Ming Narto Wijaya
Unknown Affiliation

Published : 39 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 39 Documents
Search

Daktilitas dan Pola Retak Balok Beton Bertulang Berdasarkan Umur dan Rasio Tulangan dengan Persentase Ground Granulated Blast Furnace Slag 40% Tarisa Hayatul Fadila; Lilya Susanti; Ming Narto Wijaya
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Vol. 1 No. 2 (2026): Student Journal
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perkembangan industri konstruksi yang semakin pesat mendorong peningkatan kebutuhan material beton yang memiliki kinerja struktural tinggi sekaligus ramah lingkungan. Salah satu upaya untuk mengurangi penggunaan semen Portland adalah dengan memanfaatkan Ground Granulated Blast Furnace Slag (GGBFS) sebagai bahan substitusi semen. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh umur beton dan rasio tulangan terhadap daktilitas dan pola retak balok beton bertulang dengan substitusi GGBFS sebesar 40%. Penelitian ini menggunakan benda uji balok beton bertulang berukuran 10 cm × 20 cm × 100 cm dengan variasi umur beton 28 hari dan 56 hari serta rasio tulangan 2Ø10 dan 3Ø10. Pengujian dilakukan dengan metode pembebanan lentur statik hingga kondisi runtuh untuk memperoleh hubungan beban–lendutan, nilai daktilitas, dan pola retak balok.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa umur beton memberikan pengaruh terhadap daktilitas balok beton bertulang. Secara teoritis, beton dengan umur yang lebih lama cenderung memiliki sifat yang lebih kaku dan getas sehingga nilai daktilitas menurun. Namun, hasil penelitian menunjukkan bahwa benda uji umur 56 hari memiliki nilai daktilitas yang lebih tinggi dibandingkan benda uji umur 28 hari. Perbedaan tersebut diduga dipengaruhi oleh proses pembuatan benda uji, karakteristik material, dan pelaksanaan pengujian. Sementara itu, rasio tulangan hanya memberikan pengaruh yang relatif kecil dan tidak signifikan terhadap daktilitas balok. Pada pengujian pola retak, variasi umur beton tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan, sedangkan rasio tulangan berpengaruh signifikan terhadap pola retak balok beton bertulang dengan substitusi GGBFS 40%. Pola retak yang terbentuk didominasi oleh retak lentur dengan beberapa benda uji mengalami retak lentur-geser. Kata kunci:  Balok Beton bertulang, Ground Granulated Blast Furnace Slag (GGBFS), Daktilitas, Pola retak, Rasio tulangan.
Kuat Lentur Balok Beton Bertulang Berdasarkan Umur dan Rasio Tulangan dengan Persentase GGBFS 40% dan Fly Ash 10% Muhammad Abdul Ghafur; Ming Narto Wijaya; Lilya Susanti
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Vol. 1 No. 2 (2026): Student Journal
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penggunaan limbah industri berupa Ground Granulated Blast Furnace Slag (GGBFS) 40% dan Fly Ash 10% sebagai substitusi sebagian semen merupakan solusi efektif dalam memproduksi beton ramah lingkungan. Karakteristik pozzolanik sekunder dari material tersebut mampu meningkatkan densitas mikrostruktur beton jangka panjang. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh variasi umur beton serta rasio tulangan terhadap kuat lentur balok beton bertulang. Metode eksperimental dilakukan dengan menguji balok persegi berdimensi 10 cm × 20 cm × 100 cm. Variabel yang diteliti meliputi variasi rasio tulangan 0,00872 (A1) dan 0,0131 (A2) yang dikombinasikan dengan umur pengujian lentur metode pembebanan dua titik pada 28 hari (B1) dan 56 hari (B2). Parameter beban diukur menggunakan load cell, lendutan diukur dengan LVDT, sedangkan regangan direkam melalui sensor strain gauge. Hasil pengujian laboratorium menunjukkan bahwa pertambahan umur dari 28 hari ke 56 hari menyebabkan penurunan kapasitas beban maksimum dan tegangan lentur rata-rata. Penurunan tersebut dipengaruhi oleh faktor teknis berupa kondisi fisis agregat kasar yang masih basah pasca pencucian saat pengecoran, sehingga meningkatkan faktor air semen (FAS) aktual yang terkonfirmasi dari nilai slump yang melonjak hingga 17 cm. Berdasarkan analisis statistik Two-Way ANOVA, variasi umur tidak berpengaruh signifikan terhadap tegangan lentur (Sig. 0,304 > 0,05). Sebaliknya, rasio tulangan menjadi faktor yang sangat dominan, di mana peningkatan rasio tulangan meningkatkan nilai tegangan lentur maksimum secara signifikan (Sig. 0,001 < 0,05), dengan capaian sebesar 23,17 MPa untuk rasio 0,00872 dan 26,77 MPa untuk rasio 0,0131 pada umur 28 hari.   Kata kunci : kuat lentur, GGBFS, fly ash, balok beton bertulang, rasio tulangan
Kuat Lentur Balok Beton Bertulang Berdasarkan Umur dan Rasio Tulangan dengan Persentase Ground Granulated Blast Furnace Slag 20% Berliana Simarmata; Ming Narto Wijaya; Lilya Susanti
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Vol. 1 No. 2 (2026): Student Journal
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pemanfaatan 20% limbah GGBFS sebagai pengganti semen merupakan solusi beton ramah lingkungan karena sifat pozzolaniknya dapat merapatkan mikrostruktur. Penelitian ini menguji pengaruh variasi umur perawatan (28 dan 56 hari) serta rasio tulangan (0,00872 dan 0,01310) terhadap kuat lentur balok beton bertulang dengan substitusi GGBFS 20%. Pengujian dilakukan pada balok berukuran 10 cm × 20 cm × 100 cm (FAS 0,35) menggunakan metode two-point loading yang dipantau melalui load cell, LVDT, dan strain gauge.             Hasil laboratorium menunjukkan adanya fluktuasi kuat lentur dari umur 28 ke 56 hari akibat kondisi agregat kasar yang basah saat pengecoran. Melalui analisis statistik menggunakan uji Two-Way ANOVA, disimpulkan bahwa variasi umur perawatan tersebut tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap nilai kuat lentur balok. Sebaliknya, peningkatan rasio tulangan terbukti memberikan pengaruh yang signifikan secara statistik dalam mendongkrak kapasitas struktural penampang balok, yang ditunjukkan oleh kenaikan nilai rata-rata tegangan lentur dari 22,733 MPa pada rasio 0,00872 menjadi 27,260 MPa pada rasio 0,01310. Kata kunci: Kuat Lentur, GGBFS, Balok Beton Bertulang, Rasio Tulangan, Umur Beton
Daktilitas dan Pola Retak Balok Beton Bertulang Berdasarkan Umur dan Rasio Tulangan dengan Persentase Ground Granulated Blast Furnace Slag 20% dan Fly Ash 20% Ni Made Yura Pradnya Paramitha; Lilya Susanti; Ming Narto Wijaya
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Vol. 1 No. 2 (2026): Student Journal
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Produksi beton dengan kandungan semen portland yang tinggi berkontribusi terhadap emisi karbon, sehingga diperlukan pemanfaatan material substitusi yang tetap mampu mempertahankan kinerja struktural. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pengaruh umur beton dan rasio tulangan terhadap daktilitas serta pola retak balok beton bertulang dengan campuran Ground Granulated Blast Furnace Slag (GGBFS) 20% dan fly ash 20%. Penelitian dilakukan secara eksperimental menggunakan balok beton bertulang berukuran 100 × 10 × 20 cm dengan variasi umur 28 dan 56 hari serta rasio tulangan A1 (2Ø10) dan A2 (3Ø10). Setiap variasi terdiri atas dua benda uji, dilengkapi balok kontrol dan silinder untuk pengujian kuat tekan. Pengujian lentur dilakukan melalui pembebanan bertahap menggunakan hydraulic jack, load cell, LVDT, dan pengamatan retak visual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variasi umur tidak berpengaruh signifikan terhadap daktilitas maupun pola retak. Sebaliknya, rasio tulangan berpengaruh signifikan terhadap daktilitas, beban retak pertama, dan jumlah retak visual akhir. Balok dengan rasio A1 menunjukkan daktilitas lebih tinggi, sedangkan rasio A2 menghasilkan Pcr lebih besar dan pola retak lebih kompleks. Secara umum, campuran GGBFS 20% dan fly ash 20% menunjukkan perilaku struktural yang sebanding dengan beton kontrol. Kata kunci: daktilitas, pola retak, balok beton bertulang, GGBFS, fly ash
Kuat Lentur Balok Beton Bertulang Berdasarkan Umur dan Rasio Tulangan dengan Persentase Ground Granulated Blast Furnace Slag 20% dan Fly Ash 20% Mutiara Kumala Dewi; Ming Narto Wijaya; Lilya Susanti
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Vol. 1 No. 2 (2026): Student Journal
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penggunaan beton bertulang dalam konstruksi masih sangat luas karena mampu menahan beban melalui kerja sama antara beton dan baja tulangan. Namun, penggunaan semen Portland dalam jumlah besar berdampak terhadap peningkatan emisi karbon, sehingga diperlukan material substitusi parsial yang lebih ramah lingkungan, seperti Ground Granulated Blast Furnace Slag (GGBFS) dan fly ash. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh umur beton dan rasio tulangan terhadap kuat lentur balok beton bertulang dengan substitusi GGBFS 20% dan fly ash 20%. Penelitian dilakukan secara eksperimental menggunakan balok beton bertulang berukuran 10 cm × 20 cm × 100 cm dengan variasi umur beton 28 hari dan 56 hari, serta rasio tulangan A₁ = 0,00872 dan A₂ = 0,0130. Pengujian kuat lentur dilakukan menggunakan metode two-point loading hingga benda uji mengalami keruntuhan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rasio tulangan memberikan pengaruh paling dominan terhadap kuat lentur balok. Beban maksimum tertinggi diperoleh pada variasi rasio tulangan A₂ umur 56 hari sebesar 9470,8 kg, sedangkan tegangan lentur maksimum juga diperoleh pada variasi yang sama sebesar 27,778 MPa. Sementara itu, umur beton 28 hari dan 56 hari tidak menunjukkan peningkatan kuat lentur yang konsisten, karena pengaruh GGBFS dan fly ash lebih berkaitan dengan karakteristik beton berdasarkan umur, sedangkan peningkatan kapasitas lentur lebih dominan dipengaruhi oleh rasio tulangan. Kata kunci: kuat lentur, balok beton bertulang, rasio tulangan, umur beton, GGBFS.
Kuat Lentur Balok Beton Bertulang Berdasarkan Umur dan Rasio Tulangan dengan Persentase Ground Granulated Blast Furnace Slag 20% dan Fly Ash 10% Rifqi Fakhrudin, Rifqi Fakhrudin; Ming Narto Wijaya; Lilya Susanti
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Vol. 1 No. 2 (2026): Student Journal
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penggunaan semen portland sebagai material utama beton menyumbang emisi CO2 global, sehingga memicu inovasi beton ramah lingkungan menggunakan limbah industri berupa Ground Granulated Blast Furnace Slag (GGBFS) dan fly ash. Penelitian ini dilakukan untuk mengisi kesenjangan ilmiah (research gap) pada penelitian sebelumnya dengan berfokus pada pengaruh pematangan umur beton serta variasi rasio tulangan terhadap kinerja kuat lentur balok beton bertulang demi mendukung implementasi teknologi beton hijau (green building) di Indonesia. Penelitian eksperimental laboratorium ini menguji balok beton bertulang berukuran 100 cm × 10 cm × 20 cm bersubstitusi GGBFS 20% dan fly ash 10%. Pengujian lentur menerapkan sistem two point loading pada posisi third point loading dengan variasi umur beton (28 dan 56 hari) serta rasio tulangan (A1 = 0,00872 dan A2 = 0,0130). Berdasarkan hasil penelitian, variasi umur beton antara 28 dan 56 hari tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap kuat lentur balok beton bertulang bersubstitusi GGBFS 20% dan fly ash 10%. Sebaliknya, variasi rasio tulangan berpengaruh signifikan terhadap kuat lentur balok, dimana peningkatan rasio tulangan secara efektif mendongkrak kemampuan penampang dalam memikul beban dan tegangan. Spesimen dengan rasio tulangan lebih tinggi (A2) menghasilkan performa yang jauh lebih tinggi dibandingkan rasio tulangan rendah (A1).
Daktilitas dan Pola Retak Balok Beton Bertulang Berdasarkan Umur dan Rasio Tulangan dengan Persentase Ground Granulated Blast Furnace Slag (GGBFS) 20% Nibros, Aqeel Muhammad; Lilya Susanti; Ming Narto Wijaya
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Vol. 1 No. 3 (2026): Student Journal
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh variasi umur beton dan rasio tulangan terhadap daktilitas serta pola retak balok beton bertulang dengan substitusi parsial semen menggunakan Ground Granulated Blast Furnace Slag (GGBFS) sebesar 20%. Pesatnya pembangunan infrastruktur mendorong peningkatan penggunaan semen yang berdampak pada bertambahnya emisi CO2, sehingga GGBFS dimanfaatkan sebagai alternatif substitusi yang lebih ramah lingkungan. Penelitian menggunakan benda uji balok beton bertulang berukuran 10 cm x 20 cm x 100 cm dengan faktor air semen (FAS) 0,35. Variabel penelitian meliputi variasi umur beton (28 hari dan 56 hari) serta rasio tulangan (0,00872 dan 0,0131), dengan total 8 balok bersubstitusi GGBFS dan 8 balok kontrol yang diuji menggunakan metode pembebanan statis dua titik terpusat (two-point loading test) hingga keruntuhan, dilengkapi analisis statistik Two-Way ANOVA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa umur beton berpengaruh terhadap nilai daktilitas balok beton bertulang, di mana bertambahnya umur beton meningkatkan kemampuan balok dalam mengalami deformasi sebelum keruntuhan (F = 9,038; Sig. = 0,040). Variasi rasio tulangan tidak menunjukkan pengaruh signifikan terhadap daktilitas (Sig. = 0,081), namun berpengaruh signifikan terhadap jumlah visual akhir retakan (Sig. = 0,040) dan beban retak pertama/Pcr (Sig. = 0,007). Peningkatan rasio tulangan menghasilkan retakan yang lebih banyak, lebih rapat, dan lebih merata, serta meningkatkan kemampuan balok dalam menahan terbentuknya retak awal. Secara umum, seluruh benda uji menunjukkan pola kegagalan dominan berupa lentur-geser, dan penggunaan GGBFS 20% tidak mengubah moda keruntuhan utama tersebut.
Daktilitas dan Pola Retak Balok Beton Bertulang Berdasarkan Umur dan Rasio Tulangan dengan Persentase Ground Granulated Blast Furnace Slag 20% dan Fly Ash 10% I Made Ari Kesawa Wiguna; Lilya Susanti; Ming Narto Wijaya
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Vol. 1 No. 3 (2026): Student Journal
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Industri konstruksi merupakan salah satu penyumbang emisi karbon terbesar akibat tingginya penggunaan semen portland dalam produksi beton. Salah satu upaya mengurangi dampak lingkungan tersebut adalah memanfaatkan material substitusi semen berupa Ground Granulated Blast Furnace Slag (GGBFS) dan Fly ash (FA). Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh variasi umur beton dan rasio tulangan terhadap daktilitas serta pola retak balok beton bertulang dengan substitusi semen menggunakan GGBFS 20% dan Fly ash 10%. Penelitian dilakukan secara eksperimental menggunakan benda uji balok beton bertulang berukuran 100×10×20 cm dengan dua variasi umur beton (28 dan 56 hari) serta dua variasi rasio tulangan, yaitu A1 (0,00872) dan A2 (0,0131). Pengujian dilakukan dengan metode pembebanan lentur dua titik untuk memperoleh hubungan beban-lendutan, nilai daktilitas, beban retak pertama (Pcr), serta perkembangan pola retak hingga kondisi ultimit. Data dianalisis secara deskriptif dan statistik menggunakan metode Two-Way ANOVA dengan bantuan program IBM SPSS Statistics. Hasil penelitian menunjukkan umur beton memengaruhi daktilitas dan beban retak pertama, dengan balok umur 56 hari umumnya memiliki kemampuan menahan beban dan deformasi lebih besar dibandingkan umur 28 hari. Rasio tulangan juga memengaruhi perilaku balok, terutama terhadap nilai daktilitas, penyebaran retak, dan jumlah tahapan retakan. Pola retak pada seluruh benda uji didominasi retak lentur dan lentur-geser yang diawali dari daerah momen maksimum kemudian berkembang menuju daerah geser seiring peningkatan beban. Namun, hasil analisis statistik menunjukkan umur beton hanya berpengaruh signifikan terhadap beban retak pertama, sedangkan rasio tulangan berpengaruh signifikan terhadap daktilitas. Substitusi GGBFS 20% dan Fly ash 10% tetap menghasilkan perilaku daktilitas dan pola retak yang sebanding dengan balok kontrol, sehingga berpotensi digunakan sebagai alternatif material beton yang lebih ramah lingkungan. Kata kunci: daktilitas, pola retak, balok beton bertulang, GGBFS, fly ash.
Kuat Lentur Balok Beton Bertulang Berdasarkan Umur dan Rasio Tulangan dengan Persentase Ground Granulated Blast Furnace Slag 40% Naufal Irgi Villareal; Ming Narto Wijaya; Lilya Susanti
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Vol. 1 No. 3 (2026): Student Journal
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Industri semen dan baja masing-masing menyumbang beban lingkungan yang besar, baik berupa emisi karbon dari proses kalsinasi maupun limbah hasil peleburan besi seperti Ground Granulated Blast Furnace Slag (GGBFS) yang berpotensi dimanfaatkan sebagai Supplementary Cementitious Material (SCM). Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh variasi rasio tulangan dan umur beton terhadap kuat lentur balok beton bertulang dengan substitusi GGBFS sebesar 40%. Penelitian eksperimental dilakukan menggunakan balok beton bertulang berukuran 100 × 10 × 20 cm dengan faktor air semen 0,35, variasi rasio tulangan 0,00872 dan 0,01310, serta umur beton 28 dan 56 hari. Pengujian kuat lentur dilakukan menggunakan metode two-point loading, kemudian data dianalisis berdasarkan beban maksimum, tegangan lentur, regangan, lendutan, dan uji statistik Two-Way ANOVA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rasio tulangan dan umur beton berpengaruh signifikan terhadap tegangan lentur (Sig. < 0,05). Peningkatan rasio tulangan meningkatkan rata-rata beban maksimum hingga 37,80% dan tegangan lentur maksimum hingga 19,24%, sedangkan peningkatan umur beton meningkatkan rata-rata tegangan lentur sebesar 3,37% disertai peningkatan regangan dan lendutan. Selain itu, balok dengan substitusi GGBFS 40% menunjukkan kapasitas beban dan tegangan lentur yang sedikit lebih tinggi dibandingkan beton normal. Hasil ini menunjukkan bahwa penggunaan GGBFS 40% berpotensi menjadi alternatif material semen yang lebih berkelanjutan tanpa mengurangi kinerja lentur balok beton bertulang. Kata kunci: GGBFS, kuat lentur, rasio tulangan, umur beton, balok beton bertulang