Claim Missing Document
Check
Articles

Found 21 Documents
Search

Ethnography of Communication in Empowering Women Farmers’ Group in Sodong Village Eko Purwanto; Mirza Shahreza; Ade Rahmah; Umar Farisal
LONTAR: Jurnal Ilmu Komunikasi Vol. 14 No. 1 (2026): Lontar : Jurnal Ilmu Komunikasi
Publisher : Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Serang Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30656/lontar.v14i1.12033

Abstract

This study aims to describe and analyze communication activities in the empowerment of the Women Farmers Group (KWT) in Sodong Village, Tangerang Regency. While previous studies on KWT often emphasize economic outcomes or program evaluations, there is a research gap concerning the strategic role of communication as a vehicle for social change embedded in local cultural contexts and gender relations. This research employs a qualitative approach with the ethnography of communication as the theoretical basis, utilizing Dell Hymes’ SPEAKING model to examine verbal and non-verbal interaction patterns. Data were collected through in-depth interviews, FGDs, and participant observation. The findings reveal that empowerment communication is structured through eight SPEAKING components, characterized by a familial atmosphere (key) in social spaces like Saung Kebun (setting), which fosters trust and openness. The participatory patterns effectively facilitate the diffusion of agricultural innovations and enhance social solidarity. This study contributes to the literature on community-based development by integrating communication, gender, and rural development perspectives, offering a strategic model for realizing sustainable Food Self-Sufficient Villages through inclusive collaboration.
Representasi Green Economy dalam Advertising Media Sosial dan Konstruksi Opini Publik Masyarakat Jihan Amelia; Galuh Haqeem Hervansyah; Nina Agustin; Azka Fachri Ramadhan; Eko Purwanto
CONVERSE Journal Communication Science Vol. 3 No. 1 (2026): July
Publisher : Indonesian Journal Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47134/converse.v3i1.6132

Abstract

Meningkatnya perhatian publik terhadap isu lingkungan global mendorong penguatan konsep Green Economy sebagai pendekatan yang berupaya menyeimbangkan pertumbuhan ekonomi dan keberlanjutan ekologis. Dalam lanskap digital kontemporer, korporasi semakin memanfaatkan media sosial sebagai ruang komunikasi strategis untuk menyampaikan pesan-pesan keberlanjutan melalui praktik advertising guna membangun legitimasi dan kepercayaan publik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis representasi konsep Green Economy dalam advertising media sosial serta mengkaji bagaimana representasi tersebut berkontribusi terhadap konstruksi opini publik masyarakat. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain integrative literature review. Data penelitian diperoleh melalui penelusuran artikel ilmiah pada basis data akademik Google Scholar, Scopus, dan ScienceDirect yang diterbitkan dalam periode 2015–2025. Sebanyak 35 artikel terpilih berdasarkan kriteria relevansi topik, kualitas publikasi, dan kesesuaian dengan fokus penelitian. Analisis dilakukan melalui teknik sintesis tematik untuk mengidentifikasi pola representasi, strategi komunikasi ekologis, serta implikasi sosial dari praktik green advertising. Hasil kajian literatur menunjukkan bahwa representasi Green Economy dalam iklan digital umumnya dikonstruksikan melalui penggunaan simbol visual berbasis alam, narasi keberlanjutan, serta strategi semiotika persuasif yang membentuk asosiasi positif antara merek dan nilai ekologis. Literatur yang dianalisis juga mengindikasikan bahwa media sosial tidak hanya berfungsi sebagai saluran promosi komersial, tetapi berkembang menjadi ruang diskursif yang dapat memengaruhi persepsi dan kesadaran ekologis masyarakat. Namun, temuan literatur menunjukkan adanya tantangan berupa praktik greenwashing, ketimpangan kredibilitas informasi, dan variasi tingkat literasi keberlanjutan publik. Dengan demikian, konsistensi antara pesan keberlanjutan dalam komunikasi pemasaran dan praktik operasional perusahaan menjadi faktor penting dalam mempertahankan kepercayaan publik secara berkelanjutan.
Konstruksi Opini Publik tentang Green Economy dalam Periklanan Media Digital Anggun Eka Riani; Annisa Octavianti; Dimas Wahyu Ilhamy; Muthiara Kisti Utama Putri; Eko Purwanto
CONVERSE Journal Communication Science Vol. 3 No. 1 (2026): July
Publisher : Indonesian Journal Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47134/converse.v3i1.6186

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis bagaimana realitas green economy dikonstruksi menjadi opini publik melalui pemanfaatan elemen visual dan tekstual pada kampanye periklanan di media digital. Melalui pendekatan deskriptif kualitatif dengan metode netnografi murni, data dikumpulkan menggunakan observasi daring nonpartisipan, dokumentasi siber, dan catatan lapangan terhadap konten periklanan serta interaksi netizen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa opini publik mengenai green economy dibentuk secara terencana melalui pemanfaatan simbol alam, teks bertema kepedulian lingkungan, dan unsur audio untuk membangun citra ramah lingkungan. Temuan penelitian juga mengindikasikan bahwa ketidaksesuaian antara citra dan praktik operasional korporasi berpotensi memicu fenomena greenwashing dan membentuk hiperrealitas yang kemudian direspons secara kritis oleh audiens. Selain itu, temuan penelitian mengisyaratkan bahwa algoritma platform digital berperan sebagai digital gatekeeper yang dapat memperkuat filter bubble serta polarisasi opini publik di ruang siber. Oleh karena itu, peningkatan literasi digital masyarakat, khususnya Generasi Z, serta transparansi kampanye lingkungan oleh korporasi menjadi aspek penting dalam menjaga kepercayaan publik.
Peran Media Sosial dalam Membangun Opini Publik terhadap Pemimpin Politik Arni Damayanti; Eko Purwanto; Maydiyan Pangesti; Putri Dwi Hastuti
El-Mujtama: Jurnal Pengabdian Masyarakat  Vol. 5 No. 6 (2025): El-Mujtama: Jurnal Pengabdian Masyarakat 
Publisher : Intitut Agama Islam Nasional Laa Roiba Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47467/elmujtama.v5i6.10179

Abstract

The rapid growth of social media in the last five years has transformed the landscape of political communication and significantly influenced how public opinion toward political leaders is formed. Platforms such as TikTok, Instagram, and X (Twitter) have become key arenas for shaping political perception through visual narratives, short-form videos, and direct engagement between leaders and citizens. Recent studies highlight that algorithmic curation plays a crucial role in selectively amplifying certain political messages, which consequently affects how users construct their political judgments. Furthermore, users’ trust in the credibility of digital sources and the level of audience engagement have been shown to strongly determine the legitimacy and public support received by political leaders. This literature-based study synthesizes findings from recent international journals to explain how social media functions not only as a space for information dissemination but also as a strategic instrument for opinion formation and image construction in the political sphere.
Analysis of Communication System for Community Empowerment Based on Integrated Plant Management Implementation Movement Program (GPPTT) Selly Oktarina; Norhazlina Fairuz Musa Kutty; Eko Purwanto; Mirza Shahreza; Abdul Basit
Jurnal Mamangan Vol 12, No 2 (2023): Jurnal Ilmu Sosial Mamangan Accredited 2 (SK Dirjen Ristek Dikti No. 0173/C3/DT
Publisher : LPPM Universitas PGRI Sumatera Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22202/mamangan.v12i2.6655

Abstract

Empowerment communication is important so the people become empowered through effective communication. The effectiveness of communication is inseparable from the role of the institutions involved in program implementation. This study aims to analyze the communication system in empowering the community the “jajar legowo” cropping system in the Integrated Plant Management Implementation Movement (GPPTT) program. The theory used in this study is the adoption of innovation. The research method is qualitative in nature, namely based on the results of field observations supported by literature studies of related journals. Data were analyzed descriptively by providing understanding and explanation so that it was easy to understand. The focus of the study was carried out in Ogan Ilir Regency, South Sumatra, as one of the implementers of the GPPTT and as a Food Barn. The communication system based on black box analysis shows that community empowerment based on the GPPTT Program is good, it is carried out based on five elements consisting of environmental input, controlled input, uncontrolled input, desired input and unwanted input. The pattern of analysis of the GPPTT program system is based on the existence of GPPPT policies, empowerment strategies and technical guidelines that affect the empowerment of farmers in adopting the jajar legowo cropping system so as to produce a paradigm shift in empowerment communication. A community empowerment communication system based on the GPPTT program based on black box analysis is a problem solving solution for farmers to adopt technology to be independent.
Budaya Meme sebagai Ekspresi Budaya Populer Generasi Z Ismi Melati Irmadini; Eko Purwanto; Fitri; Nina Agustin; Meli Agustin
Jurnal Desain Komunikasi Visual Vol. 2 No. 3 (2025): August
Publisher : Indonesian Journal Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47134/dkv.v2i3.4273

Abstract

Budaya meme telah menjadi saluran utama bagi Generasi Z dalam menegosiasikan nilai, identitas, dan kritik sosial di era digital. Karakteristik meme yang mudah di replikasi, dimodifikasi, dan disebarkan secara partisipatif menjadikannya alat yang efektif untuk menyampaikan pesan. Penelitian ini bertujuan mengungkap struktur konten, nilai budaya, dan mekanisme distribusi meme sebagai manifestasi budaya populer Generasi Z. Metode kualitatif dengan studi literatur naratif diterapkan, menggunakan purposive sampling pada tiga puluh dokumen akademik terbitan 2010–2024, yang dianalisis secara tematik dengan enam tahap Braun & Clarke dan perangkat lunak NVivo 12. Hasil analisis mengidentifikasi lima tema sentral: identitas kolektif, kritik sosial, humor dan hiburan, nilai budaya populer, serta dinamika distribusi digital. Temuan ini menunjukkan bahwa meme berfungsi sebagai teks multimodal yang bermakna multilapis, dipengaruhi oleh logika partisipatif dan framing algoritmik. Secara terapan, penelitian ini merekomendasikan pemanfaatan meme dalam desain materi pembelajaran interaktif dan strategi pemasaran digital yang responsif terhadap karakteristik kultur Generasi Z, sehingga dapat meningkatkan relevansi dan efektivitas komunikasi dalam konteks pendidikan dan pemasaran.
Film Dokumenter sebagai Alat Edukasi Budaya untuk Pembangunan Komunitas Rafli Hermawan Putra; Ilham Agiel Al-Farid; Eko Purwanto; Khaidar Ramadhani Hidayatullah; Mochammad Raysya Putra Anugrah
Jurnal Desain Komunikasi Visual Vol. 2 No. 3 (2025): August
Publisher : Indonesian Journal Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47134/dkv.v2i3.4277

Abstract

Film dokumenter memiliki peran penting dalam mendidik dan memberdayakan masyarakat, khususnya dalam pelestarian nilai-nilai budaya lokal yang terancam oleh arus globalisasi. Studi ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi literatur untuk menganalisis kontribusi film dokumenter dalam membangun kesadaran budaya, memperkuat identitas komunitas, serta mendorong keterlibatan sosial dan pendidikan. Temuan penelitian menunjukkan bahwa film dokumenter memiliki kemampuan untuk menyampaikan narasi budaya secara menyentuh dan rasional, merekam keberadaan warisan budaya nonbenda, serta berperan sebagai sarana advokasi yang menjembatani masyarakat dengan persoalan-persoalan penting yang berdampak pada kehidupan mereka. Selain itu, partisipasi komunitas dalam proses produksi dokumenter berkontribusi pada peningkatan kapasitas, solidaritas, dan penguatan rasa memiliki terhadap budaya lokal. Namun demikian, tantangan seperti keterbatasan akses teknologi dan risiko representasi yang tidak akurat perlu menjadi perhatian dalam pengembangan dokumenter yang berkelanjutan dan inklusif. Penelitian ini menegaskan bahwa dokumenter bukan hanya arsip visual, tetapi juga alat strategis dalam pendidikan budaya dan pembangunan komunitas berbasis kearifan lokal.
Media sebagai Alat Penguatan Budaya Lokal di Tengah Arus Globalisasi Intan Putri Zahrani; Eko Purwanto; Nika Ardiyanti; Sabrina Lusiyanti; Anggun Eka Riani
Jurnal Desain Komunikasi Visual Vol. 2 No. 3 (2025): August
Publisher : Indonesian Journal Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47134/dkv.v2i3.4281

Abstract

Globalisasi dan kemajuan teknologi digital telah membawa dampak signifikan terhadap keterlibatan generasi muda dengan budaya lokal. Sementara media digital berkontribusi pada penyebaran budaya global yang seragam, media ini juga menyediakan ruang baru untuk revitalisasi dan promosi budaya lokal secara inovatif. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi literatur untuk mengkaji dinamika peran media digital dalam mendukung eksistensi budaya lokal. Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk mengevaluasi bagaimana media digital dapat menjadi sarana penguatan budaya lokal di tengah tantangan globalisasi serta merumuskan strategi komunikasi yang efektif guna menjaga keberlanjutan budaya lokal di kalangan generasi muda. Hasil analisis menunjukkan bahwa media digital berpotensi besar dalam mendukung pelestarian budaya melalui pendekatan kreatif seperti konten visual, kampanye media sosial berbasis komunitas, serta integrasi teknologi imersif. Tantangan seperti komersialisasi, dominasi budaya asing, dan minimnya literasi media tetap menjadi hambatan yang harus diatasi dengan strategi kolaboratif dan kebijakan yang berpihak pada budaya lokal. Oleh karena itu, kolaborasi antara pemangku kepentingan menjadi kunci dalam membangun sistem pelestarian budaya yang responsif, inklusif, dan relevan di era digital.
Mediasi Budaya Lokal dalam Program Acara Televisi Daerah Usi Gustini; Zulfa Nailal Husna; Siti Nur Hasna; Resti Dwi Widyasti; Eko Purwanto
Jurnal Desain Komunikasi Visual Vol. 2 No. 3 (2025): August
Publisher : Indonesian Journal Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47134/dkv.v2i3.4378

Abstract

Televisi daerah memegang peranan krusial dalam menjaga kelestarian budaya lokal di tengah arus globalisasi dan dominasi media arus utama. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana budaya lokal direpresentasikan dalam program televisi daerah, mengidentifikasi peran televisi daerah sebagai mediator nilai dan identitas budaya, mengkaji pengaruh kekuasaan dan ideologi terhadap narasi budaya lokal, serta menelaah strategi penyajian konten budaya lokal untuk menarik audiens, khususnya generasi muda, dan menilai kontribusinya dalam pelestarian budaya lokal. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan studi literatur yang mendalam, mengumpulkan dan menganalisis berbagai sumber relevan seperti artikel, buku, dan jurnal untuk memahami fenomena mediasi budaya melalui media lokal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa televisi daerah merepresentasikan budaya lokal melalui strategi lokalisasi, penggunaan bahasa daerah, dan penonjolan kearifan lokal, seperti yang terlihat pada Jogja TV, TVRI Jogja, dan I News TV Bandung. Televisi regional juga berperan penting sebagai penyeimbang terhadap dominasi media nasional dan mempromosikan komunikasi demokratis. Namun, terdapat tantangan signifikan seperti keterbatasan dana, tekanan komersial dan politik, serta ketimpangan representasi budaya minoritas. Kesimpulannya, program televisi regional memiliki peran strategis dalam menjaga, mempromosikan, dan membentuk identitas budaya lokal, namun keberlanjutannya sangat bergantung pada dukungan yang memadai, inklusivitas, dan strategi kreatif yang relevan dengan generasi digital.
Media Sosial Sebagai Arena Negosiasi Identitas Mahasiswa Emilia Wulandari; Ristia Ika Belinda; Carla Aulia Zean; Bayu Ramadhan; Muhammad Bintang Mahesa; Eko Purwanto
Indonesian Journal of Innovation Multidisipliner Research Vol. 4 No. 3 (2026): Juli - September
Publisher : Institute of Advanced Knowledge and Science

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69693/ijim.v4i3.1730

Abstract

Perkembangan teknologi digital telah mendorong meningkatnya penggunaan media sosial sebagai ruang utama interaksi, khususnya di kalangan mahasiswa. Media sosial tidak hanya berfungsi sebagai sarana komunikasi, tetapi juga berkembang menjadi ruang publik digital yang memungkinkan individu membentuk, menampilkan, dan menegosiasikan identitas diri. Fenomena ini menunjukkan bahwa media sosial telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan mahasiswa, baik dalam aktivitas akademik maupun kehidupan sosial sehari-hari. Interaksi yang berlangsung di ruang digital memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk membangun citra diri sekaligus menyesuaikan identitasnya sesuai dengan konteks dan audiens yang dihadapi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran media sosial sebagai arena negosiasi identitas mahasiswa di era digital. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi literatur melalui kajian berbagai sumber ilmiah yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media sosial menjadi ruang dinamis yang memungkinkan mahasiswa secara aktif mengelola, menyesuaikan, dan merepresentasikan identitasnya berdasarkan konteks sosial, audiens, serta norma yang berlaku. Proses negosiasi identitas tersebut dipengaruhi oleh literasi digital, tekanan sosial, serta kebutuhan akan pengakuan sosial. Selain itu, identitas mahasiswa di media sosial bersifat fleksibel dan performatif, serta terus mengalami perubahan seiring dengan interaksi digital yang berlangsung. Temuan penelitian ini juga menunjukkan bahwa proses negosiasi identitas tidak hanya dipengaruhi oleh faktor individu, tetapi juga oleh dinamika lingkungan digital yang terus berkembang. Penelitian ini menegaskan bahwa media sosial berperan penting sebagai arena negosiasi identitas mahasiswa dalam kehidupan sosial digital.