Claim Missing Document
Check
Articles

Found 24 Documents
Search

Tatalaksana Paresis Nervus Fasialis akibat Fraktur Temporal Auzy Yoana Khalisha; Rossy Rosalinda; Tuti Handayani
Jurnal Otorinolaringologi Kepala dan Leher Indonesia Vol. 4 No. 1 (2025)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jokli.v4i1.85

Abstract

Latar Belakang: Fraktur tulang temporal merupakan salah satu cedera kepala yang sering terjadi akibat trauma tumpul berenergi tinggi. Salah satu komplikasi yang dapat terjadi adalah paresis nervus fasialis, yang berdampak signifikan terhadap kualitas hidup pasien. Diagnosis ditegakkan dengan adanya riwayat trauma kepala disertai paresis nervus fasialis satu sisi, penurunan pendengaran dan tampak adanya garis fraktur pada High-Resolution Computed Tomography (HRCT) scan temporal. Laporan kasus: Dilaporkan seorang perempuan 43 tahun dengan keluhan wajah sisi kiri mencong sejak 1 bulan pasca kecelakaan lalu lintas. Pemeriksaan menunjukkan hemotimpanum, paresis nervus fasialis perifer sinistra House-Brackmann V, gangguan pendengaran konduktif, dan hasil HRCT menunjukkan fraktur longitudinal tulang temporal kiri melibatkan dinding kanalis fasialis. Pasien ditatalaksana dengan pemasangan pipa grommet dan injeksi kortikosteroid intratimpani, terapi medikamentosa berupa obat neurotropik dan tetes mata, serta fisioterapi wajah. Perbaikan klinis terjadi bertahap hingga House-Brackmann III dalam 2 bulan pasca tindakan. Kesimpulan: Penatalaksanaan paresis nervus fasialis akibat fraktur tulang temporal memerlukan pendekatan multidisiplin. Deteksi dini, evaluasi menyeluruh, dan tatalaksana yang tepat dapat meningkatkan prognosis, memperbaiki fungsi nervus fasialis, dan mencegah kecacatan jangka panjang.
Tatalaksana Tuli Mendadak pada Anak Rafika Dona; Rossy Rosalinda
Jurnal Otorinolaringologi Kepala dan Leher Indonesia Vol. 4 No. 1 (2025)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jokli.v4i1.86

Abstract

Latar Belakang: Tuli mendadak merupakan kondisi kehilangan pendengaran secara tiba-tiba dengan minimal ambang dengar 30 dB pada 3 frekuensi yang berdekatan pada audiometri nada murni terjadi kurang dari 72 jam yang dapat menyebabkan gangguan pendengaran permanen dan penurunan kualitas hidup secara signifikan. Insidensinya jarang pada anak, etiologi dan patogenesis tuli mendadak pada anak terbanyak adalah idiopatik, infeksi virus dan kelainan anatomi telinga dalam. Pemberian terapi kortikosteroid saat ini menjadi pilihan terapi utama untuk kasus tuli mendadak termasuk pada anak. Laporan Kasus: Seorang anak laki-laki berusia 15 tahun dengan keluhan penurunan pendengaran mendadak pada telinga kanan sejak 11 hari sebelum masuk rumah sakit. Pasien memiliki kebiasaan merokok. Dari pemeriksaan audiometri nada murni didapatkan hasil gangguan pendengaran tipe campuran derajat berat pada telinga kanan. Terapi awal dengan kortikosteroid sistemik dilanjutkan dengan injeksi intratimpani empat siklus dan terjadi perbaikan pendengaran yang signifikan. Kesimpulan: Tuli mendadak pada anak jarang terjadi, penyebab tuli mendadak pada anak terbanyak adalah idiopatik, infeksi virus dan kelainan anatomi. Penatalaksanaan tuli mendadak dengan terapi kortikosteroid sistemik dan injeksi intratimpani sebagai salvage therapy pada anakĀ  menunjukkan hasil klinis yang baik terutama bila diberikan dalam periode awal onset.
Korelasi Perubahan Kadar Enzim Superoxide Dismutase dan Ambang Dengar pada Penderita Tumor Ganas Kepala Leher yang Mendapat Kemoterapi Cisplatin Rini Yoanita; Rossy Rosalinda; Sukri Rahman; Gestina Aliska; Husna Yetti
Jurnal Otorinolaringologi Kepala dan Leher Indonesia Vol. 4 No. 1 (2025)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jokli.v4i1.92

Abstract

Latar Belakang: Cisplatin dapat digunakan sebagai terapi tunggal atau kombinasi untuk induksi atau terapi neoadjuvan pada tumor ganas kepala leher, memiliki berbagai toksisitas yang membatasi dosis dan bersifat kumulatif, bahwa stria vaskularis merupakan awal cedera yang diinduksi oleh Cisplatin. Cisplatin meningkatkan pembentukan reactive oxygen species (ROS) di koklea. Superoksida diubah menjadi hidrogen peroksida baik secara spontan maupun melalui superoxide dismutase (SOD). Tujuan penelitian untuk mengetahui korelasi antara perubahan konsentrasi enzim antioksidan SOD dan perubahan ambang dengar penderita kemoterapi dengan Cisplatin pada tumor ganas kepala leher. Metode: Penelitian ini menggunakan pretest-posttest one group design pada penderita tumor ganas kepala leher yang mendapat kemoterapi cisplatin dengan dosis 75 mg/m2. Sebelum dilakukan kemoterapi dilakukan pemeriksaan audiometri nada murni dan pengambilan sampel darah sebagai data awal. Dua minggu sesudah kemoterapi, dilakukan pemeriksaan audiometri nada murni dan pengambilan sampel darah kembali. Data dianalisis secara statistik dengan program komputer dan dinyatakan bermakna jika p<0,05. Hasil: Pada penelitian ini didapatkan peningkatan kadar SOD sesudah diberikan kemoterapi cisplatin dengan signifikansi p<0,05. Terdapat peningkatan nilai ambang dengar hantaran tulang pada frekuensi 250, 500, dan 8000 Hz sesudah kemoterapi dengan signifikansi p<0,05. Terdapat korelasi lemah antara kadar SOD dan ambang dengar hantaran tulang pada frekuensi 250, 2000, dan 4000 Hz, dan korelasi sedang pada frekuensi 500, 1000, dan 8000 Hz. Kesimpulan: Pemeriksaan kadar SOD berkorelasi lemah dan sedang terhadap ambang dengar penderita tumor ganas kepala leher yang mendapat kemoterapi cisplatin. Pemeriksaan kadar SOD dapat dijadikan prediktor untuk menilai kondisi stres oksidatif pada kejadian ototoksik sebagai pertimbangan pemberian antioksidan.
Papiloma Sel Skuamosa pada Kanalis Akustikus Eksterna: Kasus Jarang Charla Syafefi; Rossy Rosalinda; Zulda Musyarifah
Jurnal Otorinolaringologi Kepala dan Leher Indonesia Vol. 4 No. 1 (2025)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jokli.v4i1.94

Abstract

Latar Belakang: Papiloma sel skuamosa pada kanalis akustikus eksterna adalah tumor jinak yang jarang terjadi. Papiloma sel skuamosa disebabkan oleh infeksi Human Papilloma Virus (HPV) dan umumnya terjadi tanpa gejala. Diagnosis yang tepat dan akurat dibutuhkan untuk mendapatkan hasil terapi yang memuaskan. Penatalaksanaan yang menjadi pilihan adalah dengan eksisi komplit tumor. Terapi ini dipilih untuk mencegah kekambuhan dari papiloma sel skuamosa. Laporan Kasus: Seorang laki-laki berusia 67 tahun datang dengan keluhan terdapat benjolan di telinga kanan. Benjolan baru disadari saat melakukan pemeriksaan kesehatan berkala. Keluhan disertai dengan rasa penuh pada telinga. Tidak ada keluhan lain seperti telinga berair, penurunan pendengaran ataupun nyeri pada telinga. Pasien didiagnosis dengan tumor pada liang telinga kanan dan dilakukan biopsi sebelum tindakan operasi dengan hasil papiloma sel skuamosa. Pasien ditatalaksana dengan tindakan eksisi bedah komplit dalam anestesi umum. Setelah 2 bulan operasi tidak ada kekambuhan pada pasien. Pasien dipantau berkala untuk menilai terjadinya rekurensi. Kesimpulan: Papiloma sel skuamosa pada kanalis akustikus eksterna adalah kasus yang jarang terjadi. Tindakan eksisi bedah diperlukan untuk tatalaksana dan pemantauan berkala untuk mencegah terjadinya rekurensi.