Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah Dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan di SMAN 3 dan SMKN 3 Banjarbaru Kalimantan Selatan Muhammad Ihsan; Jarkawi Jarkawi; Muhammad Yuliansyah; Kasypul Anwar
Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan Vol 9 No 3 (2023): Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan
Publisher : Peneliti.net

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (205.995 KB) | DOI: 10.5281/zenodo.7625002

Abstract

This study aims to find out: (1) the principal's steps in preparing a work plan in an effort to influence teachers and staff to want to work together so that they want to take actions and actions in achieving common goals, (2) the principal's activities in implementing work plans, evaluation activities and monitoring, and (3) factors that support and hinder school principals in leading SMAN 3 and SMKN 3 Banjarbaru. This research is a descriptive qualitative research, namely research that seeks to capture symptoms holistically and contextually through collecting data from the subjects studied as a direct source with the researcher's own key instruments, namely the researcher is a planner, executor of data collection, analysis, data interpreter, and in the end he becomes a reporter. the results of the research. The results of the research show that: The preparation of work plans for school principals in an effort to guide teachers and education personnel staff in their implementation takes action in achieving a common goal, namely implementing school-based management in improving the quality of education focusing on the management aspects of planning, organizing, implementing and supervising. Implementation (MBS) in improving the quality of education for the two schools in addition to paying attention to students, also to guardians of students, especially those who are members of the school committee. The principal in carrying out evaluation and monitoring of integrated activities for teachers and education staff and students is in the position they should be, namely carrying out their duties with full responsibility to achieve common goals in improving the quality of education in schools.
IMPLEMENTASI MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH PADA PENINGKATAN MUTU PEMBELAJARAN DI SEKOLAH DASAR Muhammad Ihsan; Eko Wahyudi; Fitria Mumtazah
Jurnal Humaniora dan Sosial Sains Vol. 2 No. 3 (2025)
Publisher : Pojok Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penerapan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) dalam meningkatkan mutu pembelajaran di Sekolah Dasar. Pendekatan penelitian yang digunakan yaitu kualitatif dengan metode studi kasus. Data diperoleh melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi, kemudian dianalisis melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan MBS berpengaruh positif terhadap peningkatan mutu pembelajaran melalui penguatan peran kepala sekolah, kolaborasi guru, serta keterlibatan orang tua dan masyarakat. Namun, ditemukan pula sejumlah kendala, seperti keterbatasan fasilitas dan variasi kompetensi guru. Penelitian ini merekomendasikan peningkatan kapasitas manajerial kepala sekolah serta optimalisasi peran komite sekolah untuk mendukung mutu pembelajaran yang berkelanjutan
IMPLEMENTASI KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH DALAM MEMBANGUN BUDAYA DISIPLIN DI SEKOLAH DASAR Risma; Raditia; Muhammad Ihsan
Jurnal Humaniora dan Sosial Sains Vol. 2 No. 3 (2025)
Publisher : Pojok Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan bagaimana kepala sekolah menerapkan kepemimpinannya dalam membangun budaya disiplin di sekolah dasar. Penelitian dilakukan dengan pendekatan kualitatif melalui metode studi kasus. Teknik pengumpulan data meliputi observasi, wawancara mendalam, serta analisis dokumen. Hasil kajian menunjukkan bahwa kepala sekolah berperan sebagai figur teladan, penggerak kedisiplinan, sekaligus pengawas dalam penerapan aturan sekolah. Budaya disiplin terbentuk melalui komunikasi yang konsisten, penerapan penghargaan dan sanksi secara proporsional, serta keterlibatan aktif guru, peserta didik, dan orang tua. Temuan ini menegaskan bahwa kepemimpinan yang efektif menjadi faktor penentu terciptanya lingkungan belajar yang tertib dan kondusif.
TRANSFORMASI DIGITAL LAYANAN PENDIDIKAN: INTEGRASI ADMINISTRASI PUBLIK DAN MANAJEMEN PENDIDIKAN DI ERA SMART GOVERNANCE Rahim Kausar; Muhammad Ihsan
Jurnal Humaniora dan Sosial Sains Vol. 2 No. 3 (2025)
Publisher : Pojok Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Digital transformation is a determining factor in driving the modernization of education services in the era of smart governance, where information technology serves as a strategic instrument to increase effectiveness, transparency, and accountability in the delivery of public services. A governance approach based on digital intelligence demands integration between public administration principles and educational management practices to build an adaptive, data-driven education governance system that is able to respond to the dynamics of community needs. This article examines the role of digitalization not only as a technical tool but also as a transformational force that reshapes the structure, processes, and direction of education policy. The analysis findings indicate that the effectiveness of digital transformation in the education sector is determined by four main factors: policy alignment between agencies and across levels of government, the availability and equitable distribution of digital infrastructure, increased competency and digital literacy of human resources, including civil servants and educators, and an organizational culture that supports innovation, collaboration, and evidence-based decision-making. The connection between public administration and educational management is a crucial foundation for realizing inclusive, effective, and sustainable education governance. This article provides a theoretical contribution to developing an understanding of the digitalization of education services and offers policy implications for the government in strengthening smart governance practices.
REKONSEPTUALISASI PENDIDIKAN DASAR UNTUK KEBERLANJUTAN SOSIAL: INTEGRASI PENGETAHUAN INDIGENOUS DAN KEARIFAN LOKAL DALAM KERANGKA PEMBELAJARAN TRANSFORMATIF DI KALIMANTAN Muhammad Mochtar Mandala Silam; Muhammad Ihsan; Nia Riani; Sasya Nabila; Syahdati Ilmiyah
Jurnal Humaniora dan Sosial Sains Vol. 3 No. 1 (2026)
Publisher : Pojok Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini secara kritis mengkaji bagaimana pendidikan dasar dapat direkonseptualisasikan sebagai ruang strategis bagi keberlanjutan sosial melalui integrasi sistematis kearifan lokal dan perspektif indigenous. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi multi-situs pada beberapa sekolah dasar negeri di Kalimantan Tengah. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi kelas, serta analisis dokumen kebijakan yang melibatkan guru, kepala sekolah, dan perwakilan masyarakat. Secara teoretis, penelitian ini berlandaskan pada konsep Education for Sustainable Development (ESD), teori pembelajaran transformatif, dan pedagogi kritis, sehingga memungkinkan analisis mendalam mengenai bagaimana pengetahuan lokal dapat merekonstruksi struktur pedagogis dan praktik kelembagaan sekolah. Temuan penelitian mengidentifikasi tiga ketegangan utama: (1) fragmentasi epistemologis antara mandat kurikulum nasional dan tradisi pengetahuan lokal; (2) keterbatasan pedagogis yang membatasi praktik pembelajaran dialogis dan partisipatif; serta (3) kesenjangan kebijakan struktural yang menghambat inisiatif keberlanjutan berbasis komunitas. Meskipun demikian, sekolah yang secara intentional mengintegrasikan etika ekologis lokal, nilai-nilai komunal, dan narasi budaya menunjukkan penguatan agensi siswa, pembentukan identitas kolektif, serta berkembangnya disposisi pro-lingkungan.
IMPLEMENTATION OF SCHOOL-BASED MANAGEMENT BASED ON SPIRITUAL VALUES AS A STRATEGY TO IMPROVE THE QUALITY OF LEARNING: CASE STUDY AT JUNGKAL ELEMENTARY SCHOOL LAMPIHONG DISTRICT BALANGAN REGENCY SOUTH KALIMANTAN: Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah Berlandaskan Nilai-Nilai Spiritual sebagai Strategi untuk Meningkatkan Kualitas Pembelajaran: Studi Kasus di SD Jungkal Kecamatan Lampihong, Kabupaten Balangan, Kalimantan Selatan Ihsan, Muhammad; Syukri, Muhammad; Safaruddin, Safaruddin; Silam, Muhammad Mochtar Mandala; Shaddiq, Syahrial
Santhet: (Jurnal Sejarah, Pendidikan Dan Humaniora) Vol 10 No 2 (2026): SANTHET: (JURNAL SEJARAH, PENDIDIKAN DAN HUMANIORA) 
Publisher : Proram studi pendidikan Sejarah Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Universaitas PGRI Banyuwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36526/santhet.v10i2.7847

Abstract

This study aims to analyze the implementation of school-based management grounded in spiritual values as a strategy to improve learning quality at SDN Jungkal, Lampihong District, Balangan Regency. This research employed a qualitative approach with a case study method. Data were collected through observation, in-depth interviews, and documentation. Data analysis used data reduction, data display, and conclusion drawing techniques. The results showed that the implementation of school-based management grounded in spiritual values was carried out through the integration of religious values in school program planning, learning implementation, and educational evaluation. Spiritual values were applied through religious habituation activities, strengthening student character, and school leadership emphasizing moral role modeling. This implementation had a positive impact on improving learning quality, particularly in character development, increasing learning motivation, and creating a conducive learning environment. Supporting factors included school community commitment and community support, while inhibiting factors included limited supporting facilities and program implementation consistency.