Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

VALUASI JASA LINGKUNGAN PADA HUTAN MANGROVE DI KECAMATAN KENDARI BARAT KOTA KENDARI Sahindomi Bana; Abdul Sakti; abigael Kabe
Jurnal Ecogreen Vol 5, No 1 (2019)
Publisher : Universitas Haluoleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (174.309 KB)

Abstract

Hutan mangrove terletak di daerah perbatasan antara habitat darat dan laut menjadikan kawasan ini menjadi rentan dalam upaya konversi lahan. Umumnya diwilayah perkotaan perambahan kawasan hutan mangrove dimanfaatkan untuk pengembangan kota, areal pengunaan lain, dan pembangunan sarana prasarana. Keberadaan hutan mangrove dianggap tidak signifikan memiliki pengaruh dalam pertumbuhan ekonomi. Sehingga penting untuk dilakukan kajian valuasi jasa lingkungan pada hutan mangrove. Penelitian bertujuan untuk mengidentifikasi jenis pemanfaatan dan nilai valuasi ekonomi total hutan mangrove di Kecamatan Kendari Barat Kota Kendari. Variabel yang diamati yaitu (1) vegatasi mangrove; (2) jenis pemanfatan hutan mangrove yang dilakukan oleh pemeritah, swasta dan masyarakat; (3) masyarakat yang memanfaatkan kawasan hutan mangrove; (4) Pengunjung yang memanfaatkan ruang terbuka hutan mangrove. Analisis data yang dilakukan yaitu identifikasi pemanfaatan hutan mangrove, identifikasi manfaat dan fungsi ekosistem mangrove, manfaat tidak langsung (MTL). Hasil penelitian menunjukkan jenis penyusun hutan mangrove di Kecamatan Kendari Barat terdiri dari 3 famili yaitu famili Rhizophoraceae terdiri dari Rhizophora apiculata dan Rhizophora mucronata, famili Avicenniaceae terdiri dari Avicennia alba dan Avicennia lanata dan famili  Sonneratiaceae adalah Soneratia alba. Nilai valuasi ekonomi total hutan mangrove di Kecamatan Kendari Barat Kota Kendari adalah nilai Rp. 528.947.987 per tahun yang bersumber dari nilai manfaat langsung (ML) sebesar 193.800.000, Manfaat Tidak Langsung (MTL) sebesar Rp. 143.672.987; Manfaat Pilihan (MP) sebesar Rp. 160.875.000 dan manfaat eksistensi (ME) sebesar Rp 30.600.000.  Nilai tersebut menunjukkan nilai ekonomi hutan mangrove sangat penting sehingga keberadaanya perlu dilestarikan Kata kunci : Hutan Mangrove, Manfaat Langsung, Manfaat Tidak Langsung, Manfaat Pilihan dan Manfaat Eksistensi
SIFAT DASAR PENGERINGAN KAYU EHA (Castanopsis buruana Miq) Zakiah Uslinawaty; Niken Pujirahayu; abigael Kabe; Ardian Ardian
Jurnal Ecogreen Vol 5, No 1 (2019)
Publisher : Universitas Haluoleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (104.617 KB)

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis cacat pengeringan kayu, kualitas dan sifat dasar pengeringan kayu Eha (Castanopsis buruana Miq). Metode yang digunakan yaitu pengujian metode suhu tinggi, kemudian evaluasi cacat yang terjadi disesuaikan dengan modifikasi dari metode yang dikembangkan oleh Terazawa (1965). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengujian kayu Eha (Castanopsisi buruana Miq) memiliki sifat pengeringan  agak buruk (klasifikasi 5) untuk cacat pecah permukaan dengan nilai rata-rata bagian teras kayu yaitu 36,5% dan bagian gubal kayu 23,2 %. Sedangkan untuk cacat pecah dalam, memiliki sifat pengeringan sangat baik (klasifikasi 1) dengan nilai rata-rata bagian teras kayu dan gubal kayu yaitu 0% dan selisih ukuran tebal deformasi memiliki sifat pengeringan sangat baik (klasifikasi 1) dengan nilai rata-rata pada  bagian teras kayu dan gubal kayu berturut-turut 0,16% dan 0,18%. Kata Kunci : Eha (Castanopsis buruana Miq), Sifat dasar pengeringan kayu, Cacat Pengeringan
POTENSI DAUN WARU (Hibiscus tiliaceus) SEBAGAI TUMBUHAN OBAT DI KESATUAN PENGELOLAAN HUTAN (KPH) GANTARA KABUPATEN MUNA SULAWESI TENGGARA Nurnaningsih Hamzah; Wa Ode Hastiani Fahidu; Abigael Kabe
Jurnal Celebica : Jurnal Kehutanan Indonesia Vol. 4 No. 2 (2023): Volume 4, No 2 (2023): Jurnal Celebica : Jurnal Kehutanan Indonesia
Publisher : Jurusan Kehutanan -FHIL-UHO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/jc.v4i2.37

Abstract

Tumbuhan obat merupakan tumbuhan berkhasiat obat yang dapat menghilangkan rasa sakit, meningkatkan daya tahan tubuh, membunuh bibit penyakit, dan memperbaiki organ yang sakit. Waru (Hibiscus tiliaceus) merupakan salah satu tumbuhan herbal yang telah digunakan dalam pengobatan oleh masyarakat sekitar KPH Gantara, Waru (Hibiscus tiliaceus) sebagai obat penurun demam dan mengurangi ketombe pada rambut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan senyawa (fitokimia) daun waru (Hibiscus tiliaceus) di KPH Gantara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Daun Waru mengandung alkaloid, flavonoid, tannin, saponin, dan terpenoid, sehingga efektif digunakan sebagai obat bagi masyarakat. Kata Kunci : tumbuhan obat, Waru, KPH Gantara
POTENSI DAUN BAKALA (Alstonia spectabilis) SEBAGAI TUMBUHAN OBAT Nurnaningsih Hamzah; Nurhayati Hadjar; niken pujirahayu; Zakiah Uslinawaty; Abigael Kabe
Jurnal Celebica : Jurnal Kehutanan Indonesia Vol. 5 No. 2 (2024): Celebica Jurnal Kehutanan Indonesia
Publisher : Jurusan Kehutanan -FHIL-UHO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tumbuhan obat merupakan tumbuhan berkhasiat obat yang dapat menghilangkan rasa sakit, meningkatkan daya tahan tubuh, membunuh bibit penyakit, dan memperbaiki organ yang sakit. Bakala (Alstonia spectabilis) merupakan salah satu tumbuhan yang berpotensi sebagai obat malaria. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan senyawa (fitokimia) daun bakala (Alstonia spectabilis). Penelitian diawali dengan pembuatan simplisia kering daun waru kemudian ekstrak menggunakan etanol 70%, dilanjutkan uji kandungan fitokimia di Laboratorium Farmasi UHO. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Daun Bakala mengandung alkaloid, flavonoid, tannin, saponin, dan terpenoid, sehingga efektif digunakan sebagai obat bagi masyarakat.
The Effect of the Presence of Bee Forage on the Existence of the Bee Hives Apis dorsata Binghamii: Pengaruh Keberadaan Tumbuhan Pakan Terhadap Keberadaan Sarang Lebah Hutan Apis dorsata Binghamii Rosmarlinasiah Rosmarlinasiah; Abigael Kabe; Hafidah Nur; Rian Hidayat; Ahmad Cahyadi
Jurnal Celebica : Jurnal Kehutanan Indonesia Vol. 5 No. 2 (2024): Celebica Jurnal Kehutanan Indonesia
Publisher : Jurusan Kehutanan -FHIL-UHO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: Sulawesi's endemic bee Apis dorsata Binghamii is a honey producer that needs to be preserved. The research was carried out in Tawanga Village, Uluiwoi District, East Kolaka Regency from June to November 2024. The aim of the research was to determine the types of food trees and nest trees, whether or not the presence of food plants influences the presence of bee hives, and determine the type of habitat preferred (habitat preference). The research method uses a survey method. Vegetation analysis is expressed in absolute and relative values ​​as formulated by Soerianegara and Indrawan (1988). The effect of the presence of food trees on the presence of nests using a completely randomized design (CRD). Data were analyzed using variance (Anova). If Fhit>Ftab H0 is rejected, H1 is accepted, followed by the BNT test (smallest real difference test). Analysis of habitat types preferred by forest bees using the NEU method (Neu et al. 1974). The results of the research showed that there were 44 types of food plants that produce nectar and pollen, 16 hives and bee trees. The most dominant flower-producing types at tree level are: durian (Durio ziberthinus), pole level; Cocoa (Theobroma cacao), and Cashew (Anacardium occidentale), sapling stage of Cocoa (Theobroma cacao), Coffee (Coffea sp) and seedling stage of Coffee (Coffea sp), Tombira (Vitex glabra), and Puloli (Quercus celebica). There is a very significant influence of the changing climate flower season and the dry climate flower season on the weight of beehive honey. The highest average honey yield is found in the dry season. The most preferred habitat preferences of Apis dorsata Binghamii bees; diameter 24.2 - 58.9 cm. Nest height preference 04.26-13.64 m. Preference Height above sea level 78 – 221.5 m above sea level. Air temperature preference is 30.7-36.80C, and air humidity preference is between 36.5-63.75%. Keywords: Apis dorsata Binghamii, bee forage, nest tree, flower season
KETAHANAN KAYU BAKALA (Alstonia spectabilis) TERHADAP DEGRADASI MARINE BORERS : (Resistance of Bakala Wood (Alstonia spectabilis) To Degradation of Marine borers) Niken Pujirahayu; Abigael Kabe; zakiah uslinawaty; Nurhayati Hadjar; Nurnaningsih Hamzah; Nur Swarziani; siiti sarina; wa ode Saraswati; Attar Muhammad
Jurnal Celebica : Jurnal Kehutanan Indonesia Vol. 5 No. 2 (2024): Celebica Jurnal Kehutanan Indonesia
Publisher : Jurusan Kehutanan -FHIL-UHO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Alstonia spectabilis (Bakala) is a fast-growing tree species native to Southeast Sulawesi, Indonesia, with potential applications in maritime and coastal construction. Despite its promising economic value, Bakala wood is still limited in its use due to a lack of understanding of its physical properties and resistance to marine borers, which can cause significant damage to wood structures in marine environments. This study aims to evaluate the natural resistance of Bakala wood to marine borer attacks. Wood resistance testing was carried out by immersing wood samples in seawater for three months and assessing the damage caused. The results showed significant color changes and hole formation, with damage intensity varying in various parts of the wood. The tip and middle parts showed severe degradation, with damage intensity of 58.8-61.3%, classified as poor according to SNI 01-7207-2006 standards, while the base of the wood showed moderate damage with an average damage intensity of 50.1%. The identified marine borer species responsible for the damage include Teredo navalis (family Teredinidae), Lichenopora (genus bryozoan), and Martesia striata (family Pholadidae). These findings suggest that while Bakala wood has potential for use in coastal and marine applications, its poor resistance to marine borers means that further research into protective treatments or selective use in marine environments is needed.
UJI EFEKTIVITAS PENGAWETAN ROTAN TERHADAP INFEKSI JAMUR BLUE STAIN MENGGUNAKAN BAHAN ALAMI DARI DAUN SONNERATIA ALBA uslinawaty; niken pujirahayu; nurhayati Hadjar; abigael kabe; Nurnaningsih Hamzah; ika yuniarsih; Muhammad Attar
Jurnal Celebica : Jurnal Kehutanan Indonesia Vol. 5 No. 2 (2024): Celebica Jurnal Kehutanan Indonesia
Publisher : Jurusan Kehutanan -FHIL-UHO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Rotan merupakan salah satu hasil hutan yang memiliki nilai ekonomi kedua tertinggi setelah kayu. Penelitian ini bertujuan untuk menguji efektivitas penggunaan daun mangrove (Sonneratia alba) sebagai bahan pengawet lima jenis lima jenis rotan terhadap serangan Jamur Blue Stain.Penelitian ini berlangsung selama 3 bulan dilaksanakan di Laboratorium Jurusan Kehutanan Fakultas Kehutanan dan Ilmu Lingkungan Universitas Halu Oleo. Penelitian ini menggunakan 5 jenis rotan dengan konsentrasi bahan pengawet ekstrak daun pidada putih 4% dan 6%. Hasilmya bahan pengawet ekstrak daun pidada putih (Sonneratia alba) dengan konsentrasi 4% 6% dalam proses perendaman dingin s efektif melindungi rotan terhadap serangan jamur blue stain pada 5 jenis rotan. intesitas serangan jamur blue stain pada 5 jenis rotan pada konsentrasi 6% sebesar 14,97% termasuk klasifikasi ringan sehingga sudah termasuk efektif mencegah serangan jamur blue stain.
IDENTIFIKASI PEMANFAATAN JENIS TUMBUHAN OBAT DI KAWASAN CAGAR ALAM KAKENAUWE DESA KAKENAUWE KECAMATAN LASALIMU KABUPATEN BUTON: IDENTIFIKASI PEMANFAATAN JENIS TUMBUHAN OBAT DI KAWASAN CAGAR ALAM KAKENAUWE DESA KAKENAUWE KECAMATAN LASALIMU KABUPATEN BUTON La Ode Agus Salim Mando; Ryan Fadly Paripurna; Agus Setiawan; Niken Pujirahayu; Abigael Kabe; Mariana Zainun
Jurnal Celebica : Jurnal Kehutanan Indonesia Vol. 5 No. 2 (2024): Celebica Jurnal Kehutanan Indonesia
Publisher : Jurusan Kehutanan -FHIL-UHO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: Medicinal plants are plants that are used to reduce, eliminate or cure certain diseases through traditional treatment. This research was carried out from July to August 2024. This research aims to identify types of medicinal plants around the Kakenauwe Nature Reserve Area and find out how medicinal plants are used by the people of Kakenauwe Village. This research uses a purposive sampling method with data collection techniques through observation, interviews and literature study. The research data were analyzed descriptively and presented in the form of descriptions and tables. The results of the research identified 24 types of medicinal plant species belonging to 22 families with the Asteraceae family being the most widely used by the people of Kakenauwe Village and most of their habitus consisting of 5 types of trees, 1 type of shrub, 4 types of lianas, 3 types of shrubs, 3 types of epiphytes. , and 8 types of herbs and plant parts are more widely used, namely leaves and different ways of processing plants in terms of healing, namely applying topically, drinking or boiling, dripping and chewing. Keywords: Application, Kakenauwe Nature Reserve, Medicinal Plants
VARIASI ARAH RADIAL STRUKTUR ANATOMI KAYU CEMARA (Casuarina junghuhniana Miq.) ASAL TORAJA UTARA: (Radial Variation of Wood Anatomical Structure in Casuarina junghuhniana Miq. from North Toraja) Abigael Kabe; Nurhayati Hadjar; Niken Pujirahayu; Zakiah Uslinawaty; Nurnaningsih Hamzah; Sarwinda Intan Putri; Sahindomi Bana; Emilia Cantesya Patiara; LM Raya Akbar
Jurnal Celebica : Jurnal Kehutanan Indonesia Vol. 6 No. 2 (2025): Celebica Jurnal Kehutanan Volume 6 no 2 tahun 2025
Publisher : Jurusan Kehutanan -FHIL-UHO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.65078/jc.v6i2.175

Abstract

Kayu cemara gunung (Casuarina junghuhniana Miq.), dalam bahasa lokal Toraja disebut kayu buangin merupakan salah satu jenis kayu lokal yang digunakan dalam pembuatan rumah adat di Toraja (tongkonan). Penelitian dan informasi terhadap sifat anatomi kayu sebagai komponen rumah adat masih terbatas. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui variasi struktur anatomi kayu cemara gunung dari arah empulur ke bagian dekat kulit. Parameter makroskopis dan mikroskopis kayu dianalisis sesuai dengan standar masing-masing. Hasil penelitian menunjukkan secara makroskopis kayu gubal berwarna coklat dan kayu teras berwarna coklat tua, lingkaran tahun tidak begitu jelas, bertekstur kasar, arah serat sedikit miring. Permukaan kayu agak mengkilap, memiliki aroma yang khas. Kayu keras dan tergolong sulit dikerjakan. Tipe pori soliter dengan diameter kecil yang meningkat dari empulur ke bagian kulit. Kayu dekat empulur terdapat tilosis. Jari-jari uniseri nampak jelas pada bidang melintang berukuran besar dan kecil. Panjang serat rata-rata termasuk kategori sedang (kelas III), serat agak miring. Berdasarkan nilai rata-rata parameter turunan dimensi serat maka kayu cemara gunung termasuk kelas mutu serat III.
K Kesesuaian Ukuran kayu Gergajian di Bangsal Kayu Kota Kendari ((Size Conformity of Sawn Timber in Kendari City Wooden Wards) Abigael Kabe; Niken Pujirahayu; Zakiah Uslinawaty; nurhayati hadjar; nurnaningsih hamzah; Richard Edwan R Napitu
Jurnal Celebica : Jurnal Kehutanan Indonesia Vol. 6 No. 1 (2025): Celebica Jurnal Kehutanan Indonesia
Publisher : Jurusan Kehutanan -FHIL-UHO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ukuran sortimen kayu gergajian berperan penting dalam industri kayu, khususnya dalam meningkatkan efisiensi pemanfaatan sumber daya hutan dan nilai ekonomi hasil hutan. Penelitan ini bertujuan untuk mengetahui jenis-jenis kayu gergajian, jenis sortimen, kesesuaian ukuran sortimen kayu dan cacat kayu gergajian yang diperjualbelikan di Kota Kendari. Penelitian dilaksanakan dengan pengambilan sampel di 5 bangsal kayu yang ada di kota Kendari, Provinsi Sulawesi Tenggara. Metode penelitian dilakukan melalui observasi dan wawancara kepada pemilik bangsal kayu untuk memperoleh data jenis dan cacat kayu serta dilakukan pengukuran dimensi panjang, lebar dan tebal terhadap 175 sampel sortimen kayu gergajian menggunakan teknik pengambilan sampel acak. Data penelitian dianalisis secara deskriptif kuantitatif dengan membandingkan data ukuran dimensi sortimen kayu gergajian dengan nilai ukuran Standar Nasional Indonesia (SNI) No.7537.2-2010 tentang Kayu Gergajian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis kayu gergajian yaitu kayu jabon putih (Anthocephalus cadamba), kayu bitti (Vitex cofassus) dan kayu kumea (Manilkara merrilliana). Ketiga jenis kayu ini diperdagangkan dalam bentuk produk dengan masing-masing nama dagang antara lain kaso 4x4, kaso 5x5, papan 3x20, papan 3x25, kusen 7x12, balok 6x12, dan balok 8x12. Dimensi panjang dan lebar kayu gergajian di Kendari umumnya sudah sesuai SNI, namun ketebalan pada beberapa produk seperti papan 3x20 Jabon, papan 3x25 Jabon, kusen 7x12 kayu Bitti dan balok 8x12 kayu Kumea masih perlu dioptimalkan. Cacat sortimen kayu yaitu cacat mata kayu, cacat lubang gerek serangga, cacat kayu melengkung, mold dan cacat kayu retak/pecah ujung dan permukaan.