Irawati, Selvi Misnia
Geophysical Engineering, Institut Teknologi Sumatra (ITERA) Jalan Terusan Ryacudu, Lampung Selatan 35365, Indonesia

Published : 26 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 26 Documents
Search

ANALISIS TENSOR FASE DAN PEMODELAN 2D DATA MAGNETOTELURIK GABBS VALLEY, NEVADA, USA Pahri, Pahri; Paembonan, Andri Yadi; Irawati, Selvi Misnia
JGE (Jurnal Geofisika Eksplorasi) Vol. 9 No. 3 (2023)
Publisher : Engineering Faculty Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jge.v9i3.301

Abstract

Metode magnetotellurik (MT) merupakan salah satu teknik dalam metode geofisika yang menggunakan sumber alami dalam bentuk medan elektromagnetik yang berasal dari medan listrik dan variasi medan magnet di bumi. Dalam proses interpretasi kondisi bawah permukaan bumi, data MT masih dipengaruhi oleh noise atau distorsi yang akan menutupi dimensionalitas sebenarnya. Oleh karena itu dilakukan analisis tensor fase untuk menentukan dimensionalitas dan arah geoelectrical strike guna mengidentifikasi struktur bawah permukaan yang tidak dipengaruhi oleh distorsi galvanic. Berdasarkan hasil yang diperoleh, daerah penelitian memiliki dimensionalitas 2D dengan orientasi barat laut – tenggara dengan arah N345 E. Hasil inversi 2D menunjukkan bahwa nilai resistivitas < 10  diidentifikasi sebagai zona alterasi atau clay cap yang didominasi oleh mineral smektit. Nilai resistivitas 20 – 250  diidentifikasi sebagai reservoar yang bersifat permeabel yang tersusun atas batu pasir kasar, kerikil, basal, andesit, riolit, riodasit tuff dan konglomerat. Lapisan dengan nilai resistivitas > 250  diidentifikasi sebagai Upper Triassic Metasediment yang mengalami sedimentasi yang sangat keras, hal tersebut disebabkan tekanan dan suhu tinggi. Lapisan ini tersusun atas meta batu lanau, batu lempung, meta batu pasir, dan meta konglomerat.
CONTROLLED-SOURCE ELECTROMAGNETIC (CSEM) DATA PROCESSING WITH HIGH ELECTROMAGNETIC NOISE LEVELS Jaya, Muhammad Rendi; Paembonan, Andri Yadi; Irawati, Selvi Misnia; M. Strack, Kurt
JGE (Jurnal Geofisika Eksplorasi) Vol. 10 No. 2 (2024)
Publisher : Engineering Faculty Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jge.v10i2.345

Abstract

The Controlled-Source Electromagnetic (CSEM) method is one of the electromagnetic methods utilized in geophysical exploration. This method provides a subsurface image through the resistivity anomalies of materials encountered by electromagnetic waves. The research area is located near a major city, resulting in high electromagnetic noise. Electromagnetic noise can be categorized into two types of the noise namely periodic noise and sporadic noise. Eliminating noise is a crucial objective to enhance data quality, as it can introduce uncertainty into interpretations. Three noise removal techniques are employed: pre-stack to filter the harmonic noise, stacking to remove the sporadic noise, and post-stack for smoothing. The CSEM data used consists of signals in the time domain with a 10-second period and a 50% duty cycle. The results of applying these noise removal techniques indicate that all three methods are highly effective in noise reduction. The pre-stack technique can remove periodic noise, while sporadic noise is addressed by the stacking technique, and signal smoothing can be achieved using the poststack technique.
C-RIA: PERANGKAT LUNAK INVERSI DAN ANALISIS DATA RESISTIVITAS BERBASIS CLOUD Paembonan, Andri Yadi; Sigalingging, Asido Saputra; Andika, Putu Pradnya; Irawati, Selvi Misnia; Nathania, Edlyn Yoadan; Jaya, Muhammad Rendi
JGE (Jurnal Geofisika Eksplorasi) Vol. 10 No. 1 (2024)
Publisher : Engineering Faculty Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jge.v10i1.389

Abstract

Pada umumnya, proses inversi dan analisis data geofisika konvensional menggunakan komputasi lokal yang memerlukan sumber daya besar baik dalam proses pengolahannya maupun dalam penyimpanan data yang dapat menghambat efisiensi dan skalabilitasnya. Seiring dengan kemajuan teknologi cloud computing, penyimpanan dan pengolahan data secara terpusat menjadi lebih efisien, memungkinkan geofisikawan untuk mengoptimalkan kinerja dalam melakukan pengolahan data seperti inversi data geolistrik secara signifikan. Dengan memanfaatkan infrastruktur cloud, perangkat lunak ini dapat diakses secara fleksibel dan dapat disesuaikan, memungkinkan pengguna untuk mengelola dan menganalisis dataset geolistrik dengan lebih efektif. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengoptimalkan pengolahan data geolistrik resistivitas dengan teknologi cloud yang dapat mempercepat kinerja maupun memberikan kemudahan pengolahan data (user friendly) melalui pengembangan perangkat lunak C-RIA. Sebelum melakukan pengolahan data perlu dilakukan pemilihan metode optimasi dan penentuan beberapa parameter, kemudian dilakukan proses inversi. Hasil yang diperoleh setelah dilakukan proses inversi untuk membuat model memperlihatkan kemampuan pengolahan data yang stabil dengan model awal yang berbeda. Selain itu hasil yang diperoleh dengan menggunakan data sintesis memperlihatkan hasil yang hampir sama walaupun sudah ditambahkan sedikit gangguan (noise) dengan nilai RMSE <3%, sedangkan pada pengujian data lapangan nilai RMSE <1%. Selanjutnya pada data lapangan nilai Selain itu dengan antarmuka (interface) yang lebih mudah dapat mempercepat dan mengoptimalkan pengolahan data.  Secara keseluruhan dari penggunaan teknologi cloud yang diimplementasikan untuk data geolistrik dapat menjadi solusi untuk pengolahan data lebih efisien dan efektif serta fleksibel.
Inversi 2D Data Magnetotelurik menggunakan Analisis Tensor Fase di Daerah Silverton, Colorado, USA Irawati, Selvi Misnia; Faidah, Puti Athiyah
POSITRON Vol 15, No 2 (2025): Vol. 15 No. 2 Edition
Publisher : Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Univetsitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/positron.v15i2.92353

Abstract

Struktur geologi terbentuk akibat proses tektonik dan aktivitas vulkanik, yang berpotensi menghasilkan sumber daya alam maupun memicu bencana geologi. Salah satu metode geofisika yang efektif untuk mengidentifikasi struktur bawah permukaan adalah metode magnetotelurik (MT). Penelitian ini bertujuan untuk menentukan dimensionalitas dan arah geoelectrical strike menggunakan analisis tensor fase serta memodelkan struktur geologi melalui pemodelan 2D MT dengan inversi Non Linier Conjugate Gradient (NLCG) di daerah Silverton, Colorado, USA. Data magnetotelurik diolah melalui tahapan analisis tensor fase, rotasi strike, dan inversi 2D untuk memperoleh distribusi resistivitas bawah permukaan. Hasil analisis menunjukkan bahwa dimensionalitas data pada periode rendah, sedang, dan tinggi bersifat 2D, dengan arah geoelectrical strike timur laut–barat daya sebesar N45E°. Dari hasil pemodelan resistivitas 2D, pada lintasan 1 teridentifikasi tiga sesar, yaitu sesar minor dengan arah utara–selatan, serta kelanjutan Sesar Pegunungan San Juan dengan arah tenggara–barat laut. Pada lintasan 2, diperoleh empat sesar yang berasosiasi dengan ring-fault-zone Kaldera Silverton, dengan arah timur laut–barat daya dan utara–selatan, sesuai dengan informasi geologi. Hasil ini memberikan informasi kejelasan baru terhadap struktur sesar kompleks Silverton berdasarkan integrasi analisis tensor fase dan inversi 2D MT sebagai pendekatan untuk memahami struktur geologi.
Identifikasi Jalur Air Panas dengan Menggunakan Metode Geolistrik 2D dan Very Low Frequency Electromagnetic di Desa Muara Putih, Kecamatan Natar, Lampung Selatan Atsani, Ahmad Rozali; Rumansah, Raka Putra Pratama; Saragi, Ibrani Uli; Cahyanto, Muhammad Hashfi; Irawati, Selvi Misnia
Jurnal Geosains dan Teknologi Vol 9, No 1 (2026)
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jgt.9.1.2026.48-58

Abstract

Mata air panas Cisarua di Desa Muara Putih, Natar, Lampung Selatan, merupakan manifestasi panas bumi yang terletak jauh dari zona vulkanik aktif, sehingga memerlukan penelitian untuk memahami mekanisme kemunculannya. Daerah ini tersusun atas endapan vulkanik muda, Formasi Lampung, dan batuan malihan, serta dilalui patahan berarah barat laut–tenggara sebagai bagian dari Sesar Lampung Panjang. Penelitian ini bertujuan mendeteksi jalur aliran fluida panas bumi melalui kombinasi metode Geolistrik 2D dan Very Low Frequency Electromagnetic (VLF-EM). Pengukuran dilakukan pada dua lintasan terintegrasi, sepanjang 350 m dan 470 m. Data VLF-EM diolah menggunakan filter NA- MEMD, Fraser, dan Karous-Hjelt serta inversi 2D. Hasilnya menunjukkan anomali resistif vertikal (≤100 Ωm) dan anomali resistif dangkal (≤60 Ωm) yang diduga jalur fluida. Tiga lapisan utama teridentifikasi: top soil (>80 Ωm), lempung tufan (0–20 Ωm), dan lempung pasiran (20–70 Ωm). Pada lintasan pertama terindikasi tiga zona sesar, salah satunya sesuai dengan penelitian sebelumnya yang diperkirakan sebagai jalur air panas dengan arah barat laut–tenggara . Lintasan kedua tidak menunjukkan sesar karena tidak adanya kontras anomali resistivitas dan tidak didukung oleh data sekunder atau penelitian yang lain. Kedua metode menunjukkan pola resistivitas yang selaras, sehingga efektif digunakan untuk studi pendahuluan panas bumi.
Analisis Kerentanan Tanah Terhadap Gempa Bumi Menggunakan Metode Horizontal to Vertical Spectral Ratio di Daerah Way Huwi, Lampung Selatan Sitio, Angelica Noviani; Wulandari, Rizki; Irawati, Selvi Misnia; Sinuhaji, Dwi Putri Meisya br
Jurnal Pendidikan, Sains, Geologi, dan Geofisika (GeoScienceEd Journal) Vol. 7 No. 1 (2026): Februari
Publisher : Mataram University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/goescienceed.v7i1.1562

Abstract

This study aims to evaluate the level of soil seismic vulnerability in Way Huwi Village, South Lampung, using the Horizontal to Vertical Spectral Ratio (HVSR) method. The analysis was conducted based on parameters including natural frequency, soil amplification factor, seismic vulnerability index, and shear-wave velocity to a depth of 30 m (V_S30). The results indicate that the subsurface conditions of the study area are heterogeneous, as reflected by the spatial variation of HVSR parameters across the area. Areas characterized by low natural frequency (f₀ < 5 Hz) and high amplification factor (A₀ > 3.5) are generally associated with thick, unconsolidated soft sediments, resulting in higher seismic vulnerability. In contrast, areas with higher V_S30 values indicate stiffer and more compact soil conditions, leading to a more stable ground response to earthquake shaking. V_S30 estimation using Particle Swarm Optimization (PSO) and Genetic Algorithm (GA) methods produced consistent results, where lower V_S30 values correlate with increased amplification factors and seismic vulnerability indices. Based on these findings, areas with high seismic vulnerability, particularly around measurement points SS2, SS10, and SS22, are recommended as priority zones for earthquake risk mitigation efforts. The results of this study are expected to serve as a basis for spatial planning, earthquake-resistant building design, and disaster risk management in Way Huwi Village.