Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

Sosialisasi Membangun Batasan Diri (Self-Boundaries) pada Siswa Sekolah Dasar Negeri Mukminah, Mukminah; Hirlan, Hirlan
Sasambo: Jurnal Abdimas (Journal of Community Service) Vol. 8 No. 1 (2026): Februari
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat (LITPAM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/km5bmf61

Abstract

Pendidikan seksual yang minim pada tingkat sekolah dasar meningkatkan kerentanan anak terhadap pelecehan. Kegiatan pengabdian ini bertujuan memberikan edukasi batasan diri (self-boundaries) kepada siswa SDN 1 Sengkerang guna meminimalisir risiko perlakuan negatif. Metode yang digunakan adalah sosialisasi interaktif berbasis teori psikoseksual Sigmund Freud, yang difokuskan pada fase laten (usia 6–12 tahun) di mana energi psikis anak dialihkan pada pengembangan sosial dan moral. Hasil kegiatan menunjukkan perubahan konkret pada pemahaman siswa; mereka kini mampu mengidentifikasi empat area tubuh pribadi yang bersifat rahasia serta secara tegas membedakan antara sentuhan aman dan sentuhan tidak aman. Dampak langsung terlihat saat siswa mampu mempraktikkan respons protektif, seperti berteriak "tidak" dan segera melapor saat simulasi situasi mencurigakan dilakukan. Pendekatan ini terbukti efektif karena selaras dengan tahap perkembangan psikologis siswa yang mengutamakan penguatan norma sosial. Sebagai rekomendasi, pihak sekolah perlu mengintegrasikan materi batasan diri ini ke dalam kurikulum bimbingan konseling secara berkala dan memperkuat kolaborasi dengan orang tua untuk memastikan lingkungan perlindungan anak yang berkelanjutan. Socialization of Building Self-Boundaries in Public Elementary School Students  Minimal sexual education at the primary school level increases children's vulnerability to abuse. This service activity aims to provide self-boundaries education to SDN 1 Sengkerang students to minimize the risk of negative treatment. The method used is interactive socialization based on Sigmund Freud's psychosexual theory, which focuses on the latent phase (age 6–12 years) in which the child's psychic energy is diverted to social and moral development. The results of the activity show concrete changes in student understanding; They are now able to identify four confidential areas of the private body and clearly distinguish between safe touch and unsafe touch. The immediate impact is seen when students are able to practice protective responses, such as shouting "no" and immediately reporting when simulating a suspicious situation is carried out. This approach has proven to be effective because it is in line with the stages of students' psychological development that prioritizes strengthening social norms. As a recommendation, schools need to integrate this self-restraint material into the counseling guidance curriculum on a regular basis and strengthen collaboration with parents to ensure a sustainable child protection environment.
Pergeseran Nilai Edukasi dalam Tradisi Nyongkolan: Antara Ekspresi Budaya dan Komodifikasi Konten Digital Hirlan, Hirlan; Mukminah, Mukminah
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 5 No. 1 (2026): Februari - April
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v5i1.6793

Abstract

Tradisi Nyongkolan di Lombok, yang secara substansial berfungsi sebagai i’lanun nikah ‎dalam Islam, kini bertransformasi menjadi panggung konten digital. Penelitian ini bertujuan ‎menganalisis pergeseran nilai edukasi Islam akibat komodifikasi digital yang mengubah esensi ‎pendidikan moral menjadi sekadar hiburan visual demi viralitas. Fenomena ini menciptakan ‎ketegangan antara pelestarian budaya murni dengan tuntutan pasar media sosial yang ‎seringkali dangkal.‎ Menggunakan pendekatan kualitatif etnografi digital, penelitian dilaksanakan di Lombok ‎Timur dan Tengah. Data dihimpun melalui observasi partisipatif, dokumentasi konten viral, ‎serta wawancara mendalam dengan tokoh agama, tokoh adat, konten kreator, dan generasi ‎muda. Analisis data mengikuti model interaktif untuk menjamin keabsahan temuan melalui ‎triangulasi sumber.‎ Hasil penelitian menunjukkan degradasi akhlakul karimah dan adab al-ijtima’ yang signifikan. ‎Dominasi musik kecimol dengan lirik tidak pantas melanggar prinsip hifzhul lisan. ‎Komodifikasi digital memicu perilaku riya’ dan narsisme berlebihan demi engagement media ‎sosial, yang merusak sakralitas pernikahan sebagai mitsaqan ghalizha. Pelanggaran konsep ‎muru’ah juga ditemukan pada modifikasi busana adat yang mengabaikan kaidah menutup ‎aurat. Akibatnya, filosofi Sasak mengalami keretakan akibat rendahnya literasi digital ‎masyarakat.‎ Penelitian menyimpulkan pentingnya pendidikan Islam sebagai filter kritis melalui penguatan ‎literasi budaya. Diperlukan regulasi etis dan sinergi kolektif untuk merevitalisasi nilai edukasi ‎agar tradisi tidak hanya menjadi komoditas. Integrasi kearifan lokal dalam kurikulum ‎pendidikan formal krusial untuk membentengi identitas Muslim Sasak. Transformasi digital ‎harus diarahkan menjadi sarana dakwah kultural yang tetap menjaga harmoni, kesalehan ‎sosial, serta keluhuran nilai ketuhanan yang diberkahi bagi keberlangsungan eksistensi ‎generasi masa depan.‎.