Claim Missing Document
Check
Articles

Found 33 Documents
Search

Perbedaan Waktu Reaksi setelah Tes Ergocycle pada Mahasiswi FK UNLAM Banjarmasin yang Menstruasi dan Tidak Menstruasi Azmi Noor Sanjaya; Huldani Huldani; Asnawati Asnawati
Berkala Kedokteran Vol 10, No 2 (2014)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jbk.v10i12.965

Abstract

ABSTRACT:Reaction time is the time between the onset of the stimulus and the initiation of response under the condition that, the subject has been instructed to respond early and rapidly.There were several factors that influence a reaction time. One of them werefatigue and menstruation. Menstruating and not menstruating women who were given loading can lead to fatigue, and fatigue will result in lengthening the reaction time. The aim of this research is to figure out the difference of reaction time after ergocycle test between female students Medical Faculty of Lambung Mangkurat University Banjarmasin who are menstruating and not menstruating. This research is descriptive analytic with cross sectional approach. The samples are taken using purposive sampling technique, 30 female students who are menstruating and 30 female students who are not menstruating. The instrument used for loading is an ergocycle, whileKosinki’s time reaction software used for measurement of reaction time. The data are analyzed using unpaired t test. The result has showed that average time reaction of female students who are menstruating is 0.372 seconds whileaverage reaction time of female students who are not menstruating is 0.343 seconds. Statistical analysis result has showed that there is a significant differences of reaction time between female students who are menstruating and not menstruating (p = 0.020). It has been concleded that there is a differences of reaction time after ergocycle test between female students Medical Faculty of Lambung Mangkurat University who are menstruating and not menstruating. Key words: reaction time, menstruation, fatigue ABSTRAK: Waktu reaksi adalah waktu antara pemberian stimulus kepada seseorang sampai terjadinya reaksi otot pertama kali atau terjadinya gerakan pertama kaliyang mana subjeknya telah diinstruksikan untuk merespon secara dini dan cepat. Waktu reaksi dipengaruhi oleh berbagai faktor, salah satunya tingkat kelelahan dan menstruasi. Wanita menstruasi dan tidak menstruasi yang diberi pembebanan dapat menyebabkan kelelahan, dan kelelahan akan mengakibatkan pemanjangan waktu reaksi. Penelitian bertujuan untuk mengetahui perbedaan waktu reaksi setelah tes ergocycle pada mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin yang menstruasi dan tidak menstruasi. Jenis penelitian adalah deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional. Teknik pengambilansampel dengan purposive sampling sejumlah 60 mahasiswi yaitu 30 mahasiswi yang menstruasi dan 30 mahasiswi yang tidak menstruasi.Instrumen yang digunakan untuk pembebananadalah ergocycle, untuk mengetahui waktu reaksi digunakan Kosinki’s time reaction software dengan cara X at a known location.Data dianalisis menggunakan uji t tidak berpasangan. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata nilai waktu reaksi mahasiswi yang menstruasi adalah 0,372 detik, sedangkan mahasiswi yang tidak menstruasi adalah 0,343 detik. Hasil analisis statistik menunjukkan terdapat perbedaan bermaknawaktu reaksiantara mahasiswi yang menstruasi dan tidak menstruasi(p = 0,020). Kesimpulan pada penelitian ini adalah terdapat perbedaan waktu reaksi antara wanita menstruasi dan tidak menstruasi setelah tes ergocycle pada mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat. Kata-kata kunci: waktu reaksi, menstruasi, kelelahan
Perbandingan Vo2 Maksimal Pada Siswa Dan Siswi Kelas V Sekolah Dasar: Di Desa Tabanio Kecamatan Takisung Kabupaten Tanah Laut Kalimantan Selatan Krisna Augustian Noor; Huldani Huldani; Agung Biworo
Berkala Kedokteran Vol 9, No 1 (2013)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (218.247 KB) | DOI: 10.20527/jbk.v9i1.923

Abstract

ABSTRACT: VO2 maximum is maximum volume that can be processed and O2 consumed by the body that delivered from the lungs to the all of human muscles during physical activities or intense activities until fatugue. Maximum consumption of oxygen was calculated in mililitres/minutes/kilos of body weights. VO2max value was influenced not only by physical characteristhic like age, sex, heights, and weights, but also cardiovascular, respiratory, hematology, and oxydative muscle abilities. The study was conducted by measuring VO2max values for boys and girls grade fifth elementary school in Tabanio village in order to compare both them VO2 max value when they have similarities physical activities cause both of them was helping their parents since childern age. The research approached amount cross-sectional method  with samples from 23 boys and 14 girls who includes criteria in non-probability purposive sampling technique. How to measure that is using Multistage Fitness Test that is run back and trajectory as far as 20 m. The results was analyzed by chi-square test with the value expected count < 5, so that the test using an alternative test, the Fisher’s test with p = 0.724. P-value > 0,05 indicating there are non significant difference between maximum VO2max values for boys and girls fifth grade elementary school in Tabanio village with average results of VO2max value is 28,38 for boys and 25,83 for girls. Keywords: VO2max, gender, physical activity ABSTRAK: VO2 maks adalah jumlah volume maksimal O2 yang dapat diproses dan dikonsumsioleh tubuh yang dihantarkan dari paru-paru ke otot manusia pada saat melakukan aktivitas fisik maupun kegiatan intensif sampai terjadi kelelahan. Konsumsi Oksigen maksimal ini dinyatakan dalam satuan mililiter/menit/kilogram berat badan. Nilai VO2 maks dipengaruhi karakteristik fisik seperti umur, jenis kelamin, tinggi badan, dan berat badan. Selain itu, nilai VO2 maks juga bergantung pada keadaan kardiovaskular, respirasi, hematologi, dan kemampuan oksidatif otot. Penelitian dilakukan dengan mengukur nilai VO2 maks siswa dan siswi kelas V sekolah Dasar di desa Tabanio dengan tujuan untuk mengetahui perbandingan nilai VO2 maks keduanya dilihat dari aktivitas fisik yang sama karena disana baik laki-laki maupun perempuan membantu pekerjaan orangtuanya sejak kecil. Pendekatan penelitian menggunakan metode  cross-sectional dengan jumlah sampel 23 siswa dan 14 siswi yang memenuhi kriteria inklusi dengan menggunakan teknik non-probability purposive sampling. Cara pengukuran memakai Multistage Fitness Test yaitu lari bolak-balik lintasan sejauh 20 m. Data yang dianalisis dengan menggunakan uji chi-square dengan taraf kepercayaan 95 % antara siswa dan siswi terdapat 1 cell dengan nilai expected count < 5, sehingga uji yang dipakai adalah uji alternatifnya, yaitu uji Fisher dengan nilai p = 0,724. Nilai p > 0,05 menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan bermakna antara nilai VO2 maksimal siswa dan siswi kelas V Sekolah Dasar di desa Tabanio dengan hasil rata-rata nilai VO2 maks 28,38 pada siswa dan 25,83 pada siswi. Kata kunci: VO2 maks, Jenis Kelamin, Aktivitas Fisik
Perbandingan Nilai Vo2 Maks Antara Siswa Terlatih Dengan Siswa Tidak Terlatih: di SMAN 1 Martapura Nadia Harira; Asnawati Asnawati; Huldani Huldani
Berkala Kedokteran Vol 9, No 1 (2013)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (443.8 KB) | DOI: 10.20527/jbk.v9i1.914

Abstract

ABSTRACT: VO2 max is one of the best indicators for cardiovascular function and physical endurance. A person who has continuous exercise will have better value of VO2 max rather than a person who does not have one. The objective of this research is finding out the difference of VO2 max average value between trained students and untrained students in SMAN 1 Martapura. It is an descriptive analytic research using cross sectional approach, the population is taken from students of SMAN 1 Martapura which consist of two groups of sample, the trained students (basketball players) and untrained students with the minimal amount of samples is 30 for each group. The VO2 max is measured using multistage fitness test. The VO2 max average for trained students is 46,853 and for untrained students is 40,337. Unpaired t test result (p = 0,000) shows that there is a significant difference of VO2 max average value between the trained students and untrained students of SMAN 1 Martapura. Keywords: physical exercise dose, VO2 max, multistage fitness test ABSTRAK: VO2 maks merupakan salah satu indikator terbaik kebugaran fungsi kardiovaskular dan daya tahan tubuh seseorang. Seseorang yang rajin berolahraga akan mempunyai nilai VO2 maks yang lebih baik dibanding yang tidak berolahraga. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan rerata nilai VO2 maks pada siswa yang terlatih dan tidak terlatih di SMAN 1 Martapura. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional, dengan populasi siswa SMAN 1 Martapura yang dibagi menjadi kelompok pemain siswa terlatih (pemain basket) dan tidak terlatih, sampel diambil menggunakan metode purposive sampling dengan besar sampel minimal 30 siswa untuk tiap kelompok. VO2 maks diukur menggunakan multistage fitness test. Rata-rata nilai VO2 maks untuk siswa terlatih adalah 46,853 dan untuk siswa tidak terlatih adalah 40,337. Hasil uji t tidak berpasangan (p = 0,000) menunjukkan bahwa terdapat perbedaan bermakna dalam nilai VO2 maks antara anggota siswa pemain basket dan bukan pemain basket SMAN 1 Martapura.  Kata-kata kunci: dosis latihan fisik, VO2 maks, multistage fitness test
Pengaruh Latihan Aerobik Ringan dan Sedang terhadap Kadar Interleukin 8 dan Jumlah Netrofil pada Remaja Huldani Huldani
Berkala Kedokteran Vol 12, No 1 (2016)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (194.303 KB) | DOI: 10.20527/jbk.v12i1.357

Abstract

Abstract: Aerobic exercise with mild to moderate intensity will improve health and fitness. Aerobic exercise stimulates an increase in the concentration of IL-8 and will attract neutrophils out of circulation and infiltrate into the damaged tissue for physical activity. To determine the effect of mild and moderate aerobic exercise on levels of interleukin 8 and the number of neutrophils in adolescents, semi-experimental research laboratory with the entire population of male students of SMAN I Banjarbaru. Determination of the sample with inclusion and exclusion criteria obtained 31 samples (9 mild aerobic exercise, moderate aerobic exercise 12 and 10 as a control). The implementation of data collection (blood plasma) immediately after the sample is finished doing aerobic exercise. Blood plasma samples were analyzed by flowcytometri to see the number of neutrophils and elisa to see the levels of Interleukin 8 (IL-8). The results showed that mean plasma levels of IL-8 in mild aerobic group (605.69 ± 123.28) and moderate (718.75 ± 132.55) is lower than the control group (720.80 ± 213.11). Kruskal Wallis statistic test in the three groups no significant difference with p = 0.320. The average number of neutrophils mild aerobic exercise group (52.42 ± 8.29) and moderate (63.60 ± 8.73) was higher than the control group (50.11 ± 5.55), which means that there is an increase in the number of neutrophils after aerobic exercise , with one-way ANOVA statistical test showed different significant with p = 0.001. LSD test found significant differences between mild and moderate aerobic group with p = 0.003, 95% CI. There is no difference between the control group mild aerobic with p = 0.519. There are differences between the groups of moderate aerobic and control with p = 0.000. It can be concluded that mild and moderate aerobic exercise did not affect the increased plasma levels of interleukin-8 in adolescents. Mild aerobic exercise had no effect on the increase in the number of neutrophils in adolescents. Moderate aerobic exercise influence on the increase in the number of neutrophils in adolescents.Keywords :  Aerobic exercise, Interleukin 8, Neutrophyl Abstrak: Latihan aerobik dengan intensitas ringan sampai sedang akan meningkatkan kesehatan dan kebugaran tubuh. Latihan aerobik merangsang peningkatan konsentrasi IL-8 dan akan menarik netrofil dari sirkulasi dan menyusup kejaringan yang rusak karena aktivitas fisik.  Untuk mengetahui pengaruh latihan aerobik ringan dan sedang terhadap kadar interleukin 8 dan jumlah netrofil pada remaja, dilakukan penelitian semi eksperimental laboratorik dengan populasi seluruh pelajar laki-laki SMAN I Banjarbaru. Penentuan besarnya sampel dengan kriteria inklusi dan ekslusi didapatkan 31 sampel (9 latihan aerobik ringan, 12 latihan aerobik sedang, dan 10 sebagai kontrol). Pelaksanaan pengambilan data (plasma darah) segera setelah sampel selesai melakukan latihan aerobik. Plasma darah sampel dianalisa dengan flowcytometri untuk melihat jumlah netrofil dan pemeriksaan elisa untuk melihat kadar Interleukin 8 (IL-8). Hasil penelitian menunjukkan bahwa rerata kadar IL-8 plasma pada kelompok aerobik ringan (605,69 ± 123,28) dan sedang (718,75 ± 132,55) lebih rendah dari kelompok kontrol (720,80 ± 213,11). Secara uji statistik Kruskal Wallis ketiga kelompok tidak ada perbedaan bermakna dengan nilai p = 0,320. Jumlah rerata netrofil kelompok latihan aerobik ringan (52,42 ± 8,29)  dan sedang (63,60 ±  8,73) lebih tinggi daripada kelompok kontrol (50,11 ± 5,55), artinya ada peningkatan jumlah netrofil setelah latihan aerobik. Dengan uji statistik ANOVA satu arah didapatkan hasil yang bermakna berbeda dengan nilai p = 0.001. Uji LSD didapatkan  perbedaan bermakna antara kelompok aerobik ringan dan sedang dengan nilai p = 0,003, IK 95 % . Tidak terdapat perbedaan antara kelompok aerobik ringan dengan kontrol dengan nilai p = 0,519. Terdapat perbedaan antara kelompok aerobik sedang dan kontrol dengan nilai p = 0,000. Dapat disimpulkan bahwa latihan aerobik ringan dan sedang tidak berpengaruh terhadap peningkatan kadar Interleukin-8 plasma pada remaja. Latihan aerobik ringan tidak berpengaruh terhadap peningkatan jumlah netrofil pada remaja. Latihan aerobik sedang berpengaruh terhadap peningkatan jumlah netrofil pada remaja. Kata Kata Kunci : Latihan Aerobik, Interleukin 8, Netrofil
COMPARISON OF TOOTH CROWNS AND ROOTS BETWEEN BANJARESE AND JAVANESE PATIENTS AT GUSTI HASAN AMAN DENTAL HOSPITAL Bayu Indra Sukmana; Huldani Huldani; Anugrah Qatrunnada Hakim
Dentino : Jurnal Kedokteran Gigi Vol 5, No 1 (2020)
Publisher : FKG Unlam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/dentino.v5i1.8121

Abstract

Background: Comparison between crowns and roots of the teeth has an important role in determining treatment planning in orthodontics and prosthodontics field. Indonesia, an archipelagic state with diverse ethnicities, is dwelled by 1.300 ethnic categories distributed in various islands including Kalimantan and Java based on the 2010 population census. Javanese is one ethnicity classified in Deutro-Malay sub-race as the result of miscegenation between Proto-Malay sub-race and Mongoloid race. Banjarese, contrarily, is derived from Proto-Malay race which based on Radam theory is originated from a low-lying area adjacent to rivers. There is an urge to examine the comparison of tooth crowns and roots between Javanese and Banjarese due to different racial origin that may greatly influence the treatment plan and prognosis of dental care. Objective: To analyze the differences in roots and crowns length of teeth between Javanese and Banjarese. Methods: All medical records of outpatients in all departments in GustiHasanAman Dental Hospital from 2018 to 2019 were examined and status card from Javanese and Banjarese patients were preferred. Result: The result of tooth roots and crowns comparison in Javanese and Banjarese outpatients at GustiHasanAman Banjarmasin Dental Hospital showed that there were differences in root and crown length between Javanese and Banjarese patients. Comparison of tooth roots and crowns between Javanese was 0.719 and Banjarese was 0.838. It can be concluded that there is a significant difference in the comparison of tooth crowns and roots between Javanese and Banjarese in GustiHasanAman Banjarmasin Dental Hospital.
PERNGARUH LATIHAN LARI 12 MENIT TERHADAP KADAR KOLESTEROL TOTAL DAN TRIGLISERIDA PADA PEMAIN SEPAK BOLA Rizky Nabila Febriani; Huldani Huldani; Siti Kaidah; Fauzan Muttaqien; Azma Rozida
Homeostasis Vol 6, No 1 (2023)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/ht.v6i1.8810

Abstract

Peningkatan kadar kolesterol dan trigliserida dapat disebabkan kurangnya aktivitas fisik, sehingga terjadi penumpukan plak pada pembuluh darah dan terjadi gangguan metabolisme. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan pengaruh kadar kolesterol total dan trigliserida sebelum dan sesudah lari aerobik 12 menit yang dilakukan 4 kali dalam seminggu selama 6 minggu pada pemain sepak bola. Metode penelitian ini menggunakan quasi eksperimental non control group design yang sudah ditetapkan untuk kriteria sebagai sampel penelitian. Sampel penelitian menggunakan metode purposive sampling dengan mengambil 15 orang klub sepak bola Banjarmasin. Pengukuran kadar kolesterol total dan kadar trigliserida dilakukan sebelum program 12 menit dan setelah program 12 menit. Data dianalisis menggunakan t-test berpasangan.Rerata kadar kolesterol total sebelum 188,06 ± 43,46  dan sesudah 158,86 ± 31,12. Hasil analisis data adalah terdapat pengaruh bermakna pada kadar kolesterol total (p=0.000). Rerata kadar trigliserida sebelum 107,66 ± 42,76 dan sesudah 144,60 ± 66,58. Hasil analisis data  tidak terdapat pengaruh bermakna pada kadar trigliserida (p=0.088). Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa lari 12 menit dapat menurunkan kadar kolesterol secara signifikan, akan tetapi lari 12 menit tidak berpengaruh terhadap kadar trigliserida. 
PERBEDAAN KADAR CRP PADA REMAJA TERLATIH DAN TIDAK TERLATIH SETELAH LARI INTENSITAS SEDANG 30 MENIT Raida Namira; Huldani Huldani; Siti Kaidah; Asnawati Asnawati; FX Hendriyono
Homeostasis Vol 6, No 1 (2023)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/ht.v6i1.8792

Abstract

Aktivitas fisik dapat menimbulkan respons inflamasi. Biomarker inflamasi yang mudah untuk diukur adalah C-reaktif protein. Penelitian ini bertujuan menjelaskan perbedaan kadar CRP sebelum dan setelah lari 30 menit dengan intensitas sedang pada remaja terlatih dan tidak terlatih. Penelitian dilangsungkan melalui Cross Sectional Study pada 15 remaja terlatih yaitu pemain sepak bola dari Klub Perseban Banjarmasin dan 15 remaja tidak terlatih di Banjarmasin yang berkisar umur 16-22 tahun dengan jenis kelamin laki-laki. Teknik pemilihan sampel menggunakan metode purposive sampling. Pengukuran kadar CRP dilakukan sebelum dan setelah lari intensitas sedang 30 menit. Penelitian didapatkan nilai kadar rata-rata CRP 5.3 mg/L pada kelompok remaja terlatih setelah lari intensitas sedang 30 menit dan 11.58 mg/L pada kelompok remaja tidak terlatih setelah lari. Selanjutnya dilakukan uji t tidak berpasangan untuk membandingkan perbedaan (setelah lari) kadar CRP antara 2 kelompok yang dikumpulkan yakni nilai p=0.000 yang menujukkan nampak korelasi berarti. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa terjadi perbedaan kadar CRP atas remaja terlatih serta tidak terlatih sesudah lari intensitas sedang 30 menit.
HUBUNGAN USIA DAN JENIS KELAMIN DENGAN KEJANG DEMAM SIMPLEK DAN KOMPLEK Barra Gusma Fadillah; Nurul Hidayah; Huldani Huldani
Homeostasis Vol 6, No 1 (2023)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/ht.v6i1.8797

Abstract

Kejang demam merupakan penyakit bangkitan kejang yang terjadi pada anak dengan kenaikan suhu tubuh lebih dari 38°C. Kejang demam diklasifikasikan  menjadi 2 jenis kejang, kejang demam simpleks dan kejang demam kompleks, yang diduga berhubungan dengan usia dan jenis kelamin. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengaetahui hubungan usia dan jenis kelamin dengan kejang demam simpleks dan kompleks pada anak di RSUD Ulin Banjarmasin. Pada anak dengan umur 1-2 tahun sering mengalami kejang demam, yang dimana berkaitan dengan tingkat kematangan otak anak. Pada anak laki-laki sering mengalami kejang demam, dibandingkan anak perempuan hal ini berkaitan dengan proses neurogenesis.  Penelitian dilakukan dengan Cross Sectional Study dengan jumlah 60 sampel. Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan metode purposive sampling, yang diambil dari rekam medik di RSUD Ulin Banjarmasin. Analisis data menggunakan chi-square (R2). Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar pasien berusia < 2 tahun (56.7%), jenis kelamin laki-laki (65%), Hasil analisis data adalah tidak terdapat kebermaknaan secara stastik (p=0,297) antara usia dengan kejang demam simpleks dan kompleks dan tidak terdapat kebermaknaan (p=0.787) antara jenis kelamin dengan kejang demam simpleks dan kejang demam kompleks
HUBUNGAN USIA DAN JENIS KELAMIN DENGAN KEJANG DEMAM SIMPLEK DAN KOMPLEK Barra Gusma Fadillah; Nurul Hidayah; Huldani Huldani
Homeostasis Vol 6, No 2 (2023)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/ht.v6i2.9978

Abstract

Kejang demam merupakan penyakit bangkitan kejang yang terjadi pada anak dengan kenaikan suhu tubuh lebih dari 38°C. Kejang demam diklasifikasikan  menjadi 2 jenis kejang, kejang demam simpleks dan kejang demam kompleks, yang diduga berhubungan dengan usia dan jenis kelamin. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengaetahui hubungan usia dan jenis kelamin dengan kejang demam simpleks dan kompleks pada anak di RSUD Ulin Banjarmasin. Pada anak dengan umur 1-2 tahun sering mengalami kejang demam, yang dimana berkaitan dengan tingkat kematangan otak anak. Pada anak laki-laki sering mengalami kejang demam, dibandingkan anak perempuan hal ini berkaitan dengan proses neurogenesis.  Penelitian dilakukan dengan Cross Sectional Study dengan jumlah 60 sampel. Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan metode purposive sampling, yang diambil dari rekam medik di RSUD Ulin Banjarmasin. Analisis data menggunakan chi-square (R2). Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar pasien berusia < 2 tahun (56.7%), jenis kelamin laki-laki (65%), Hasil analisis data adalah tidak terdapat kebermaknaan secara stastik (p=0,297) antara usia dengan kejang demam simpleks dan kompleks dan tidak terdapat kebermaknaan (p=0.787) antara jenis kelamin dengan kejang demam simpleks dan kejang demam kompleks
KADAR ELEKTROLIT DAN GULA DARAH PADA PASIEN KEJANG DEMAM DI RSUD ULIN BANJARMASIN Helmy, Muhammad Dzaky; Hidayah, Nurul; Huldani, Huldani; Hartoyo, Edi; Illiandri, Oski
Homeostasis Vol 6, No 3 (2023)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/ht.v6i3.11457

Abstract

The most common neurological disease in children is febrile seizures, preceded by a rise in body temperature of 38°C or more. In general, electrolyte and blood sugar checks are still often requested in the treatment of febrile seizures. According to the consensus on the management of febrile seizures, this examination cannot be carried out routinely, only to find out the source of the infection. This study aims to determine electrolyte and blood sugar levels in patients with febrile seizures and patients with fever without seizures. This study was conducted using a Cross Sectional Study with 30 cases each, for febrile seizures and fever without seizures. The sampling technique was carried out by purposive sampling method. Data was taken from medical records at Ulin Banjarmsin General Hospital, namely patient data, electrolyte levels (Na+ and K+), and blood sugar (RBG). The data was taken at the Ulin Hospital in Banjarmasin. Data analysis used chi-square (R2) to see the relationship between electrolyte levels and blood sugar in patients with febrile convulsions and patients with fever without seizures. The results of data analysis on sodium levels (p=0.754) and potassium levels (p=0.317) showed no significant difference. The results of data analysis for blood sugar levels (p=0.114) also found no significant difference. The results of this study concluded that in the incidence of febrile seizures and fever without seizures, there were no differences in electrolyte and blood sugar levels.