Niken Pujirahayu
Department Of Forestry, Faculty Of Forestry And Environmental Sciences, Universitas Halu Oleo

Published : 16 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

KETAHANAN KAYU BAKALA (Alstonia spectabilis) TERHADAP DEGRADASI MARINE BORERS : (Resistance of Bakala Wood (Alstonia spectabilis) To Degradation of Marine borers) Niken Pujirahayu; Abigael Kabe; zakiah uslinawaty; Nurhayati Hadjar; Nurnaningsih Hamzah; Nur Swarziani; siiti sarina; wa ode Saraswati; Attar Muhammad
Jurnal Celebica : Jurnal Kehutanan Indonesia Vol. 5 No. 2 (2024): Celebica Jurnal Kehutanan Indonesia
Publisher : Jurusan Kehutanan -FHIL-UHO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Alstonia spectabilis (Bakala) is a fast-growing tree species native to Southeast Sulawesi, Indonesia, with potential applications in maritime and coastal construction. Despite its promising economic value, Bakala wood is still limited in its use due to a lack of understanding of its physical properties and resistance to marine borers, which can cause significant damage to wood structures in marine environments. This study aims to evaluate the natural resistance of Bakala wood to marine borer attacks. Wood resistance testing was carried out by immersing wood samples in seawater for three months and assessing the damage caused. The results showed significant color changes and hole formation, with damage intensity varying in various parts of the wood. The tip and middle parts showed severe degradation, with damage intensity of 58.8-61.3%, classified as poor according to SNI 01-7207-2006 standards, while the base of the wood showed moderate damage with an average damage intensity of 50.1%. The identified marine borer species responsible for the damage include Teredo navalis (family Teredinidae), Lichenopora (genus bryozoan), and Martesia striata (family Pholadidae). These findings suggest that while Bakala wood has potential for use in coastal and marine applications, its poor resistance to marine borers means that further research into protective treatments or selective use in marine environments is needed.
UJI EFEKTIVITAS PENGAWETAN ROTAN TERHADAP INFEKSI JAMUR BLUE STAIN MENGGUNAKAN BAHAN ALAMI DARI DAUN SONNERATIA ALBA uslinawaty; niken pujirahayu; nurhayati Hadjar; abigael kabe; Nurnaningsih Hamzah; ika yuniarsih; Muhammad Attar
Jurnal Celebica : Jurnal Kehutanan Indonesia Vol. 5 No. 2 (2024): Celebica Jurnal Kehutanan Indonesia
Publisher : Jurusan Kehutanan -FHIL-UHO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Rotan merupakan salah satu hasil hutan yang memiliki nilai ekonomi kedua tertinggi setelah kayu. Penelitian ini bertujuan untuk menguji efektivitas penggunaan daun mangrove (Sonneratia alba) sebagai bahan pengawet lima jenis lima jenis rotan terhadap serangan Jamur Blue Stain.Penelitian ini berlangsung selama 3 bulan dilaksanakan di Laboratorium Jurusan Kehutanan Fakultas Kehutanan dan Ilmu Lingkungan Universitas Halu Oleo. Penelitian ini menggunakan 5 jenis rotan dengan konsentrasi bahan pengawet ekstrak daun pidada putih 4% dan 6%. Hasilmya bahan pengawet ekstrak daun pidada putih (Sonneratia alba) dengan konsentrasi 4% 6% dalam proses perendaman dingin s efektif melindungi rotan terhadap serangan jamur blue stain pada 5 jenis rotan. intesitas serangan jamur blue stain pada 5 jenis rotan pada konsentrasi 6% sebesar 14,97% termasuk klasifikasi ringan sehingga sudah termasuk efektif mencegah serangan jamur blue stain.
IDENTIFIKASI PEMANFAATAN JENIS TUMBUHAN OBAT DI KAWASAN CAGAR ALAM KAKENAUWE DESA KAKENAUWE KECAMATAN LASALIMU KABUPATEN BUTON: IDENTIFIKASI PEMANFAATAN JENIS TUMBUHAN OBAT DI KAWASAN CAGAR ALAM KAKENAUWE DESA KAKENAUWE KECAMATAN LASALIMU KABUPATEN BUTON La Ode Agus Salim Mando; Ryan Fadly Paripurna; Agus Setiawan; Niken Pujirahayu; Abigael Kabe; Mariana Zainun
Jurnal Celebica : Jurnal Kehutanan Indonesia Vol. 5 No. 2 (2024): Celebica Jurnal Kehutanan Indonesia
Publisher : Jurusan Kehutanan -FHIL-UHO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: Medicinal plants are plants that are used to reduce, eliminate or cure certain diseases through traditional treatment. This research was carried out from July to August 2024. This research aims to identify types of medicinal plants around the Kakenauwe Nature Reserve Area and find out how medicinal plants are used by the people of Kakenauwe Village. This research uses a purposive sampling method with data collection techniques through observation, interviews and literature study. The research data were analyzed descriptively and presented in the form of descriptions and tables. The results of the research identified 24 types of medicinal plant species belonging to 22 families with the Asteraceae family being the most widely used by the people of Kakenauwe Village and most of their habitus consisting of 5 types of trees, 1 type of shrub, 4 types of lianas, 3 types of shrubs, 3 types of epiphytes. , and 8 types of herbs and plant parts are more widely used, namely leaves and different ways of processing plants in terms of healing, namely applying topically, drinking or boiling, dripping and chewing. Keywords: Application, Kakenauwe Nature Reserve, Medicinal Plants
VARIASI ARAH RADIAL STRUKTUR ANATOMI KAYU CEMARA (Casuarina junghuhniana Miq.) ASAL TORAJA UTARA: (Radial Variation of Wood Anatomical Structure in Casuarina junghuhniana Miq. from North Toraja) Abigael Kabe; Nurhayati Hadjar; Niken Pujirahayu; Zakiah Uslinawaty; Nurnaningsih Hamzah; Sarwinda Intan Putri; Sahindomi Bana; Emilia Cantesya Patiara; LM Raya Akbar
Jurnal Celebica : Jurnal Kehutanan Indonesia Vol. 6 No. 2 (2025): Celebica Jurnal Kehutanan Volume 6 no 2 tahun 2025
Publisher : Jurusan Kehutanan -FHIL-UHO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.65078/jc.v6i2.175

Abstract

Kayu cemara gunung (Casuarina junghuhniana Miq.), dalam bahasa lokal Toraja disebut kayu buangin merupakan salah satu jenis kayu lokal yang digunakan dalam pembuatan rumah adat di Toraja (tongkonan). Penelitian dan informasi terhadap sifat anatomi kayu sebagai komponen rumah adat masih terbatas. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui variasi struktur anatomi kayu cemara gunung dari arah empulur ke bagian dekat kulit. Parameter makroskopis dan mikroskopis kayu dianalisis sesuai dengan standar masing-masing. Hasil penelitian menunjukkan secara makroskopis kayu gubal berwarna coklat dan kayu teras berwarna coklat tua, lingkaran tahun tidak begitu jelas, bertekstur kasar, arah serat sedikit miring. Permukaan kayu agak mengkilap, memiliki aroma yang khas. Kayu keras dan tergolong sulit dikerjakan. Tipe pori soliter dengan diameter kecil yang meningkat dari empulur ke bagian kulit. Kayu dekat empulur terdapat tilosis. Jari-jari uniseri nampak jelas pada bidang melintang berukuran besar dan kecil. Panjang serat rata-rata termasuk kategori sedang (kelas III), serat agak miring. Berdasarkan nilai rata-rata parameter turunan dimensi serat maka kayu cemara gunung termasuk kelas mutu serat III.
K Kesesuaian Ukuran kayu Gergajian di Bangsal Kayu Kota Kendari ((Size Conformity of Sawn Timber in Kendari City Wooden Wards) Abigael Kabe; Niken Pujirahayu; Zakiah Uslinawaty; nurhayati hadjar; nurnaningsih hamzah; Richard Edwan R Napitu
Jurnal Celebica : Jurnal Kehutanan Indonesia Vol. 6 No. 1 (2025): Celebica Jurnal Kehutanan Indonesia
Publisher : Jurusan Kehutanan -FHIL-UHO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ukuran sortimen kayu gergajian berperan penting dalam industri kayu, khususnya dalam meningkatkan efisiensi pemanfaatan sumber daya hutan dan nilai ekonomi hasil hutan. Penelitan ini bertujuan untuk mengetahui jenis-jenis kayu gergajian, jenis sortimen, kesesuaian ukuran sortimen kayu dan cacat kayu gergajian yang diperjualbelikan di Kota Kendari. Penelitian dilaksanakan dengan pengambilan sampel di 5 bangsal kayu yang ada di kota Kendari, Provinsi Sulawesi Tenggara. Metode penelitian dilakukan melalui observasi dan wawancara kepada pemilik bangsal kayu untuk memperoleh data jenis dan cacat kayu serta dilakukan pengukuran dimensi panjang, lebar dan tebal terhadap 175 sampel sortimen kayu gergajian menggunakan teknik pengambilan sampel acak. Data penelitian dianalisis secara deskriptif kuantitatif dengan membandingkan data ukuran dimensi sortimen kayu gergajian dengan nilai ukuran Standar Nasional Indonesia (SNI) No.7537.2-2010 tentang Kayu Gergajian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis kayu gergajian yaitu kayu jabon putih (Anthocephalus cadamba), kayu bitti (Vitex cofassus) dan kayu kumea (Manilkara merrilliana). Ketiga jenis kayu ini diperdagangkan dalam bentuk produk dengan masing-masing nama dagang antara lain kaso 4x4, kaso 5x5, papan 3x20, papan 3x25, kusen 7x12, balok 6x12, dan balok 8x12. Dimensi panjang dan lebar kayu gergajian di Kendari umumnya sudah sesuai SNI, namun ketebalan pada beberapa produk seperti papan 3x20 Jabon, papan 3x25 Jabon, kusen 7x12 kayu Bitti dan balok 8x12 kayu Kumea masih perlu dioptimalkan. Cacat sortimen kayu yaitu cacat mata kayu, cacat lubang gerek serangga, cacat kayu melengkung, mold dan cacat kayu retak/pecah ujung dan permukaan.
KETERAWETAN KAYU BAKALA (Alstonia spectabillis) TERHADAP BAHAN PENGAWET EKSTRAK BIJI BINTARO (Cerbera manghas) zakiah uslinawati; niken Pujirahayu; Nurhayati hadjar; abigael kabe; nurnaningsih Hamzah; Rut Monica Tampubolon; Muh. Fikhi Saisyah Putra
Jurnal Celebica : Jurnal Kehutanan Indonesia Vol. 6 No. 2 (2025): Celebica Jurnal Kehutanan Volume 6 no 2 tahun 2025
Publisher : Jurusan Kehutanan -FHIL-UHO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.65078/jc.v6i2.217

Abstract

Pengawetan kayu merupakan salah satu usaha untuk memperpanjang masa pakai dan menjaga kayu tidak terserang oleh faktor perusak kayu serta meningkatkan kekuatan kayu. Bahan pengawet alami yang dapat digunakan adalah bahan yang beracun dan efektif dalam membunuh organisme perusak kayu dan tidak dapat mencemari lingkungan, seperti biji buah bintaro (Cerbera manghas). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh konsentrasi bahan pengawet alami ekstrak biji bintaro terhadap nilai absorbsi, retensi dan penetrasi pada pengawetan kayu bakala. Metode penelitian yang digunakan adalah metode perendaman dingin dengan konsentrasi bahan pengawet 15% dan 20. rata-rata absorbsi pada konsentrasi 20% sebesar 224,6 Kg/m³. Nilai rata-rata retensi pada konsentrasi 15% diperoleh sebesar 9,9 Kg/m³ dan nilai rata-rata retensi pada konsentrasi 20% sebesar 11,24 Kg/m³. Nilai rata-rata penetrasi pada konsentrasi 15% diperoleh sebesar 7,88 mm dan nilai rata-rata penetrasi pada konsentrasi 20% sebesar 8,02 mm. Berdasarkan Analisis Sidik Ragam menunjukkan bahwa perbedaan pada konsentrasi bahan pengawet 15% dan 20% berpengaruh nyata terhadap nilai retensi dan berpengaruh tidak nyata terhadap nilai penetrasi. Berdasarkan nilai standar SNI nilai retensi dan nilai penetrasi pada konsentrasi 15% dan 20% telah memenuhi standar untuk penggunaan dalam ruangan bawah atap