Claim Missing Document
Check
Articles

Found 21 Documents
Search

PEMERIKSAAN KESEHATAN RUTIN SEBAGAI STRATEGI DETEKSI DINI WARGA BINAAN PEMASYARAKATAN (WBP) LAPAS KELAS 1 CIPINANG Muhammad Ganner Pamungkas; Fajri Ramadhan Btara Putra; Ade Cici Rohayati; Iman Santoso
Journal Central Publisher Vol 2 No 11 (2024): Jurnal Central
Publisher : Central Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.60145/jcp.v2i11.551

Abstract

Latar Belakang : Pemeriksaan kesehatan rutin merupakan upaya preventif yang sangat penting dalam menjaga kualitas hidup Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) yang berada di lingkungan tertutup dan berisiko tinggi terhadap penyebaran penyakit. Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pelaksanaan pemeriksaan kesehatan rutin sebagai strategi deteksi dini bagi Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) di Lapas Kelas 1 Cipinang. Metode : Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi literatur dengan menganalisis berbagai sumber jurnal, laporan resmi, dan dokumen terkait pelaksanaan layanan kesehatan di lembaga pemasyarakatan. Hasil dan Pembahasan : Hasil studi menunjukkan bahwa pemeriksaan rutin terbukti efektif dalam mendeteksi penyakit seperti TBC, HIV/AIDS, dan penyakit tidak menular lainnya pada tahap awal. Namun, pelaksanaan strategi ini masih menghadapi berbagai kendala seperti keterbatasan tenaga medis, sarana prasarana, dan sistem pencatatan kesehatan yang belum optimal. Dibutuhkan sinergi antara pihak lapas, dinas kesehatan, dan pemerintah pusat untuk meningkatkan akses, kualitas, dan keberlanjutan layanan kesehatan di lapas. Kesimpulan : Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap pengembangan kebijakan kesehatan yang lebih responsif di lingkungan pemasyarakatan.
Teknik Komunikasi Interpersonal dalam Program Rehabilitasi Sosial Narapidana Narkotika di Lembaga Pemasyarakatan Kelas I Malang Riko Dwi Mardiansyah; Iman Santoso
Al-Zayn: Jurnal Ilmu Sosial, Hukum & Politik Vol 3 No 4 (2025): 2025
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/alz.v3i4.1982

Abstract

Penyalahgunaan dan peredaran narkotika merupakan salah satu tantangan global yang berdampak serius terhadap stabilitas sosial, kesehatan masyarakat, dan keamanan nasional. Penelitian ini bertujuan menganalisis peran komunikasi interpersonal dalam efektivitas program rehabilitasi sosial bagi narapidana narkotika. Pendekatan kualitatif deskriptif digunakan dengan teknik wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan studi dokumentasi. Informan penelitian terdiri dari petugas pemasyarakatan, konselor rehabilitasi, dan narapidana peserta program. Analisis data dilakukan dengan model interaktif Miles & Huberman, meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keberhasilan rehabilitasi sosial ditentukan oleh kualitas komunikasi interpersonal yang mencakup keterbukaan, empati, kesetaraan, sikap mendukung, dan sikap positif. Temuan ini menegaskan bahwa komunikasi yang efektif antara petugas dan narapidana berperan penting dalam membangun kepercayaan, memotivasi perubahan perilaku, dan mendukung pemulihan psikologis, sehingga memberikan kontribusi signifikan terhadap pengurangan ketergantungan narkotika dan pencegahan residivisme
Pembinaan Narapidana dengan Pendekatan Deprivasi dan Importansi di Lapas Kelas I Madiun Abdilah Dwi Putra; Iman Santoso
Al-Zayn: Jurnal Ilmu Sosial, Hukum & Politik Vol 3 No 4 (2025): 2025
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/alz.v3i4.2054

Abstract

Pemasyarakatan modern menuntut pendekatan yang lebih manusiawi dengan menekankan reintegrasi sosial narapidana. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi pembinaan narapidana di Lapas Kelas I Madiun melalui pendekatan deprivasi dan importasi. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan teknik wawancara, observasi partisipatif, dan studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembinaan narapidana dilaksanakan melalui penguatan kepribadian, kegiatan keagamaan, pendidikan, serta pelatihan keterampilan kerja yang relevan dengan kebutuhan sosial. Pendekatan deprivasi berfungsi untuk menjaga disiplin dan ketertiban, sementara pendekatan importasi berperan dalam menggali potensi dan memfasilitasi reintegrasi narapidana. Temuan ini juga mengidentifikasi tantangan berupa keterbatasan fasilitas, sumber daya manusia, dan birokrasi yang memperlambat efektivitas program. Integrasi kedua pendekatan terbukti mampu menekan angka residivisme dan memperkuat kesiapan narapidana untuk kembali ke masyarakat. Penelitian ini berimplikasi pada pentingnya kebijakan pemasyarakatan yang lebih adaptif, kolaboratif, dan berbasis risiko individual
Penerapan Smart Entrepreneur Model (SEM) Pada Kegiatan Kerja Budidaya Jagung Hibrida di Lapas Terbuka Kelas IIB Kendal Desi Safitri; Iman Santoso
Al-Zayn: Jurnal Ilmu Sosial, Hukum & Politik Vol 3 No 4 (2025): 2025
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/alz.v3i4.2068

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh urgensi penguatan program pembinaan narapidana melalui pendekatan kewirausahaan sebagai bekal reintegrasi sosial yang berkelanjutan. Tujuan penelitian ini adalah untuk menelaah tahapan penerapan Smart Entrepreneur Model (SEM) pada kegiatan kerja budidaya jagung hibrida di Lapas Terbuka Kelas IIB Kendal serta mengidentifikasi faktor penghambat yang memengaruhi keberhasilannya. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan SEM dilakukan dalam tiga tahap, yaitu persiapan, pelaksanaan, dan evaluasi, yang mampu membentuk keterampilan teknis dan sikap kewirausahaan narapidana melalui praktik langsung serta pengenalan teknologi pertanian digital. Kendala utama yang dihadapi meliputi keterbatasan pelatih, minimnya kolaborasi eksternal, serta akses teknologi yang terbatas. Penelitian ini mengimplikasikan perlunya penguatan sumber daya manusia, kurikulum yang adaptif, dan kerja sama lintas sektor agar pembinaan berbasis kewirausahaan di Lapas dapat berkelanjutan dan relevan dengan kebutuhan reintegrasi sosial
Peran Petugas Pemasyarakatan Dalam Proses Resosialisasi Narapidana Guna Keberhasilan Pembinaan di Lembaga Pemasyarakatan Kelas II A Balikpapan Muhammad Zulfedryan; Iman Santoso
Al-Zayn: Jurnal Ilmu Sosial, Hukum & Politik Vol 3 No 5 (2025): 2025
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/alz.v3i5.2247

Abstract

Pemasyarakatan merupakan subsistem penting dalam sistem peradilan pidana yang tidak hanya berorientasi pada pemberian hukuman, tetapi juga bertujuan membina dan merehabilitasi narapidana agar dapat kembali berperan positif di masyarakat. Penelitian ini bertujuan menganalisis peran petugas pemasyarakatan dalam proses resosialisasi narapidana di Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Balikpapan, mencakup dimensi interaksi sosial, efektivitas pembinaan, serta hambatan yang dihadapi dalam pelaksanaannya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara dan observasi lapangan terhadap petugas serta warga binaan pemasyarakatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa petugas berperan tidak hanya sebagai pengawas, tetapi juga sebagai pembimbing, fasilitator, dan motivator yang membangun komunikasi humanis dalam setiap proses pembinaan. Kendati dihadapkan pada keterbatasan sumber daya manusia, fasilitas, dan beban administratif, petugas tetap menunjukkan profesionalisme dalam menjalankan tugasnya. Temuan ini menegaskan bahwa keberhasilan resosialisasi bergantung pada kualitas interaksi sosial antara petugas dan narapidana serta dukungan kelembagaan yang memadai untuk memperkuat efektivitas pembinaan berkelanjutan di lembaga pemasyarakatan
PSIKIATER DALAM RANAH HUKUM PERADILAN PIDANA Muhammad Farhan Abdillah; Iman Santoso
Jurnal Komunikasi Hukum Vol 8 No 1 (2022): Februari
Publisher : Program Studi Ilmu Hukum Fakultas Hukum dan Ilmu Sosial Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jkh.v8i1.51572

Abstract

The science of criminal law provides a requirement to say that someone committing a crime must fulfill the elements of an act that legally violates the law or has a normative nature against the law, Forensic Psychiatry has a significant position in the field of criminal law as a factor of proof in criminal liability. Psychiatry ensures the size of a person's responsibility in violating criminal law. Often a person in every day seems reasonable in his mind, but in a psychiatric examination it is clear that he has mental problems that reduce his responsibility, but he finds a severe punishment. The purpose of this paper is to determine the role and position of psychiatrists in the criminal justice system. The research method in this paper uses literature research, by applying a qualitative approach this research can be made. Qualitative research is research that interprets a symptom such as a social phenomenon that focuses on the complete picture of a phenomenon to be studied. The results of the discussion show that the role of psychiatrists as legal agents of law enforcement officers and in the criminal justice system is positioned as an expert in every stage of examination in criminal procedural law, both in the investigation stage, additional examination on prosecution and expert testimony on evidence at trial.
Prototype GPS Tracking Narapidana Asimilasi pada Lapas Terbuka Kelas IIB Kendal M.Danis Patriot M; Iman Santoso
Al-Zayn: Jurnal Ilmu Sosial, Hukum & Politik Vol 3 No 5 (2025): 2025
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/alz.v3i5.2246

Abstract

Latar belakang penelitian ini berangkat dari kebutuhan akan sistem pembinaan narapidana yang lebih efektif, akuntabel, dan berbasis teknologi di tengah tantangan overkapasitas lembaga pemasyarakatan di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas prototype GPS Tracking dalam membantu petugas Lapas Terbuka Kelas IIB Kendal memantau aktivitas narapidana, serta mengidentifikasi manfaat, penerimaan pengguna, dan hambatan teknis yang dihadapi. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif deskriptif melalui observasi, wawancara, dan studi dokumentasi dengan analisis berbasis Technology Acceptance Model (TAM). Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem GPS Tracking dinilai bermanfaat, mudah digunakan, dan meningkatkan efektivitas pengawasan serta akurasi data pembinaan narapidana. Kendati demikian, terdapat sejumlah tantangan seperti belum terintegrasinya sistem dengan basis data resmi, keterbatasan daya tahan perangkat, dan gangguan sinyal. Implikasi penelitian ini menegaskan bahwa pemanfaatan teknologi pelacakan berbasis GPS memiliki potensi besar untuk mendukung pembinaan narapidana yang lebih transparan, terukur, dan berorientasi pada reintegrasi sosial di masa depan
Implementasi Program Pembinaan Anak Binaan Dengan Stakeholder Approach Dalam Perspektif Restorative Justice: Studi Pada Lpka Kelas I Kutoarjo Setyawijaya, Agum; Iman Santoso
PESHUM : Jurnal Pendidikan, Sosial dan Humaniora Vol. 4 No. 6: Oktober 2025
Publisher : CV. Ulil Albab Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/peshum.v4i6.12840

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan implementasi program pembinaan anak binaan dengan pendekatan stakeholder dalam perspektif restorative justice di Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Kelas I Kutoarjo, serta mengidentifikasi kendala yang dihadapi dalam pelaksanaannya. Latar belakang penelitian ini didasarkan pada masih adanya residivis anak binaan. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa program pembinaan anak binaan di LPKA Kutoarjo telah menerapkan stakeholder approach melalui pelibatan masyarakat dan lembaga eksternal dalam berbagai kegiatan pembinaan, baik pada aspek kepribadian, keterampilan, maupun pendidikan. Implementasi ini mencerminkan nilai-nilai restorative justice seperti pemulihan, reintegrasi sosial, dan tanggung jawab bersama. Namun demikian, masih terdapat kendala dalam pelaksanaan program, antara lain keterbatasan sumber daya manusia dan fasilitas, dukungan anggaran yang belum optimal, serta jarak geografis stakeholder yang menyulitkan koordinasi. Temuan penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan untuk pengembangan program pembinaan anak binaan yang lebih efektif, partisipatif, dan berkelanjutan.
Pendekatan Dinamika Kelompok dalam Pembinaan Kepribadian Narapidana Residivis Kasus Narkotika di Lapas Narkotika Kelas IIA Langkat Kemit, Jovi Pepayoca; Iman Santoso
Al-Zayn: Jurnal Ilmu Sosial, Hukum & Politik Vol 3 No 5 (2025): 2025
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/alz.v3i5.2249

Abstract

Narapidana Residivis Kasus Narkotika di Lapas Narkotika Kelas IIA Langkat”Tingginya angka residivisme kasus narkotika di Indonesia, khususnya di Lapas Narkotika Kelas IIA Langkat, menunjukkan perlunya pendekatan pembinaan yang lebih efektif dan holistik. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji implementasi pendekatan dinamika kelompok dalam pembinaan kepribadian narapidana residivis narkotika serta mengidentifikasi faktor- faktor penghambatnya. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendekatan dinamika kelompok mulai diterapkan dalam bentuk kegiatan kelompok kecil, diskusi reflektif, serta pelibatan petugas pembina sebagai fasilitator. Pendekatan ini mampu membangun kohesi kelompok, meningkatkan keterbukaan antar narapidana, serta membentuk pola interaksi sosial yang mendukung perubahan perilaku positif. Namun demikian, implementasi masih menghadapi tantangan berupa struktur hierarkis lapas yang kaku, kurangnya ruang reflektif, ketimpangan partisipasi antar anggota kelompok, dan minimnya dukungan keluarga. Oleh karena itu, perlu dilakukan penguatan secara struktural dan metodologis melalui pelatihan fasilitator, pelibatan peer mentor, serta integrasi pendekatan keluarga dalam dinamika kelompok agar pembinaan kepribadian dapat berjalan secara berkelanjutan dan transformatif
Social Entreneurship dalam Pemberdayaan Ekonomi Narapidana di Lembaga Pemasyarakatan Kelas I Madiun Randy Agung Prasetya; Iman Santoso
Al-Zayn: Jurnal Ilmu Sosial, Hukum & Politik Vol 3 No 5 (2025): 2025
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/alz.v3i5.2291

Abstract

Permasalahan ekonomi menjadi salah satu tantangan utama yang dihadapi narapidana selama menjalani masa pidana, baik secara individu maupun terhadap keluarga yang ditinggalkan. Penelitian ini bertujuan untuk memahami pelaksanaan social entrepreneurship dalam pemberdayaan ekonomi narapidana di Lembaga Pemasyarakatan Kelas I Madiun serta mengidentifikasi hambatan yang dihadapi dalam implementasinya. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data wawancara, observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan social entrepreneurship di Lapas I Madiun memberikan dampak positif bagi pemberdayaan ekonomi narapidana melalui pemberian premi, pelatihan keterampilan kerja, dan jaringan kerja yang dapat dimanfaatkan pasca pembebasan. Kegiatan tersebut juga membawa dampak sosial berupa perubahan pola perilaku, mindset dan menumbuhkan semangat narapidana. Namun demikian, hambatan masih ditemui seperti kurangnya kesadaran narapidana jangka panjang, kurangnya ketersediaan SDM petugas, maintenance alat yang sulit dan kurangnya sarana prasana yang tersedia. Pelaksanaan kegiatan kerja berbasis social entrepreneurship di Lapas Kelas 1 Madiun telah berjalan dengan baik, namun evaluasi dan perbaikan terkait kendala yang dihadapi harus segera diatasi untuk memaksimalkan output yang dihasilkan