktorial dengan tiga blok sebagai ulangan. Faktor pertama adalahvariasi tekanan aerasi dalam larutan nutrisi yang meliputi 0 mPa (V1), 0,012 mPa (V2),0,006 mPa (V3), dan 0,003 mPa (V4). Faktor kedua adalah dosis Ca dalam larutannutrisi, meliputi 0 ppm (Ca0), 200 ppm (Ca1), 400 ppm (Ca2), dan 600 ppm (Ca3).Variabel yang diamati meliputi karakter iklim mikro dalam rumah kaca, karakter kimiawilarutan nutrisi, karakter perakaran, dan hasil selada keriting. Data yang telah diperolehselanjutnya dianalisis varian (ANOVA) dengan tingkat kepercayaan 95%, dandilanjutkan dengan Duncan’s Multiple Range Test (DMRT) jika terdapat beda nyataantar perlakuan. Hasil penelitian memberikan informasi bahwa karakter perakaranselada keriting yang ditanam secara hidroponik rakit apung menjadi lebih baik jikadilakukan pengayaan oksigen dan kalsium pada larutan nutrisinya, masing-masingsampai dengan tekanan aerasi 0,012 mPa dan konsentrasi 600 ppm. Indikasinyaadalah terjadi kenaikan panjang dan luas permukaan total akar, pada tanaman seladakeriting yang diberi tekanan aerasi 0,012 mPa dan kalsium 600 ppm. Pengayaankalsium sampai dengan 600 ppm secara nyata juga meningkatkan bobot segar dankering tajuk selada keriting. Sedangkan pemberian tekanan aerasi sampai dengan0,012 mPa secara nyata meningkatkan bobot segar dan kering total selada keriting.Konsentrasi kalsium dalam jaringan selada keriting mencapai maksimal pada kalsium600 ppm, yang dikombinasikan dengan tekanan aerasi 0,012 mPa. Serapan kalsiumdipengaruhi secara individual oleh masing-masing faktor, mencapai maksimal padatanaman selada keriting yang diberi tekanan aerasi 0,012 mPa atau kalsium 600 ppm.
Pengaruh Ketinggian Tempat Tumbuh terhadap Hasil dan Kualitas Minyak Cengkih (Syzygium aromaticum (L.) Merr. & Perry.) di Kecamatan Samigaluh, Kulon Progo Nugraha Dewa Istiawan; Dody Kastono
Vegetalika Vol 8, No 1 (2019)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (342.834 KB) | DOI: 10.22146/veg.35744

Abstract

Kecamatan Samigaluh terkenal sebagai sentra produksi cengkih baik berupa bunga cengkih maupun minyak cengkih di Kulon Progo. Wilayahnya terletak di daerah Pegunungan Menoreh dengan ketinggian antara 120 -1.000 m di atas permukaan laut. Menurut kearifan lokal masyarakat Samigaluh semakin tinggi suatu tempat untuk menanam cengkih akan menurunkan produksi dan kualitas bunga dan minyak cengkih. Tujuan dari dilaksanakannya penelitian ini adalah mengetahui pengaruh ketinggian tempat terhadap hasil dan kualitas minyak cengkih. Penelitian dilaksanakan di kebun cengkih rakyat dusun Keceme, dusun Kayugedhe dan dusun Sumbo desa Gerbosari, dusun Sumoroto dan Nyemani desa Sidoharjo, dan dusun Taman desa Purwoharjo kecamatan Samigaluh pada bulan Mei-Agustus 2017. Percobaan ini dilakukan dengan rancangan acak kelompok lengkap (RAKL) nested, dengan rancangan perlakuan satu faktor dan blok berupa dusun dalam satu desa di ketinggian tersebut. Faktor yang digunakan adalah ketinggian tempat yang terdiri dari dataran rendah (<400 mdpl), dataran medium (400–700 mdpl), dan dataran tinggi (>700 mdpl). Parameter yang diamati berupa anasir iklim mikro, kandungan lengas tanah dan kesuburan kimia tanah, aktivitas fisiologi tanaman, dan analisis hasil serta kualitas minyak cengkih. Hasil penelitian ini menunjukkan perbedaan ketinggian tempat akan berpengaruh pada perbedaan iklim mikro yang ada, berupa suhu udara, suhu tanah, kelembaban udara dan kandungan lengas tanah yang nantinya akan berpengaruh pada hasil minyak cengkih dan kualitas berupa kandungan beta-Caryophyllene, sedangkan variabel kualitas lain dipengaruhi oleh kondisi kesuburan kimia di tanah, seperti eugenol dipengaruhi oleh kandungan N total dan C-organik, serta bobot jenis minyak yang dipengaruhi oleh kandungan Ca dan C-organik. 
Pengaruh Waktu dan Tinggi Pemotongan Tunggul terhadap Komponen Hasil dan Hasil Padi (Oryza sativa L.) Ratun Vicky Silvia Nuzul; Didik Indradewa; Dody Kastono
Vegetalika Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (354.725 KB) | DOI: 10.22146/veg.35773

Abstract

Ratun adalah tunas tanaman padi yang tumbuh dari tunggul yang telah dipanen, sehingga dapat memberikan tambahan produksi. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan membandingkan komponen hasil dan hasil padi ratun dengan padi induk, mempelajari pengaruh waktu dan tinggi pemotongan tunggul terhadap komponen hasil dan hasil padi ratun serta menentukan waktu dan tinggi pemotongan yang optimal bagi komponen hasil dan hasil padi ratun. Penelitian dilaksanakan pada bulan Maret-Juni 2017 di lahan penelitian Pusat Inovasi Agroteknologi (PIAT) Universitas Gadjah Mada Kalitirto, Berbah, Sleman, D. I. Yogyakarta. Rancangan yang digunakan adalah rancangan petak terbagi (split plot) dengan waktu pemotongan sebagai faktor utama dan tinggi pemotongan sebagai anak petak dengan 3 blok sebagai ulangan. Waktu pemotongan terdiri dari 3 aras yaitu saat panen, 7 hari setelah panen, dan 14 hari setelah panen. Tinggi pemotongan terdiri dari 4 aras yaitu 3 cm, 13 cm, 23 cm, dan 33 cm di atas permukaan tanah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komponen hasil dan hasil padi ratun lebih rendah dibandingkan padi induk. Pemotongan yang dilakukan pada saat panen, 7, 14 hsp dengan ketinggian pemotongan dekat dengan permukaan tanah akan memperlambat fase generatif, meningkatkan komponen hasil dan hasil padi ratun. Komponen hasil dan hasil padi ratun tertinggi dicapai pada pemotongan yang dilakukan saat panen dengan ketinggian 3 cm di atas permukaan tanah dengan hasil gabah 3,54 ton/ha.
Kualitas dan Daya Simpan Benih Hasil Panen Kedelai Hitam (Glycine max (L.) Merill) yang Ditanam dengan Aplikasi Mikoriza dan Rhizobium Khoiru Ridho; Sri Muhartini; Dody Kastono
Vegetalika Vol 8, No 1 (2019)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (195.188 KB) | DOI: 10.22146/veg.37142

Abstract

Budidaya kedelai hitam dengan aplikasi mikoriza dan Rhizobium dapat dijadikan alternatif dalam upaya peningkatan produksi kedelai hitam di lahan marjinal, baik untuk konsumsi maupun penggunaan benih secara umum. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh benih hasil panen kedelai hitam yang ditanam sebelumnya dengan aplikasi mikoriza dan Rhizobium terhadap kualitas benih selama penyimpanan, dan juga mendapatkan perlakuan yang mampu mermperpanjang umur simpan dari benih hasil panen kedelai hitam yang ditanam sebelumnya dengan aplikasi mikoriza dan Rhizobium. Penelitian ini telah dilaksanakan di Laboratorium Teknologi Benih dan Rumah Kaca, Departemen Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, pada bulan Oktober 2016 hingga Maret 2017. Penelitian dilakukan dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) satu faktor dengan 4 perlakuan dan 4 ulangan.Perlakuan yang diberikan adalah tanpa aplikasi mikoriza dan Rhizobium (kontrol), aplikasi mikoriza, aplikasi Rhizobium, dan aplikasi gabungan mikoriza dan Rhizobium. Pengujian benih dilakukan setiap bulan selama 6 bulan terhadap gaya berkecambah, indeks vigor, indeks vigor hipotetik, dan kadar air benih. Hasil penelitian menunjukkan bahwa benih yang dihasilkan dari budidaya kedelai hitam dengan aplikasi mikoriza, Rhizobium, maupun dengan gabungan mikoriza dan Rhizobium belum mampu memperbaiki kualitas fisiologi benih dibandingkan tanpa mikoriza dan Rhizobium (kontrol). Budidaya kedelai hitam dengan aplikasi mikoriza dan Rhizobium secara umum belum mampu memperbaiki atau memperpanjang umur simpan benih dibandingkan tanpa mikoriza dan Rhizobium (kontrol). 
Pengaruh Aplikasi Tiga Jenis Arang dan Klon terhadap Pertumbuhan Vegetatif Dan Serapan Unsur Silika (Si) Tebu (Saccharum Officinarum L.) PT. Perkebunan Nusantara X Jengkol Kediri Priyo Dwi Siswanto; Dody Kastono; Nasih Widya Yuwono
Vegetalika Vol 8, No 3 (2019)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (121.344 KB) | DOI: 10.22146/veg.37162

Abstract

Tanaman tebu (Saccharum officinarum L.) merupakan salah satu komoditas utama di Indonesia yang merupakan tanaman yang menghasilkan gula. Produksi gula nasional mengalami penurunan karena produktivitas tanaman tebu yang rendah. Pemberian bahan yang ditujukan untuk memperbaiki kondisi tanah baik fisika, kimia maupun biologi disebut amandemen (ameliorasi). Bahan alam yang dapat digunakan untuk mengatasi defisiensi hara dan meningkatkan efisiensi pemupukan yaitu dengan pemberian arang. Tanaman tebu sangat membutuhkan unsur Si dalam pertumbuhannya. Salah satu bahan organik yang mengandung Si tinggi yaitu arang. Kandungan Si dari berbagai sumber berbeda-beda, Si pada arang sekam padi merupakan yang tertinggi. Selain faktor pemupukan, faktor klon yang sesuai dengan lahan juga sangat penting untuk meningkatkan produksi tebu. klon merupakan suatu langkah yang ditempuh untuk memberbaiki sifat suatu tanaman baik dari segi kualitatif dan kuantitatif. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kombinasi antara jenis arang dengan klon yang memiliki hasil pertumbuhan dan serapan hara paling baik. Penelitain dilakukan di lahan PT. Perkebunan Nusantara X Jengkol Kediri menggunakan Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) dengan dua faktor. Faktor pertama yaitu jenis arang dan yang kedua yaitu jenis klon tebu. Penelitian dilakukan pada bulan Agustus 2017-Februari 2018. Kombinasi perlakuan arang sekam padi dan klon tebu Bululawang mampu meningkatkan hasil pertumbuhan vegetatif tanaman tebu. Tebu klon Bululawang yang diaplikasikan dengan arang sekam padi mampu memperbaiki pertumbuhan vegetatif dan tebu Klon PS 882 yang diaplikasikan dengan arang kayu mampu meningkatkan serapan unsur Silika (Si). Arang sekam padi mampu meningkatkan diameter batang dan kandungan Si jaringan batang pada umur 140 hspt.
Fungsi Ekologis Vegetasi Taman Denggung Sleman sebagai Pengendali Iklim Mikro dan Peredam Kebisingan Alun Erdianto; Siti Nurul Rofiqo Irwan; Dody Kastono
Vegetalika Vol 8, No 3 (2019)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (679.987 KB) | DOI: 10.22146/veg.41374

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui fungsi ekologis vegetasi sebagai pengendali iklim mikro dan peredam kebisingan, menganalisis jenis vegetasi Taman Denggung serta membuat rekomendasi tata hijau Taman Denggung berdasarkan aspek fungsi ekologisnya. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April hingga Juli 2018 di Taman Denggung, Desa Tridadi, Kecamatan Sleman, Kabupaten Sleman, Provinsi DIY. Studi ini menggunakan metode survei dengan pengambilan data lapangan dan analisis deskriptif untuk tujuan fungsi pereduksi kebisingan, pemecah angin, dan penurun suhu di Taman Denggung. Hasil inventarisasi dianalisis berdasarkan kriteria fungsi ekologis yang kemudian dibandingkan dengan literatur. Teknik penilaian fungsi ekologis menggunakan rumus Key Performance Index (KPI) untuk memberi nilai pada masing-masing kriteria. Keberadaan vegetasi berupa pohon di Taman Denggung mampu mereduksi kebisingan sebesar 8,6 dBA, mengurangi suhu sebesar 2,25 °C dan meningkatkan kelembaban udara sebesar 5,3 % serta mampu memperlambat kecepatan angin sebesar 0,60 m/s. Jenis vegetasi di Taman Denggung yang memiliki karakteristik morfologi baik sebagai peredam kebisingan 57,47 %, sebagai penurun suhu 57,34 %, sebagai kontrol kelembaban udara 38,53 %, dan sebagai penahan angin 95,41 %.